MasukHurt by her boyfriend who cheats on her, Chelsie decides to move on with her life and makes a solemn vow to shut love out of her life forever. Little does she know, fate has other plans for her. Her life turns around when Kevin White, the youngest billionaire in Los Angeles offers her a marriage contract with him.
Lihat lebih banyakDi depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.
Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.
“Selamat siang, Nona Aira,” sapa sopir yang menjemputnya dengan sopan. “Perjalanan kita kurang lebih tiga puluh menit.”
Aira mengangguk pelan, sambil meremas rok panjangnya agar tangannya berhenti gemetar.
Mobil bergerak perlahan meninggalkan halaman. Sepanjang lima menit pertama, hanya suara mesin yang terdengar. Aira menatap keluar jendela, melihat rumahnya menjauh, kemudian menghilang.
Dan mungkin terakhir kalinya dia melihat rumah itu.
“Saya dengar, Anda akan bertemu Sir V,” tukas si sopir.
Aira tersentak. “Y-ya…” suaranya hampir tak terdengar.
Hari ini ia memang diperintahkan oleh sang ayah untuk bertemu dengan pria yang dipanggil Sir V, pria paling tersohor di negara ini. Katanya, Sir V akan membantu perusahaan keluarga mereka agar tidak jatuh bangkrut, dengan syarat sebuah pernikahan.
Aira tak bisa menolak meski ingin. Percuma, suaranya tak akan pernah didengar.
“Maafkan saya, Nona, tapi izinkan saya memberi peringatan kecil.” Sopir itu tampak ragu sejenak. “Sir V itu… bukan lelaki biasa.”
Aira merasakan detak jantungnya meningkat.
“Katanya, dia pernah, melempar seorang direktur dari lantai enam gedung perusahaannya sendiri,” lanjut si sopir.
Aira langsung membeku. “A-apa, Pak? Me-melempar dari lantai enam?”
Sopir itu mengangguk berat, seakan tidak menyadari betapa pucat wajah Aira sekarang, ia melanjutkan, “Sir V pernah menghancurkan sebuah perusahaan rival dalam waktu 24 jam. Hanya sehari. Perusahaan itu berdiri selama 30 tahun lebih dan lenyap begitu saja.”
Aira merapat ke pintu mobil, seolah ingin melarikan diri. “Bagaimana… bagaimana bisa?” bisiknya gemetar.
“Bahkan pemerintah pun memilih tidak berurusan dengannya.”
Aira menggigit bibir hingga hampir berdarah. Tangannya gemetar luar biasa. Sebelumnya dia bisa tenang, namun kini Aira tahu kalau dia sengaja dikorbankan pada seorang monster.
Tak lama, Aira tiba di sebuah restoran mewah. Langkah kakinya terasa terlalu kecil untuk lantainya yang dilapisi marmer hitam mengilap. Seluruh area disulap menjadi sunyi, seakan restoran itu telah disewa hanya untuk pertemuan ini.
Seorang pelayan membukakan pintu ke ruangan paling belakang. “Silakan masuk, Nona.”
Aira menunduk sopan, jantungnya berdebar kencang. Setelah menelan ludah, ia masuk. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik pelan yang terasa seperti mengunci takdirnya.
Ruangan privat itu diterangi cahaya kuning redup. Di sana, tepat di ujung meja panjang duduk seorang pria berjas hitam yang rapi, posturnya tegap, wajahnya dingin. Matanya yang tajam langsung menatap Aira begitu ia melangkah masuk.
Aira terpaku. Dia pasti Sir V. Begitu pikirnya.
“Apakah kamu Bianca Hartanto?” tanyanya dengan suara rendah.
Aira tersentak kecil. Apakah Bianca yang seharusnya menikah dengan Sir V?
“Bukan… saya… saya Aira.”
Ruangan menjadi sunyi beberapa detik. Pria itu memiringkan kepalanya, menatap Aira dari ujung rambut ke ujung kaki. Ekspresinya tidak berubah, tetap datar dan tajam.
“Bukan Bianca?” ulangnya pelan.
Aira mengangguk cepat. “Y-ya… saya Aira.”
Pria itu tidak segera membalas. Ia menutup buku kecil yang tadi dibacanya, kemudian menyandarkan tubuh ke kursi. Lalu ia mengambil iPad dari meja.
“Aku menerima daftar lengkap anggota keluarga Hartanto,” katanya datar sambil menggulir layar. “Ada nama Adrian Hartanto. Ada Marissa Wijaya. Ada Bianca Hartanto.”
Aira menegakkan tubuh, tidak paham arah pembicaraan ini.
