LOGINEva langsung menarik napasnya, sementara jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya saat mengenali postur tubuh tegap yang sangat dihafalnya itu. Seluruh isi kepalanya mendadak berputar hebat, mencoba mencerna bagaimana mungkin David bisa berada di dalam rumahnya dan duduk berhadapan dengan sang papa.
Dari balik celah pintu, mata Eva tidak berkedip memperhatikan profil samping wajah David yang terpahat tegas. "Kok Mas David bisa tahu rumahku? Padahal seingatku, aku sama sekali belum pernah cerita soal alamat rumahku atau soal Papa ke dia," batin Eva dengan cemas. Ketakutan besar langsung menguasai benak Eva hingga telapak tangannya mendadak dingin. Mengingat status hubungan mereka selama ini disembunyikan rapat-rapat dari sang papa, pikiran buruk Eva langsung tertuju pada satu kesimpulan yang mengerikan. "Jangan-jangan dia ke sini mau ngaduin aku ke Papa? Mau bilang kalau aku pacaran sama pria berumur?" tanyanya dalam hati, panik membayangkan amarah papanya jika sampai rahasia ini terbongkar langsung dari mulut David. Lamunan buruk Eva seketika buyar ketika sang papa tiba-tiba menolehkan kepala ke arah kamarnya dan memergoki separuh wajah putrinya yang sedang mengintip dari balik celah pintu. Pria paruh baya itu mengulas senyum tipis lalu memberikan isyarat tangan agar Eva segera keluar dari kamar untuk bergabung di ruang tamu. Gerakan tangan sang papa seketika memicu kepanikan luar biasa di dalam dada Eva. Ia merasa sangat tidak siap mental jika harus berhadapan dengan David di depan papanya sendiri. Namun, tatapan mata sang papa yang menuntut kepatuhan membuat Eva tidak memiliki celah sedikit pun untuk mundur atau bersembunyi kembali ke dalam kamarnya. Hendra memperbaiki posisi duduknya di atas sofa rotan, lalu mengetukkan jemarinya ke atas meja kaca untuk menarik perhatian putrinya yang masih ragu di ambang pintu. "Eva, ayo keluar kamar sebentar dan ke sini. Ada tamu penting yang harus kamu temui," instruksi Sang Papa. Eva hanya bisa menggigit bibir bawahnya, meremas ujung bajunya dengan sangat erat untuk meredakan badai kepanikan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Ia memandang papanya dengan tatapan meminta pertolongan, berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya terbebas dari situasi kaku ini. Hendra menggelengkan kepala pelan, melihat keraguan putrinya yang tampak jelas dari gestur tubuhnya yang menegang di balik daun pintu. "Ayo cepat keluar, Nak," tambah Hendra lagi yang membuat Eva akhirnya terpaksa memutar gagang pintu dan melangkah keluar dengan pasrah. Eva melangkah keluar dari dalam kamar dengan tungkai yang terasa sangat berat dan ragu, sesekali menundukkan kepala untuk menutupi wajahnya yang sembab serta matanya yang memerah akibat tangisan. David langsung berdiri dari sofa rotan untuk menyambut kehadiran putri dari tuan rumah, menampilkan senyuman tanpa ada sedikitpun kecanggungan di wajahnya. Tatapan mata pria itu sangat tenang dan datar saat memandang Eva, seolah-olah mereka adalah dua orang asing yang baru pertama kali bertatap muka di dunia ini. Sikap dingin dan formal yang ditunjukkan David seketika memperkuat ketakutan Eva, membuatnya semakin yakin bahwa pria itu benar-benar datang untuk membongkar rahasia mereka di depan sang papa. "Eva, kenalin ini Om David. Dia ini sahabat Papa dari zaman kami masih remaja dan sekolah bareng dulu," ujar Hendra mengulurkan tangan untuk menepuk pundak tegap David dengan sangat akrab. Eva merasa seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas mendengarkan penjelasan sang papa, sementara matanya menatap David dengan tatapan tidak percaya yang berusaha ia sembunyikan. Jadi… ini kah alasan pria itu mengakhiri hubungan secara sepihak? Eva memaksakan diri untuk mengulurkan tangan, menyambut jabat tangan pria yang beberapa jam lalu baru saja bersamanya sebagai seorang kekasih. David menjabat jemari Eva dengan genggaman yang sangat kaku, tipis, dan berlalu dengan sangat cepat. "Malam, Eva. Senang sekali bisa bertemu kamu. Papamu sering cerita tentang kamu," timpal David. Hendra dan David kembali mendudukkan tubuh mereka di atas sofa rotan setelah sesi perkenalan singkat yang terasa sangat menyiksa bagi batin Eva yang sedang terluka. Suasana di dalam ruang tamu yang awalnya terasa hangat seketika berubah menjadi sangat serius, ditandai dengan perubahan raut wajah kedua pria matang itu. Eva sendiri memilih untuk tetap berdiri kaku di samping kursi Papanya, meremas kedua tangannya sendiri dengan perasaan yang benar-benar campur aduk setelah mengetahui fakta bahwa David adalah rekan lama sang ayah. Hendra berdeham sebentar, lalu menatap Eva. "Eva, kedatangan Om David hari ini sebenarnya untuk membahas perjodohan kamu yang sudah kami sepakati dari dulu.""Eva, lebih baik kita sampai di sini aja," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut David.Pria berusia empat