Chapter: 526. MENANTU POLISI YANG TAK DIANGGAP, DATANG.“Jadi... apa maksud kalian? Martha, apa benar kamu sudah melakukan kekerasan pada Bima?” tanya paman Rain dengan suara yang bergetar karena terkejut. Matanya beralih menatap Ibu Rain dengan tatapan tak percaya. “Iya, Om. Apa perlu saya perlihatkan sekarang rekaman CCTV-nya?” tantang Rain dengan suara rendah namun penuh penekanan. Rain mengeluarkan ponselnya, siap memutar rekaman yang sudah ia siapkan. “Di rekaman ini terlihat jelas bagaimana awalnya Mama keluar dari kamarnya, sempat berdiri diam di depan kamar saya, dan berjalan menuju kamar Bima. Mama gagal membuka pintu yang terkunci, kemudian memaksa Yuni, ART saya, untuk membukakan pintunya.” Gendis menambahkan dengan nada bicara yang bergetar namun tegas, “Bahkan di dalam kamar bayi pun ada kamera tersembunyi, Om. Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri bagaimana Mama memperlakukan bayi yang bahkan belum ngerti apa-apa itu dengan kasar.” Suasana di ruang tengah seketika menjadi mencekam. Para kerabat yang tadi m
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: 525. NIAT HATI MEMPERMALUKAN ANAK MANTU, MALAH...“Sayang, ini pasti Mama yang sengaja menghubungi mereka semua buat datang ke rumah kita, kan?” tanya Gendis dengan nada cemas. Ia segera berganti pakaian menggunakan celana kulot berwarna cokelat tua dan kaus oblong putih polos. Rambut pendek sebahunya ia biarkan terurai rapi, memberikan kesan sederhana namun tetap bersahaja.“Iya, Sayang, itu udah pasti. Udah, nggak perlu khawatir, ayo kita temui mereka sekarang,” sahut Rain dengan nada rendah. Ia mengangkat tubuh Bima yang sedang terlelap dengan sangat hati-hati, memindahkannya ke dalam ranjang bayi berukuran besar yang terletak di sudut kamar mereka agar putranya bisa tidur dengan lebih nyaman.Setelah memastikan Bima aman, keduanya melangkah keluar kamar. Rain menggenggam erat jemari Gendis saat mereka berjalan menuju ruang tengah, tempat keluarga besar sudah menunggu dengan berbagai macam ekspresi.“Mas Cipta jam berapa sampai di sini, Mas?” tanya Gendis pelan sambil terus berjalan bergandengan tangan dengan suaminya.“Sebentar l
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: 524. KELUARGA BESAR DATANG“Dia udah tidur, Sayang. Lihat, dotnya udah lepas sendiri,” bisik Gendis dengan suara nyaris tak terdengar. Ia tersenyum tipis sembari perlahan mengambil botol susu dari tangan mungil Bima agar tidak membangunkan jagoan kecil mereka yang baru saja terlelap.Rain melangkah mendekat, lalu melingkarkan lengannya di bahu Gendis. Ia menarik istrinya ke dalam pelukan hangat yang terasa penuh beban.“Saya minta maaf ya, Sayang. Perbuatan Mama saya udah terlalu menyakiti anak kita. Saya benar-benar gagal menjaga dan mencegah semuanya” ucap Rain dengan nada yang bergetar hebat. Ada ketulusan sekaligus kemarahan yang tertahan dalam setiap kata yang diucapkannya.Gendis mendongak, menatap mata suaminya yang tampak kuyu dan dipenuhi rasa bersalah. “Iya, Mas... Aku udah memaafkan, tapi memang butuh waktu untuk melupakan semuanya,” sahut Gendis lembut, mencoba menjadi pilar kekuatan bagi suaminya.Rain terdiam sejenak. Ia melepaskan pelukannya, lalu menyugar rambutnya dengan frustrasi. Langkah kaki
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: 523. IBU RAIN MALAH MENGADU PADA KELUARGA BESAR“Sayang, kira-kira... Mama bakal ngamuk nggak?" tanya Gendis cemas. Tangannya dengan telaten menyeka sisa makanan di mulut Bima menggunakan tisu basah, sementara Yuni sigap merapikan kursi bayi dan membersihkan remahan di sekitarnya.“Dia nggak akan banyak bicara lagi, Sayang. Saya udah mengaturnya sama Cipta ," sahut Rain tenang. Ia kemudian menoleh ke arah asisten rumah tangganya. "Yuni, gimana sama Omanya Bima? Dia udah makan?"Rain bersiap beranjak dari meja makan bersama Gendis dan Bima.“Tadi saya iseng mengecek di ruang monitor, Pak. Omanya makan banyak banget, makannya lahap," lapor Yuni sembari merapikan sisa alat makan di meja.“Baguslah kalau gitu," ucap Rain singkat.Gendis hanya bisa mengangguk pelan, merasa sedikit lega namun tetap waspada. Mereka berdua segera meninggalkan ruang makan pagi itu, memulai hari dengan beban yang sedikit terangkat namun penuh rencana baru.“Jadwal pasien hari ini jam sebelas siang, ya, Mas... Dan ada lagi jam dua siang dan jam empat sore,” u
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: 522. RAIN DAN CIPTA SEPAKAT AKAN MEMENJARAKAN IBUNYA“Apa buktinya cukup?” tanya Cipta dingin. Pertanyaan itu seketika menambah ketakutan Wanda yang berdiri di sisinya.“Sayang... jangan, dong...” bisik Wanda lirih pada suaminya, memohon agar Cipta tidak menanggapi niat Rain secara profesional sebagai polisi. Namun, Cipta hanya diam, mencengkeram jemari Wanda dengan erat tanpa menoleh sedikit pun padanya. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada laporan Rain.“Bukti lebih dari cukup. Rekaman CCTV sangat jelas menunjukkan kejadiannya. Gendis juga udah foto bekas memar merah di tangan dan kaki Bima sebagai bukti tambahan,” sahut Rain dengan nada bicara yang sangat serius dan tanpa keraguan.Di seberang meja, Gendis tampak sangat tenang. Ia seolah tidak terganggu dengan pembicaraan suaminya yang sedang membahas kemungkinan memenjarakan ibu mertuanya sendiri. Dengan santai, Gendis terus menikmati sarapan paginya sembari sesekali menyuapi Bima, seakan-akan keberadaan ibu mertuanya yang sedang dikurung di kamar sebelah sudah tidak lagi memiliki ruang
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: 521. EFEK JERA DARI RAIN UNTUK SANG IBU“Yuni…” Gendis baru saja keluar dari kamar tidurnya sembari menggandeng tangan mungil Bima.“Iya, Bu…” sahut Yuni yang segera berlari kecil mendekati Gendis. Bima tertawa riang melihat kedatangan Yuni, seolah-olah ia baru saja melihat teman bermainnya sendiri.“Omanya masih ngomel?” tanya Gendis pelan saat mereka melangkah di lorong kamar.“Tadi masih, Bu. Cuma kata Pak Rain pintu nggak usah dibukain dulu,” bisik Yuni yang kemudian membalas senyum lebar Bima.“Iya, nggak usah dibukain. Biar kapok,” sahut Gendis tegas namun tenang. “Sarapan pagi udah siap?”“Udah semua, Bu, termasuk punya Oma Bima. Tadinya mau saya antarin ke kamar, tapi saya takut…” akui Yuni jujur. Sementara itu, Bima langsung berlarian menuju ruang tengah begitu mendengar suara dari siaran TV kesukaannya yang mulai diputar.“Ya udah, biar nanti suami aku aja yang urus. Kamu udah makan? Jangan nunggu disuruh, makan aja kalau lapar, ya,” ucap Gendis perhatian sembari melangkah menuju ruang makan.“Tenang, Bu… udah dua
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: AKHIR DARI KISAH MEREKA Satu bulan berlalu. Kini Bara dan Dona jauh lebih bahagia. Dona resmi bukan lagi istri Rangga, dan Bara mulai merencanakan pernikahan ulang bersama wanita yang ia cintai sejak dulu. “Aku nggak sabar liat perut Mama gendut banget kayak perut aku!” ucap Nola sambil berlenggok di depan cermin, memutar tubuhnya seperti balerina kecil. “Gini kan...” sahut Bara sambil menyelipkan bantal sofa ke dalam bajunya. “Hahaha!” tawa mereka bertiga pecah malam itu di dalam kamar. Dona sempat merekam tingkah suami dan anaknya dengan kamera ponsel. Pukul sembilan malam, Nola tertidur pulas di kamarnya. “Udah bobok?” tanya Dona sambil tersenyum melihat suaminya yang sedang berakting jadi zombie. “Zombie nggak bisa ngomong, Sayang...” ucap Bara dengan wajah serius. “Oh, lupa... Hahaha!” Dona menepuk dahinya sambil tertawa lepas. “Zombie mau bobok sama aku, kan?” goda Dona. “Nah, kalau ini bisa ngomong,” sahut Bara, lalu tersenyum dan naik ke ranjang, memeluk erat istrinya. “Kamu bahagia nggak?”