“Tapi tidak ada nama Aira.” Pria itu menunjukkan layar iPad ke arah Aira. “Namamu tidak muncul dalam silsilah keluarga yang dikirim keluarga Hartanto pada Sir V.”
Aira gemetar. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia memang tidak pernah dianggap, tapi bahkan tidak tercatat?
“Bagaimana bisa?” gumam pria itu. Kali ini tidak hanya bingung, tapi curiga.
Aira menggeleng perlahan. “Saya… saya sendiri tidak tahu, Tuan,” jawabnya gugup. “Saya… anak pertama dari Adrian Hartanto. Ibu saya… Elenora Yasmin. Beliau meninggal saat saya masih bayi.” Aira menggigit bibirnya.
Pria itu menatap Aira lama tanpa berkata apa pun. Ia akhirnya menutup iPad dengan bunyi klik pelan.
“Baiklah,” katanya. “Tapi kamu harus tahu, Sir V sangat benci kebohongan.”
Aira akhirnya mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. Berarti pria ini bukan Sir V?
“Saya… apa yang harus saya lakukan, Tuan…?” tanya Aira dengan suara bergetar.
Pria itu menghela napas. “Saya hanya asisten. Keputusan ada pada beliau.”
CROSSED PATHS 2Kevin's POVI walked over to where they were and yeah, my guess was right. It was really her. Her fierce looking eyes gave her away so easily despite her vulnerable state.The men were hovering around her, trying to touch her in inappropriate manners. She couldn't fight back much because of her weak condition. Since they were in a dark corner of the bar, it was difficult for people to easily sight them.Although, I had a dislike for women, I would not sit back and watch a woman been harassed. With a growing rage, I approached the men who reeked badly of alcohol and cigarettes.One of the men grabbed her shirt and fondled with the buttons of her shirt. His intentions were clear. I could not take it anymore. I yanked the man off her body and landed a hard punch on his face. He fell off, writhing in pains.The other man looked at me with anger, revealing his tobacco stained teeth as he spoke to me. The bad odor oozing from his mouth nearly threw me off balance."Who the h
"CROSSED PATHS"Kevin's povIt was Monday again, the busiest day of the week! Every Monday morning, I get greeted by a mountain of files and documents on my table, screaming for my attention and signature. Of course, I was a workaholic I had never hesitated to attend to the files. By the time I'm done with them, my secretary would walk into my office with his ever dark, blue suit and checkered tie tightly hung around his neck and with his iPad in hand, he would read out my schedule for the day which was usually a list of meetings with my executive teams, board members, investors, and other stakeholders. For the evenings, it was usually dinner with business partners or potential investors.As the CEO of Whiteland groups, this had always been what my Mondays looked like. Hectic, tough and tiring was what I called them.Despite these situations, working was fun for me. Besides my family, work was the most important thing in my life. Striving to be at the top of the business sector was m
(His forgotten lover) Kevin's POV I arrived at my house and brought out the gate's remote control. I pressed a button and the gigantic black gate opened. Due to my paranoid nature, I didn't employ any domestic worker. I did my house chores by myself. The gate got locked behind me as soon as I drove in. I drove straight to my spacious garage filled with latest cars. I had always loved cars. To me, they are the most expensive toys a person could own. Tired and hungry, I dragged my weary feet to the door and unlocked it, using my fingerprint. The door opened immediately, welcoming me home. I smiled satisfactorily as I took a glance at my luxurious living room. Unbuttoning my shirt, I walked to the refrigerator and poured myself a cup of wine. Slowly, I sipped my drink like one in a state of melancholy. Since it was already late in the night I decided to not bother with ordering foods. Cooking wasn't an option either. "I will order breakfast by tomorrow morning." I resolved and went
CHAPTER NINE(The special gift)Kevin's POVMum and Dad had arrived from their vacation. They flew back to Los Angeles immediately they got informed about Granny's collapse. After spending about a week in the hospital, Granny insisted that she be taken back home."I'm tired of lying on my back all day long." She told my parents when the whole family went visiting her.Mother tried to persuade her. "But Granny, this is the best place for you to get treated. The doctors and nurses here will give you the best care. You need to be taken good care of while you await your surgery.""Rachel is right, mother." My fifty four year old dad supported. "Leaving the hospital for home is a very risky step." Dad stated.Granny would not yield. She said she wasn't comfortable with being in the hospital all the time.I went over to her and sat beside her. She was lying on the bed. I felt my heart break as I was the weak look on her face. She looked very sickly.Tenderly, I held her hands and squeezed












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan