แชร์

451. PEMILIK PAKET

ผู้เขียน: Dara Tresna Anjasmara
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-12 20:16:49

“Kamu yakin?” tanya Rain dengan suara yang sengaja ia buat setenang mungkin. Matanya menatap foto itu lama, seolah setiap detailnya bisa memberi jawaban.

“Yakin satu juta persen. Kenapa tuh orang? Becanda?” tanya Angga, terdengar kesal sekaligus bingung.

“Dia anterin paket dari orang yang nggak saya kenal… ke rumah ini,” ucap Rain. Bibirnya terangkat membentuk senyum tipis—senyum dingin yang hanya muncul ketika ia merasa sesuatu yang berbahaya sedang mendekat.

“Gila! Kok bisa?” tanya Angga. Suaranya naik setengah oktaf, jelas panik. Bahkan dari telepon pun terdengar napasnya yang tak stabil.

Rain menatap layar ponselnya dalam-dalam, jari-jarinya mengepal pelan.

Masalah itu jelas bukan salah kirim. Ada seseorang yang sengaja mengetuk pintu hidupnya.

Rain tak langsung menjawab. Pandangannya kosong menatap layar, lalu bergeser pada jendela yang mulai gelap. “Sepertinya,” ucapnya lirih, “ada seseorang yang ingin saya temui dengan cara yang... salah.”

“Orang ini main-main sam
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • PELAN PELAN SAYANG   529. YUNI DIBAWA SEBAGAI SAKSI

    Rain bersiap mengenakan jaketnya, bersiap menuju klinik untuk menyelesaikan kewajibannya sebagai psikolog reproduksi. Sebelum melangkah keluar, ia menghampiri istri dan anaknya. “Sayang, nanti habis makan siang kita ke kantor polisi untuk administrasi kelengkapan laporan. Bawa Bima juga, ya. Nanti saya pasti pulang dulu ke rumah buat jemput kalian,” ucap Rain dengan nada lembut namun penuh kepastian. ​Gendis yang sedang menyuapi Bima makanan ringan di ruang TV seketika menghentikan gerakannya. Wajahnya tampak ragu dan sedikit cemas. “Tapi... nanti kita akan bertemu Mama tidak di sana?” tanya Gendis lirih. Ketakutan akan konfrontasi yang menyakitkan masih membekas di hatinya. ​Rain berlutut di depan istrinya, mencoba memberikan rasa aman melalui tatapannya. “Cipta udah mengatur semua kondisi di sana supaya kalian nggak perlu berpapasan langsung. Kamu tenang aja, Sayang. Percayalah sama saya dan Cipta,” ucap Rain menenangkan. ​Ia kemudian merengkuh tubuh Gendis dalam pelukan han

  • PELAN PELAN SAYANG   528. DITEKAN OLEH MERTUA, PROSES HUKUM TETAP BERJALAN.

    ​“​Gendis! Gendis, tolong Mama!" Teriakkan histeris Ibu Martha menggema di sepanjang koridor saat rekan Cipta mulai menggiringnya menuju pintu garasi. Suaranya penuh dengan nada memerintah sekaligus keputusasaan, berharap menantunya itu akan luluh. ​Gendis hanya bisa menggeleng pelan dengan tatapan kosong. Ia tidak bergeming. Hatinya memang sakit, namun logikanya jauh lebih kuat. Ia tahu bahwa keputusan ini sudah final; hukum harus berjalan demi keamanan putra kecilnya. Segala bentuk manipulasi emosional tidak akan bisa mengubah keadaan lagi. ​​“Gendis... kamu yakin dengan semua ini?" tanya salah seorang bibinya dengan suara parau sembari menyeka air mata. Wanita tua itu tampak gamang melihat saudara iparnya dibawa oleh petugas polisi. ​“Yakin, Tante. Ini satu-satunya jalan supaya Mama sadar..." jawab Gendis dengan suara bergetar. Ia terisak, berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak pecah lebih hebat lagi. ​“Kalau terus dibiarin dengan alasan keluarga, Mama nggak akan pe

  • PELAN PELAN SAYANG   527. IBU RAIN DIBAWA KE KANTOR POLISI.

