LOGINsi Gideon Harris Valleria ay Isang 24 yr.old calculus Teacher sa Isang university.matangkad, matalino, gwapo at my pagka manyak na klase ng lalaki at kahit sinong kababaihan ay hinahangad sya at sya Naman si Sabrina Kennedy Ellington 20 yr old and 3rd yr. College Law student sa Isang university, maganda, matalino , matangkad at my pagka kalog na klase ng babae dahil sa Isang gabing kasiyahan Ay magtatagpo Ang landas nilang dalawa at mag sasama sa iisang kama at lalasapin Ang sarap ng bawat Isa. Ngunit sa Hindi inaasahang pagkakataon ay malalaman ni Gideon na Ang naka one night stand Pala nya ay Ang kanyang estudyante at Hindi pa roon natatapos Ang rebelasyon malalaman pa nyang si Sabrina Pala Ang kanyang magiging step sister Magiging masaya kaya Ang takbo ng buhay ng dalawa? Tunghayan Ang takbo ng kwento nila Gideon Harris Valleria at Sabrina Kennedy Ellington sa ngalan ng kalibugan at kalokohan. My One Night Stand turned out to be my Step brother!
View More"Ah..."
Rintihan itu lolos begitu saja dari bibir Li Lian, memecah kesunyian yang pengap. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—serak, basah, dan penuh damba.
Sentuhan itu tidak lagi sekadar menelusup, tapi menuntut. Telapak tangan yang lebar dan panas itu merayap naik dari pinggang, menekan lekuk tubuh Li Lian hingga ia terpaksa melengkungkan punggung, mencari lebih banyak kontak.
Jubah sutranya yang tipis terasa seperti gangguan, ia bisa merasakan tekstur kasar jemari pria itu yang bergesekan dengan kulitnya yang sensitif, menyulut api di setiap titik yang dilewatinya.
Li Lian memejamkan mata erat-erat, membiarkan kepalanya tersandar pada dada bidang yang keras dan kokoh. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi cendana dan hujan menyergap indra penciumannya, membuatnya pening oleh gairah yang belum pernah ia rasakan selama tiga tahun pernikahan dinginnya dengan Wu Chen.
Di sini, di bawah kukungan pria asing ini, Li Lian bukan lagi istri yang diabaikan. Ia adalah pusat semesta pria ini.
Napas pria itu memburu, terasa panas dan lembap saat bibirnya menyapu lembut tengkuk Li Lian, meninggalkan jejak panas yang merayap hingga ke tulang belakang. Setiap sentuhan terasa seperti klaim—sebuah kepemilikan yang begitu intens hingga membuat kaki Li Lian terasa lemas.
"Putri Li Lian..." bisik pria itu. Suaranya berat dan rendah, bergetar tepat di telinganya seperti petir yang menggelegar namun menenangkan.
Li Lian tersentak, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat. Dalam keremangan bayangan, ia hanya bisa melihat siluet rahang yang kokoh dan garis bibir yang tegas.
Panggilan itu—Putri Li Lian—adalah racun sekaligus penawar.
Sudah terlalu lama gelar itu dikubur bersama harga dirinya. Ia adalah anak haram yang tak diinginkan, buah dari skandal bangsawan yang memalukan. Darahnya terlalu mulia untuk dibuang, namun keberadaannya dianggap sampah oleh keluarga Wu Chen.
Pria itu menghentikan gerakannya, namun tidak menjauh. Ia justru mengeratkan pelukannya, menekan tubuh Li Lian lebih rapat hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka. Matanya yang tajam mengunci tatapan Li Lian, seolah sedang meminum seluruh luka yang selama ini ia sembunyikan.
Pria itu menarik dagunya, memaksa Li Lian menatap kedalaman matanya yang penuh badai. "Putri Li Lian, jangan pernah lupakan aku saat kau terbangun nanti. Fajar akan memisahkan kita, tapi aku butuh kau tetap hidup agar aku bisa menemukan jalan pulang."
“Tapi….”
“Aku percaya padamu, Putri Li Lian.”
Sentuhan panas itu tiba-tiba tersentak hilang. Cahaya fajar menusuk masuk melalui celah jendela, merobek kenyamanan mimpi itu dengan paksa.
Li Lian tersentak bangun. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun dengan cepat sementara paru-parunya terasa sempit. Ia meraba leher dan wajahnya yang masih terasa panas merona. Di sampingnya, ranjang itu tetap luas, rapi, dan sedingin es.
Wu Chen, suaminya, tidak ada di sana. Seperti biasanya, pasti menghabiskan malam di paviliun Mawar.
