Share

Keputusan Final

Author: Helen.Sky
last update publish date: 2026-05-21 17:16:42

Eva merasakan seluruh dunianya runtuh dalam sekejap, membuat pandangannya sempat mengabur saat mendengar kata perjodohan keluar dari bibir papanya di depan pria yang dicintainya.

"Perjodohan? Maksud Papa apa…?" sahut Eva dengan suara yang bergetar hebat, mencoba mencari kekuatan dengan berpegangan pada sandaran sofa.

Hendra tersenyum lebar, lalu membuka suara untuk memperjelas maksud kedatangan tamunya malam itu tanpa menyadari perubahan raut wajah putrinya.

"Benar, Eva. Ini memang kesepakatan lama antara Papa dan Om David dari dulu. Kami berdua sudah lama sepakat untuk menjodohkan kamu dengan anak laki-laki Om David yang namanya Rian," ujar Hendra dengan bangga.

Mendengar hal itu, kepala Eva langsung menoleh ke arah David.

David hanya duduk tegap dan menatap balik ke arah Eva dengan sepasang mata yang begitu datar dan tenang.

Begitu kalimat perjodohan itu selesai diucapkan oleh sang papa, Eva berdiri diam dengan tatapan kosong. Mendadak ia kehilangan fokus terhadap sekelilingnya, kedua tangannya tergantung lemas di sisi tubuh, sementara pandangannya bolak-balik menatap figur David dan sang papa, berusaha memahami realita di depannya yang terasa tidak nyata.

Hendra memajukan tubuhnya, menatap Eva dengan sorot mata yang dipenuhi rasa khawatir sekaligus menyelidik.

"Eva? Kamu baik-baik aja, kan? Pasti kabar dari Papa tadi bikin kamu makin syok, ya?"

Tentu saja Eva syok setengah mati. Siapa yang tidak akan kehilangan akal sehatnya jika berada di posisinya saat ini? Belum genap satu hari ia diputusin begitu saja oleh kekasihnya. Kini, pria yang sama malah duduk tenang di ruang tamunya untuk menjadi calon mertua.

"Aku... aku kayaknya cuma kecapekan, Pa. Aku mau ke kamar dulu buat istirahat," potong Eva terbata-bata.

Tanpa menunggu persetujuan dari sang papa, Eva langsung membalikkan badan dan melangkah meninggalkan ruang tamu.

"Eva! Kamu mau ke mana? Papa kan belum selesai bicara, Sayang!" panggil Hendra. "Eva! Sebentar dulu!"

Eva sengaja menulikan telinga. Ia terus melangkah cepat, mengabaikan setiap seruan sang papa di belakangnya, dan hanya fokus untuk segera mencapai pintu kamarnya sendiri.

Eva menutup pintu kamarnya, menyandarkan punggungnya di sana. Isi kepala Eva mendadak bising oleh kenyataan gila yang baru saja mengganggu kewarasannya.

Bagaimana mungkin kekasih yang selama lima bulan ini memeluknya, membelai rambutnya, dan berbagi rahasia dengannya, tiba-tiba menjelma menjadi calon papa mertua? Kenyataan itu terasa begitu menjijikkan sekaligus mengerikan.

David tidak hanya mendepak Eva dari kehidupanya, tetapi juga menjeratnya ke dalam skenario paling matang. Sisa-sisa rasa cinta yang sempat ada di dada Eva kini menguap, digantikan oleh rasa muak yang luar biasa atas kelicikan pria paruh baya tersebut.

Eva berjalan mondar-mandir di atas lantai kamarnya tanpa arah yang pasti, mencengkram kepalanya sendiri yang terasa mau pecah. Logikanya benar-benar dipaksa berputar mundur, mengingat kembali setiap ucapan manis dan janji-janji David yang ternyata tak lebih dari sekadar bualan busuk untuk menutupi rencana besar ini.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan beberapa kali di pintu seketika memutus badai pikiran di kepala Eva. Tak berselang lama, terdengar suara gagang pintu yang bergerak turun dari luar, sebelum akhirnya daun pintu itu terdorong terbuka perlahan dan menampilkan figur sang papa.

Hendra melangkah masuk ke dalam kamar putrinya, lalu menutup kembali pintu tersebut tanpa mengalihkan pandangan dari Eva yang masih berdiri kaku di dekat tempat tidur.

Eva menghentikan langkah kakinya, menatap papanya dengan dada yang bergemuruh hebat.