    “Jadi... kedatangan saya ke sini pagi ini bukan mewakili keluarga, melainkan sebagai penegak hukum bersama rekan saya. Hal ini berdasarkan laporan resmi dari Rain dan istrinya mengenai tindak kekerasan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh Ibu Martha Sudibyo,” ucap Cipta. Suaranya terdengar tenang namun sangat tegas, memancarkan otoritas khas seorang perwira. ​“Apa-apaan ini? Tapi Cipta... kita ini keluarga,” sela paman Rain dengan nada panik, masih berusaha mencerna kenyataan bahwa menantu di keluarga mereka sendiri kini berdiri sebagai lawan hukum bagi kakaknya. ​Cipta menatap pamannya dengan sorot mata yang tak goyah. “Begini, Pak. Saya di sini berdasarkan laporan dari orang tua korban. Bahwa semalam, tepatnya pada pukul...” Cipta menjeda kalimatnya sejenak sembari mengambil tablet yang disodorkan oleh asistennya. ​Ia mulai membaca draf laporan tersebut dengan saksama. “Pada pukul dua belas lewat lima belas menit, telah terjadi dugaan tindakan fisik yang menyebabkan

  • PELAN PELAN SAYANG   526. MENANTU POLISI YANG TAK DIANGGAP, DATANG.

    ​“Jadi... apa maksud kalian? Martha, apa benar kamu sudah melakukan kekerasan pada Bima?” tanya paman Rain dengan suara yang bergetar karena terkejut. Matanya beralih menatap Ibu Rain dengan tatapan tak percaya. ​“Iya, Om. Apa perlu saya perlihatkan sekarang rekaman CCTV-nya?” tantang Rain dengan suara rendah namun penuh penekanan. ​Rain mengeluarkan ponselnya, siap memutar rekaman yang sudah ia siapkan. “Di rekaman ini terlihat jelas bagaimana awalnya Mama keluar dari kamarnya, sempat berdiri diam di depan kamar saya, dan berjalan menuju kamar Bima. Mama gagal membuka pintu yang terkunci, kemudian memaksa Yuni, ART saya, untuk membukakan pintunya.” ​Gendis menambahkan dengan nada bicara yang bergetar namun tegas, “Bahkan di dalam kamar bayi pun ada kamera tersembunyi, Om. Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri bagaimana Mama memperlakukan bayi yang bahkan belum ngerti apa-apa itu dengan kasar.” ​Suasana di ruang tengah seketika menjadi mencekam. Para kerabat yang tadi m

  • PELAN PELAN SAYANG   525. NIAT HATI MEMPERMALUKAN ANAK MANTU, MALAH...

    “Sayang, ini pasti Mama yang sengaja menghubungi mereka semua buat datang ke rumah kita, kan?” tanya Gendis dengan nada cemas. Ia segera berganti pakaian menggunakan celana kulot berwarna cokelat tua dan kaus oblong putih polos. Rambut pendek sebahunya ia biarkan terurai rapi, memberikan kesan sederhana namun tetap bersahaja.“Iya, Sayang, itu udah pasti. Udah, nggak perlu khawatir, ayo kita temui mereka sekarang,” sahut Rain dengan nada rendah. Ia mengangkat tubuh Bima yang sedang terlelap dengan sangat hati-hati, memindahkannya ke dalam ranjang bayi berukuran besar yang terletak di sudut kamar mereka agar putranya bisa tidur dengan lebih nyaman.Setelah memastikan Bima aman, keduanya melangkah keluar kamar. Rain menggenggam erat jemari Gendis saat mereka berjalan menuju ruang tengah, tempat keluarga besar sudah menunggu dengan berbagai macam ekspresi.“Mas Cipta jam berapa sampai di sini, Mas?” tanya Gendis pelan sambil terus berjalan bergandengan tangan dengan suaminya.“Sebentar l

  • PELAN PELAN SAYANG   524. KELUARGA BESAR DATANG

    “Dia udah tidur, Sayang. Lihat, dotnya udah lepas sendiri,” bisik Gendis dengan suara nyaris tak terdengar. Ia tersenyum tipis sembari perlahan mengambil botol susu dari tangan mungil Bima agar tidak membangunkan jagoan kecil mereka yang baru saja terlelap.Rain melangkah mendekat, lalu melingkarkan lengannya di bahu Gendis. Ia menarik istrinya ke dalam pelukan hangat yang terasa penuh beban.“Saya minta maaf ya, Sayang. Perbuatan Mama saya udah terlalu menyakiti anak kita. Saya benar-benar gagal menjaga dan mencegah semuanya” ucap Rain dengan nada yang bergetar hebat. Ada ketulusan sekaligus kemarahan yang tertahan dalam setiap kata yang diucapkannya.Gendis mendongak, menatap mata suaminya yang tampak kuyu dan dipenuhi rasa bersalah. “Iya, Mas... Aku udah memaafkan, tapi memang butuh waktu untuk melupakan semuanya,” sahut Gendis lembut, mencoba menjadi pilar kekuatan bagi suaminya.Rain terdiam sejenak. Ia melepaskan pelukannya, lalu menyugar rambutnya dengan frustrasi. Langkah kaki

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status