เข้าสู่ระบบRain bersiap mengenakan jaketnya, bersiap menuju klinik untuk menyelesaikan kewajibannya sebagai psikolog reproduksi. Sebelum melangkah keluar, ia menghampiri istri dan anaknya. “Sayang, nanti habis makan siang kita ke kantor polisi untuk administrasi kelengkapan laporan. Bawa Bima juga, ya. Nanti saya pasti pulang dulu ke rumah buat jemput kalian,” ucap Rain dengan nada lembut namun penuh kepastian. Gendis yang sedang menyuapi Bima makanan ringan di ruang TV seketika menghentikan gerakannya. Wajahnya tampak ragu dan sedikit cemas. “Tapi... nanti kita akan bertemu Mama tidak di sana?” tanya Gendis lirih. Ketakutan akan konfrontasi yang menyakitkan masih membekas di hatinya. Rain berlutut di depan istrinya, mencoba memberikan rasa aman melalui tatapannya. “Cipta udah mengatur semua kondisi di sana supaya kalian nggak perlu berpapasan langsung. Kamu tenang aja, Sayang. Percayalah sama saya dan Cipta,” ucap Rain menenangkan. Ia kemudian merengkuh tubuh Gendis dalam pelukan han
“Gendis! Gendis, tolong Mama!" Teriakkan histeris Ibu Martha menggema di sepanjang koridor saat rekan Cipta mulai menggiringnya menuju pintu garasi. Suaranya penuh dengan nada memerintah sekaligus keputusasaan, berharap menantunya itu akan luluh. Gendis hanya bisa menggeleng pelan dengan tatapan kosong. Ia tidak bergeming. Hatinya memang sakit, namun logikanya jauh lebih kuat. Ia tahu bahwa keputusan ini sudah final; hukum harus berjalan demi keamanan putra kecilnya. Segala bentuk manipulasi emosional tidak akan bisa mengubah keadaan lagi. “Gendis... kamu yakin dengan semua ini?" tanya salah seorang bibinya dengan suara parau sembari menyeka air mata. Wanita tua itu tampak gamang melihat saudara iparnya dibawa oleh petugas polisi. “Yakin, Tante. Ini satu-satunya jalan supaya Mama sadar..." jawab Gendis dengan suara bergetar. Ia terisak, berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak pecah lebih hebat lagi. “Kalau terus dibiarin dengan alasan keluarga, Mama nggak akan pe
“Jadi... kedatangan saya ke sini pagi ini bukan mewakili keluarga, melainkan sebagai penegak hukum bersama rekan saya. Hal ini berdasarkan laporan resmi dari Rain dan istrinya mengenai tindak kekerasan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh Ibu Martha Sudibyo,” ucap Cipta. Suaranya terdengar tenang namun sangat tegas, memancarkan otoritas khas seorang perwira. “Apa-apaan ini? Tapi Cipta... kita ini keluarga,” sela paman Rain dengan nada panik, masih berusaha mencerna kenyataan bahwa menantu di keluarga mereka sendiri kini berdiri sebagai lawan hukum bagi kakaknya. Cipta menatap pamannya dengan sorot mata yang tak goyah. “Begini, Pak. Saya di sini berdasarkan laporan dari orang tua korban. Bahwa semalam, tepatnya pada pukul...” Cipta menjeda kalimatnya sejenak sembari mengambil tablet yang disodorkan oleh asistennya. Ia mulai membaca draf laporan tersebut dengan saksama. “Pada pukul dua belas lewat lima belas menit, telah terjadi dugaan tindakan fisik yang menyebabkan
“Jadi... apa maksud kalian? Martha, apa benar kamu sudah melakukan kekerasan pada Bima?” tanya paman Rain dengan suara yang bergetar karena terkejut. Matanya beralih menatap Ibu Rain dengan tatapan tak percaya. “Iya, Om. Apa perlu saya perlihatkan sekarang rekaman CCTV-nya?” tantang Rain dengan suara rendah namun penuh penekanan. Rain mengeluarkan ponselnya, siap memutar rekaman yang sudah ia siapkan. “Di rekaman ini terlihat jelas bagaimana awalnya Mama keluar dari kamarnya, sempat berdiri diam di depan kamar saya, dan berjalan menuju kamar Bima. Mama gagal membuka pintu yang terkunci, kemudian memaksa Yuni, ART saya, untuk membukakan pintunya.” Gendis menambahkan dengan nada bicara yang bergetar namun tegas, “Bahkan di dalam kamar bayi pun ada kamera tersembunyi, Om. Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri bagaimana Mama memperlakukan bayi yang bahkan belum ngerti apa-apa itu dengan kasar.” Suasana di ruang tengah seketika menjadi mencekam. Para kerabat yang tadi m
“Sayang, ini pasti Mama yang sengaja menghubungi mereka semua buat datang ke rumah kita, kan?” tanya Gendis dengan nada cemas. Ia segera berganti pakaian menggunakan celana kulot berwarna cokelat tua dan kaus oblong putih polos. Rambut pendek sebahunya ia biarkan terurai rapi, memberikan kesan sederhana namun tetap bersahaja.“Iya, Sayang, itu udah pasti. Udah, nggak perlu khawatir, ayo kita temui mereka sekarang,” sahut Rain dengan nada rendah. Ia mengangkat tubuh Bima yang sedang terlelap dengan sangat hati-hati, memindahkannya ke dalam ranjang bayi berukuran besar yang terletak di sudut kamar mereka agar putranya bisa tidur dengan lebih nyaman.Setelah memastikan Bima aman, keduanya melangkah keluar kamar. Rain menggenggam erat jemari Gendis saat mereka berjalan menuju ruang tengah, tempat keluarga besar sudah menunggu dengan berbagai macam ekspresi.“Mas Cipta jam berapa sampai di sini, Mas?” tanya Gendis pelan sambil terus berjalan bergandengan tangan dengan suaminya.“Sebentar l
“Dia udah tidur, Sayang. Lihat, dotnya udah lepas sendiri,” bisik Gendis dengan suara nyaris tak terdengar. Ia tersenyum tipis sembari perlahan mengambil botol susu dari tangan mungil Bima agar tidak membangunkan jagoan kecil mereka yang baru saja terlelap.Rain melangkah mendekat, lalu melingkarkan lengannya di bahu Gendis. Ia menarik istrinya ke dalam pelukan hangat yang terasa penuh beban.“Saya minta maaf ya, Sayang. Perbuatan Mama saya udah terlalu menyakiti anak kita. Saya benar-benar gagal menjaga dan mencegah semuanya” ucap Rain dengan nada yang bergetar hebat. Ada ketulusan sekaligus kemarahan yang tertahan dalam setiap kata yang diucapkannya.Gendis mendongak, menatap mata suaminya yang tampak kuyu dan dipenuhi rasa bersalah. “Iya, Mas... Aku udah memaafkan, tapi memang butuh waktu untuk melupakan semuanya,” sahut Gendis lembut, mencoba menjadi pilar kekuatan bagi suaminya.Rain terdiam sejenak. Ia melepaskan pelukannya, lalu menyugar rambutnya dengan frustrasi. Langkah kaki