Last Updated: 2025-10-01
Chapter: BARA DAN DONA, DIPERTEMUKAN DENGAN KEDUA ORANG TUA RANGGA.“Dona?” ucap ibu Rangga sambil tersenyum, lalu segera memeluk menantunya dengan erat. Bara melihat itu, ia ikut tersenyum. Tak lama kemudian, Dona dan Bara dipersilakan masuk ke dalam rumah. Rangga yang tadinya duduk di ruang bermain menoleh. Ia segera berdiri, menarik napas dalam, menahan segala emosi. Perasaan sakit, sedih, amarah, dan cemburu bercampur jadi satu, namun semua ia pendam rapat-rapat ketika melihat istrinya datang malam itu bersama Bara. Mereka akhirnya duduk dalam satu ruangan. Nola tampak begitu bahagia bisa dekat dengan orang-orang yang ia sayangi. Sesekali ia duduk di pangkuan Bara, lalu kembali berlari ke arah Rangga. “Kami... minta maaf kalau selama menjadi...” ucap ibu Rangga, suaranya bergetar, menahan air mata. “Ma...” ucap Dona lirih, lalu mendekat dan mengusap punggung tangan mertuanya dengan lembut. Rangga kemudian membujuk Nola. “Main di sana dulu, ya. Lagi meeting,” ucapnya sambil berbisik dengan nada bercanda. “Oke, Daddy, aku main dulu!” s
Last Updated: 2025-10-01
Chapter: RANGGA MENGAKUI KESALAHANNYA PADA KEDUA ORANG TUANYAMenjelang sore hari, Bara terlihat meninggalkan kantor menuju apartemen. Setibanya di sana, Dona langsung menyambutnya dengan pakaian minim dan terbuka. “Apa-apaan nih?” ucap Bara sambil tersenyum, matanya menatap istrinya penuh godaan. “Kenapa? Nggak suka?” ucap Dona dengan senyum genit, seakan menantang. “Semalam ada yang nangis karena sakit anu-nya, loh…” ucap Bara mengingatkan dengan nada nakal. “Ih! Aku kan udah nggak sakit lagi…” balas Dona, wajahnya merona. “Oh, jadi mau gituan lagi, Sayang?” tanya Bara sambil tersenyum, meletakkan tas kerjanya, lalu dengan cepat membuka jas dan kancing kemejanya tepat di hadapan Dona. “Hahaha!” Dona tertawa lalu berlari menuju dapur untuk bersembunyi dari Bara. “Sini…” ucap Bara, kini tanpa mengenakan pakaian, berjalan cepat mendekati istrinya. “Nggak!” teriak Dona sambil tertawa, menghindar dengan lincah. “Ah, salah sendiri mancing nafsu suami!” ucap Bara sambil tersenyum, akhirnya berhasil menangkap tubuh Dona. Keduanya
Last Updated: 2025-09-30
Chapter: BARA DAN RANGGA AKHIRNYA SEPAKATDona menarik napas panjang, menahan gejolak dalam dadanya. “Mas... jangan gantungin hidup kamu di aku. Aku bukan rumah yang bisa kamu pulangin lagi. Aku cuma kenangan, dan kenangan nggak bisa kamu peluk terus-terusan,” ucapnya lirih, suaranya bergetar. Rangga menunduk, air matanya jatuh. Dona menatapnya sekali lagi, lalu tersenyum dengan getir. “Aku doain kamu nemuin rumah baru yang bener-bener bikin kamu bahagia. Bukan aku.” Rangga terdiam sejenak, sementara hati mereka berdua sama-sama retak dalam keheningan yang seolah tak bisa disembuhkan kata-kata. “Bisa nggak aku lanjutin hidup tanpa kamu?” tanya Rangga dengan suara parau, seolah setiap kata yang terucap menyayat dadanya. Dona hanya bisa menangis mendengar itu, bahunya bergetar menahan sesak. “Andai aja aku bisa lebih lama sama kamu... Segalanya bakal aku lakuin asal bisa sama kamu terus. Aku mohon izin sama kamu, buat lanjutin hidup aku tanpa kamu. Semoga aku sanggup, Dona,” ucap Rangga, matanya berkaca-kaca, menatap
Last Updated: 2025-09-30
Chapter: PENGAJUAN CINTA RANGGA UNTUK TERAKHIR KALI PADA DONA“Aku janji, nggak sentuh kamu,” ucap Rangga di telepon, suaranya penuh desakan. “Nggak bisa,” ucap Dona singkat, tapi nada suaranya tegas. “Dona, aku masih suami kamu, loh...” ucap Rangga pelan, seolah mencoba melembutkan hati istrinya. Dona terdiam. Hatinya ingin membantah, tapi kenyataan pahit itu memang benar: secara hukum, ia masih istri dari Rangga. “Tolong... sebentar aja,” ucap Rangga lagi, kali ini nadanya penuh harap. “Aku minta izin suami aku dulu,” ucap Dona, berusaha menahan getaran di suaranya. “Dona, nggak perlu! Kamu... kamu istrinya aku. Kenapa sesulit ini ketemu kamu?” ucap Rangga dengan nada meninggi, emosinya mulai pecah. Ia menahan napas sejenak lalu melanjutkan dengan suara bergetar, “Kenapa takut ketemu aku... kalau kamu memang benar-benar nggak punya sedikit pun perasaan sama aku lagi?” “Aku nggak mau. Aku harus menjaga perasaan suami aku... yang pertama kali dalam hidup aku,” ucap Dona, matanya basah menahan tangis. Rangga mengusap wajahnya kasar, suar
Last Updated: 2025-09-29
Chapter: RANGGA NEKAT MENGHUBUNGI DONA.“Mas, hari ini... kamu mau anterin Olla ke rumah Mas Rangga?” tanya Dona sambil menyiapkan pakaian kerja Bara dengan penuh perhatian. “Iya, sekalian aku mau ketemu dia dan minta dia untuk pisah dari kamu,” ucap Bara mantap, sorot matanya serius. “Um... tolong minta dia buat nggak usah temui aku lagi, Mas,” ucap Dona lirih, seolah tak ingin ada bayangan masa lalu yang menghantui. “Iya, pasti, Sayang. Aku juga nggak mau Rangga ketemu kamu lagi,” ucap Bara sambil menggenggam tangan istrinya dengan erat. Setelah bersiap-siap, Bara segera mengajak Nola untuk pergi ke sekolah. “Hati-hati di jalan. Nanti pulang sekolah sama Daddy, dan Daddy yang anterin kamu ke rumah Nenek, ya,” ucap Dona penuh kasih pada Nola. “Siap, Mama! Mama jangan sedih ya. Aku mau ketemu Papa dulu nanti. Bye, Mama!” seru Nola sambil melambaikan tangannya dan memberikan ciuman jauh yang manis pada Dona. “Dasar genit, kayak Daddy-nya. Dadah... sayang!” balas Dona dengan senyum lebar dari depan pintu apartem
Last Updated: 2025-09-28
Chapter: 88. MENDADAK KE HOTEL?Usai melakukan transaksi dan mendapatkan surat jual beli serta bukti kepemilikan tunggal, kini keduanya resmi memiliki ruko mewah tersebut. Kepemilikan itu menjadi tonggak awal kebangkitan mereka setelah badai besar yang sempat menghantam.“Sayang... aku nggak sabar melihat ruko ini penuh dengan barang-barang yang mau aku jual nanti,” ucap Cindy sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.Keduanya duduk berdampingan di atas sofa yang merupakan bonus eksklusif dari pembelian ruko tersebut. Nathan merangkul bahu Cindy, membiarkan wanita itu menikmati kemenangannya sejenak.“Iya, Sayang. Kita pasti bakal punya kesibukan luar biasa setiap hari habis ini. Tapi... oh iya, kamu juga harus janji untuk nggak salah memilih supplier lagi. Kamu ingat, kan, dulu kamu pernah ditipu oleh teman kamu sendiri?” ucap Nathan, mengingatkan dengan nada yang lembut namun sarat akan ketegasan.Cindy mengangguk pelan, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Nathan, mencari kenyamanan di sana. “Iya,
