Se connecterHidup Shirin tidak ada apa-apanya sampai tiba-tiba takdir mengenalkannya cowok misterius, Aldiaz. Segalanya yang ada di cowok itu membuat Shirin jatuh cinta. Tapi sifat Aldiaz berubah-ubah dan sering mematahkan hatinya. Saat para siswa kelas 11 disuruh mengisi soal evaluasi masa depan, di saat itu pula Shirin tahu bahwa Al adalah pembunuh bayaran yang ditugaskan membunuhnya. Apa yang akan dilakukannya? Mati demi cinta? Atau hidup tanpa cinta?
Voir plus~ ALISTAIR ~
Bait. Wait. Strike. As soon as we step foot into the locker room with me leading the line, I turn and yank Gunner by the collar before descending on him and throwing a punch to his stupidly sweaty face. I can feel hands trying to yank me off his miserable body but I hold still, transgressing my anger on him. “What the fuck, Tae!” I hear my teammates gasp as they try to pull me off him. But I wasn't having any of it as I leaned my weight on my knee which was pressed deep into Gunner's stomach while he grunted as if he was about to vomit the water he'd drank on the field. He should vomit the fucking thing. I throw punch after punch to his disgusting face, cutting off his fruitless attempts to hit me back until he's a gasping bloody mess below me. That's when I finally yielded to the yanks, chest heaving. “Won't you consider my offer to visit an anger management class?” My head snaps to Ray who'd spoken, gritting my teeth. “Bastard.” Then, I turn and match deeper into the locker room before grabbing my backpack. I turn back to the entrance, the crowd which was pacifying pathetic Gunner parts like the red sea as I make my way to the parking lot. Imagine having to practice for weeks because of an interschool match and the fucking striker you'd assisted lost his chance to score just because he partied the night before! Ain't no fucking way I would let that pass. At least, I got my mark on him before the mocking started. With a grunt, I dip my hand into my backpack as I search for my car key, huffing as I feel sweat trickling down my chest. My fingers clutch the key before I press the button on it. Then, I step into my black bugatti and speed away, leaving the university's stadium and the proof of my… our failure behind. I can't go back home like this. Those pesky busybodies would poke their nose in my business. I swirl the steering towards the direction of the school's main building. I drive my car across the practice field before parking abruptly. Then, I shut the engine and step out, ready to walk towards the practice’s locker room to take a bath, my eyes on the building which looks smaller from afar. I step forward before halting on my steps when my ear catches some sound in a dark alley - a shortcut that leads to the school's pool. Curiosity has got nothing on me. I continue to walk forward before a particular voice halts me on my step, my brow quirks in confusion. “You thought you knew everything right? You will say that to my face again.” Turning back, I peek into the dark alley, its middle illuminated by the sun peeking between the two buildings. And there stood three… no four guys, looming over another guy sitting on the floor, their backs to me. Who does this nowadays? One of them steps forward and kicks the guy in the rib. He grunts, gripping his side, his eyes on the floor as the other guys close in on him. I shake my head, anger coursing through my veins as I drop my backpack outside the alley and step in, deciding to play the role of a Messiah. I know I can't go back home with the anger coursing in my veins. Mann, I need to expel it somehow. “Hey you!” They turn to me and when their eyes take me in, fear and recognition flash through them. I grin before walking slowly towards them. The one at the front steps back, jerking his partners out of their shock. Everyone knows me. I thrive on the pain of others. I didn't let them get away before running towards them with my central midfielder speed. I throw out a fist which hits the guy in the back square in the face, tilting his head sideways as I hear a clear crunching sound. Umm good. Kicks, punches, gripping of hair until my fingers catch a few pulled out strands, broken bones, and finally, blood. Lots of it. Then, I watch them crawl away from me, feeling at ease as I crack my neck. I sigh in pleasure. My expelling technique worked. Again. With a final inhale, I let my eyes take in my surroundings. My eyes land on the guy they'd ganged up to beat the shit out. He leans against the wall, darkness shrouding his face, his eyes on his feet. His curly hair covers his forehead, his backpack on his shoulder and his hand in his pockets, his jacket covering his wrists. I walk closer to him before standing some feets away from him, waiting. And waiting. Say something bitch! Minutes pass in silence, the sun beating down on my sweaty body. With the minutes passing, my anger only increases while I wait for him to say the two words I want to hear for saving his fucking ass. Slowly, he raises his head, assessing me with a look of disinterest. I know him. But I didn't know he's mute. Wait. “Are you mute?” I ask, irritated. He smirks before standing straight. Then, he starts to walk, leaving me standing there. With my nose flaring, I called after him, “Are you not going to thank me for saving your ass?!” He stops, glancing at me over his shoulder. “I didn't remember asking for your help. You just decided to be a busy body.” He says slowly. You know what? fuck him! I've had people kiss the ground I walk on for less. What makes this little nerd think he's too good to bow? “You didn't ask but your entire countenance said it. You are weak!” He turns to me fully now, a smug grin on his face. “Are you intellectually challenged or do you just pretend to be?” My heart beats fast in my chest, the anger I'd managed to expel flowing back into my veins like liquid fire while I try to maintain a calm façade. I take a step closer to him until I'm standing toe to toe with him, baring my teeth in his face. “Nerds like you should shut up. And there's something called manners, you should try it.” I say, trying to intimidate him. He chuckles. “I didn't ask for your help.” He doesn't step back. Neither do I. My breath fans over his face but the bastard keeps smirking, eyes flicking down to my mouth for a fraction of second before he walks past me, his shoulder bumping mine. That does something to my head I don't like. I should walk away too, should let him disappear like a bad taste in my mouth. But somehow, I stand there, replaying the fucking smirk and how to wipe the smirk off Calvin Rutledge's fucking face.Hai, para readers goodnovel! Terima kasih sudah membaca dan mendukung karya saya. Saya sangat senang karena akhirnya bisa menyelesaikan novel ini dalam waktu sebulan. Tapi, sebenarnya novel ini belum benar-benar tamat. Masih banyak misteri dan cerita masa lalu yang belum terkuak. Karena sebenarnya Novel Deutragonis adalah sebuah series yang terdiri dari tiga buku. Novel Deutragonis yang kedua "Deutragonis 2 : Lost Dream" akan segera saya publikasikan pada tanggal 20 September 2021. Di sana akan ada banyak tragedi dan misteri yang terpecahkan. Kalian juga akan lebih mendalami perasaan karakter karena saya menggunakan POV 1. Karena itu, jangan sampai melewatkannya, ya! Sampai ketemu lagi! (Kalau kalian punya waktu, kalian bisa mendukung karyaku yang lain, "Give Me A Heart". Untuk kalian yang menganggap perasaan adalah sebuah kesalahan.)
