Mag-log inEva bersandar pada kursi makannya, mencoba menahan rasa bosan yang mulai menyerang sejak pertama kali tiba di restoran mewah ini. Di atas meja bundar berlapis kain marun di depannya, deretan sendok dan garpu perak sudah tertata rapi, bersanding dengan gelas-gelas anggur yang masih kosong.
Hari ini, Eva akhirnya menurut untuk menghadiri makan malam perjodohan ini. Ia tidak punya pilihan lain setelah melihat kerapuhan sang ayah yang menanggung beban utang budi sedemikian besar. Lagipula, kehadiran David di seberang meja yang bersikap teramat acuh, membuktikan bahwa kebersamaan mereka memang sudah tidak ada artinya bagi pria itu. Tepat di sebelah kanannya, Rian duduk sembari merapikan sedikit kerah jas biru gelapnya. Pria itu sedikit memutar tubuhnya agar bisa terus menatap Eva, lalu melempar sebuah senyuman ramah. "Ternyata aslinya jauh lebih cantik dari yang aku bayangkan," puji Rian. "Terima kasih atas pujiannya," sahut Eva memutus aliran antusiasme yang coba dibangun oleh pria di sampingnya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah buku menu berlapis kulit di samping piringnya, mengabaikan tatapan Rian yang masih belum beralih sedikit pun darinya. Di sela denting sendok dan garpu yang beradu di atas piring, David meletakkan kain serbetnya, lalu menoleh ke arah anak laki-lakinya yang duduk di sebelah Eva. Di seberang meja, Hendra tampak tertawa lebar setelah menyesap minumannya, merasa sangat lega melihat suasana malam ini tidak setegang yang ia takutkan. Beliau menoleh ke arah David dengan tatapan penuh rasa hormat. "Aduh, Vid, beneran deh. Saya tuh bener-bener bersyukur banget bisa dapet calon besan kayak kamu," kata Hendra sembari menatap sahabat lamanya itu. "Pokoknya kalau Eva udah masuk ke keluarga kamu, saya udah gak mikir apa-apa lagi deh. Udah pasti cerah banget masa depannya." David hanya menyandarkan punggungnya, lalu menganggukkan kepala, sebelum kembali menyesap wine merah dari gelasnya. Rian yang menangkap arah obrolan Hendra pun langsung menyahut dengan sopan untuk menanggapi calon mertuanya. "Om Hendra tenang saja, aku pasti akan menjaga Eva dengan baik kok," timpal Rian. Mendengar kata "menjaga" keluar dari mulut Rian, gerakan tangan Eva yang sedang memotong daging di piringnya seketika terhenti. Eva tertawa getir di hatinya. Rasanya mustahil memercayai kalimat itu keluar dari darah daging mantan pacarnya sendiri. Menurutnya, Rian kemungkinan besar akan mewarisi isi kepala dan sifat dari sang ayah. Merasa suasana di sekitarnya kian menghimpit, Eva perlahan mendongak. Di luar kendalinya, sepasang matanya bergerak lurus ke seberang meja, tepat ke arah David. Di seberang meja, David menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis, lalu kembali melanjutkan makannya. Belum sempat Rian melanjutkan ucapannya, sebuah denting notifikasi terdengar dari ponsel pintar milik Eva yang tergeletak di atas meja, menampilkan gambar wallpaper foto Eva yang sedang berpose memeluk sebuah biola kayu berwarna cokelat tua. "Wah, itu tadi foto kamu lagi main biola, ya?" tanya Rian tiba-tiba. Eva mengangguk pelan. "Iya, itu foto beberapa bulan yang lalu pas aku selesai tampil di sebuah acara komunitas kecil," jawab Eva. "Kebetulan banget, bulan lalu aku baru menang lelang biola klasik legendaris di Eropa, dan sekarang barangnya di ruang koleksi rumahku," ungkap Rian. "Oh, keren ya," sahutnya datar tanpa menoleh ke arah Rian. "Iya, aku emang suka banget koleksi instrumen klasik kayak gitu. Makanya pas lihat ada biola langka kemarin, langsung aku ambil tanpa pikir panjang," lanjut Rian menjelaskan. Sembari mendengarkan kelanjutan ocehan Rian, sesekali mata Eva melirik ke seberang meja, melihat David yang sedang sibuk mengobrol dengan papanya. Rian kemudian sedikit memutar posisi duduknya agar bisa lebih dekat, lalu berbicara dengan nada setengah berbisik. "Bagaimana kalau besok sore kamu mampir ke rumahku untuk lihat dan coba langsung biola klasik itu?" Pandangan Eva kembali terlempar ke seberang meja. Napasnya seketika tertahan saat mendapati David rupanya sudah menatap lurus ke arahnya. Dengan cepat, ia