LOGINWalaupun ragu, tangan kanan Devan pada akhirnya mengetuk pelan pintu kamarnya. Satu... dua... tiga detik berlalu, masih menunggu balasan, bahkan berharap istrinya di dalam mempersilahkannya untuk masuk—tetapi tidak, tidak ada balasan sama sekali.
"Sya... saya masuk ya," katanya yang langsung membuka handle pintu. Disya menatapnya dengan kening mengernyit, selimut sudah menutupi sebagian tubuhnya yang berada di atas kasur. "Memang Disya ngijininin Pak"Kok ngga ada dekorasi sih, Sya?" tanya Alya dengan kening mengernyit menatap sekitaran halaman rumah, hanya ada Devan dan si kembar yang sedang duduk di gazebo sibuk meniup balon. "Bang Devan tuh ngga punya duit sampe ngga mampu buat beli dekor!" dumel Gio dengan wajah memerah kesal. Alya, Fani, dan juga Yumna yang baru datang sama-sama mengeryit menatap Disya. "Padahal kalau pake dekor lebih bagus lho, Sya. Bisa bikin postingan sosmed kita estetik tau!" usul Alya. "Bang Devan tuh kolot banget!" Lagi-lagi Gio mulai mengomel. "Lo juga, Sya! Bisa-bisanya ketularan Bang Devan sih?" Disya terkekeh pelan. "Acaranya kan jam tiga sore, ini masih jam sepuluh. Kalian datangnya kepagian sih makannya disuruh Pak Devan niup balon." Gio mencebik kesal, tetapi mulutnya masih sibuk meniup balon. Dio juga melakukan hal yang sama, bedanya lelaki itu lebih bersikap tenang seperti Devan. "Kita pesen dekor kok, sebentar lagi juga s
"Ada apa?" tanya Disya melirik suaminya beberapa detik, lalu kembali fokus dengan kegiatanya yang sedang memasangkan dasi di leher Devan.Lelaki itu tersenyum lalu mengusap lembut pipi kanan Disya. "Kamu cantik sekali, Sya?"Disya memberengut, memukul pelan dada Devan untuk menutupi rasa gugupnya. Bukan satu, dua bulan mereka bersama. Tetapi, Disya selalu dibuat salah tingkah jika Devan menggodanya. Jelas pipinya bersemu merah sekarang, membuat Devan gemas, tidak tahan untuk menciuminya, bahkan lelaki itu sudah memeluk tubuh Disya."Pak Devan harus sarapan, nanti telat.""Saya cuti lagi ya hari ini.""Ngga boleh! Kemarin kan Pak Devan udah ngambil cuti."Devan berdecak, lelaki itu malah semakin memeluk Disya erat. "Saya mau sama kamu terus...." rengeknya manja—Bukan Devan sekali 'kan?!"Ayo sarapan, di bawah Naya sama Bang Sam pasti nungguin!" kata Disya mencoba melepaskan pelukan suaminya."Biarkan saja mereka," ucap Devan sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya.Kalau sudah begi
"Abang cinta sama Naya, Sya...." Disya mengangguk pelan memeluk lengan Samudra dengan lembut sesekali mengelusnya, mencoba menyampaikan bahwa ia percaya dengan ucapannya—bagaimana Disya tidak percaya, manik mata Abangnya sudah memerah sekarang, bahkan berkaca-kaca jika saja matanya berkedip beberapa detik maka air mata yang menggenang itu akan jatuh membasahi pipinya. "Abang ngga tau kenapa kamu sama Devan masih belum percaya itu. Abang harus bagaimana lagi?" Disya menggeleng pelan. "Pak Devan bilang apa sama Bang Sam?" Tanya Disya memastikan, beberapa menit yang lalu suami dan abangnya ini baru mengobrol di halaman samping. Disya sudah mengetahui apa yang dibahas, tetapi ia tidak tahu secara rinci kalimat seperti apa yang suaminya ucapkan kepada Samudra sehingga lelaki itu sampai berkaca-kaca hendak menangis seperti ini. "Disya cuman takut—" "Sudah beberapa kali Abang bilang takut kalian itu keterlaluan, berlebihan. Apalagi sekarang
