LOGINKara Farm
"Sebenarnya kamu bicara apa sama Gerard... sehingga dia bisa pingsan?" tanya Rachel yang terlihat penasaran sekaligus kesal kepada Vincent.
Pertanyaan itu membuat Ibu Kara dan Pak Osborn langsung menatap Vincent juga.
Vincent terdiam, menunduk, memegang cangkir tehnya erat.
"Aku... aku tidak bicara apa-apa yang berat, Rae..."
"Jangan bohong, Vin. Aku lihat kamu bicara dengan Gerard sebelum dia pingsan. Katakan sejujurnya!"
Vincent menghela n
"Ya sudah. Mau bagaimana lagi." Rachel juga tak tahu harus berbuat apa."Hmm ... lebih baik kita ganti nama Rachel saja. Mungkin dengan mengganti namanya, Gerard akan sulit mengingat." usul Pak Osborn."Ide Bagus.""Lalu, nama apa yang kamu suka, Rae?" tanya Vincent."Venetta?""Baiklah. Mulai sekarang, kami akan memanggilmu Venetta atau Netta?"Rachel menganggukkan kepalanya.Bahkan sekarang, Pak Osborn sudah memerintahkan semua pegawainya untuk memanggil nama Netta saja kepada Rachel.*Keesokan harinya, jam tujuh pagi. Gerard sudah keluar dari rumah sakit. Rasa penasarannya akan Vincent sudah tak terbendung lagi. Bahkan semalaman, ia sulit tidur.Ia menumpang truk pickup petani yang kebetulan lewat, yang mau ke Millfield untuk menjual susu."Anak kota mau apa ke Millfield pagi-pagi begini?" tanya petani tua itu sambil menyetir."Mau ketemu seseorang, Pak" jawab Gerard singkat.D
Kara Farm"Sebenarnya kamu bicara apa sama Gerard... sehingga dia bisa pingsan?" tanya Rachel yang terlihat penasaran sekaligus kesal kepada Vincent.Pertanyaan itu membuat Ibu Kara dan Pak Osborn langsung menatap Vincent juga.Vincent terdiam, menunduk, memegang cangkir tehnya erat."Aku... aku tidak bicara apa-apa yang berat, Rae...""Jangan bohong, Vin. Aku lihat kamu bicara dengan Gerard sebelum dia pingsan. Katakan sejujurnya!"Vincent menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa bohong lagi kepada Rachel."Oke... oke aku jujur..."Vincent menatap Rachel, lalu menatap Ibu Kara dan Pak Osborn."Tadi Gerard tanya aku, apa aku kenal dia. Dia curiga aku bohong. Terus aku bilang... aku bilang...""Apa, Vin? Bilang apa?" tanya Rachel dengan cemas."Aku bilang kalau aku sudah janji sama seseorang untuk tidak mengatakan apapun kepada dia. Tapi kalau kamu mau tahu yang sebenarnya tentang masa lalunya mak
"Tapi, kamu harus tetap ditemani oleh Elena. Takutnya ada masalah dan tak ada yang membantu kamu. Takutnya pingsan lagi dan tidak ada yang tahu, Ger." Tamara berkata itu sambil meremas tas Hermes-nya erat. Matanya tidak lepas dari wajah anaknya yang masih terlihat pucat itu.Elena langsung mengangguk cepat, hampir terlalu cepat. Ia langsung meraih tangan Gerard yang terpasang infus."Iya, Tante. Aku temani Gerard di sini. Aku tidak akan kemana-mana. Aku tidur di sini juga tak apa-apa."Gerard menarik tangannya pelan. Tidak kasar, tapi tegas.Lalu pria itu berkata, dengan suara yang lebih tegas lagi, bahkan urat di lehernya sedikit menegang. "Aku butuh sendiri saja, Ma. Tenang saja, aku tak akan kemana-mana. Aku hanya butuh sendiri. Berikan aku waktu untuk istirahat sendirian."Ruangan IGD bed 3 yang hanya dibatasi tirai tipis itu langsung hening. Suara berisik dari bed sebelah jadi terdengar jelas.Tamara ragu. Alisnya mengernyit."Sendiri? Di rumah sakit kecil seperti ini? Sendiri ba
