MasukBab 005: Kabar Duka
Aruna masih berdiri di ambang pintu.
Ponselnya perlahan turun dari telinga, sementara tatapannya belum lepas dari Ardan. Logika di kepalanya mulai menerima apa yang baru saja terjadi. Kalau ponsel ayah tirinya memang berada di tangan pria itu, berarti ada sesuatu yang benar-benar terjadi.
"Eum... itu... anu..."
Aruna menggaruk pelan pipinya yang mulai memerah karena malu.
"Enggak usah, deh... Masuk aja, Mang."
Kalimat itu keluar dengan ragu-ragu. Wajahnya masih menyimpan sisa kewaspadaan, tetapi kali ini ia memilih mengalah pada fakta.
Ardan menghembuskan napas lega.
"Ya akhirnya..."
gumamnya pelan sambil melangkah melewati pintu.
Saat Ardan masuk, Aruna baru benar-benar memperhatikan pria itu dari jarak dekat.
Empat tahun lalu, ia memang pernah bertemu Ardan sekali. Waktu itu saat pernikahan ibunya dengan Arga.
Penampilannya memang sudah berambut panjang, tetapi masih rapi. Kumis dan janggutnya pun masih tipis sehingga wajahnya masih mudah dikenali.
Sekarang...
Rambut gondrongnya dicepol asal hingga banyak helaian terurai ke mana-mana.
Kumis dan janggutnya tumbuh lebat, menutupi hampir seluruh rahang dan pipi. Dari depan, wajahnya seolah hanya menyisakan mata yang masih jelas terlihat.
Jaket yang dipakainya tampak kusam dan dipenuhi debu. Celana jeans sobek-sobek yang dikenakannya juga terlihat lusuh, seolah sudah lama dipakai dalam perjalanan tanpa sempat berganti.
Tak heran kalau Aruna sama sekali tidak mengenalinya.
"Silakan duduk, Mang."
Aruna menunjuk sofa di ruang tamu.
Ardan mengangguk singkat lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Bahunya langsung turun begitu beban di tubuhnya sedikit terlepas.
"Sebentar, ya."
Aruna bergegas menuju dapur.
Tak lama kemudian ia kembali membawa segelas air putih dan meletakkannya di atas meja.
"Ini, Mang."
"Makasih."
Ardan langsung meraih gelas itu.
Tenggorokannya memang terasa kering sejak perjalanan tadi.
Ia menghabiskan hampir setengah gelas dalam sekali teguk sebelum meletakkannya kembali dengan pelan.
Suasana mendadak hening.
Aruna duduk di sofa yang berseberangan. Kedua tangannya bertumpu di atas paha. Punggungnya tegak.
Kini tidak ada lagi penghalang pintu di antara mereka.
Tidak ada lagi perdebatan soal identitas.
Yang tersisa hanya rasa penasaran.
Ardan menarik napas dalam.
Raut wajahnya yang sempat kesal perlahan berubah serius.
Tatapannya jatuh ke meja beberapa saat sebelum akhirnya menatap Aruna.
"Ada yang harus gue jelasin."
Nada suaranya lebih pelan dibanding sebelumnya.
Aruna mengangguk kecil.
"Iya, Mang."
Ruangan kembali sunyi.
Suara kipas angin terdengar berputar pelan memenuhi jeda di antara mereka.
Ardan kembali menarik napas.
Seolah sedang menyusun kalimat yang paling tepat.
Lalu, satu per satu, ia menceritakan semua yang terjadi di rumah sakit.
Tentang kecelakaan itu.
Tentang keadaan Arga.
Dan...
Tentang ibu Aruna.
Semakin lama Ardan berbicara, wajah Aruna semakin kehilangan warna.
Matanya tetap tertuju pada Ardan, tetapi sorotnya perlahan meredup.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada teriakan.
Ia hanya duduk diam.
Jari-jarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan.
Sesekali tenggorokannya bergerak pelan seperti menelan sesuatu yang terasa begitu berat.
Ardan memperhatikan setiap perubahan kecil itu.
Awalnya ia mengira Aruna akan menangis saat itu juga.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Gadis itu nyaris tidak bereaksi.
Ia hanya terdiam.