puluh lima tahun itu duduk tegap di hadapan Eva, melipat kedua lengan kekarnya di depan dada sambil menatap lurus tepat ke arah sepasang mata gadis itu. Wajahnya tampak begitu dingin, sedingin es batu yang mulai mencair di dalam gelas minuman mereka yang terabaikan sejak tadi.Seketika Eva terdiam kaku di tempat duduknya. Kedua tangannya yang berada di atas meja saling bertautan, wajahnya sedikit memucat karena menahan gejolak di dalam dada."Kenapa tiba-tiba putus?" tuntut Eva sembari menatap lurus ke dalam mata pria yang sudah menemaninya selama lima bulan terakhir ini.David menarik napas dalam-dalam, membiarkan dadanya membusung sejenak di balik setelan kemeja kerja abu-abunya yang masih tampak sangat rapi."Umur kita jaraknya terlalu jauh. Aku merasa kamu lebih cocok jadi anakku daripada pacarku," ucap David.Mendengar alasan menjijikan yang keluar dari mulut pria itu,
Eva langsung menarik napasnya, sementara jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya saat mengenali postur tubuh tegap yang sangat dihafalnya itu. Seluruh isi kepalanya mendadak berputar hebat, mencoba mencerna bagaimana mungkin David bisa berada di dalam rumahnya dan duduk berhadapan dengan sang papa.Dari balik celah pintu, mata Eva tidak berkedip memperhatikan profil samping wajah David yang terpahat tegas. "Kok Mas David bisa tahu rumahku? Padahal seingatku, aku sama sekali belum pernah cerita soal alamat rumahku atau soal Papa ke dia," batin Eva dengan cemas.Ketakutan besar langsung menguasai benak Eva hingga telapak tangannya mendadak dingin. Mengingat status hubungan mereka selama ini disembunyikan rapat-rapat dari sang papa, pikiran buruk Eva langsung tertuju pada satu kesimpulan yang mengerikan."Jangan-jangan dia ke sini mau ngaduin aku ke Papa? Mau bilang kalau aku pacaran sama pria berumur?" tanyanya dalam hati, panik membayangkan amarah papanya jika sampai ra
Eva merasakan seluruh dunianya runtuh dalam sekejap, membuat pandangannya sempat mengabur saat mendengar kata perjodohan keluar dari bibir papanya di depan pria yang dicintainya. "Perjodohan? Maksud Papa apa…?" sahut Eva dengan suara yang bergetar hebat, mencoba mencari kekuatan dengan berpegangan pada sandaran sofa.Hendra tersenyum lebar, lalu membuka suara untuk memperjelas maksud kedatangan tamunya malam itu tanpa menyadari perubahan raut wajah putrinya."Benar, Eva. Ini memang kesepakatan lama antara Papa dan Om David dari dulu. Kami berdua sudah lama sepakat untuk menjodohkan kamu dengan anak laki-laki Om David yang namanya Rian," ujar Hendra dengan bangga.Mendengar hal itu, kepala Eva langsung menoleh ke arah David.David hanya duduk tegap dan menatap balik ke arah Eva dengan sepasang mata yang begitu datar dan tenang.Begitu kalimat perjodohan itu selesai diucapkan oleh sang papa, Eva berdiri diam dengan tatapan kosong. Mendadak ia kehilangan fokus terhadap sekelilingnya, ke
Eva bersandar pada kursi makannya, mencoba menahan rasa bosan yang mulai menyerang sejak pertama kali tiba di restoran mewah ini. Di atas meja bundar berlapis kain marun di depannya, deretan sendok dan garpu perak sudah tertata rapi, bersanding dengan gelas-gelas anggur yang masih kosong. Hari ini, Eva akhirnya menurut untuk menghadiri makan malam perjodohan ini. Ia tidak punya pilihan lain setelah melihat kerapuhan sang ayah yang menanggung beban utang budi sedemikian besar. Lagipula, kehadiran David di seberang meja yang bersikap teramat acuh, membuktikan bahwa kebersamaan mereka memang sudah tidak ada artinya bagi pria itu.Tepat di sebelah kanannya, Rian duduk sembari merapikan sedikit kerah jas biru gelapnya. Pria itu sedikit memutar tubuhnya agar bisa terus menatap Eva, lalu melempar sebuah senyuman ramah. "Ternyata aslinya jauh lebih cantik dari yang aku bayangkan," puji Rian."Terima kasih atas pujiannya," sahut Eva memutus aliran antusiasme yang coba dibangun oleh pria di s
Eva berdiri mematung di depan wastafel, menatap lurus ke arah cermin besar berbingkai emas di hadapannya. Ia memperhatikan bayangan wajahnya sendiri yang tampak begitu asing dan melelahkan. Kedua tangannya mencengkram pinggiran wastafel dengan begitu erat, mencoba mencari tumpuan untuk tubuhnya yang mendadak terasa lemas. Sialan. Pria itu benar-benar sudah gila.Eva membuang napasnya perlahan, menikmati kesunyian di dalam toilet yang terasa jauh lebih aman daripada meja makan di luar.Bagaimana bisa David duduk setenang itu setelah bertingkah gila di bawah meja.Eva menyalakan keran air, membiarkan gemercik air yang deras menyamarkan suara helaan napas panjangnya yang terdengar begitu frustrasi. Tindakan lancang laki-laki itu benar-benar membuat isi kepalanya mendidih. Eva benar-benar muak dengan kelakuan kurang ajar David yang sengaja menyenggol betisnya. Sampai kapan ia harus menahan amarah di depan orang berengsek seperti itu.Ia menghembuskan napas kasar sekali lagi, lalu meneg