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: 87. CINDY DAPAT RUKO BARU DARI NATHANPukul delapan pagi, Nathan dan Cindy sudah berada di dalam mobil sport hitam milik Nathan yang membelah jalanan kota. Mereka sedang dalam perjalanan untuk meninjau sebuah ruko strategis yang akan dibeli Nathan sebagai hadiah sekaligus tempat usaha kecil untuk Cindy.“Supplier udah kamu hubungi, Sayang?” tanya Nathan sembari fokus mengendalikan kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap lembut jemari Cindy.“Udah, dong. Aku udah kirim surel semalam ke supplier pakaian yang bekerja sama dengan butik aku dulu. Dan... aku boleh nambah item lain nggak?” tanya Cindy ragu-ragu. Matanya sesekali melirik deretan katalog tas mewah di layar tabletnya.“Boleh aja, Sayang. Apa pun yang kamu butuh,” ucap Nathan tanpa ragu sedikit pun.“Yes! Aku mau menambah koleksi tas, sepatu, dan sandal. Tapi masalahnya... modalnya gimana, Sayang? Rata-rata supplier baru untuk aksesori meminta pembayaran di muka sebesar tujuh puluh persen karena aku belum punya rekam jejak kerja sama de
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: 86. NATHAN ATAU MORGAN, SIAPA YANG LEBIH HANDAL?Pagi hari, berita mengenai Nathan yang secara sepihak mengundurkan diri sebagai CEO di perusahaan ayahnya menjadi pembahasan utama di berbagai media bisnis. Banyak klien yang menyatakan kekecewaan mereka atas keputusan mendadak tersebut. Efek domino pun terjadi; sebagian pemegang saham mulai menarik modal mereka, sementara beberapa mitra besar memilih untuk membatalkan perjanjian baru.Di tengah kekacauan itu, ponsel Nathan berdering tanpa henti. Panggilan dari klien-klien loyal tampak mendesak, menuntut penjelasan langsung darinya.“Sayang, telepon kamu bunyi terus... jawab dulu,” ucap Cindy lembut. Pagi itu, ia tampak sibuk menyiapkan sarapan di dapur meski masih mengenakan lingerie seksi yang membalut tubuh indahnya.“Aku capek dari tadi terus menjawab 'halo' dan harus menjelaskan alasan ini itu,” keluh Nathan. Ia tampak tenang meski badai karier sedang menerjangnya. Hanya dengan mengenakan boxer tanpa atasan, ia duduk di meja makan, lalu akhirnya meraih ponselnya untuk menjawab pa
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: 85. APARTEMEN“Janda? Um… kayaknya menarik juga tuh janda,” ucap Morgan sembari duduk santai bersandar pada sofa. Ia meraih sebatang rokok dari meja, menyalakannya, lalu menghisapnya dalam-dalam sebelum mengembuskan asapnya ke udara dengan gestur yang sangat tenang.“Biasalah… jandanya itu… kebetulan mantan istrinya sendiri,” sahut Shella ketus. Ia mulai memunguti dan mengenakan kembali pakaian dalamnya yang tercecer di lantai, mencoba menutupi tubuhnya yang masih terasa panas.“Maksudnya?” tanya Morgan sembari tertawa pelan, merasa ada komedi di balik drama tersebut.“Pacar aku itu udah pernah menikah satu kali sama perempuan itu. Ternyata, setelah dia menjalin hubungan sama aku dan keluarga kami udah saling mengenal dengan sangat baik, si janda itu datang lagi. Dia rebut pacar aku lagi tepat di depan mata aku,” ucap Shella dengan suara bergetar. Ia terdiam sejenak saat bayangan wajah Cindy dan Nathan melintas di benaknya, memicu kobaran amarah yang sulit dipadamkan.“Hahaha!” Morgan tertawa lepas
