Share

Belajar Kencan

Penulis: Adelia17
last update Tanggal publikasi: 2026-09-06 21:33:34

“Siapa namanya?” tanya Dhefin.

“Emiko?” sahut Tama dengan nada bertanya.

“Abaikan dia! Ayo kita masuk saja!” ujar Zayn buru-buru melangkah menuju ke arah pintu utama ballroom.

Dhefin dan Tama saling menatap sejenak, mereka lantas mengangkat bahu dan mengikuti langkah Zayn.

Rupanya acara dimulai tepat waktu. Ketika para anggota Tthree tiba di dalam ballroom hotel, pengantin sudah berada di atas panggung.

“Kamu saja yang memberi ucapan selamat kepada pengantin dan keluarganya. Kita akan menikmati
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • One Two Three and Action   Malam Pertama

    “Fiuh! Selesai juga. Aku bisa keramas sekarang,” ujar Emiko usai melepas aksesori rambut.Acara sudah selesai sekitar empat puluh lima menit yang lalu. Namun, Zayn dan Emiko masih menunggu saudara dan tim event organizer yang juga ingin foto bersama. Pun mereka berbincang sejenak, sebelum akhirnya pamit masuk ke dalam kamar.Tidak seperti di dalam film yang mana pengantin bisa bermesraan sambil melepas gaun dan menikmati malam panjang mereka, Emiko justru disibukkan dengan aksesori rambut yang begitu banyak.“Kita mandi bersama!” sahut Zayn dari arah sofa. Laki-laki itu sudah melepas jas sejak masuk ke dalam kamar dan sengaja menunggu istrinya yang tidak mau dibantu.“Aku akan lama karena rambutku terlalu kaku.” Emiko berkata.Gadis itu sengaja memberi alasan yang jujur, tetapi terselip unsur ingin menghindar. Mereka memang sudah sah menjadi suami istri, tetapi dia merasa Zayn terlalu berterus terang. Itu membuatnya seakan tidak memiliki kesempatan untuk bersikap malu-malu.“Tidak mas

  • One Two Three and Action   Hari yang Bersejarah

    Kesibukan menjelang hari H pernikahan membuat Emiko tidak lagi memikirkan hal yang lain, termasuk calon mama mertuanya. Dia tidak ingin memusingkan hal-hal kecil, apalagi persiapan pernikahan sudah seratus persen selesai, hanya tunggu pelaksanaannya saja.Jangan salah mengerti! Bagi Emiko, masalah sikap calon mama mertuanya yang tidak bersahabat bukan sesuatu yang kecil atau dianggap tidak penting, melainkan dia ingin meminimalkan pemikiran yang belum tentu benar agar langkahnya lebih ringan.Satu hal yang pasti, gadis itu hanya ingin menikmati waktunya bersama Kirani dan Anna, karena dia menyadari bahwa setelah menikah semua akan berubah.Walaupun Zayn tidak akan pernah melarang Emiko bertemu mama atau sahabatnya, tetapi keadaan pasti berubah. Dia tidak mungkin bisa bebas seperti sebelum menikah. Keluarga kecil yang sedang mereka bangun akan menjadi prioritas utama.Sayangnya, tidak semua orang menyadari tentang hal itu, khususnya orang tua. Tidak heran kalau ada seorang ibu yang mas

  • One Two Three and Action   Menjelang Hari H

    Hari-hari di Pulau Bali membuat Emiko merasa tidak ada jalan untuk mundur. Gadis itu terus menyangkal firasatnya tentang Juli dan berpikir bahwa dia hanya perlu memaafkan.Emiko berusaha keras mengganti rasa khawatir dan pikiran negatif dengan mengingat sikap Oma Rosa yang hangat padanya. Pun gadis itu yakin bahwa cinta dan niat baik akan mengubah segalanya.Bukankah ada begitu banyak wanita di dunia ini yang sama seperti Emiko? Setelah menjalani kehidupan pernikahan barulah menyesal dan merasa telah mengabaikan petunjuk alam semesta. Mudah-mudahan, hal itu tidak berlaku di dalam hidup calon istri Zayn.“Melamun lagi! Aku baru tahu ada calon pengantin yang menjelang hari H justru suka melamun. Biasanya, calon pengantin itu sibuk merawat diri agar hari H nanti terlihat cantik,” ujar Anna mengejutkan Emiko yang sedari tadi hanya menatap layar laptop, tanpa menyentuhnya.“Aku hanya berusaha mengingat hal-hal yang mungkin terlewatkan. Walaupun acaranya sangat sederhana, tetapi aku ingin s

