Mag-log inZayn hanya tersenyum saat melihat raut wajah bingung gadis yang sedang duduk dengan punggung tegak di hadapannya. Selama beberapa hari menyendiri di salah satu unit Capella Apartment, hanya putri tunggal Kirani seorang yang memenuhi pikirannya. Sungguh dia sangat merindukan perempuan itu.Gadis ini memiliki penampilan yang sederhana. Dia cantik karena hatinya sangat baik. Orang lain mungkin menganggapnya bodoh karena dia sering menampilkan reaksi yang tidak terduga. Namun, aku tahu kalau sebenarnya dia seseorang yang cerdas. Zayn berkata di dalam hati dengan tatapan lurus ke arah Emiko.Memang benar, tujuan utama hari itu adalah menemui Emiko untuk memberi tahu keputusannya yang sudah bulat. Sama seperti kedua sahabatnya, laki-laki itu juga sedang memikirkan masa depan.“Aku sudah mengakhiri segala hal yang berhubungan dengan penyelidikan dan hanya ingin fokus pada pekerjaan utama di bidang IT,” ujar Zayn.“Zayn, kamu tidak harus melakukan hal itu. Aku tidak ingin kamu mengorbankan se
“Kamu tidak pandai bercanda, Zayn. Itu tidak lucu,” ujar Dhefin setelah menahan diri untuk tetap diam lantaran seorang pelayan baru saja menyajikan pesanan.“Sebentar! Apa hanya aku yang sedikit lambat di sini? Apa maksudnya? Tidak ada kasus baru itu berarti aku masih bisa melaksanakan rencanaku bersama Aira, bukan?” tanya Tama dengan pandangan ke arah Dhefin seolah-olah Zayn tidak sedang bersama mereka.“Dasar kura-kura!” sahut Dhefin kesal.“Kura-kura memang jalannya lambat, tapi banyak akal. Bahkan menurut kepercayaan tertentu, dia membawa keberuntungan.” Tama menanggapi.“Aku heran, apa yang Aira suka dari kamu?” ujar Dhefin tidak benar-benar bertanya.“Ah! Aku sudah pernah menanyakan hal itu. Menurut pendapat Aira, aku ini orang baik, tampan, sedikit polos, dan ….”“Berhentilah memuji diri sendiri! Kamu membuatku kehilangan fokus pada inti pertemuan ini,” potong Dhefin mengalihkan perhatiannya pada Zayn yang sedang sibuk mengunyah.Tidak memedulikan kedua sahabatnya yang selalu m
Emiko merasa bersalah saat melihat raut wajah Zayn mendadak berubah menjadi sendu begitu mendengar jawabannya. Gadis itu hanya tidak ingin memberikan sebuah harapan saat mamanya dengan tegas menolak hubungan mereka. Pun dia tidak mungkin memaksa laki-laki itu untuk berganti profesi demi menikah dengannya.Emiko sendiri sudah berkali-kali mempertimbangkan untuk mundur dari pekerjaannya, tetapi beralih profesi itu bukan sesuatu yang mudah. Apalagi pekerjaan Zayn berhadapan dengan banyak musuh. Bagaimana bila suatu hari kelak ada orang yang berniat jahat padanya? Besar kemungkinan laki-laki itu harus bertindak.“Maaf, aku tidak berniat menabur garam di atas luka hatimu. Namun, jawabanku tidak akan ada artinya bila Mama tidak mungkin mengubah keputusannya,” ujar Emiko melanjutkan.“Aku paham,” sahut Zayn lirih.Percayalah! Aku bisa merasakan kepedihan yang kamu rasakan, Zayn. Batin Emiko berkata dengan tatapan lurus ke arah laki-laki yang sedang memutar-mutar gelas green tea.Putri tungga
“Tiga puluh menit lagi aku selesai. Mari kita bertemu.” Demikian isi pesan yang dikirimkan oleh Emiko pada Zayn.Sebagian dirinya menyadari bahwa kisah cinta yang bahkan belum dimulai itu sedang menghadapi rintangan. Dia mungkin bisa memiliki masa depan yang indah bersama gadis itu atau sebaliknya, dengan terpaksa laki-laki itu harus menganggap semua yang terjadi hanyalah sebuah tempat singgah.Bukankah di dalam kehidupan ini ada orang-orang yang hanya singgah sebentar atau bahkan sekadar lewat? Mereka tidak diizinkan untuk berlama-lama berada di dekat kita karena ada alasan yang mungkin hanya boleh diketahui oleh alam semesta.Meskipun demikian, Zayn tetap bersemangat menemui gadis itu ketika mendapat pesan tersebut.Beberapa menit setelah laki-laki itu menghentikan kendaraan di depan tempat kerja Emiko dan mengirimkan pesan yang memberi tahu bahwa dia sedang menunggu di mobil, seorang gadis tiba-tiba duduk di kursi bagian penumpang sebelah pengemudi dengan raut wajah ceria, seolah-o
Bagai petir di pagi hari yang cerah, permintaan Kirani yang diungkapkan secara tidak langsung itu membuat Zayn merasa berada di persimpangan jalan.Ingin rasanya laki-laki itu memutuskan untuk menjadi egois dan memilih mengejar cintanya, tetapi bagaimana seandainya di kemudian hari ada orang yang membutuhkan pertolongannya? Bagaimana dengan Dhefin dan Tama? Beragam pertanyaan bermunculan di dalam benaknya sehingga dia hanya bisa diam.“Tante yakin kamu bisa bertanggung jawab atas Emiko dan memenuhi segala kebutuhannya. Ditambah, kamu memiliki karakter yang baik. Perempuan yang bisa mendapatkan cinta seorang laki-laki seperti kamu akan merasa sangat beruntung. Sama seperti Om, pun beliau tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, tetapi bagi Tante dan Emiko, dia segalanya. Hanya saja, hidup bersama seorang pria dengan pekerjaan yang berbahaya itu membuat perasaan tidak tenang. Tante ingin Emiko bisa merasakan kebebasan di masa mudanya. Menikmati kebersamaan bersama keluarga kecil tanpa mera
Hari itu, akhirnya Zayn pulang dalam keadaan di antara berada di alam mimpi dan realita. Ketika Kirani dengan tegas menolak hubungannya dengan Emiko, laki-laki itu tidak bisa berkata-kata karena dia sendiri belum mendapatkan balasan akan pernyataan cintanya.Kalau dipikir-pikir, sikap Kirani terhadap Zayn juga sangat membingungkan. Tadinya laki-laki itu dengan percaya diri merasa yakin bahwa cintanya akan berjalan dengan mulus, tanpa hambatan. Tidak disangka, kini dia tiba-tiba merasa seolah-olah sedang dihempaskan ke dasar lautan yang paling dalam.Bukankah selama ini mama Emiko terlihat sangat menyukainya? Apa dirinya telah melakukan kesalahan? Zayn tidak berhenti bertanya-tanya di dalam hati.“Mama,” panggil Emiko sesudah membersihkan diri. Dia menghampiri Kirani yang sedang duduk seorang diri sambil menonton acara televisi.Kirani menoleh dengan raut wajah datar dan berkata, “Apa kamu sudah makan? Mama masak telur dadar kornet kesukaanmu dan sup ayam.”“Iya, aku mau makan. Namun,