"Maksud Papa apa tiba-tiba bikin keputusan sepihak kayak begini?" cecar Eva yang menuntut jawaban segera.

Hendra tidak langsung menjawab, pria itu hanya menghembuskan napas pendek sembari menatap wajah putrinya.

"Kok Papa tega sih menjodohkan aku sama si Rian itu? Ketemu saja belum pernah, lihat wajahnya juga enggak tahu kayak gimana. Jujur aku kecewa banget, Papa sekarang egois dan enggak mikirin perasaan aku sama sekali!"

Setelah keheningan kembali menguasai ruangan dan napas Eva mulai sedikit mereda, Hendra perlahan melangkah mendekat ke arah area tempat tidur. Beliau kemudian mendudukkan dirinya di tepi ranjang, lalu mulai membuka suara dengan nada yang sangat rendah.

"Duduk dulu, Nak. Sebenarnya ada banyak masalah keluarga yang sengaja Papa tutup-tutupi dari kamu selama ini, semuanya karena Papa enggak mau kamu kepikiran," ujar Hendra.

Eva tetap terdiam di tempatnya berdiri di dekat meja belajar, menolak untuk duduk di tepi ranjang.

"Aku enggak butuh alasan apa pun lagi, Pa. Yang aku mau cuma satu, batalin rencana konyol ini sekarang juga," sahut Eva.

Hendra menggelengkan kepala perlahan, lalu mengusap wajahnya yang tampak kusam dengan sebelah tangan sebelum kembali menatap sang putri.

"Perjodohan ini bukan cuma soal janji kosong atau obrolan santai di masa muda, Eva. Ini masalah utang budi yang gede banget, kesepakatan yang bikin keluarga kita masih bisa bertahan hidup sampai detik ini," ungkap Hendra dengan nada yang begitu dingin sekaligus rapuh.

Hendra mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar, menerawang jauh mengingat kembali masa-masa kelam yang hampir menghancurkan seluruh hidup mereka beberapa tahun yang lalu.

Eva masih terpaku di tempatnya berdiri, ia mencoba menggerakkan bibirnya untuk mencari celah membantah atau mengeluarkan argumen baru.

Namun seluruh kata-katanya mendadak terhenti di ujung lidah karena beratnya tanggung jawab yang selama ini diemban sang ayah sendirian. Tubuhnya yang semula menegang penuh amarah kini perlahan mulai melemas, memaksa dirinya untuk melangkah mundur dan menjatuhkan diri di atas kursi belajar kayu di sudut kamar.

Eva menumpuk salah satu tangannya di atas permukaan meja belajar dengan siku bertumpu kuat, lalu menyandarkan keningnya di atas telapak tangan yang terbuka lebar untuk menyembunyikan wajahnya yang kini dipenuhi rasa frustrasi.

"Jadi maksud Papa, masa depanku ini cuma dijadikan alat tukar buat melunasi modal bisnis dari Om David?" tanya Eva dengan suara yang terendam di balik telapak tangannya, terdengar sangat getir dan penuh akan kekecewaan yang mendalam atas nasibnya sendiri.

Hendra bangkit dari tepi ranjang, melangkah mendekati kursi tempat Eva duduk lalu meletakkan tangannya di atas sandaran kursi putrinya dengan ragu.

"Tolong jangan salah paham, Nak. Papa terpaksa melakukan ini semua justru karena memikirkan masa depanmu," tutur Hendra, mencoba memberikan pengertian dari sudut pandang seorang ayah.

Eva mengangkat kepalanya, menatap papanya dengan sepasang mata yang merah dan digenangi air mata kekecewaan.

"Tapi kenapa solusinya harus lewat pernikahan, Pa? Bagi Papa mungkin ini jalan keluar yang terhormat, tapi buat aku ini namanya pemaksaan yang merenggut kebebasanku!" ucap Eva dengan nada pasrah yang menyakitkan.

Hendra menarik kembali tangannya, lalu melangkah menuju ke arah pintu kamar putrinya.

"Papa rasa pembicaraan ini sudah cukup jelas dan tidak ada lagi yang perlu kita perdebatkan, Eva," ucap Hendra.

Eva hanya bisa terdiam membisu di atas kursinya, meremas jemarinya sendiri dengan perasaan yang benar-benar hancur dan tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk melawan.

"Sekarang kamu istirahat dan siap-siap. Besok malam, kamu wajib ikut Papa untuk menghadiri acara makan malam sama seluruh keluarga besar David," instruksi Hendra.

Eva menatap punggung sang papa yang mulai menjauh keluar dari kamarnya dengan pandangan mata yang kosong dan hampa.

"Keputusan ini sudah bersifat final dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, termasuk oleh dirimu sendiri," tutup Hendra dengan tegas.

Sebelum melewati ambang pintu, Hendra berhenti sesaat dan berkata,

"Papa harap, kamu bisa bersikap lebih dewasa lagi dan menerima perjodohan ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Jarak dan Tatapan

    "Jalan terus, Eva. Jangan tengok kanan-kiri."Suara Hendra terdengar dingin di belakang punggung Eva. Dua pengawal bertubuh kaku berjalan mengapitnya kanan dan kiri, menjaga jarak tak lebih dari setengah meter.Eva mengabaikan teguran itu. Matanya terus bergerak liar menyapu kerumunan orang di area drop-off Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Ia berharap bisa melihat David walau janya sebentar."Cari siapa?" tanya Hendra datar."Bukan urusan Papa," sahut Eva singkat tanpa menoleh."Jangan berharap hal-hal yang sia-sia," bisik Hendra kaku, melangkah sejajar di samping putrinya. "David tidak akan datang.""Papa nggak tahu apa-apa soal dia.""Papa tahu kapasitasnya," potong Hendra cepat. "Dan dia tahu posisinya di mana."Eva meremas pegangan case biola di pelukannya menahan rasa sesak. Di dalam dadanya, satu nama terus bergema. Mas David... kamu baca pesanku semalam, kan? Kamu ada di mana?Di lantai dua, tepat di balik pilar beton besar yang menghadap langsung ke area check-in, David berd

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Teman Lama

    Sinar matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar. Bagi Eva, detik-detik terbitnya matahari terasa begitu cepat sekaligus menyiksa. Sepanjang malam ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Di genggaman tangan kanannya, ponsel pintar itu terasa begitu dingin. Benda kecil itu menjadi satu-satunya tempat untuk menyelundupkan pesan rahasia kepada David.Dug…dug…dug…Langkah kaki Hendra terdengar mendekat di lorong. Dan berhenti tepat di depan pintu kamar Eva, lalu pintu itu terdorong terbuka.Hendra melangkah masuk ke dalam kamar. Pria tua itu berdiri tegap, menatap putrinya dengan raut wajah kaku. Pandangan mata Hendra langsung mengunci pada ponsel yang dipegang erat oleh Eva. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Eva. "Sesuai janjimu semalam, Eva," suara Hendra memecah keheningan kamar.Hendra mengulurkan telapak tangan kanannya ke arah Eva. Janji yang disepakati semalam harus ditagih sekarang juga.Eva menatap telapak tangan papanya yang terbuka di ha

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Batas Akses

    Kesunyian di dalam kamar terasa kian mencekam seiring bergeraknya jarum jam. Eva berbaring telentang di atas kasur, menatap kosong pada langit-langit kamar yang temaram. Ponsel di genggamannya terasa hangat, layar pintarnya sebentar-sebentar menyala memperlihatkan nama David di bilah notifikasi, namun jemari Eva ragu untuk mengetik balasan. Perasaan tidak tenang menempel kaku di dadanya. Perubahan sikap papanya yang mendadak dingin bukanlah pertanda baik.Tok! Tok! Tok!Ketukan pintu yang teratur memecah keheningan. Eva tersentak, refleks duduk tegak di tepi kasur. Sebelum ia sempat menyahut, gagang pintu memutar dan sosok Hendra melangkah masuk.Di tangan kanan pria tua itu ada sebuah amplop dokumen berwarna cokelat tebal."Papa mengganggu istirahatmu?" tanya Hendra pelan, suaranya tanpa ada riak amarah sedikit pun.Eva menelan ludah, berusaha menutupi kegugupan di tenggorokannya. Ia meletakkan ponselnya di atas kasur, sedikit ke belakang tubuhnya. "Enggak, Pa. Ada apa?"Hendra mel

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Rencana Hendra

    Pagi itu, Eva melangkah turun dari tangga. Ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya, membawa tas serta beberapa dokumen proyek yang sempat ia pelajari semalaman. Meski sisa cemas dari kejadian semalam masih mengintai, ia berusaha menepisnya dan bersiap berangkat. Namun, baru beberapa langkah menuju pintu utama, ia menghentikan langkahnya."Mau ke mana?" tanya Hendra dingin. Pria tua itu berdiri di dekat meja makan, menyesap kopinya tanpa menoleh sedikit pun.Eva menghentikan langkah, membalikkan badan dengan hembusan napas pelan. Bener, kan... pasti ada sesuatu, bisik batinnya prihatin."Mau berangkat ke proyek, Pa. Masih banyak barang yang harus diselesaikan hari ini," jawab Eva berusaha setenang mungkin.Hendra meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu menatap putrinya. "Mulai hari ini, kamu tidak usah kerja lagi."Mata Eva membelalak kaget. Ia mengambil langkah mendekat, mencoba menawar dengan logika. "Lho, kenapa, Pa? Papa sendiri yang bilang kemarin kalau kekurangan orang.""Papa s