"Siapa Layla?" Samudra menoleh, lelaki itu baru mendaratkan bokongnya di kursi dan langsung ditembak dengan pertanyaan dari Devan yang sudah menatapnya dengan tatapan penuh selidik—menginterogasi. "Siapa Layla bagi kamu dan Mamah Gina?" Tanya Devan lagi, memperjelas pertanyaannya. "..." Samudra masih diam, tidak membalas tatapan Devan, lelaki itu memilih menatap ke depan dengan mulut terkatup rapat. "Disya menangis semalam, dia mengkhawatirkan pernikahan kalian berdua, dia takut terjadi masalah di hubungan pernikahan kamu dengan Naya, dia takut jika hal itu terjadi... saya akan meninggalkannya—" Devan menjeda kalimatnya, terdengar helaan nafas berat dari mulutnya, mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak lagi menatap Samudra. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak mengingat semalam Disya menangis tersedu karena masalah ini. "Saya tidak akan pernah melakukan kesalahan untuk kedua kalinya—saya tidak akan pernah meninggalkan Disya apapun
Tentang Layla dan bayinya yang ada di kediaman Gina, dan Disya yang bertanya apakah Devan akan meninggalkannya jika terjadi hal buruk dalam pernikahan Samudra dan Naya—Tidak salah kan kalau Devan menyangkut pautkan semuanya? "Bayi itu... anak Samudra?" Disya menggeleng cepat. Segera merogoh handphonenya di dalam tas, tangannya dengan cepat mencari file dokumen hasil tes DNA yang pernah dikirim oleh Alif dan juga Naya. "I—ini, ini Naya sama Alif yang ngirim bukti ini ke Disya," kata Disya sembari menyodorkan handphonenya kepada Devan, kedua pipinya basah, matanya memerah karena masih menangis. Devan segera menerima handphone untuk membaca file tersebut, wajahnya tampak serius, dingin—Selama keduanya kembali bersama, Disya baru melihat ekspresi wajah Devan yang seperti itu, lagi. "Ada jaminan ini dokumen asli?" Disya menunduk dalam, meremas dressnya kuat, berusaha untuk menahan isak tangisnya. "Naya datang
Suasana di rumah ini sangat ramai dan hangat terlebih karena kehadiran bayi dalam gendongan Gina. Bahkan Ayah dan Bunda Disya juga sesekali berekspresi lucu untuk mendapat tawa dari bayi kecil itu, ini adalah kali pertama terdengar ada tawa bayi di dalam keluarga—Kai dulu hadir di keluarga ini saat berusia lima tahun, bukan bayi—mereka tampak senang seolah ini adalah pengalam pertama. Disya melirik Naya yang duduk di sampingnya, ikut tersenyum melihat bayi dalam gendongan Gina. Bergantian, menatap Samudra yang duduk di samping Naya, lelaki itu juga terlihat menyunggingkan senyumnya beberapa kali ketika si bayi tertawa. Satu-satunya orang yang tidak ikut terbawa suasana hangat di ruang tengah ini adalah Disya. Perempuan itu bangun dari duduknya, menjauh dari perkumpulan, tidak ada yang menyadari, pun ia tidak mengatakan akan pergi ke mana. Memilih ke luar dari dalam rumah untuk duduk di kursi taman sembari menunggu kedatangan suaminya. Acara dinner akan dilangsungkan setelah kedatan
Duduk setengah berbaring di atas karpet dengan alas tumpukan beberapa selimut bedcover yang menjadi satu, punggungnya bersandar di sofa, Devan memperhatikan kuku jari jemarinya yang sedang dipotong oleh Disya. "Sini Disya potongin kukunya, udah pada panjang itu." Hanya kalimat itu yang sebelumnya d
Saat sarapan pagi itu, Kai meminta ijin kepada Devan untuk ikut bersama Husein dan Maya mengunjungi kediaman Samudra dan Naya di Bandung. Tentu saja Devan memberi ijin, akhir-akhir ini Kai pasti kesepian sekali, tidak ada Disya juga Naya—walaupun banyak bertengkar dengan Naya, tetapi tetap saja Kai
Butuh waktu untuk ke luar dari rasa terpuruk karena duka mendalam. Disya masih merasa bersedih, kehilangan, menyesal, atas kepergian ketiga orang yang sudah menjadi bagian tersendiri di hidupnya. Husein, Maya, dan terlebih Kai—bolehkah waktu diputar kembali? Disya ingin memperbaiki hubungannya deng
“Tipe gue oke ngga, Bang?”Devan menengok, menatap Gio yang juga sedang menatapnya dengan senyuman lebar juga kedua alisnya yang dinaik turunkan setelah mengajukan pertanyaannya.“Hm.”“Cantik banget Sarah—”“Sudah sedekat itukah kalian sampai kamu tidak memanggil Sarah dengan sebutan Mba—dia lebih tua







