Share

Malam Tahun Baru

Penulis: Adelia17
last update Tanggal publikasi: 2026-10-15 23:56:53

“Kenapa denganku?” Dengan ketus Eleni bertanya.

“Apa kamu ikut menginap di sini? Tidak ada kamar untukmu!” Zayn berkata.

“Sejak kapan aku tidak memiliki kamar di rumah Oma?” ujar Eleni seraya memeluk Oma Rosa manja, “kamarku akan selalu menjadi yang paling istimewa di rumah ini.”

“Kamarmu akan digunakan oleh Om Cakra dan Tante Calia. Apa kamu tidak melihat ada mama Emiko di sini?” jawab Zayn membuat Kirani tersenyum.

Eleni menoleh ke arah Kirani, lalu memekik kegirangan, “Tante! Apa kabar? Lama
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • One Two Three and Action   Air Mata Emiko

    “Mama! Aku harus bagaimana sekarang?” ujar Emiko terisak sambil memeluk erat Kirani yang berbaring tenang tanpa detak jantung.Suasana terasa hening. Para perawat melepas semua peralatan di tubuh wanita paruh baya itu dengan perlahan dan sebisa mungkin tanpa suara. Pun Oma Rosa dan Bik Sumi hanya berdiri di belakang Zayn yang setia mengusap-usap pelan punggung istrinya.Hanya Emiko yang masih terus menangis sembari mengungkapkan isi hatinya.Tidak tahu sudah berapa lama situasi menyedihkan itu berlangsung. Hingga seorang perawat datang menghampiri dengan hati-hati untuk memberi tahu bahwa pasien harus dibersihkan dan dipindahkan ke ruangan khusus.“Baik, Suster,” sahut Zayn.Oma Rosa beralih ke samping Emiko. Beliau lantas berkata, “Kirani, selama Tuhan masih memberiku napas kehidupan, aku berjanji akan mendampingi cucu menantuku yang cantik ini dengan baik. Pergilah dengan damai dan jagalah putrimu ini dari atas sana!”Bukannya menjadi lebih tenang, Emiko kembali menangis sesenggukan

  • One Two Three and Action   Kepergian Kirani

    Emiko yang masih merasa seperti sedang bermimpi hanya termenung ketika sambungan telepon telah terputus.“Bestie! Woy! My bestie! Hello!” Anna melambai-lambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah Emiko.“An, baru saja aku menerima telepon dari Bik Sumi yang mengatakan kalau Mama masuk rumah sakit. Apa aku sedang bermimpi?” tanya Emiko lemas.“Iya, aku mendengarmu mengulangi perkataan Bik Sumi. Lalu, mengapa kamu masih duduk di situ? Bergegaslah menyusul!” seru Anna membantu Emiko memasukkan ponsel dan dompet yang masih berada di atas meja ke dalam tas. Dia lantas mendorong sahabatnya agar lekas bangkit dari tempat duduk.“Tapi ….”“Lupakan pekerjaan! Itu urusanku! Pergilah! Eh … tidak tidak … sebaiknya Wanda yang mengantarmu!”“Kamu sendirian ….”“Tutup saja pintu utama kantor! Aku hanya akan menerima satu klien saja hari ini dan menyusulmu nanti ….”“Tidak tidak ….”“Berhentilah memikirkan pekerjaan! Pergilah! Tante Kirani lebih membutuhkanmu.”Merasa bingung dengan kabar buruk

  • One Two Three and Action   Kabar Mengejutkan

    Semakin malam, suara kembang api terdengar sangat ramai dari berbagai arah. Langit yang gelap juga tampak bercahaya sangat indah.Kini Oma Rosa, Cakra, Calia, Kirani, Zayn, Emiko, dan Eleni bersama beberapa asisten rumah tangga sedang berkumpul di halaman belakang rumah untuk bermain kembang api.Ralat! Hanya Zayn, Emiko, dan Eleni saja yang heboh ingin bermain kembang api. Mereka bahkan sudah menyiapkan begitu banyak macam kembang api.“Apa Tante Kirani mau ikut main kembang api?” tanya Eleni membuyarkan lamunan wanita paruh baya itu.“Ah, tidak tidak … kalian saja yang bermain,” jawab Kirani dengan senyum mengembang.“Mama! Tolong ambil gambarku!” Emiko memberikan ponsel pada Kirani, membuat wanita paruh baya itu terpaksa berdiri untuk mengambil posisi. Sedangkan putrinya sudah tersenyum lebar dengan kedua tangan memegang kembang api dan berdiri di samping Zayn.Tidak hanya satu kali, tetapi ada beberapa gaya yang dilakukan oleh Zayn dan Emiko.“Kami sudah cukup! Sekarang giliran ak