Ini pertama kalinya Shirin menjejakkan kaki di kampus Aldiaz. Shirin tidak sempat mengantar Aldiaz ke kampusnya saat ospek kampus satu semester yang lalu, dan di sinilah ia sekarang, berdiri sambil memandang gedung jurusan ekonomi yang menjulang tinggi di hadapannya.Sambil memandang sekitar, para mahasiswa tampak cuek dengan urusan masing-masing. Seolah tak melihat Shirin—satu-satunya gadis berseragam SMA yang ada di sekitar sana.Sambil meneguk ludah, Shirin pun memberanikan diri untuk memasuki gedung. Dinding dan pilar beton yang dicat abu-abu mendominasi. Langit-langit yang tinggi berwarna putih polos. Shirin berjalan pelan sambil memeluk hand bag yang dibawanya. Sibuk mengamati setiap sudut lobi, tubuh Shirin tak sengaja menabrak seseorang."Aduh—eh? Anak SMA?" suara seorang gadis membuat Shirin mendongak. Seorang gadis dengan jeans dan kaus berlengan panjang membungkuk sambil memerhatikan Shirin yang lebih pendek darinya. "Cari siapa, Dek?" tan
[Abizart Dirgantara]Cewek paling cantik. Kata-kata itu bergema di hatiku saat menyaksikan cewek itu dari kejauhan. Dia berdiri di antara para orangtua yang menunggu anak-anak mereka selesai ujian. Dengan tongkat penyangga di ketiak kanan karena kakinya patah. Garis wajahya lembut, dengan tatapan mata sayu dan dagu selalu tertunduk.Sejak kapan aku tidak bisa melepaskan mataku darinya? Sekarang aku bagaikan seorang stalker, penguntit yang terus-menerus membayanginya setiap hari. Menyaksikan ketegaran yang disuguhkannya pada dunia. Menyaksikannya melepas topeng itu, menampakkan seorang remaja biasa yang takut menghadapi begitu banyak orang yang menertawakannya diam-diam di balik punggungnya.Dan merasa dia luar biasa cantik karenanya.Tuhan ... bolehkah aku mencintainya? Meskipun pada akhirnya aku akan menyakit
"Tanpamu, aku hanya ingin mencari tempat untuk menangis dan berteriak."***Mia keluar dari kelas XI IPS 2 dan celingukan waspada. Koridor masih ramai karena bel baru berbunyi tiga menit lalu. Mia mengembuskan napas lega begitu sosok yang dihindari tak terlihat batang hidungnya. Alhasil, ia pun melenggang santai menyusuri koridor.Gadis itu melotot dan sontak menutup wajahnya dengan buku begitu melihat Pak Shim keluar dari kelas XI IPS 1. Mia bisa melihat Pak Shim yang sedang mengobrol sebentar dengan para siswi. Dengan cepat, Mia berhambur ke kerumunan siswa. Namun, baru saja ia hendak keluar dari koridor, suara yang tak diharapkannya memanggil."Mia!" panggil Pak Shim tegas.Mia sontak menghentikan langkah dan mengembuskan napas lelah. Ia berbalik dengan gontai. "Saya 'kan, sudah konseling, Pak. Sudah," ujarnya.Pak Shim mengusap wajah seraya berjalan melewati Mia. "Ikut saya."Mendengar itu, Mia menggeram. Namun, akhirnya menurut j
Aldiaz membanting pintu mobil seraya melenggang memasuki sekolah. Kali ini, ia datang sendiri. Shirin masih perlu melakukan rehabilitasi. Oh, iya. Shirin dan Mia kembali bersahabat seperti biasa. Mia sering menjenguk Shirin dan sedikit mengurangi kekhawatiran Aldiaz.Sampai di lobi, langkah
"Target harus mati, Al," kata Leon sambil mengusek tangan Al dengan ujung sepatu seraya memandangnya rendah. "Apa pun yang terjadi, target harus mati."Aldiaz berusaha bangkit. Namun, Leon menendangnya, hingga terlempar ke halaman. Tak habis sampai di situ, Leon menendang Al berulang kali.
"Leonard ...." Aldiaz menggeram."Yo, Al!" suara Leon terdengar ramah. Pria itu bersandar ke pintu mobil seraya menatap Al humor. "Lo ngapain lindungin dia kayak gitu? Mau dicap pengkhianat? Lo mau mati, Al?"Shirin melebarkan mata. Apa kata orang itu tadi? Aldiaz akan mat
Lelaki berambut cokelat itu berjalan tegap di koridor rumah sakit umum kota. Bau antiseptik dan obat-obatan menguar di mana-mana. Sebelah tangannya menggenggam sebuket bunga mawar putih.Athalas berhenti di sebuah kamar di ujung lorong. Ia masuk dan menghela napas
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus