Beranda / Romansa / Om Bule Kekasihku / Kota Baru Dan Rindu Yang Teratur

Share

Kota Baru Dan Rindu Yang Teratur

Penulis: Sabrina dewi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-25 18:21:20

Berlin menyambut Nadia dengan udara yang lebih dingin dan ritme yang berbeda. Kota itu tidak berusaha ramah, ia apa adanya dan penuh sudut yang menantang. Dari jendela taksi, Nadia melihat bangunan-bangunan tua berdampingan dengan dinding penuh grafiti. Ada keindahan yang tidak rapi, dan untuk alasan yang belum ia pahami sepenuhnya, ia merasa tertarik.

Apartemen kecil tempat residensi itu sederhana: satu kamar tidur, jendela besar, meja kerja, sebuah dapur kecil yang sederhana dan dinding puti
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Om Bule Kekasihku   Kembali Pulang

    Pagi itu terasa berbeda. Langit Florence cerah, dengan cahaya matahari yang hangat menyusup melalui jendela kamar rumah sakit. Setelah semua kejadian yang melelahkan, ada rasa lega yang nyata di udara. Di dalam kamar, Nadia sudah duduk rapi di tepi tempat tidur. Wajahnya jauh lebih segar, matanya kembali hidup, dan senyumnya kini tidak lagi dipaksakan. Hari ini ia akan pulang. “Elena, tolong bantu aku ya” kata Nadia lembut. Elena yang berdiri di sampingnya langsung mengangguk cepat. “Aku bisa!” Gadis kecil itu dengan serius mengambil tas kecil Nadia dan mencoba membawanya, walaupun sedikit terlalu berat untuknya. Daniel yang melihat itu tersenyum tipis. “Pelan-pelan, princess.” Elena menatapnya. “Aku mau bantu mama Nadia.” Nada suaranya penuh tekad. Dan kali ini, tidak ada lagi rasa takut di dalamnya. Hanya keinginan untuk menjaga. Tak lama kemudian dokter masuk untuk pemeriksaan terakhir. “Kondisinya sudah stabil. Ibu Nadia boleh pulang, tapi tetap harus istirahat to

  • Om Bule Kekasihku   Belajar Tenang Kembali

    Pagi di rumah sakit terasa lebih hangat dari hari-hari sebelumnya. Sinar matahari masuk melalui jendela besar, menyentuh lembut wajah Nadia yang kini terlihat jauh lebih segar. Warna pucat di pipinya mulai berkurang, napasnya lebih stabil, dan senyum kecil mulai sering muncul di wajahnya. Namun di samping tempat tidur itu, Elena masih belum benar-benar tenang. Gadis kecil itu duduk bersandar, memeluk lengan Nadia seolah takut jika ia melepaskannya, semuanya akan kembali hilang. “Mama Nadia” Ia masih sering memanggilnya tanpa sadar. Nadia tersenyum lembut. “Aku di sini, sayang.” Elena mengangguk pelan. Namun matanya masih menyimpan sisa ketakutan. Pagi itu dokter datang untuk memeriksa kondisi Nadia. Daniel berdiri di dekat jendela, sementara Margaret, Lina, dan Ayu berada di sisi lain ruangan. Dokter tersenyum setelah selesai memeriksa. “Kondisinya sangat baik. Ibu Nadia hanya butuh beberapa hari lagi untuk pemulihan.” Nadia menghela napas lega. “Dan bayi saya?” Dokter m

  • Om Bule Kekasihku   Pulang Ke Tempat Yang Aman

    Sejak kembali dari rumah sakit, Elena tidak benar-benar merasa tenang. Walaupun Ayu dan Margaret berusaha mengalihkan perhatiannya mengajak makan, bercerita, bahkan menonton film favoritnya tapi tetap saja tidak ada yang berhasil. Gadis kecil itu hanya duduk di sofa, memeluk Bruno. Matanya sering kosong. Dan setiap beberapa menit, ia menoleh ke arah pintu. Seolah menunggu seseorang masuk. “Mama Nadia belum pulang ya?” tanya Elena pelan. Ayu menatap Margaret sekilas. “Belum, sayang. Mama Nadia masih harus istirahat di rumah sakit.” Elena mengangguk. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya lagi, “Kalau aku tidak di sana, mama Nadia tetap ada kan?” Pertanyaan itu membuat Margaret menahan napas. Ayu mencoba tersenyum. “Tentu saja ada. Mama Nadia nggak akan kemana-mana” Namun Elena tidak terlihat yakin. Ia menggigit bibirnya. Lalu tiba-tiba berdiri. “Aku mau ke rumah sakit.” Ayu terkejut. “Sekarang?” Elena mengangguk cepat. “Aku mau lihat mama Nadia.” Margaret mend

  • Om Bule Kekasihku   Ketakutan Elena

    Pagi di rumah sakit Florence terasa lebih ramai dari hari sebelumnya. Kamar Nadia kini dipenuhi orang-orang yang mencintainya. Margaret duduk di sofa kecil sambil berbicara pelan dengan Lina, sementara Rudi dan Thomas berdiri di dekat jendela membahas sesuatu dengan suara rendah. Ayu duduk di ujung tempat tidur sambil sesekali melirik Nadia dengan wajah masih penuh kekhawatiran. Namun di antara semua itu, ada satu hal yang paling terasa. Elena tidak pernah melepaskan tangan Nadia. Sejak malam sebelumnya, gadis kecil itu tetap duduk di kursi di samping tempat tidur. Tangannya menggenggam erat tangan Nadia, seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap tenang. “Elena, sayang” Lina mendekat dengan senyum lembut. “Kamu harus pulang sebentar, ya. Istirahat di villa.” Elena langsung menggeleng tanpa ragu. “Tidak mau.” Suaranya kecil. Namun tegas. Margaret ikut mendekat. “Kamu bisa kembali nanti, darling. Mama Nadia butuh kamu tetap kuat.” Elena menunduk. Tangannya justru

  • Om Bule Kekasihku   Tidak Ada Jalan Mundur

    Di depan rumah sakit, terdengar suara mesin pesawat pribadi Daniel yang baru saja mendarat di bandara terdekat masih terasa gaungnya dalam suasana yang tegang. Mobil hitam berhenti di depan pintu utama. Pintu terbuka cepat. Keluar terlebih dahulu Margaret Charter dengan wajah pucat penuh kecemasan, diikuti oleh Thomas Charter yang tetap terlihat tenang namun matanya tajam. Beberapa menit kemudian, mobil kedua datang. Rudi dan Lina turun dengan tergesa, diikuti oleh Ayu yang hampir berlari masuk ke dalam rumah sakit. Di dalam kamar, Nadia masih terbaring lemah, sementara Elena tertidur di sampingnya, masih menggenggam tangannya. Daniel berdiri di dekat jendela ketika pintu kamar terbuka. “Nadia!” Suara Lina langsung pecah. Ia berlari ke arah tempat tidur dan memegang wajah putrinya. “Nak, kamu nggak apa-apa?” Nadia tersenyum lemah. “Aku baik, ma” Namun Lina tetap menangis. Rudi berdiri di samping, menahan emosinya. Ia menepuk bahu Daniel pelan. “Apa yang sebenarnya te

  • Om Bule Kekasihku   Ketakutan, Amarah Dan Awal Kehancuran

    Pagi itu dalam kamar rumah sakit, suasana terasa sunyi, namun penuh emosi yang belum mereda. Nadia masih terbaring lemah di tempat tidur. Infus terpasang di tangannya, wajahnya pucat, namun napasnya stabil. Di kursi samping tempat tidur, Elena duduk diam. Tangannya menggenggam tangan Nadia erat, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan menghilang. “Mama Nadia” suaranya pelan dan bergetar. Nadia membuka matanya perlahan. Butuh beberapa detik hingga pandangannya fokus. “Elena” Gadis kecil itu langsung bangkit dan memeluknya dengan hati-hati. Tangisnya pecah lagi. “Aku pikir mama Nadia juga pergi..” Nadia langsung memeluknya walaupun tubuhnya masih lemah. “Mama Nadia ada di sini, nak” Elena menggeleng di pelukannya. “Aku takut, aku takut banget” Tangannya mencengkeram baju Nadia. “Aku sudah kehilangan mama Viola, aku tidak mau kehilangan mama Nadia juga” Air mata Nadia jatuh. Ia mencium rambut Elena berulang kali. “Tenang sqyang, mama Nadia tidak akan

  • Om Bule Kekasihku   Garis Yang Disepakati

    Keheningan kembali menyelimuti villa Blankenese setelah kepergian Elena. Namun kali ini, sunyi itu tidak kosong. Ia terasa seperti ruang yang sudah diisi, lalu dirapikan dengan hati-hati menyisakan jejak tawa kecil, seprai yang masih hangat, dan sebuah kepastian baru yang belum diberi nama. Nadia

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Om Bule Kekasihku   Kamar Dengan Jendela Besar

    Hari kedatangan Elena disambut langit Hamburg yang cerah, jarang-jarang biru, seolah kota itu sendiri ikut bersiap. Daniel berdiri di aula kedatangan bandara, sesekali melirik jam tangannya. Nadia berdiri di sampingnya, mengenakan mantel krem sederhana, rambutnya diikat rendah. “Kamu gugup?” tanya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Om Bule Kekasihku   Kota Yang Menyambut Tanpa Pertanyaan

    London menyambut mereka dengan langit kelabu yang lembut, bukan dingin tapi lebih seperti selimut tipis yang menenangkan. Taksi melaju perlahan melewati deretan bangunan bata merah, taman-taman kecil, dan jalanan yang basah oleh hujan pagi. Nadia duduk di samping Daniel, jari-jarinya saling berta

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Om Bule Kekasihku   Kota Yang Ditinggali Bersama

    Villa keluarga Daniel di Blankenese berdiri anggun di atas tanah yang landai, menghadap langsung ke Sungai Elbe. Bangunannya klasik dengan sentuhan modern serta jendela-jendela besar berbingkai putih, balkon panjang, dan taman luas yang dipenuhi pepohonan tua. Rumah itu tidak sekadar megah; ia meny

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status