Share

Chapter 2

Penulis: Black Eagle
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-09 09:17:24

Prak!

Aku terhentak mendengar suara pintu mobil yang baru saja dibanting Annie, ya aku tahu dia masih kesal denganku.

"Ada apa dengannya?" Om Tom yang mengernyitkan kening, dan tentu saja bingung dengan tingkah anaknya sendiri.

"Mungkin sedang tidak mood, Om." Aku melepas sabuk pengaman dari tubuhku dan keluar dari mobil.

"Ya mungkin saja." Dia tersenyum padaku, yang membuatku tentu merasa canggung.

"Terima kasih ya, Om, tebengannya." Aku menutup pintu, dan Om Tom dia hanya mengangguk dengan senyum padaku, lalu menyalakan mesin mobil. Aku yang merasa bahwa akan terlambat masuk kelas, lalu buru-buru menyebrang, tetapi setelah berada di sebrang jalan aku mendengar suara, "Lisa, kau melupakan—"

Byuar!

Prak!

Aaaa!

Aku menoleh ke belakang dan melihat tubuh Om Tom terlempar ke tengah jalan setelah sebuah motor pengantar pizza menghantamnya, tidak sengaja.

Bibirku menyengat tipis, tubuh ku lemas, ponselku yang berada di tangan Om Tom pecah, dan seseorang menabrak ku dari belakang sementara aku masih merasa bahwa dunia berhenti sejenak.

"Segera telpon ambulance!"

Orang-orang berkerumun dan aku masih berdiri di tempat ku, rasanya kepalaku terhantam sesuatu tanpa menyentuhnya, seorang wanita setengah baya menarik baju ku.

"Kau mengenalnya Nak? Apa kau anaknya?"

Tubuhku lemas dan aku bahkan tidak bisa merasakan sesuatu saat tubuhku terjatuh, berlutut ke aspal jalanan.

"Kau baik-baik saja?"

"Dia pasti kaget, mungkin anaknya."

Aku menoleh ke kiri dan ke kanan lalu mendengar suara sirene mulai mendekat, "Masuklah ke mobil ambulans, temani ayahmu." Aku menoleh ke arah wanita setengah baya yang masih menganggap bahwa Om Tom adalah ayahku.

Aku yang masih setengah mati dan hidup berjalan seperti mayat yang bernyawa, masuk ke dalam ambulance. Tetapi setelah melihat wajah Om Tom yang terbaring tak sadarkan diri, kening yang berdarah dan kacamata yang pecah, kesadaranku rasanya kembali.

"Om ... Tom ... Tom." Tanganku meraih tangannya yang terasa dingin, air mata ku menetes dan berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Ponsel ku yang pecah sepertinya masih bisa digunakan. Segera aku menghubungi keluarga Om Tom, Annie, Lucas dan Tante Amanda, mereka semua perlu tahu.

Dan beberapa saat kemudian kami tiba di rumah sakit, aku merasa kikuk, bingung, dan kalang kabut, dan setelah keluarga Om Tom datang, aku bergegas pulang ke rumah.

Saat berada di rumah, ayah tampak panik setelah mendengar kabar bahwa sahabatnya mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit.

"Ayah baru mau ke rumah sakit, kau sudah ada di rumah. Ayo kita ke rumah sakit lagi." Dia menarik lenganku lembut tetapi aku tidak menjawab apa pun.

Langkah ku terus maju dan mendaki anak tangga, masuk ke kamar ku dan menangis di dalam sana. Apa yang akan terjadi pada Om Tom? Dia sudah hendak pergi tapi karena aku lupa ponsel ku dia berniat mengembalikannya, dan semua ini terjadi.

Mataku mulai sembab, dan aku terbaring di lantai kamar menyesali apa yang seharusnya tidak aku sesali.

Sepanjang malam aku mengunci di dalam kamar, tidak makan dan bicara dengan siapa pun hingga pagi, dan ketukan di luar pintu kamar lalu terdengar.

"Lisa? Apa kau baik-baik saja? Ayah sudah menyiapkan sarapan untuk kamu. Dan syukurlah Ayah dapat kabar dari Amanda kalau Tom sekarang sudah sadar, apa kau ingin menjenguknya dengan ayah sebentar?"

Sontak kaki ku yang letih kini bangkit, aku bangun dan berjalan ke pintu, membuka pintu dan menatap ayah lekat-lekat, "Benarkah?"

Ayah menjelaskan semuanya, dia tampak ceria seperti biasanya, dan berkata bahwa dia akan menjenguk Tom sekali lagi, sementara aku tidak berkata apa pun padanya selain, "Aku akan ke kampus. Aku kemarin bolos, jadi—"

"Baiklah kalau begitu, kita akan menjenguk Tom malam saja."

Aku menatap ayah dengan tatapan yang datar lalu menyelesaikan sarapan ku. Tidak ada yang bisa aku katakan lagi padanya selain pergi dari sana dan hendak menuju kampus.

