FAZER LOGIN"Cara Mia, fighting this won’t help. You were made for us..." Kai’s fingers cupped her cheek, one hand sliding up her thigh as he stepped closer. His fingers trailed down her arm, leaving goosebumps on her skin. She gasped softly, but before she could answer, Fynn’s strong hands snaked around her waist, pulling her back into his hard chest. His lips were hot against her neck, making her weak in the knees. “You feel it too, don’t you?” Vienna’s heart pounded as the bond snapped into place- once, then twice. Its force was undeniable, overwhelming– pulling her in two different directions. “Two mates? That’s impossible!” “How can she survive loving them both?” “She’ll be torn apart, no werewolf can survive this!” She stood between the twin Alphas, unsure of what to do next. What kind of existence was she cursed to? “You belong to us, Vienna! And we won’t let you go.” **** Vienna’s world was already shattered when she caught her boyfriend, Asher, with her stepsister on her 21st birthday—the day she hoped the Moon Goddess would reveal Asher as her true mate! Desperate to reclaim control, she kisses a stranger in a reckless act of revenge. Only to find out that not only is her mysterious kisser her new professor, but he also has an identical twin! The initial betrayal and chaos pales in comparison to the storm Vienna has stepped into. Why has Vienna been fated to two men instead of one? What secrets do these twins come with? And why has she never been able to communicate with her wolf? Could the answer to everything lie in the bond between her and her two destined mates…? (All rights for the cover belong to the original creator.)
Ver maisKAMU YANG KUCINTAI
Part 1 Ikut denganmu? "Mas, boleh aku ikut denganmu?" tanya Kimmy sambil memandang pria berjaket kulit yang duduk di hadapannya. Tatapan gadis itu penuh harapan. "Kamu nggak akan aman bersamaku. Hidupku belum jelas. Aku juga memiliki banyak musuh, Kim." Pria itu menghembuskan asap rokok ke udara. Yang akhirnya buyar tersapu angin malam dari balkon kafe. Kimmy tidak berkedip. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu kota. "Aku lebih bahaya lagi jika tetap tinggal bareng Mama di rumah itu. Mama lebih mendengar dan lebih mempercayai suami dan anak-anak tirinya. Menjaga perasaan mereka dengan baik, seolah aku yang anak kandungnya ini nggak punya perasaan. Memang hidup kami bergantung padanya, sih. Mama sudah terlalu bangga dengan gelar nyonya besar di rumah itu." "Papa tirimu jahat?" tanya Langit dengan tatapan menyelidik. "Bukan beliau yang jahat. Tapi aku takut dengan anak-anaknya." Kimmy menunduk sambil memperhatikan gelas es teh yang digenggam dengan kedua tangannya. Wajah itu terlihat begitu resah. Kakak tirinya itu tidak pernah bicara kasar. Tapi matanya selalu mengikutinya. Di meja makan, di lorong rumah, bahkan dia seperti berdiri di depan pintu kamarnya saat malam sudah larut. Kimmy pernah cerita pada sang mama. Tapi wanita itu bilang, Kimmy terlalu berlebihan. Padahal Arsel itu sopan dan pendiam. Bagi Kimmy, pria seperti itu bisa saja menjadi predator yang bersembunyi di balik wajah tampan, kemeja rapi, dan senyum sopannya. "Mereka keluargamu. Lebih aman bersama keluarga daripada dengan orang asing, Kim. Belum tentu aku terus baik seperti sangkaanmu." "Kita bukan orang asing, kan? Kita sudah berteman sejak kecil lagi. Sejauh ini aku aman bersamamu." Hening. Kimmy memandang Langit. Tapi pria itu mengalihkan perhatian pada suasana jalanan di bawah kafe sana. Kemacetan di tengah kota Surabaya tampak seperti aliran lava merah yang membara. Rahangnya yang tegas tampak menengang. Langit ingin lari dari sangkar emas. Ia muak dengan intrik bisnis ibu tirinya, muak dengan kekuasaan yang dibangun di atas air mata orang lain. Baginya pergi dari rumah adalah kematian baginya, tapi membawa Kimmy pergi adalah perjudian nyawa. Keluarga Fardhan tidak akan tinggal diam. Mereka akan mencari Kimmy hingga ke lubang semut sekali pun. Ia seperti halnya Kimmy. Papanya menikah lagi dengan rekan bisnisnya. Dan wanita itu penuh ambisi untuk menguasai semuanya. "Mas Langit, hendak pergi ke mana?" Pertanyaan Kimmy memecah lamunan berat lelaki itu. "Jauh dari sini," jawab Langit terdengar parau menahan sebak dalam dada. Dia tidak ingin pergi. Tapi memang tidak punya pilihan selain menjauh. Ia ingin merengkuh Kimmy, memberinya perlindungan, tapi hidupnya sendiri entah bagaimana setelah pergi dari keluarga. "Di mana?" Kimmy mendesak. "Ke tempat di mana aku nggak dikenali, Kim. Ke tempat di mana aku cuma Langit, bukan pewaris apa pun." Kimmy menggeser duduknya, merapat ke meja. "Kalau begitu bawa aku ke sana. Aku bisa masak, aku bisa bersih-bersih, aku nggak akan merepotkan. Nanti aku juga akan bekerja, jadi nggak bergantung hidup padamu. Selain Mama, kamu yang kupunya." Langit memandang Kimmy. "Aku juga nggak akan menjadi penghalangmu jika suatu saat nanti Mas Langit menemukan gadis yang tepat yang ingin kamu nikahi. Bil-bilang saja aku adikmu." Suara Kimmy bergetar dan dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan. Kimmy menarik napas sejenak. "Aku nggak tahan di rumah itu, Mas. Salsa juga terus-terusan menyindirku. Dia bilang aku dan Mama hanya benalu yang mau merebut harta papanya." "Harta ini benda mati yang bisa membuat manusia menjadi iblis, Kim." "Tapi aku dan mamaku bukan iblis, Mas." "Maaf, aku tidak mengataimu begitu. Aku bicara tentang wanita lain." "Iya. Aku ngerti." "Kamu harus menyelesaikan kuliahmu. Aku pergi dan nggak tahu bagaimana nasibku nanti. Bisa jadi aku mungkin akan tidur di pom bensin, atau di emperan toko." Mendengar itu Kimmy tersenyum tipis. Tidak mungkin seorang Langit tak punya uang. Sekalipun dia bilang pergi dari rumah tanpa membawa apapun. Ia lebih baik tidur di aspal bersama Langit daripada tidur di kasur empuk tapi harus mengunci pintu karena takut Arsel masuk. Namun ia sadar, tidak bisa memaksakan diri karena Langit mungkin juga ribet kalau dirinya ikut. Apalagi dia hanya teman bagi pria itu. Teman yang suka merepotkannya. "Bertahanlah, selesaikan dulu kuliahmu. Tinggal setahun lagi, kan?" ujar Langit yang akhirnya membuat Kimmy mengangguk lemah. Ia menyerah. 🖤LS🖤 "Baru pulang berkencan, ya? Jam segini baru nongol. Wangi asap jalanan banget sih, nggak cocok sama parfum ruangan di sini," ejek Salsa. Saat Kimmy masuk lewat pintu samping rumah. Gadis itu duduk bersedekap di sofa kulit impor. Kakinya disilangkan dengan angkuh. Matanya yang dipulas eyeliner tajam memindai penampilan Kimmy dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang memeriksa perempuan jalanan yang salah masuk ke rumah mewah. Kimmy memilih membisu. Ia menunduk sambil merapatkan jaketnya dan terus melangkah melewati ruang tengah secepat mungkin. Namun langkah Salsa lebih gesit. Ia berdiri, menghalangi jalur menuju tangga. "Ditanya itu dijawab, Kim. Mamamu nggak pernah ngajarin sopan santun kalau masuk rumah orang?" desis Salsa. "Belagu banget. Numpang di sini tapi nggak mau jawab saat ditanya tuan rumah. Harusnya kamu sadar posisi, dong. Kamu dan Mamamu itu cuma tamu yang kebetulan dapet 'tiket gratis masuk ke sini' karena Papa merasa kasihan." Kata-kata itu menghujam ulu hati Kimmy, tapi ia hanya mengeratkan pegangan pada tas ranselnya. Tidak ingin memicu keributan yang akan membuat sang mama menasehatinya panjang lebar. Dengan gerakan menghindar, Kimmy memutar tubuh dan menaiki anak tangga satu per satu. "Jangan pikir karena Papa baik, kamu bisa seenaknya di sini!" teriak Salsa dari bawah. "Kamu itu nggak lebih dari benalu, Kimmy!" Kimmy menarik napas panjang untuk melonggarkan dada yang sesak nyaris meledak. Kalau ada orang tua mereka, Salsa tidak akan berkata demikian. Pasti bersikap sok manis. Makanya sang mama tidak percaya dengan cerita Kimmy. Dan sudah dua hari ini, sang mama ikut suaminya ke luar kota. Kimmy benar-benar sendirian di rumah itu. Lantai dua terasa lebih sunyi, tapi suasananya jauh lebih mencekam. Kamar untuk anak-anak ada di lantai dua semua. Kimmy ingin pindah ke bawah, tapi tidak diperbolehkan oleh Pak Fardhan. Papa tirinya. Untuk mencapai kamarnya, Kimmy harus melewati balkon ruang tamu atas. Dan di sana, di bawah temaram lampu gantung, sosok tinggi tegap itu berdiri. Arsel menoleh dan memandangnya sekilas. Namun tatapan itu tajam. "Dari mana kamu?" Next ....Vienna's POV Would I be a terrible person if I admit that I knew something was wrong the moment we came back to the pack?Gemini had always been dramatic, but this sweetness… this breathy voice and fragile hands, all of this felt too rehearsed. The healers bought into it quickly, convinced she was traumatized and clinging to the only family she remembered: me.But despite their insistence that I should interact with her, more and more often, I stayed away. I let the maid take her food, and asked Fynn or Kai to check in when needed. I didn’t trust her… not anymore… and thankfully, my mates didn’t question my instincts this time. I wasn't sure if their patience was going to run out anytime soon, but I was grateful for it now. That made it easier to breathe… at least for a while.But Gemini wasn’t blind. She noticed my absence, and instead of breaking down quietly, she turned it into full performance.Over the next few days, she started whispering to the healers, just simple things l
Vienna’s POVThe sky above the mountains was bright, shining with hues of peach and hints of lavender, as the last traces of sunlight dipped behind the peaks. I was standing barefoot on the wooden balcony, cradling a mug of hot cocoa in both hands. The breeze was cool, brushing my skin like a whisper, and behind me, soft notes of an ongoing discussion between Kai and Fynn were drifting faintly from the living room. Everything felt peaceful, even suspiciously so. But I pushed the thought away, choosing instead to soak in the moment where there were just the three of us, our sanctuary in the clouds.I smiled into my cup. Maybe we deserved this break more than I had admitted to myself, or even realised. Fynn had pulled me out of my spiral that night, and Kai… he had made me feel like I was the only thing he saw when he looked at me. I hadn't felt this seen in weeks.I turned, just as Kai stepped outside, phone pressed to his ear, eyes suddenly dark and clouded over. My stomach clenc
Vienna’s POVThe sheets were still twisted around my legs, and Kai’s hand rested low on my hip, heavy and warm, keeping me tethered in that drowsy space between sleep and memory. I didn’t want to move. My body ached in the most delicious way, the kind of ache that reminded you exactly who you belonged to, and how thoroughly they had claimed you.I drifted somewhere between dreams until I felt lips… soft at first, then firmer, urgent. A hand cradled my jaw as another traced my ribcage, and the kiss deepened with unmistakable hunger.My eyes fluttered open.Fynn.His mouth moved over mine like he was starving, like the hours he’d been gone had driven him half-mad. His stubble scratched my skin in the best way, and his tongue teased mine until I whimpered into his mouth.“Good morning again, sweetheart,” he murmured, pulling back just enough to let me breathe.“Mmm,” I managed, dazed and still half-asleep. “You were supposed to be back by lunch.”“It is lunch,” he said, voice low and wa
Vienna's POV:The hum of the engine soothed something in me. The road curled like a ribbon through the pine-swept slopes, and the air outside the windows turned crisper with every mile. Fynn drove, one hand lazily on the wheel, the other resting on the gear stick, fingers tapping to some quiet rhythm in his head. Kai sat beside me in the backseat, his thigh brushing mine every time we turned. It wasn’t accidental. It hadn’t been accidental for the last hundred miles.“Almost there…”Fynn said, glancing at me in the rearview mirror. His smile was quiet but full of promise.I smiled back, not trusting my voice. I’d known something was coming. This trip wasn’t just about escaping. This was about something they hadn’t said yet. Something I’d felt simmering for days beneath their glances, their touches, the too-long silences.The mountain rose in the distance like a secret kept too long. Its white crown shimmered under the setting sun, streaks of amber and rose gold painting the snow. I l






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Classificações
avaliaçõesMais