Tatapannya kosong, seolah pikirannya sedang berusaha mengejar semua informasi yang baru diterimanya.
Beberapa saat kemudian...
Ardan mengakhiri penjelasannya.
Ruangan kembali sunyi.
Hanya suara kipas angin yang masih berputar pelan.
Aruna tetap duduk di tempatnya.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Sorot matanya yang biasanya jernih kini tampak teduh, tetapi seperti kehilangan cahaya.
Ia tidak membantah.
Tidak bertanya.
Tidak pula menangis.
Ia hanya menunduk sebentar, menarik napas perlahan, lalu kembali mengangkat wajahnya.
"..."
Tidak ada kata yang keluar.
Keheningan itu justru terasa lebih berat daripada tangisan.
Aruna perlahan mengangkat wajahnya. Sorot matanya masih teduh, tetapi kosong, seolah pikirannya belum benar-benar mengejar semua yang baru didengarnya.
Lalu, tanpa banyak bicara, ia mendorong tubuhnya bangkit dari sofa.
"Ayok deh, kita ke rumah sakit, sekarang."
Nada suaranya datar.
Tidak tergesa.
Tidak pula bergetar.
Ardan yang baru hendak ikut berdiri kembali duduk tegak.
"Elu bisa pergi sendiri enggak ke rumah sakit?"
Langkah Aruna terhenti.
Ia menoleh.
"Gue disuruh jemput orang sama abang sekarang," lanjut Ardan. "Tapi katanya, elu biar duluan ke rumah sakit."
Aruna mengangguk pelan.
"Ya."
Jawabannya singkat.
"Oke. Aruna jalan sendiri sekarang."
Ia berbalik dan melangkah menuju kamarnya.
"Tar dulu, Run!"
Suara Ardan menghentikan langkahnya.
Aruna menoleh lagi.
Alisnya sedikit terangkat, menunggu penjelasan.
"Pesen abang lagi," kata Ardan sambil mengingat-ingat. "Katanya gue disuruh manggil mamang lu."
"Mamangnya Aruna?"
Dahi Aruna berkerut.
"Yang mana?"
"Enggak tahu juga."
Ardan mengangkat bahu.
"Tapi kata abang, yang masih suka ngasih duit ke Aruna."
"Mang Tatang?"
"Iya kali."
"Buat apa?"
Kini Aruna benar-benar bingung.
"Enggak tahu."
Ardan menggeleng.
"Yang penting sekarang gue nurutin dulu. Elo ada nomornya?"
"Ada. Bentar."
Aruna mengeluarkan ponsel dari saku bajunya. Ibu jarinya mulai menggulir daftar kontak.
Ruangan kembali hening.
Hanya terdengar suara lembut jemarinya menyentuh layar.
"Nah..."
Aruna berhenti menggulir.
"Ketemu."
Ia berjalan mendekati Ardan lalu menyodorkan layar ponselnya.
"Mana?"
Ardan ikut mengeluarkan ponselnya.
"Sini, kasih ke gue."
Aruna menyerahkan ponselnya. Ardan segera mengetik nomor yang ditunjukkan Aruna ke gawainya sendiri.
"Udah."
Setelah memastikan nomornya tersimpan, Aruna kembali berjalan menuju kamar.
Tak lama kemudian ia keluar lagi.
Kali ini ia sudah mengenakan jaket. Di tangan kanannya tergenggam sebuah helm.
Melihat itu, dahi Ardan langsung berkerut.
"Ngapain lu bawa-bawa helm?"
"Lah..."
Aruna menatap helm di tangannya seolah pertanyaannya terdengar aneh.
"Kalau enggak pakai helm nanti malah ditilang polisi. Lama lagi urusannya."
Jawabannya begitu polos.
Ardan berkedip beberapa kali.
"Elu..."
Ia menunjuk helm itu.
"...ke rumah sakit bawa motor sendiri?"
"Iya."
Aruna mengangguk.
"Emang kenapa?"
Ardan langsung menggeleng keras.
"Jangan."
Nada suaranya tegas.
"Gue panggilin ojek online aja."
Tangannya kembali meraih ponsel.
"Enggak usah, Mang."
Aruna buru-buru menolak.
"Aruna ada motor. Biar—"
"Aruna."
Suara Ardan memotong kalimatnya.
Ia melangkah mendekat, lalu menepuk pelan kepala Aruna dengan punggung jarinya.
Bukan keras.
Sekadar menegaskan.
"Dengerin gue."
Tatapannya lurus ke mata Aruna.
"Gue lebih tua dari elu."
Ia menurunkan tangannya.
"Jadi nurut."
Aruna terdiam.
Helm di tangannya masih tergenggam.
Ardan memperhatikan jemari gadis itu.
Jemarinya bergetar halus.
Hampir tak terlihat.
Namun cukup untuk membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Dia kelihatan tenang...
...tapi enggak.
Dia cuma lagi berusaha tegar.
Ardan mengalihkan pandangan ke ponselnya tanpa berkata apa-apa lagi.
Jempolnya bergerak cepat memesan ojek online.
Sementara Aruna tetap berdiri di tempat.
Ia tidak membantah lagi.
Beberapa menit kemudian, suara sepeda motor berhenti di depan rumah.
"Ojol, Pak."
Ardan keluar lebih dulu memastikan pengemudinya sesuai dengan aplikasi.
"Iya."
Setelah semuanya cocok, ia menoleh ke Aruna.
"Udah. Berangkat."
Aruna mengangguk pelan.
"Terima kasih, Mang."
Ia mengenakan helm, lalu menaiki motor.
Tak lama kemudian kendaraan itu bergerak meninggalkan halaman rumah.
Ardan tetap berdiri di teras.
Tangannya masuk ke saku jaket.
Pandangan matanya mengikuti motor itu hingga semakin jauh.
"Hmm..."
Ia mendecak pelan.
"Aneh tuh anak..."
Tatapannya belum beralih dari ujung jalan.
"Dia emang kaget tadi pas gue bilang emaknya udah meninggal."
Ia mengusap tengkuknya.
"Tapi kok..."
Keningnya berkerut.
"...kayaknya gantung banget, ya, reaksinya."
Ia mencoba mengingat kembali wajah Aruna beberapa menit lalu.
Ardan menghembuskan napas.
"Responnya..."
Ia menggeleng kecil.
"Samar... tapi jelas kelihatan."
Bayangan wajah Aruna yang hanya terdiam kembali muncul di kepalanya.
"Kelihatan datar, melongo doang."
"Tapi dia, syok."
Ia terdiam sejenak.
"Lah..."
Ardan terkekeh kecil, menyadari dirinya terus memikirkan hal itu.
"Kenapa gue jadi mikirin itu?"
Ia mengusap janggutnya.
"Kok kesannya..."
Sudut bibirnya bergerak tipis.
"...gue pengin tuh anak nangis kejer."
Ia langsung menggeleng sendiri.
"Tapi boro-boro."
Tatapannya kembali jatuh ke jalan yang kini sudah kosong.
"Tuh bocah ayem aja."
Angin sore berhembus pelan melewati teras.
Ardan masih berdiri di sana beberapa saat.
Semakin dipikirkan, semakin ia merasa ada sesuatu yang janggal.
Ia sudah berkali-kali menyampaikan kabar duka kepada keluarga korban dalam pekerjaannya. Hampir semua orang bereaksi dengan cara yang mirip—menangis, histeris, atau setidaknya terpukul.
Namun Aruna...
Tidak.
Ia memang tampak terpukul.
Tetapi bukan seperti orang yang baru saja kehilangan ibunya.
Melainkan seperti seseorang yang... kehilangan sesuatu di dalam dirinya.
Dan Ardan mengenalinya.
Untuk gadis yang baru delapan belas tahun…
Dia tabah.
Justru itu yang membuatnya gelisah.
Perasaan gadis itu seperti tertahan di suatu tempat yang bahkan tidak bisa dijangkau oleh air mata.
"Hah..."
Ardan menghembuskan napas panjang.
"Semoga aja gue cuma kebanyakan mikir."
Ia merogoh kunci motor dari saku jaket.
Masih ada satu tugas lagi yang harus diselesaikannya.
Mencari Mang Tatang.
Ardan menuruni teras, lalu berjalan menuju motornya yang terparkir di halaman.
Mesin motor meraung pelan saat dinyalakan.