Saat berada di dalam taksi pandanganku mengarah pada gedung rumah sakit di mana Om Tom dirawat dan aku sontak berkata, "Di sini saja." Kuserahkan ongkos taksinya dan keluar dari mobil.

Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku harus berhenti di sini? Ah ya aku harus bertemu dengan Om Tom, semua ini salahku.

Pikirku terus menerus.

Aku masuk ke dalam rumah sakit, ke ruangan di mana Om Tom dirawat tapi tidak ada siapa pun di sana, selain Om Tom.

"Kok nggak ada orang?" Aku bertanya pelan, lalu tanganku membuka ruangan kamar Om Tom dan melihat dia berbaring sendiri di atas ranjang rumah sakit.

Tubuhnya cukup panjang, ya dia jangkung dan dia terlelap. Aku beberapa kali menelan saliva setelah menatap tubuhnya yang cukup kekar, gagah, kini tak berdaya.

Jemariku menyentuh kulit tangannya lembut lalu tangan ku yang kecil berjalan ke arah otot-otot lengan Om Tom.

"Dia ... Bagaimana mungkin dia tetap sebugar ini di usianya?" Lalu tatapan ku yang tadinya berada pada lengannya yang berotot, kini menatap wajahnya, tanpa kacamata, hanya wajah yang terlihat tak berdaya.

Kedua kelopak matanya tertutup, dan bibirnya yang sedikit terbuka. Sekali lagi aku menelan salivaku dan apa yang aku pikirkan?

Kepala ku tertunduk, mendekat ke arah wajah yang tertidur itu, dan aku tidak tahu, sadar atau tidak sadar, bibirku menyentuh bibirnya, mataku tertutup, aku merasakan bibirnya yang kemudian membalas kecupanku dan seketika kedua kelopak mataku terbuka, menatap mata Om Tom yang membelalak sempurna menatap ku dan dalam sekejap kuangkat kembali kepalaku, menatap Om Tom yang tentu kebingungan.

"Apa yang kau lakukan, Lisa?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Om Tom, Kekasih Gelapku    LISA, TOM DAN MARTIN

    "Kau mencintai ku Lisa." "Sangat." Dan Lisa bersandar di dinding pintu, saat jaketnya merosot ke lantai dan meninggalkan gaun ungu lembut membalut tubuhnya. Tom berdiri di depannya, dia menjatuhkan tongkatnya dan tegak walau dengan kaki pincang yang terasa nyeri. "Ted bilang aku akan menyesal." "Persetan dengan Ted." Lisa mengalungkan tangannya di leher Tom sementara kedua tangan Tom berada di pinggang Lisa. Wajah mereka terlalu dekat sehingga napas satu sama lain terasa begitu jelas. "Bagaimana dengan Martin?" Lisa menunduk, perlahan lalu mengangkat kepalanya, "Ayah tidak akan tahu. Aku akan menikah dengan Lucas dan kita akan berada di atap yang sama. Namaku akan menjadi Lisa Archer. Dan kau ayah mertuaku." Sangat lembut, Tom dengan senyumnya bertanya, "Berjanjilah bahwa tidak akan ada yang tahu." "Tidak akan ada yang tahu." Lalu tangan yang tadinya berada di leher Tom kini terangkat ke kepala Thomas Archer, dia meremas rambutnya sembari berkata, "Sekarang, rasakan aku Tho

  • Om Tom, Kekasih Gelapku    MOMENT OF DISASTER

    Moment 3: Martin "Akun tidak yakin bahwa dia akan datang." Seorang pria berambut coklat dengan tubuh kekar duduk bersandar di ruang rapat. "Ini sudah setengah jama dan Thomas Archer belum tiba." "Dia hanya punya nama dan kita bekerja untuknya, dan sekarang kita menunggunya." "Bahkan saat dia datang, pasti dia hanya duduk, bicara singkat lalu pulang." Seseorang yang lainnya tertawa kecil dan mereka berhenti saat Martin Braun masuk ke dalam sana, ke ruang rapat. "Beliau belum datang?" Pertanyaan yang diberikan oleh Martin pada mereka yang dibalas gelengan. Martin menghela napas, mengecek ponselnya. Dia menatap nomor ponsel Tom tapi kembali menurunkan ponselnya. "Kenapa tidak dimulai saja tanpanya?" Seseorang mengusulkan. "Lagi pula perusahaan akan tetap jalan walau tidak ada dia. Yang penting hanyalah tanda tangannya, Pak Martin?" Martin tidak menjawab, memulai rapat tahunan tanpa pemilik sah adalah sesuatu yang tidak terhormat, pikirnya. Dia berjalan masuk ke area rapat dan dudu

  • Om Tom, Kekasih Gelapku    MOMENT BEFORE DISASTER 3

    Moment 2: Thomas ArcherPantulan wajah itu menua, bahkan saat dia sudah memotong rapih rambutnya yang sempat menebal. Cambangnya kini menghilang dan dia melangkah pelan, semakin dekat ke arah cermin.Telunjuknya menyentuh sisi mata yang menua, yang sudah berkerut menyadari bahwa dia tidak pantas. Setidaknya dalam beberapa menit dia merasa kelayakannya sudah hilang untuk menyentuh siapa pun selain istrinya. Tapi menyentuh Amanda pun terasa sulit sebab wanita itu sibuk dengan dunianya dan Tom perlahan hilang minat. Dia kembali mundur singkat, langkahnya pincang menuju nakas yang berdiri di samping ranjang saat dia meraih kacamata dan mulai mengenakannya. Penglihatannya lebih jelas, dan segera dia mengenakan rompi biru dongkernya dan meminta pembantunya untuk memesankan dia taksi online. Yang tidak lama akhirnya datang, saat berada di dalam mobil dia bicara pada si driver, "Apa bisa aku meminta jasa Anda setelah ini? Jam tiga sore kira-kira." "Jasa driver Tuan?" "Iya. Tapi Anda jug

  • Om Tom, Kekasih Gelapku    MOMEN BEFORE DISASTER

    Moment 1: Lisa Martin mengatakan kepadanya bahwa dia dan Tom akan ada rapat hari ini. Lalu gadis ini berkata, "Aku mungkin akan pulang malam, Ayah." Martin mengernyit ketika dia nyaris memasukkan sepatu mengkilatnya ke dalam kaki berkaos biru putih. "Kok? Kan kamu udah lulus, kenapa tidak istirahat? Atau kamu mau ketemu Lucas lagi?" Dia mengejek, apple cheek pria itu terlihat jelas memerah dan Lisa hanya menggeleng. "Aku mau ketemu teman, udah lama nggak ketemu mereka." "Okey." Martin berdiri tegak lalu keluar dari rumah, dia menghilang menuju rumah keduanya, tempat kerja. Pada jam dua belas siang, Lisa kembali ke kamarnya mencoba bermacam-macam gaun yang cocok di depan cermin. "Hmmm ... Dia suka warna ungu." Susah payah gadis itu merombak lemarinya hingga dia menemukan gaun warna ungu lembut yang sudah lama tidak dia kenakan. Dia mencobanya terlebih dahulu dan masih sangat pas untuk tubuhnya yang mulai mengurus. Tak lupa menyediakan lensa agar tak perlu menggunakan kacamat

  • Om Tom, Kekasih Gelapku    Chapter 64

    Lusa akan ada rapat di perusahaan, Martin baru saja mengirimkannya foto dia dan Lucas yang sekarang berada di rumah mereka, bersama dengan Lisa yang berada di tengah. Dia tidak merasakan apa pun, tidak bereaksi apa pun selain mematikan ponselnya dan duduk di kursi kayu di halaman depan mansion. Dia melakukan ini setiap kali dia ingin tenang. Dan kepalanya lebih dingin saat malam semakin gelap dan lampu-lampu mulai menyala. Dia juga melihat istrinya keluar dari mobil setelah seharian berada di tempat terapinya. Marc tampak setia di samping Amanda, membantu wanita itu berjalan dengan tongkat kaki empat. Marc bahkan mengantarnya hingga masuk ke dalam mansion. Mereka bahkan tak melihat Tom yang sejak tadi duduk di sana, sendirian dengan tongkat kayu dan mencoba untuk tidak memikirkan apa pun. Setelah tadi siang dia bicara dengan Richart dan sorenya dia bicara dengan Ted. Ted yang berada di apartemennya sendirian, hidup sendirian dan bahkan tidak ada yang tahu apakah dia punya seorang

  • Om Tom, Kekasih Gelapku    Chapter 63

    Tom: Aku sudah bicara dengan Richart. Dia setuju untuk mengaku dan dipecat secara tidak hormat dari kampus Aku menatap pesan itu, apa aku akan lega atau tidak, entahlah. Tapi saat ini aku masih berbaring di atas ranjang ku. Ku taruh kembali ponsel ku dan ku tarik selimut ku. Aku juga menunggu kedatangan Ayah bersama Lucas dan aku yakin mereka sedang berada di coffee shop dan sedang berbincang kayaknya calon ayah mertua dan calon menantunya. Dan ya bahkan hingga sore aku masih belum menemukan ayah, sampai akhirnya malam akan segera tiba dan aku mendegar pintu rumah terbuka. Ku lepas selimut ku, aku masih dalam kondisi berbaring di atas ranjang dengan tubuh telentang. Lalu ku gerakkan kaki ku dan aku segera duduk di atas ranjang, aku meminggir dan kaki ku menyentuh lantai. Segera aku menyalakan lampu dan dengan kaos longgar dan celana pendek longgar ku kenakan aku kemudian keluar dari kamar, berjalan malas menuruni anak tangga. "Kau pikir kenapa pria itu tiba-tiba mengaku? Astaga, i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status