Gerard diam lama, menatap langit-langit IGD, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Kepalanya masih berdenyut, tapi ia tahan."Aku... aku tidak ingat apapun. Mungkin... aku hanya lelah dan kepanasan sehingga aku pingsan," Gerard berbohong.Suaranya dibuat datar, lelah. Ia menatap Tamara tanpa ekspresi. Terus terang saja, ia ingin menyelidikinya sendiri. Ia tak mau kalau nantinya Tamara maupun Elena ikut campur dalam pencarian masa lalunya. Jika ia jujur, maka mereka semua akan curiga. Tamara pasti akan mengunci semua akses, sama seperti yang Tamara lakukan selama ini.Tamara duduk di samping bed, memegang tangan Gerard erat. Tangannya dingin, cincin berlian besar di jarinya menekan kulit Gerard."Apakah kamu bertemu dengan orang yang berkata sesuatu kepadamu?" lanjut Tamara seperti menginterogasi anaknya saja. Nada suaranya pelan, tapi matanya tajam, menyelidik."Bertemu? Bertemu siapa, Ma?" tanya Gerard pura-pura bingung. Ia mengernyitkan dahi, memas
"Tekanan darah cukup tinggi, 148 tadi. Stres tinggi, kurang istirahat, banyak pikiran, dan juga terlalu sering makan obat insomnia dan pain killer. Kombinasi itu membuat sistem sarafnya sensitif. Jika ada satu pemicu saja, bisa membuat Gerard kehilangan kesadaran. Pemicu itu bisa banyak: kelelahan, udara dingin, emosi, atau kelelahan mental. Sinkop vasovagal karena stres."Tamara langsung menatap Elena dengan tajam."Stres tinggi? Kurang istirahat? Terlalu sering makan obat insomnia? Elena, kamu kan tunangannya, kamu tidak jaga dia?"Elena tertunduk. Bahkan dia sendiri tak tahu apa saja obat yang sering dimakan oleh Gerard. Pria itu tak pernah memberitahukannya. Bahkan saat Elena ingin pindah ke apartemen Gerard saja, pria itu tak mau. Dia butuh waktu sendiri."Aku sudah suruh dia istirahat, Tante... tapi dia tidak mau..."Dr. Arasto menepuk bahu Elena."Bukan salah kamu, Elena. Ini akumulasi. Gerard ini memang sejak operasi selesai da
Ngin... ngin... ngin...Sirine ambulans putih North Country Hospital meraung memecah jalan raya Route 7 yang sepi. Mobil-mobil pickup petani Vermont menepi memberi jalan. Di dalam ambulans, suasananya tegang dan dingin ber-AC.Gerard terbaring di tandu dengan selang oksigen di hidung, mata masih terpejam, wajah pucat. Di sampingnya, Elena duduk memegang tangan Gerard erat, coat bulu putihnya masih kotor lumpur Millfield di bagian bawah, tapi ia tidak peduli. Tangannya yang satu memegang ponsel, mencoba menelepon dengan tangan gemetar.Tim paramedis di depan fokus menyetir cepat."Tekanan darah 150/95, agak tinggi. Nadi 98. Saturasi 96. Stabil tapi sinkop," kata paramedis kepada partnernya.Elena mendengar itu langsung menelepon.Akhirnya Gerard sampai di rumah sakit bersama dengan Elena. Ambulans berhenti di depan IGD kecil North Country Hospital di Newport, rumah sakit yang bangunannya hanya dua lantai, jauh berbeda dengan Mount Sinai di Manhattan yang gedungnya 20 lantai.Pintu IGD