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: 84. DENGAN BANGGA SHELLA MENGAKU KALAU NATHAN KEKASIHNYA...“Ah… enak… terus, Mas… aah… ya… terus! Aaah… ini lebih enak, Mas… ouh… yes… lebih keras, Mas! Lebih kuat… aaaaah… terus!”Shella menjerit histeris, suaranya bersaing dengan dentum musik bervolume tinggi yang meredam segalanya. Morgan seolah kesetanan; ia terus mengocok miliknya dengan ritme yang kian brutal. Tubuh Shella terguncang hebat hingga sofa besar itu bergeser dan membentur dinding kedap suara. Di dalam ruangan remang yang hanya diterangi lampu tembak berwarna-warni yang memantul ke plafon, gairah mereka memuncak tanpa batas.“Kamu mau yang lebih… huh?” bisik Morgan terengah, napasnya terasa panas di ceruk leher Shella sementara ia terus memacu ritme.“Lakuin, Mas! Aku mau… ya… aku mau… aaah… cepatan, Mas!” Shella sudah kehilangan akal sehatnya, ia hanya ingin merasakan sensasi yang lebih gila lagi.Morgan tiba-tiba menarik miliknya hingga keluar, memamerkan pemandangan batang yang berkilat basah berlumuran lendir gairah. Dengan gerakan tangkas, Shella membalikkan tubuhnya. Ia
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: 83. DIBAWAH PENGARUH ALKOHOL (2)Shella dan Morgan segera memesan sebuah ruangan VIP. Setelah mendapatkan kunci di tangan, keduanya berjalan menuju lift dengan tubuh yang saling berpelukan erat, sesekali berhenti untuk saling memagut bibir dengan panas.“Um…,” Shella melenguh pelan, menikmati ciuman itu sambil berjinjit demi mengimbangi tinggi tubuh Morgan. Hasrat mereka kian memuncak hingga pintu lift berdenting terbuka. Keduanya melangkah keluar dengan terburu-buru, tak sabar untuk segera memasuki ruangan privat tersebut.Begitu pintu ruangan VIP terbuka, Shella berlari kecil ke dalam. Ia melemparkan tasnya ke sembarang arah sembari menendang sepatunya hingga terlepas. Dengan gerakan menggoda, ia menjatuhkan tubuhnya, berbaring manja di atas sofa besar yang empuk.“Ayo… makan aku, Mas…,” ucapnya dengan nada serak yang menantang. Ia menatap Morgan penuh gairah sambil perlahan menarik tali gaun di bahunya, membiarkan kain itu merosot hingga bagian dadanya nyaris terekspos sepenuhnya di bawah lampu ruangan yang remang
Last Updated: 2026-01-02

RAHASIA MENANTU IDAMAN
“Aku yang di atas... atau kamu yang di bawah, Mas?”
Suara Kanya terdengar pelan tapi tajam.
Brian hanya tersenyum tipis, menurunkan kacamatanya dan menatap lurus ke mata wanita itu.
“Aku nggak keberatan posisi mana pun,” ucapnya tenang. “Asal kamu siap kalah.”
Sejak malam itu, pernikahan mereka bukan lagi tentang cinta—tapi tentang siapa yang lebih berbahaya.
Wanita penuh luka. Pria penuh rahasia. Dijodohkan dan justru saling membunuh atau menyelamatkan.
Kanya, model papan atas dengan senyum memabukkan dan tingkah penuh energi, sebenarnya menyimpan luka masa lalu yang kelam, korban pemerkosaan brutal oleh sekelompok pria yang sampai kini belum tersentuh hukum. Diam-diam, ia membesarkan seorang anak laki-laki yang lahir dari tragedi itu.
Ketika ia ditunjuk sebagai Brand Ambassador di NHB perusahaan fashion elit yang sedang naik daun, Kanya bertemu Brian, manajer dingin, kaku, dan terlalu profesional untuk urusan hati. Ia mengira pria itu cuma pria kantoran yang cupu dan membosankan.
Tapi siapa sangka di balik sikap tenangnya, Brian juga menyimpan masa lalu yang tak kalah kelam. Hidupnya selama ini dikendalikan pacar ambisius bernama Sintia dan beban kerja yang mencekik.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebatas kerja. Namun takdir berkata lain. Ternyata mereka dijodohkan oleh kedua orang tua. Dan yang lebih mengejutkan, rahasia masa lalu mereka saling terhubung. Terlalu dalam. Terlalu gelap.