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Tidak Biasa

    Pintu SUV hitam itu terbuka, dan Hendra melangkah keluar. Suara tepuk tangan berturut-turut menggema di pelataran parkir proyek."Luar biasa..." ujar Hendra sambil terkekeh sinis. "Ternyata benar apa yang dibilang staf saya di lapangan. CEO besar rela turun langsung inspeksi ke proyek jam begini. Saya kira ada kebocoran struktur gedung yang darurat, ternyata cuma mau menjemput anak saya."Eva yang masih berusaha menyesuaikan matanya dari silau lampu, mencoba melepaskan diri dari dekapan David. "Papa? Papa ngapain di sini?"Hendra tidak menjawab Eva, matanya tetap mengunci David dengan pandangan meledek yang penuh kebencian. "Kalian mau ke mana malam-malam begini? Mau makan malam? Kok tidak ngajak saya?”David tetap berdiri tegap, merapikan posisi Eva di belakang tubuhnya secara halus."Selamat malam, Hendra," sapa David, suaranya tenang tanpa ada riak kepanikan. "Eva sudah selesai dengan pekerjaannya. Saya cuma bermaksud mengantarnya makan.""Tidak perlu," potong Hendra cepat, suarany

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Berani

    Detik berikutnya, David menarik kursi tepat di hadapan Hendra tanpa meminta izin. Ia duduk santai, lalu menyandarkan Punggungnya. Sepasang matanya menatap pria tua itu. "Aku pikir juga begitu," ujar David singkat.Hendra terkekeh sinis. "Iya... hubungan kita memang tidak bisa dibiarkan hancur begitu saja, kan?"David hanya menyunggingkan senyum tipis. Ia tidak berniat menanggapi atau memperpanjang kalimat Hendra. Pria itu justru memajukan tubuhnya pelan, mengulurkan tangan, lalu mengetuk berkas kontrak di atas meja dua kali dengan ujung jarinya.Sebuah gestur sederhana, namun penuh akan pesan tersirat bahwa nasib perusahaan dan hidup Hendra kini sepenuhnya ada di bawah ketukan jarinya.Hendra mengepalkan tangan di atas meja, menatap jari David dengan wajah mengeras. "Kamu sengaja tidak menyisakan ruang sedikit pun, David."David bersandar kembali. Tangannya tertaut tenang di atas pangkuan."Kamu yang memilih jalan ini, Hendra," bisik David datar.Hendra menarik napas berat, menatap D

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Tangan yang Gemetar

    Mobil sedan hitam milik Rian berhenti tepat di depan pelataran rumah besar berarsitektur Eropa. Eva menatap keluar jendela dengan campur aduk. Jadi ini rumah David? Selama lima bulan berpacaran dulu, mereka hanya menghabiskan waktu di kota perantauan, tempat Eva menempuh pendidikan kuliah dan Dav

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Di Luar Kendali

    Eva berdiri mematung di depan wastafel, menatap lurus ke arah cermin besar berbingkai emas di hadapannya. Ia memperhatikan bayangan wajahnya sendiri yang tampak begitu asing dan melelahkan. Kedua tangannya mencengkram pinggiran wastafel dengan begitu erat, mencoba mencari tumpuan untuk tubuhnya ya

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Di Bawah Meja Makan Malam

    Eva bersandar pada kursi makannya, mencoba menahan rasa bosan yang mulai menyerang sejak pertama kali tiba di restoran mewah ini. Di atas meja bundar berlapis kain marun di depannya, deretan sendok dan garpu perak sudah tertata rapi, bersanding dengan gelas-gelas anggur yang masih kosong. Hari ini

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Plot Twist Takdir

    Eva langsung menarik napasnya, sementara jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya saat mengenali postur tubuh tegap yang sangat dihafalnya itu. Seluruh isi kepalanya mendadak berputar hebat, mencoba mencerna bagaimana mungkin David bisa berada di dalam rumahnya dan duduk berhadapan den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status