Beberapa detik kemudian, ia melaju meninggalkan rumah itu.
Sore mulai benar-benar berganti malam.
Di belakangnya, rumah itu kembali sunyi.
Hanya pintu yang tadi menjadi saksi perdebatan mereka kini tertutup rapat, sementara pemilik rumahnya sedang melaju menuju rumah sakit tanpa seorang pun tahu apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam dirinya.
Ardan duduk di samping tempat tidur Aruna yang sedang tertidur setelah mendapat perawatan di rumah sakit dengan air mata berlinang.Ardan yang baru saja bangun setelah menjalani operasi karena luka tembak di bahu kirinya tidak mau mendengar ketika dokter dan perawat memintanya untuk tetap beristirahat. Dia tetap nekat untuk berada di samping Aruna. Pada akhirnya pihak rumah sakit yang mengetahui apa yang terjadi terhadap sepasang suami istri yang baru saja mengalami musibah membiarkan Ardan dan Aruna berada dalam satu ruangan.''Maaf... maafin abang, Run...'' gumam Ardan sambil memegang erat tangan Aruna, ''Maaf karena kamu harus mengalami ini semua gara-gara abang...'' Ardan terus bergumam menyalahkan dirinya dengan tangan Aruna yang didekap dekat wajahnya, ''Abang enggak tahu kalau kamu hamil... maafin abang karena enggak bisa lindungin dia...''''Bang, berisik!'' seru Aruna yang terbangun dengan semua penyesalan Ardan
''Kenapa sama Aruna?!'' pekik Ardan dengan sorot mata penuh amarah melotot pada Karissa.''Hehehe...'' kekek Karissa menaggapi Ardan yang sedang meradang karena pernyataannya barusan, ''Aku suka tampilanmu sekarang... kali ini, mata kamu bener-bener ngeliat aku.''''Brengsek Karissa, jawab aku!!!'' hardik Ardan yang semakin kesal dengan Karissa.''Dia pasti sedih... aku yakin dia masih belum tahu apa yang terjadi padanya... pasti seru ngeliat dia nangis...'' gumam Karissa yang seolah tdiak peduli dengan betapa marahnya Ardan.''Kamu bukan manusia,'' ujar Amira dengan suara bergetar, ''Bisa-bisanya kamu... KAMU BUKAN MANUSIA!'' teriak Amira histeris sambil menangis, ''Kamu sudah membunuh Raihan... kamu bunuh dia dengan sangat kejam... kamu tega, dasar perempuan jalang busuk!''Jeritan Amira menarik perhatian petugas yang sedang mengolah TKP sambil menunggu ambulans dan mobil tahan
Satu orang lagi tewas di tangan Karissa dan hal itu membuat para preman lain yang ingin berontak itu ciut nyalinya. Mereka tidak berkutik menghadapi Karissa yang sudah tidak lagi bisa mengontrol emosinya.''Buka, kasih dia masuk!'' seru Karissa memberi perintah, ''Atau... ada lagi yang mau ngerasain timah panas?!''Preman terdekat dengan pintu akhirnya menyerah dengan kebrutalan Karissa. Dia pasrah membuka pintu menuruti perintah Karissa.''Woy!'' pekik Casdi yang masih tidak menyetujui keputusan Karissa, ''Jangan di buka!''Preman yang sedang membuka pintu terkejut dan pintu terhenti sekitar sejengkal saat dia mendengar Casdi memekik kesal.''Buka!'' seru Karissa dengan mata melotot sambil mengarahkan moncong senjatanya ke arah si pembuka pintu.Perhatian Karissa teralih, lalu seketika itu juga beberapa preman mendekat hendak merebut senjata Karissa.