  • One Two Three and Action   Jawaban Juli

    Zayn menyadari sikap mamanya memang kurang ramah terhadap calon istrinya. Namun, dia pikir, mungkin Juli hanya belum bisa akrab saja.“Kalian hanya butuh waktu untuk saling mengenal,” jawab Zayn menenangkan.Bukannya menjadi lebih baik, Emiko justru merasa Zayn tidak bisa mengerti perasaannya, sehingga gadis itu memilih untuk diam dan menyimpan firasatnya sendiri.Tidak membutuhkan waktu lama, Juli keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi, disambut senyum hangat dari putra dan calon menantunya.“Ayo, kita berangkat!” ujar Juli bersemangat.Zayn bangkit, diikuti oleh Emiko. Mereka bersama-sama melangkah menuju mobil. Juli bersama calon menantunya duduk di bangku penumpang bagian tengah dan Zayn duduk di samping pengemudi.“Apa Mama ingin menikmati sesuatu?” tanya Zayn.“Mama ikut kamu saja,” jawab Juli.“Emiko ingin mencicipi hidangan laut di Jimbaran. Apa tidak masalah kalau kita ke sana?” Zayn kembali bertanya.“Bagaimana denganmu? Apa yang kamu inginkan?” tanya Juli denga

  • One Two Three and Action   Rencana Pernikahan

    Dua hari setelah pertemuan para anggota Tthree di restoran dengan menu makanan khas Jepang, mereka bersama-sama menemui Danu di kantornya. Dhefin dan Tama mengutarakan niat yang kurang lebih sama seperti yang pernah dikatakan oleh Zayn.Sebenarnya, berat bagi Danu melepaskan anggota Tthree. Selama ini beliau merasa banyak dibantu mengingat ada begitu banyak orang yang memiliki masalah, tetapi pihaknya agak sulit menangani satu per satu. Namun, beliau menghargai keputusan mereka bertiga.Lagi pula, keputusan dibuat bukan semata-mata para anggota Tthree akan langsung lepas tangan di dalam memberikan pertolongan, melainkan secara bertahap.Meskipun demikian, Danu membuat jalan tengah demi kenyamanan bersama. Apabila tidak dalam keadaan terdesak, beliau tidak akan meminta pertolongan para anggota Tthree.Kalau boleh jujur, sejak hari itu, sebagian beban tidak kasat mata terlepas dari pundak para anggota Tthree. Sekali lagi, mereka tidak pernah merasa terpaksa melakukan pekerjaan yang ditu

  • One Two Three and Action   Kesepakatan Anggota Tthree

    Zayn mengangguk pelan, lalu dia berkata, “Sebenarnya, yang menerima teleponmu waktu itu bukan aku.”“Tidak biasanya kamu memberi seseorang akses untuk menyentuh barang pribadimu. Apa dia Casper, seperti dugaanku?” tanya Tama.“Jangan potong kalimatnya!” sahut Dhefin.“Kalian tentu masih ingat cerita masa lalu papa Emiko,” ujar Zayn.Dhefin dan Tama hanya diam memperhatikan sahabatnya itu bicara. Namun, setelah beberapa menit menunggu dan Zayn tidak kunjung melanjutkan, mereka akhirnya mengangguk sebagai respons.“Kita bertiga tahu kalau pekerjaan yang dilakukan Om Felix cukup berbahaya, tidak hanya untuk beliau, tetapi juga untuk istri dan anaknya. Pun pekerjaan yang kita lakukan. Itu sebabnya, sebelum menjalin hubungan yang serius dengan Emiko, aku sudah mempertimbangkan hal ini. Aku tidak ingin mempertahankan pekerjaan hanya untuk ego. Orang-orang yang kita sayangi perlu mendapatkan perlindungan.” Zayn berkata.“Apa Emiko dan mamanya tidak setuju kalau kamu melakukan pekerjaan bersa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status