MasukGerard diam lama, menatap langit-langit IGD, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Kepalanya masih berdenyut, tapi ia tahan."Aku... aku tidak ingat apapun. Mungkin... aku hanya lelah dan kepanasan sehingga aku pingsan," Gerard berbohong.Suaranya dibuat datar, lelah. Ia menatap Tamara tanpa ekspresi. Terus terang saja, ia ingin menyelidikinya sendiri. Ia tak mau kalau nantinya Tamara maupun Elena ikut campur dalam pencarian masa lalunya. Jika ia jujur, maka mereka semua akan curiga. Tamara pasti akan mengunci semua akses, sama seperti yang Tamara lakukan selama ini.Tamara duduk di samping bed, memegang tangan Gerard erat. Tangannya dingin, cincin berlian besar di jarinya menekan kulit Gerard."Apakah kamu bertemu dengan orang yang berkata sesuatu kepadamu?" lanjut Tamara seperti menginterogasi anaknya saja. Nada suaranya pelan, tapi matanya tajam, menyelidik."Bertemu? Bertemu siapa, Ma?" tanya Gerard pura-pura bingung. Ia mengernyitkan dahi, memas
"Tekanan darah cukup tinggi, 148 tadi. Stres tinggi, kurang istirahat, banyak pikiran, dan juga terlalu sering makan obat insomnia dan pain killer. Kombinasi itu membuat sistem sarafnya sensitif. Jika ada satu pemicu saja, bisa membuat Gerard kehilangan kesadaran. Pemicu itu bisa banyak: kelelahan, udara dingin, emosi, atau kelelahan mental. Sinkop vasovagal karena stres."Tamara langsung menatap Elena dengan tajam."Stres tinggi? Kurang istirahat? Terlalu sering makan obat insomnia? Elena, kamu kan tunangannya, kamu tidak jaga dia?"Elena tertunduk. Bahkan dia sendiri tak tahu apa saja obat yang sering dimakan oleh Gerard. Pria itu tak pernah memberitahukannya. Bahkan saat Elena ingin pindah ke apartemen Gerard saja, pria itu tak mau. Dia butuh waktu sendiri."Aku sudah suruh dia istirahat, Tante... tapi dia tidak mau..."Dr. Arasto menepuk bahu Elena."Bukan salah kamu, Elena. Ini akumulasi. Gerard ini memang sejak operasi selesai da
Ngin... ngin... ngin...Sirine ambulans putih North Country Hospital meraung memecah jalan raya Route 7 yang sepi. Mobil-mobil pickup petani Vermont menepi memberi jalan. Di dalam ambulans, suasananya tegang dan dingin ber-AC.Gerard terbaring di tandu dengan selang oksigen di hidung, mata masih terpejam, wajah pucat. Di sampingnya, Elena duduk memegang tangan Gerard erat, coat bulu putihnya masih kotor lumpur Millfield di bagian bawah, tapi ia tidak peduli. Tangannya yang satu memegang ponsel, mencoba menelepon dengan tangan gemetar.Tim paramedis di depan fokus menyetir cepat."Tekanan darah 150/95, agak tinggi. Nadi 98. Saturasi 96. Stabil tapi sinkop," kata paramedis kepada partnernya.Elena mendengar itu langsung menelepon.Akhirnya Gerard sampai di rumah sakit bersama dengan Elena. Ambulans berhenti di depan IGD kecil North Country Hospital di Newport, rumah sakit yang bangunannya hanya dua lantai, jauh berbeda dengan Mount Sinai di Manhattan yang gedungnya 20 lantai.Pintu IGD
Ibu Kara yang baru sampai, ia melihat Rachel berdiri di ambang pintu dengan perut besar terlihat jelas, langsung menarik tangan Rachel masuk ke dalam gudang, ke balik tumpukan karung pakan ayam yang tinggi."Rae! Masuk! Masuk dulu, Nak! Jangan di sini! Nanti perempuan itu lihat kamu!"Ibu Kara memeluk Rachel erat, menyembunyikan tubuh Rachel yang gemetar di balik karung."Bu... Gerard... dia pingsan, Bu," bisik Rachel dengan suara putus-putus, menangis di bahu Ibu Kara."Ibu tahu, Nak. Ibu lihat. Tapi kamu jangan keluar, Nak. Kamu janji tidak mau memperlihatkan wajah, kan? Kalau kamu keluar sekarang, semua janji kita gagal, Nak. Bayi kamu bisa ketahuan, Nak."Rachel mengangguk di dalam pelukan Ibu Kara, tapi matanya tetap mengintip dari celah karung pakan, melihat Gerard dari kejauhan.Vincent berdiri mematung, melihat dua wanita yang mencintai pria yang sama, dalam versi yang berbeda, berada di tempat yang sama tapi tidak bisa saling mendek
"TOLONG!" teriak Vincent dengan suara yang memecah seluruh lembah Millfield. Teriakan panik, teriakan takut, teriakan orang yang merasa bersalah karena hampir saja membongkar kebenaran."Gerard! Hei! Bangun! Gerard!"Tidak ada jawaban. Napas Gerard pendek-pendek, tidak teratur. Wajahnya yang biasanya pucat karena terlalu banyak kerja di ruangan AC, sekarang pucat kebiruan. Bibirnya mulai kering.Elena yang sedang jongkok di kandang ayam dengan sarung tangan plastik, sedang menjelaskan kepada tim quality control tentang standar kebersihan W-Hotel, mendengar teriakan Vincent."Gerard?"Ia menoleh. Telur organik yang sedang ia pegang untuk difoto, jatuh dan pecah di tanah. Kuning telur premium yang harganya lima dolar per butir di New York, pecah begitu saja.Begitu melihat Gerard tergeletak, Elena langsung berlari."Sayang! Ya Tuhan!"Ia berlari dengan rok span hitam dan coat bulu putih, dengan boots mahal yang haknya tingg
Vincent menatap Gerard, menatap tongkat hitam berukir W itu, menatap cara Gerard berdiri yang masih tertatih."Serius? Kamu tidak kenal aku?" tanya Vincent bingung."Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Pak Vincent?""Harusnya kamu kenal aku. Kita pernah ketemu. Kenapa sekarang kamu seperti tidak kenal sama sekali?" Vincent benar-benar heran.Gerard menghela napas. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, ia jujur kepada orang asing tanpa disuruh Zack atau Tamara."Aku amnesia. Setelah kecelakaan beberapa bulan lalu. Sejak itu aku tidak ingat apa-apa. Tidak ingat masa lalu." jelas Gerard.Vincent mengangguk pelan. Wajah tegangnya berubah menjadi prihatin."Oh... jadi begitu. Pantas..."Gerard menatap Vincent lekat-lekat."Jadi, kamu kenal aku? Apakah kita sangat dekat?" tanya Gerard, suaranya mulai pelan tapi menekan.Vincent menggeleng cepat, mencoba terlihat santai."Aku han