langsung membuang muka. Belum sempat menjawab ajakan Rian, ia tersentak saat merasakan ada sentuhan yang mendadak di bawah meja. Sembari menahan jantungnya yang berdentum liar, Eva segera menoleh lagi ke arah Rian, mengabaikan heels-nya yang tanpa sengaja bersentuhan dengan sepatu David. "Boleh deh, besok sore aku luangin waktu buat main ke rumah kamu. Penasaran banget pengen coba mainin instrumen selangka itu," ujar Eva. "Oke, deal ya. Besok sore biar aku jemput kamu," balas Rian. Di bawah sana ia merasakan sepatu David mulai bergerak naik, terang-terangan menggesek kulit betisnya. Seketika Eva membeku. Ia kembali menoleh ke seberang meja, disambut seulas senyuman tipis David. Eva langsung berdiri tegap, memutus paksa kontak fisik tersebut. "Maaf, aku izin ke toilet sebentar," pamit Eva terburu-buru. Ia melangkah cepat meninggalkan ruang makan. Sembari setengah berlari, pikirannya yang terus berputar liar. Apakah dia sudah gila?!Kesunyian di dalam kamar terasa kian mencekam seiring bergeraknya jarum jam. Eva berbaring telentang di atas kasur, menatap kosong pada langit-langit kamar yang temaram. Ponsel di genggamannya terasa hangat, layar pintarnya sebentar-sebentar menyala memperlihatkan nama David di bilah notifikasi, namun jemari Eva ragu untuk mengetik balasan. Perasaan tidak tenang menempel kaku di dadanya. Perubahan sikap papanya yang mendadak dingin bukanlah pertanda baik.Tok! Tok! Tok!Ketukan pintu yang teratur memecah keheningan. Eva tersentak, refleks duduk tegak di tepi kasur. Sebelum ia sempat menyahut, gagang pintu memutar dan sosok Hendra melangkah masuk.Di tangan kanan pria tua itu ada sebuah amplop dokumen berwarna cokelat tebal."Papa mengganggu istirahatmu?" tanya Hendra pelan, suaranya tanpa ada riak amarah sedikit pun.Eva menelan ludah, berusaha menutupi kegugupan di tenggorokannya. Ia meletakkan ponselnya di atas kasur, sedikit ke belakang tubuhnya. "Enggak, Pa. Ada apa?"Hendra mel
Pagi itu, Eva melangkah turun dari tangga. Ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya, membawa tas serta beberapa dokumen proyek yang sempat ia pelajari semalaman. Meski sisa cemas dari kejadian semalam masih mengintai, ia berusaha menepisnya dan bersiap berangkat. Namun, baru beberapa langkah menuju pintu utama, ia menghentikan langkahnya."Mau ke mana?" tanya Hendra dingin. Pria tua itu berdiri di dekat meja makan, menyesap kopinya tanpa menoleh sedikit pun.Eva menghentikan langkah, membalikkan badan dengan hembusan napas pelan. Bener, kan... pasti ada sesuatu, bisik batinnya prihatin."Mau berangkat ke proyek, Pa. Masih banyak barang yang harus diselesaikan hari ini," jawab Eva berusaha setenang mungkin.Hendra meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu menatap putrinya. "Mulai hari ini, kamu tidak usah kerja lagi."Mata Eva membelalak kaget. Ia mengambil langkah mendekat, mencoba menawar dengan logika. "Lho, kenapa, Pa? Papa sendiri yang bilang kemarin kalau kekurangan orang.""Papa s
Pintu SUV hitam itu terbuka, dan Hendra melangkah keluar. Suara tepuk tangan berturut-turut menggema di pelataran parkir proyek."Luar biasa..." ujar Hendra sambil terkekeh sinis. "Ternyata benar apa yang dibilang staf saya di lapangan. CEO besar rela turun langsung inspeksi ke proyek jam begini. Saya kira ada kebocoran struktur gedung yang darurat, ternyata cuma mau menjemput anak saya."Eva yang masih berusaha menyesuaikan matanya dari silau lampu, mencoba melepaskan diri dari dekapan David. "Papa? Papa ngapain di sini?"Hendra tidak menjawab Eva, matanya tetap mengunci David dengan pandangan meledek yang penuh kebencian. "Kalian mau ke mana malam-malam begini? Mau makan malam? Kok tidak ngajak saya?”David tetap berdiri tegap, merapikan posisi Eva di belakang tubuhnya secara halus."Selamat malam, Hendra," sapa David, suaranya tenang tanpa ada riak kepanikan. "Eva sudah selesai dengan pekerjaannya. Saya cuma bermaksud mengantarnya makan.""Tidak perlu," potong Hendra cepat, suarany