Wu Chen, suaminya, memang tidak pernah sekalipun tidur bersamanya karena sehari setelah pernikahan mereka, dia sudah memutuskan mengambil Mei Lan yang hanya seorang pelayan istana biasa sebagai selir. Namun, Mei Lan adalah satu-satunya perempuan yang ada di hati Wu Chen.
Dan ini adalah mimpi kesekian kali ketika pria itu muncul.
"Nyonya Muda, Anda sudah bangun?" suara datar dan dingin dari pelayan senior, Bibi Rumi, memecah keheningan. "Cepatlah bersiap. Tuan Besar sedang dalam suasana hati yang buruk karena perintah mendadak dari Kaisar."
Li Lian membiarkan para dayang membasuh tubuhnya. Mereka bekerja dengan gerakan kasar, tanpa rasa hormat yang seharusnya diberikan pada istri sah seorang Perdana Menteri. Pikiran Li Lian masih tertahan pada suara rendah pria di mimpinya. Putri Li Lian...
"Siapa tamu yang akan datang?" tanya Li Lian pelan saat rambutnya disanggul.
"Jenderal Chen Xu," jawab Bibi Rumi sambil memasangkan tusuk konde perak dengan gerakan menyentak. "Beliau dari perjalanan perang dalam keadaan terluka parah dan membutuhkan tempat istirahat serta menyembuhkan dirinya, tidak mungkin langsung kembali ke istana. Jadi…"
Li Lian mengernyit. Nama itu, Chen Xu, terasa asing namun memicu debaran aneh di dadanya.
“Aku mengerti, Bi…untuk sementara jenderal itu akan tinggal di sini”
Langkah kaki Li Lian bergema di koridor kayu aula utama. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat suaminya, Wu Chen, berdiri memunggungi pintu dengan sikap tubuh yang angkuh. Di hadapan WU Chen, serombongan prajurit kekaisaran berdiri tegap, mengelilingi sebuah kursi tandu.
"Li Lian…Kau terlambat," tegur Wu Chen tanpa menoleh, suaranya penuh penghinaan terselubung. "Sambutlah tamu kita. Pastikan kamu melayaninya dengan baik. Jangan membuatku kesulitan di hadapan Kaisar."
Li Lian menunduk, mencoba mengabaikan rasa sakit di hatinya. Namun, saat ia mengangkat wajah untuk memberikan salam formal, dunianya seolah berhenti berputar.
Seorang pria sedang mencoba berdiri dari kursinya, bersandar pada tongkat kayu hitam. Sosok itu tampak ringkih, kulitnya pucat seolah tak pernah tersentuh matahari, dan napasnya terdengar berat. Namun, saat pria itu mendongak, Li Lian merasa bumi bergeser dari porosnya.
Rahang itu. Garis bibir itu. Dan yang paling utama—aroma cendana yang samar terbawa angin saat pria itu bergerak.
"Jenderal Chen Xu..." Wu Chen memperkenalkan dengan nada malas. "Ini istriku, Li Lian."
Tatapan Chen Xujatuh tepat di mata Li Lian. Detik itu juga, udara di aula terasa mampat. Mata itu tidak lagi terpejam seperti dalam mimpi, mata itu kini terbuka, tajam, kelam, dan penuh dengan badai yang tak terucapkan.
Jantung Li Lian jatuh ke dasar perutnya. Ia mengenali tatapan itu. Itu adalah sorot mata yang sama yang menatapnya dengan penuh gairah dan kepedihan beberapa menit yang lalu di bawah pohon persik.
"Nyonya Muda Chen," suara Chen Xu terdengar parau, jauh lebih rendah dan pecah dibanding suaranya di dunia mimpi, namun getarannya tetap sama. Ia membungkuk sedikit, tubuhnya yang lemah terlihat gemetar, namun matanya tetap mengunci Li Lian.
Li Lian membeku. Pria ini... pria yang telah menyentuh bagian terdalam dari jiwanya, pria yang tahu setiap rahasia dan air matanya, kini berdiri hanya tiga langkah darinya. Nyata. Hidup.
Namun, kenyataan pahit menghantamnya karena ia adalah seorang Jenderal besar, dan dirinya adalah istri sah dari pria yang paling dibenci Chen Xu di kekaisaran ini.
"Selamat datang... Jenderal," bisik Li Lian, suaranya nyaris hilang.
"Mulai hari ini, kau yang akan mengurus semua keperluan Jenderal Chen Xu," perintah Wu Chen tanpa beban.