Kanya berniat memanfaatkan pernikahan itu sebagai senjata balas dendam. Tapi saat Brian mulai menunjukkan sisi gilanya, Kanya sadar dia mungkin bukan senjata tapi rekan kejahatan paling berbahaya yang pernah ada.
Dua orang penuh luka. Satu pernikahan yang jadi ladang konspirasi. Dan cinta yang tumbuh dari reruntuhan dendam.
Read
Chapter: KANYA JADI INCARAN MUSUH LAMAMalam itu di sudut gelap dekat warung kopi tua yang sepi pelanggan, dua pria itu duduk di atas motor masing-masing, helm masih menggantung di setang. Rokok menyala di ujung jari mereka, dan obrolan pelan tapi penuh racun mengalir di antara kepulan asap. “Besok kita mulai rencana,” kata si pria bertubuh kekar, menyesap rokoknya pelan. “Kita culik, tapi nggak langsung. Kita bikin dia panik dulu.” “Penculikan, pemerasan, bisa dapet ratusan juta. Cewek kayak gitu pasti punya harga,” jawab temannya yang lebih kurus, matanya tajam memperhatikan layar ponsel yang menampilkan foto Kanya dari akun sosial medianya. “Masalahnya, dia tinggal sama cowok. Mungkin suami. Mungkin pacar.” “Kita pastiin dulu besok. Kalau perlu kita nginep depan gedung. Kita harus tahu siapa aja yang keluar masuk apartemen itu.” Mereka tertawa pelan. Tawa yang lebih mirip desisan ular ketimbang manusia. Sementara itu... Di dalam apartemen yang terang dan modern, Brian duduk rapi dengan kemeja putih yang atasnya u
Last Updated: 2025-07-19
Chapter: ORANG YANG MENCURIGAKAN MUNCUL? Sementara itu di apartemen, Brian duduk di depan laptop dengan rambut sedikit acak-acakan dan kaos oblong berwarna abu-abu. Daniel duduk manis di pangkuannya, tangan kecilnya sibuk memainkan stabilo berwarna kuning. “Daniel, jangan ganggu mouse-nya Daddy dong…” Daniel menyeringai sambil menunjuk layar dan berucap, “Dino! Daddy, itu Dino!” “Bukan, itu grafik performa keuangan bulan ini, Nak…” Brian tersenyum lelah, namun matanya tetap hangat. “Tapi kalo kamu bilang Dino juga, ya udahlah…” Hari ini, mereka tidak hanya menjalankan peran. Mereka hidup di dalamnya. Kanya di depan kamera, Brian di balik layar, dan Daniel menjadi pusat dari semesta mereka berdua. ••• Siang itu, di apartemen yang mulai sunyi karena AC menyala lembut dan tirai ditutup setengah, Brian duduk di lantai sambil menyuapi Daniel yang enggan diam. Bayi gemuk itu lebih sibuk bermain dengan sendok dan menjatuhkan mangkuk kecil ke lantai. “Daniel, suap nih... Aaaa... pesawat mendarat di mulut!” suara Brian
Last Updated: 2025-07-17
Chapter: KELUARGA SINTIA KECEWA. BRIAN SAMA KANYA SIBUK BUAT ANAK KE DUA.Rumah Sakit, malam hari Lampu di ruang IGD bersinar terang. Di luar, Ibu Silvi duduk dengan mata sembab, sementara Pak Erik berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang. Dokter baru saja keluar dan menjelaskan bahwa Sintia masih belum sadar akibat overdosis dan benturan dari kecelakaan. Ibu Silvi dengan suara gemetar, “Dia cuma butuh ditanya kabarnya. Sekedar ‘kamu nggak apa-apa’, gitu aja nggak ada...” Pak Erik menahan amarah, “Brian... bocah itu. Dulu sopan. Dulu perhatian. Tapi sekarang?! Ditelepon pun jawabannya cuma ‘maaf, Brian nggak bisa kesana’. Lalu ditutup.” Ibu Silvi menghapus air matanya. Ibu Silvi berucap, “kamu pikir dia kayak gini karena siapa? Karena disakitin, karena dikhianatin? Tapi dia perempuan, Erik. Sekalipun salah, masih pantas dikasih waktu bicara.” Pak Erik duduk akhirnya, diam sejenak sebelum dia berkata, “kalau anak itu bisa tega ninggalin perempuan yang pernah dia tunangin begitu aja... berarti hatinya udah dibagi ke yang lain.” ••• Daniel suda