''...segera menyerah, kalian sudah di kepung!''Peringatan dari pengeras suara tiba-tiba terdengar ketika Karissa dan yang lainnya baru saja selesai mengikat Aruna, Amira, Dion dan Rafli.Karissa dan yang lainnya yang panik dan fokus dengan kubu masing-masing saat perseteruan belum lama terjadi barusan, mereka tidak menyadari deru mesin kendaraan yang datang mendekat, karenanya mereka semua terkejut ketika tiba-tiba saja mereka terkepung.Tanpa aba-aba kedua kubu segera mengadakan gencatan senjata lalu dengan cekatan menutup jendela dan pintu atau apa pun yang bisa menjadi akses dari luar untuk melihat situasi di dalam bangunan. Mereka semua tahu jika masih ada kesempatan karena mereka punya empat sandera yang bisa digunakan.***''Pak, mereka semua ada di dalam...'' ujar salah seorang petugas memberi laporan, ''Kemungkinan besar, Dion dan Rafli yang bertugas juga sudah di tangka
Dion dan Rafli bertindak mengikuti improvisasi dari situasi yang mereka ciptakan setelah terdesak.Desakan para preman yang meminta mereka untuk menyerahkan kunci mobil membuat mereka kesulitan mengulur-ulur waktu. Tapi, kreativitas dengan modal nyali nekat sekaligus bukti bahwa diklat yang mereka jalani menunjukkan kepiawaian mereka dalam melaksanakan tugas.''Lah, mana ya?!'' sahut Dion sambil kasak-kusuk berlagak mencari kunci di saku pakaiannya, ''Fli, mana kunci?''''Lah, bukannya ama elu?!'' jawab Rafli mengikuti skenario dadakan di lapangan.''Pe'a, kagak ada di gua... ama lu, kan...''''Kagak, kagak ada... tuh, liat!'' seru Rafli sambil menarik kantong pakaiannya keluar.''Ngelawak lu bedua!'' pekik preman yang menunggu kunci mobil mereka untuk di serahkan dengan mata melotot.''Ka-kagak bang, beneran dah... cek aja... kagak ada i
''Di mana ini?!" pekik Aruna ketika tali yang mengikat mulutnya dibuka saat sudah berada di sebuah ruangan, ''Mau apa kalian?!''Mereka yang ada di ruangan itu tersenyum sinis menanggapi kegelisahan Aruna dan Amira yang terkejut ketika tudung hoodie yang menutupi separuh wajah mereka dibuka, memperlihatkan suasana di sekeliling dengan lebih jelas sekarang.Salah seorang dari beberapa pria yang baru di lihat oleh Aruna dan Amira datang menghampiri.Pria itu mengangkat dagu Aruna dan Amira, memiringkannya ke kanan dan ke kiri, melihat mereka dengan seksama, menilai penampilan fisik mereka berdua.''Lumayan, biarpun enggak bisa laku mahal, tapi masih cukup ngejual,'' ujar Parta, pria paruh baya tapi punya aura mendominasi yang membuat Aruna dan Amira merasa sangat tidak nyaman, ''Enggak banyak duit yang bisa kamu dapet dari mereka berdua...'' tambah Parta seraya melirik kepada Karissa.
*****Gavin, Mpok Hasna, dan si kembar akhirnya pergi meninggalkan sepasang suami istri lintas generasi untuk segera menyelesaikan masalah yang tertunda selama beberapa hari hanya untuk sebuah penjelasan.''Run, udah dong!'' seru Ardan memamnggil merayu istri kecilnya, ''Kita ngobrol dulu...''''Pentin
***** ''Run, siapa tuh cewek cakep?'' tanya Gavin saat masuk ke dalam menghampiri Aruna yang masuk ke dalam kamarnya. ''Kupinglu belom dikorek?!'' sahut Aruna ketus dengan ekspresi jengkel yang jelas terlihat, ''Kan tadi dia udah bilang, calon nyonya rumah.'' ''Yeey... lu sewot, sewot aja... Tapi, j
Ardan pergi setelah mengusir Karissa pergi. Tapi, kekesalan Aruna makin bertambah karena Ardan ternyata tidak pulang malam itu. Keesokan harinya hingga lewat tengah hari, puas Aruna menunggu Ardan yang masih juga belum kelihatan batang hidungnya. Hati Aruna yang kesal dengan kejadian wanita tidak di
Aruna masuk rumah sakit lagi**Ardan duduk di samping Aruna yang tertidur tak sadarkan diri di tempat tidur IGD Rumah Sakit. Gavin mengambil alih tugas mengurus keperluan administrasi untuk Aruna."Belom juga seratus hari, apa yang di pikirin Bang Arga bener kejadian... Maafin abang, Run. Harusnya, ab