* Asher Pov *yes masakit pero kailangan ko syang ibalik sa tunay na nag mamay ari ng puso nya kahit balibaliktarin ko rin naman ang mundo pag ang puso na ang umiral wala tayong magagawa kundi sundin ito mahal ko sya pero panahon na para kalimutan nya ang nakaraan at magpatawad masakit man para sakin na ipaubaya sya pero wala eh!! hindi sya magiging masaya sa piling ko hanggat ang puso nya ay nakatabi na para kay gideon pauwi nako ng bahay ng may matanaw akong isang lalaki na nakaupo sa gilid ng kalsada sa labas ng gate namin bumaba ako at bumungad sakin si gideon na nakaupo at may hawak na bote ng alak lumapit ako rito at umupo sa tabi nya" kay tagal din ng huli tayong nag inom ng magkakasama" turan ko"congrats nakuha mo na sya" nakayukong saad nito sinulyapan ko sya at bahagyang napangiti at muling ibinalik sa langit ang paningin " ako na sana ang pinaka masayang lalaki sa mundo kung totoo ang sinasabi mo " nakangiting saad ko " anung ibig mong saboihin?'' takang tanong
* Sabrina Pov * ( FLASHBACK )" Hello Sige papunta na kami" napatingin Ako Kay Asher ng tumitig ito sakin" nasa kamay na ng mga pulis si Raiko" Turan nito " talaga?" Napatayo Saad ko tumango lang ito at lumapit sakin" Tara na " Anya tumango Naman Ako at dali dali Kaming sumakay ng sasakyan ng makarating kami sa pulis station ay napatigil muna kami sa pinto " ready kanang pagbayarin Ang lalaking Yun?" Napatingin Ako rito at napatango tango " kung ganun let's go" sabay bukas nito ng pinto ng makapasok na kami ay bumungad Samin si Raiko na puro pasa ng mukha at naka posas Ang mga kamay nito sa likod." Masaya kaba sa magiging bago mong Bahay?" Lapit ko rito napatingala ito at napangisi sakin" Ikaw Pala Yan sabrina Kay tagal din nating di nagkita" ngisi nito " kamusta Yung baby mo? Oh Wala na Pala Yun" tumatawang Saad nito bigla namang uminit Ang ulo ko sa sinabi nito kaya bigla ko nalang syang sinampal " hayup ka sabihin mo anung kinalaman mo sa pagkawala ng baby ko" nagpipigil luh
* Gideon Pov *Nandito Ako Ngayon sa loob ng office ko at kinakalikot Ang laptop ko habang kinakalikot Ang laptop ko Ay napatingin Ako sa phone ko ng bigla itong tumunog at bumungad sakin Ang video ng Isang lalaking nakaupo sa silya at nakatali Ang kamay at paa pinanuod ko Ang videon at nabigla Ako sa nakita si Raiko nahuli na sya at masnanlaki Ang mata ko sa inamin nito napakuyom Ako ng kamao sa inamin nito natigil Ang video at biglang nag ring Ang phone ko" hello bro andito Ako sa pulis station Kasama ko na tong damuho nato kung gusto mo syang Makita pumunta ka nalang dito at may mga letrato Pala akong isesend sayo tignan mo nalang " Saad ni Aiden sa kabilang linya " ok" maikling tugon ko at binaba Ang tawag tinutulugan ni Aiden Ang mga pulis na mahuli si Raiko dahil sa pulis Naman at nasa mataas na position Ang kapatid nyang lalaki nagawa nilang mahanap si Raiko. habang naghihintay ay bigla ng tumunog Ang phone ko at bumungad sakin Ang mga picture nila na magkasama at nag
* Asher Pov *I'm here at my office it's 9:30 am nakaupo lang Ako Dito sa loob ng office ko at nakasandal sa upuan ko habang nakatitig sa kisame. Namumugto Ang mata ni Sabrina ng sinundo ko sya nung nakaraan sinabi nya sakin Ang dahilan at tungkol nanaman Kay Gideon dinayo pa sya nito sa office ni Sabrina para lang paiyakin nanaman ito Wala talagang pinagbago.Tok***Tok***Napatingin Ako sa pinto ng bigla itong bumukas" hi " napangiti naman Ako ng bumungad sakin Ang nakangiting mukha ni Sabrina " Hi what are you doing here?" Sabay lapit ko rito. " Well Hindi Naman Ako busy ngayong araw sa office naisip Kong hatiran ka ng tanghalian " nakangiting Saad nito napangiti naman Ako sa sinabi nito at sinundan ito ng tingin patungo sa mesa ko at nagumpisa ng ilabas Ang mga pagkain na nasa paper bag " answerte ko Naman sa mapapangasawa ko maganda ma maalaga pa" ngisi ko rito " Naku wag mo na nga akong bolahin oh kainin mo na to Ako nagluto nito" sabay lapag nito ng Kanin at ulam sa mesa












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.