Last Updated: 2025-07-16
Chapter: MANTAN BRIAN DATANG LAGI?LOBBY KANTOR NHB – JAM 14.10 SIANG Suasana kantor elite NHB mendadak gaduh. Security yang biasa bersikap tenang langsung siaga waktu seorang wanita berdandan glamor datang masuk tanpa appointment. Sintia. Dengan high heels menggedor lantai, rambut terurai, dan wajah penuh amarah yang ditutup senyum palsu. “Maaf, Mbak. Nggak bisa sembarangan masuk—” “Gue tunangannya Brian!” hardik Sintia, langsung melenggang ke lift eksekutif. Satpam bingung, tapi tetap ikutin dari belakang. RUANGAN BRIAN – LANTAI 12 Brian yang sedang review katalog lookbook baru tiba-tiba berdiri pas pintu ruangannya dibuka paksa. “Sayang, kita bisa ngomong baik-baik nggak?” Suara Sintia mendayu-dayu. Nggak cocok sama cara dia maksa masuk. Brian berdiri pelan. Tarik napas. Lalu menatap wanita itu dari ujung kaki sampai kepala seolah dia lagi lihat sesuatu yang menjijikkan. “Satpam.” Nada suaranya datar. “Brian?!” “Keluarin dia.” Dua satpam masuk dan langsung mengarah ke Sintia. “Brian! Lo
Last Updated: 2025-07-15
Chapter: IMBAS PENGKHIANATAN IRVAN KE BRIAN.PAGI DADDY DAN GRAFIK Pagi itu, aroma tumisan sayur dan telur orak-arik khas buatan Kanya menguar dari dapur. Kanya mengenakan apron lucu bergambar dinosaurus—bukan karena hobi, tapi karena Daniel yang milih waktu mereka belanja bareng. Di meja makan, kotak bekal stainless steel udah disusun rapi, isinya lengkap: nasi, ayam bumbu kecap, sayuran, dan potongan buah. Sementara itu, suara cipratan air terdengar dari kamar mandi. “Daniel... sabunnya jangan di makan, ya sayang…” teriak Kanya sambil nyalain hair dryer, lalu buru-buru ke kamar mandi. Daniel duduk di dalam ember mandi warna biru laut, tubuh gempalnya penuh busa, dan wajahnya senyum-senyum sambil ngerespon mainan bebek karet yang tenggelam di antara gelembung sabun. Di depan kaca wastafel, Brian berdiri dengan wajah serius, rambut masih sedikit basah. Pakaian kantor udah rapi, dasi tinggal disesuaikan. Tapi tangannya masih pegang ponsel yang menampilkan grafik progres proyek. “Kalau kita pakai pendekatan minimalis, g
Last Updated: 2025-07-11
Chapter: DARI MASA LALU MUNCUL “Maksudnya... kita pura-pura pernah punya masa lalu?” tanya Kanya sambil nyuapin Daniel suapan terakhir.Brian angguk sambil peluk Daniel makin erat.“Kita ketemu lagi baru-baru ini. Reconnect. Kamu bawa Daniel. Aku syok, tapi mutusin buat tanggung jawab. Cerita kayak gini masih bisa dimaafin... dibanding kalau kita jujur soal kekerasan itu.”Kanya diem. Matanya berkaca-kaca.“Tapi aku bohongin mama papa, Mas...”“Aku juga. Tapi bohongin demi kebaikan mereka. Kita yang nanggung. Daniel nggak akan ngerti nanti—yang penting dia tumbuh dalam cinta.”Kanya taruh sendok dan tatap Brian penuh rasa percaya. “Oke... deal, Mas.”Brian senyum, lalu gendong Daniel tinggi-tinggi.“Deal. Kita tutup masa lalu kamu, kita mulai dari cerita versi kita.”Daniel tertawa-tawa kegirangan diangkat ke udara. Kanya ikut tertawa sambil ngelap mulut si kecil.“Yang penting kita bertiga... bareng terus,” ucap Kanya.
Last Updated: 2025-07-10