Detik berikutnya, David menarik kursi tepat di hadapan Hendra tanpa meminta izin. Ia duduk santai, lalu menyandarkan Punggungnya. Sepasang matanya menatap pria tua itu. "Aku pikir juga begitu," ujar David singkat.Hendra terkekeh sinis. "Iya... hubungan kita memang tidak bisa dibiarkan hancur begitu saja, kan?"David hanya menyunggingkan senyum tipis. Ia tidak berniat menanggapi atau memperpanjang kalimat Hendra. Pria itu justru memajukan tubuhnya pelan, mengulurkan tangan, lalu mengetuk berkas kontrak di atas meja dua kali dengan ujung jarinya.Sebuah gestur sederhana, namun penuh akan pesan tersirat bahwa nasib perusahaan dan hidup Hendra kini sepenuhnya ada di bawah ketukan jarinya.Hendra mengepalkan tangan di atas meja, menatap jari David dengan wajah mengeras. "Kamu sengaja tidak menyisakan ruang sedikit pun, David."David bersandar kembali. Tangannya tertaut tenang di atas pangkuan."Kamu yang memilih jalan ini, Hendra," bisik David datar.Hendra menarik napas berat, menatap D
David menoleh perlahan ke arah Rian. Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya. Senyuman itu sama sekali tidak mencapai sepasang matanya yang kelam."Papa sangat mengagumi dedikasi kamu, Rian," ujar David tiba-tiba dengan suara mengayun santai. "Ternyata seorang Direktur Operasional punya waktu sebanyak itu untuk mengurusi semua proyek."Rian seketika bungkam. Raut wajah polos yang tadinya ia pasang langsung luntur. Senyum di bibirnya tergantikan oleh keterkejutan yang berusaha keras ia sembunyikan. Pria muda itu mematung, tak menyangka gerakannya sore tadi sudah berlabuh begitu cepat di telinga papanya.David melangkah maju hingga ia berdiri tepat di hadapan putranya. Pria matang itu menatap Rian, memberi tekanan tanpa perlu menaikkan nada suaranya."Jangan pernah lupa, Rian..." bisik David, menekan setiap patah kata dengan penuh peringatan. "...kamu masih berada di dalam masa pengawasan Papa."David langsung melangkah tegap melintasi ruang tamu, meninggalkan Rian yang berdiri membeku
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Eva berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya. Derap langkah kakinya terdengar tergesa berpacu dengan detak jantungnya yang bergemuruh hebat. Begitu pintu kaca otomatis bergeser terbuka, Eva langsung melangkah mendekat ke tempat ayahnya berdiri, matanya menatap sang papa dengan bauran cemas dan kebingungan yang makin menumpuk. Namun, Hendra tidak menangkap apa yang Eva rasakan, pria tua itu membuang puntung rokoknya ke dalam tempat sampah, lalu berbalik jalan mendahului Eva menuju area parkir tanpa sedikit pun melirik putrinya."Pa..." panggil Eva, mempercepat langkah agar bisa berjalan beriringan dengan papanya.Hendra tetap diam. Wajahnya datar, melangkah lurus dengan pandangan terkunci ke depan seolah Eva hanya angin lalu.Sikap Hendra justru membuat rasa penasaran di dada Eva makin meledak. Ia tidak tahan lagi untuk menahan pertanyaan yang sejak tadi menyiksa pikirannya."Papa... Papa sekarang udah biasa ya ngobrol sama Rian?" tanya Eva, memasuk
Eva merasakan seluruh dunianya runtuh dalam sekejap, membuat pandangannya sempat mengabur saat mendengar kata perjodohan keluar dari bibir papanya di depan pria yang dicintainya. "Perjodohan? Maksud Papa apa…?" sahut Eva dengan suara yang bergetar hebat, mencoba mencari kekuatan dengan berpegangan
Eva langsung menarik napasnya, sementara jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya saat mengenali postur tubuh tegap yang sangat dihafalnya itu. Seluruh isi kepalanya mendadak berputar hebat, mencoba mencerna bagaimana mungkin David bisa berada di dalam rumahnya dan duduk berhadapan den
"Eva, lebih baik kita sampai di sini aja," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut David. Pria berusia empat puluh lima tahun itu duduk tegap di hadapan Eva, melipat kedua lengan kekarnya di depan dada sambil menatap lurus tepat ke arah sepasang mata gadis itu. Wajahnya tampak begitu dingin, se
Mobil sedan hitam milik Rian berhenti tepat di depan pelataran rumah besar berarsitektur Eropa. Eva menatap keluar jendela dengan campur aduk. Jadi ini rumah David? Selama lima bulan berpacaran dulu, mereka hanya menghabiskan waktu di kota perantauan, tempat Eva menempuh pendidikan kuliah dan Dav