  • One Two Three and Action   Malam Tahun Baru

    “Kenapa denganku?” Dengan ketus Eleni bertanya.“Apa kamu ikut menginap di sini? Tidak ada kamar untukmu!” Zayn berkata.“Sejak kapan aku tidak memiliki kamar di rumah Oma?” ujar Eleni seraya memeluk Oma Rosa manja, “kamarku akan selalu menjadi yang paling istimewa di rumah ini.”“Kamarmu akan digunakan oleh Om Cakra dan Tante Calia. Apa kamu tidak melihat ada mama Emiko di sini?” jawab Zayn membuat Kirani tersenyum.Eleni menoleh ke arah Kirani, lalu memekik kegirangan, “Tante! Apa kabar? Lama tidak berjumpa.”Kirani bangkit dari tempat duduknya seraya menyambut pelukan hangat Eleni dan menjawab, “Kabar baik. Apa kabar? Kamu semakin cantik saja.”“Kabar baik juga, Tante! Ah! Senangnya! Kita semua bisa berkumpul malam ini. Tenang saja, Tante! Kamar di rumah Oma Rosa ini sangat banyak. Jadi, aku akan ….”“Sudah sudah … Oma sudah menyiapkan kamar untuk semuanya! Jangan berisik lagi, Eleni! Jangan terlalu cerewet! Oma pusing mendengarnya,” ujar Oma Rosa sambil memijat keningnya, membuat

  • One Two Three and Action    Pentingnya Menjaga Jarak

    Di unit apartment milik Kirani.“Tante Rosa membawakan banyak sekali makanan. Nanti kalian bawa saja lebihnya, biar tidak perlu memasak lagi!” ujar Kirani menatap bingung isi tas yang penuh dengan aneka lauk pauk.“Oma sudah menyediakan satu tas yang lain untukku dan Emiko. Mama tidak perlu khawatir!” jawab Zayn seraya melirik ke arah Emiko yang masih berbaring di atas sofa, mengabaikan kehadirannya.“Mama bukan khawatir kalian tidak mendapat bagian, melainkan jumlahnya ini terlalu banyak. Kita makan saja bersama-sama malam ini!” Kirani bergegas mengatur meja makan.“Aku juga ingin menikmati masakan Mama,” ujar Zayn.Kirani seketika menghentikan aktivitasnya dan tersenyum lebar. Menantunya itu memang baik hati. Di rumah Oma Rosa ada begitu banyak makanan lezat, tetapi dia tetap menginginkan masakannya. Beliau lantas berkata, “Sudah ada telur ikan goreng beserta sambal resep rahasia Mama yang menjadi kesukaanmu! Silakan dihabiskan!”“Ah! Ajarkan padaku resep rahasia itu, Ma!” sahut Zay

  • One Two Three and Action   Nasihat Oma Rosa

    “Apa alasannya, Oma? Mama bersikap demikian sejak pertama kali bertemu Emiko,” tanya Zayn penuh penekanan.Laki-laki itu tidak bisa memberi jawab ketika istrinya bertanya. Tentu dia ingin tahu pendapat orang tua papanya, yang telah turut berpartisipasi atas kehidupannya.Mungkin selama ini Zayn terlihat mandiri. Akan tetapi, dia sangat menghormati Oma Rosa dibandingkan orang tuanya sendiri. Tentu saja, nasihat beliau akan sangat berarti di situasi seperti sekarang.“Ini hanya prediksi Oma, tapi kemungkinan besar benar. Hm ….” Oma Rosa sedikit ragu mengungkapkannya.“Katakan saja Oma! Barangkali alasan itu bisa membantuku menjadi jembatan di antara Mama dan Emiko,” ujar Zayn memaksa.“Ck! Tidak perlu menjadi pahlawan! Ingat perkataan Oma yang satu ini! Jangan pernah berusaha menjadi jembatan karena kamu hanya akan diinjak-injak berbagai pihak yang sedang berselisih! Pengorbananmu akan sia-sia bila mereka tak kunjung berdamai.” Oma Rosa berkata.“Baiklah! Setidaknya, alasan itu mungkin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status