author-banner
Dara Tresna Anjasmara
Dara Tresna Anjasmara
Author

Novels by Dara Tresna Anjasmara

PELAN PELAN SAYANG

PELAN PELAN SAYANG

“Mas… pelan-pelan…” Desahan Gendis adalah suara yang menghancurkan semua etika profesional Rain, seorang Psikolog Reproduksi yang bersumpah untuk menyembuhkan, bukan memiliki. Rain adalah pria yang terlalu lama menahan diri, dan Gendis adalah fantasi terlarang yang akhirnya ia klaim melalui sesi cinta terlarang. Namun, kebahagiaan itu rapuh, sebab Rain menyembunyikan sisi tergelap yang jauh lebih berbahaya dari pelanggaran profesi. Kini, ketika Gendis ingin dimiliki seutuhnya, Rain harus berjuang menjaga rahasia mematikannya agar wanita yang ia cintai tidak lari dari monster yang telah ia ciptakan.
Read
Chapter: 564. TINGKAH ANEH MARTHA. GERAK GERIK RETNO.
“Ya, Cipta. Gimana?” sahut Rain sambil mengunyah makanannya dengan tenang. “Rain, nanti ke kantor, kan?” tanya Cipta yang suaranya terdengar renyah, seolah sedang menikmati sarapan pagi yang hangat bersama Wanda. “Iya, ke sana. Sesuai pesan kamu semalam,” ucap Rain. Ia melirik Gendis yang duduk di sampingnya, mencoba mencari ketenangan di mata istrinya sebelum menghadapi kerumitan urusan ibunya kembali. “Oke. Soalnya Dokter Retno jam tujuh nanti mau ke sana. Kamu harus jadi wali Mama juga untuk persetujuan pengobatan beliau,” tutur Cipta. Suaranya kini sedikit merendah, menyadari betapa berat beban yang harus dipikul Rain untuk menghadapi kondisi psikis Martha. “Oh, oke,” balas Rain singkat. Ia mengangguk pelan, meski dalam hati ada sedikit rasa pahit yang tersisa setiap kali nama sang ibu disebut sebagai pasien. “Bima mana? Biasa... Wanda kangen nih,” ucap Cipta kembali ceria, mencoba mencairkan suasana. “Oh, ada dong. Video call aja,” sahut Rain. Ia segera mengusap layar
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: 563. TELEPON DARI SIAPA?
Suasana kamar yang tadinya penuh kecemasan berubah drastis saat matahari pagi mulai naik. Ketukan sopan dari luar pintu menjadi penanda hari baru telah dimulai. “Bu... Pak... Sarapan sudah siap...” ucap Yuni, asisten rumah tangga mereka, dengan nada ramah. “Iya, Yuni! Terima kasih ya!” sahut Gendis lantang agar suaranya terdengar sampai keluar. Mendengar Yuni sudah menjauh, Rain melirik ke arah Bima yang ternyata sudah bangun sepenuhnya. Mata bulat balita itu berbinar, sisa-sisa air mata semalam telah hilang digantikan oleh binar kejenakaan. “Sarapan dulu, Sayang. Saya juga mau olahraga sebentar dan... kayaknya ada yang sudah bangun tidur nih...” ucap Rain sambil melirik jahil, berpura-pura tidak melihat Bima yang sedang berusaha menarik perhatiannya dengan senyum lebar. Gendis yang baru saja selesai mengancingkan pakaiannya setelah memberikan ASI, ikut masuk ke dalam permainan suaminya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat. “Um... masa
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: 562. MIMPI BURUK
Suasana hening pukul empat pagi pecah seketika. Suara tangisan Bima dari monitor bayi tidak terdengar seperti tangisan lapar biasanya; itu adalah jeritan ketakutan yang menyayat hati, seolah ia tengah terjebak dalam mimpi yang sangat buruk. “Bima?” ucap Rain dengan nada panik yang jarang ia tunjukkan. Tanpa sempat memakai alas kaki, ia segera beranjak dari ranjang dengan gerakan kilat, membuat Gendis yang sedang terlelap langsung terjaga. “Mas? Kenapa?” tanya Gendis dengan suara serak karena terkejut. Namun, begitu telinganya menangkap suara teriakan Bima yang semakin melengking dari monitor kecil di atas nakas, kesadarannya pulih seratus persen. “Bima!” Gendis segera menyibak selimut dan mengejar punggung Rain yang sudah lebih dulu berlari menuju kamar anak mereka. Jantungnya berdegup kencang, memenuhi dadanya dengan firasat buruk. Begitu pintu kamar Bima terbuka, mereka mendapati anak gempal itu sedang meronta dalam tidurnya, dengan mata yang masih tertutup rapat namun air mata
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: 561. SESEORANG YANG MELINDUNGI MARTHA, SIAPA?
​“Gimana, Mas?” tanya Wanda cemas malam itu. Ia langsung bangkit dari duduknya saat mendapati Cipta baru saja menginjakkan kaki di kamar mereka tepat pukul sebelas malam. “Minum dulu, Sayang. Biar aku ambilin, ya?” ​“Kamu istirahat aja, Sayang. Tiduran aja di sana, aku bisa ambil sendiri,” sahut Cipta lembut. Ia melemparkan kunci motornya ke atas meja rias, lalu memberikan senyum lelah namun menenangkan. “Yang pasti, besok pagi ruang kerja suami kamu ini bakal disulap jadi ruang konsultasi kesehatan.” ​Cipta mulai membuka kancing pakaiannya satu per satu. Wanda kembali duduk di tepi ranjang, memerhatikan setiap gerak-gerik suaminya dengan tatapan haru. ​“Jadi... kamu rela berkorban demi Mama, Sayang?” tanya Wanda, suaranya sedikit bergetar karena rasa tidak percaya sekaligus bangga. ​“Harus, dong. Siapa lagi kalau bukan kita dan adik kamu, yang bantuin dia?” ucap Cipta. ​Kini pria itu sudah bertelanjang dada, menyisakan celana jinsnya saja saat ia melangkah menuju kamar mand
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: 560. DOKTER RETNO TAK DAPAT IZIN DARI CIPTA?
​“Pak Cipta, ada yang mau bertemu,” ucap salah seorang anggota polisi yang menghampiri Cipta malam itu. ​“Suruh masuk sekarang,” sahut Cipta singkat. ​Penampilannya malam itu tampak sangat santai, jauh dari kesan kaku seorang penyidik. Ia hanya mengenakan kaos oblong berwarna gelap dan celana jins, mengingat jam kantor resminya memang sudah berakhir beberapa jam yang lalu. ​“Saudara Cipta?” tegur Retno saat memasuki ruangan. Ia segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangan pria di hadapannya. ​“Iya, benar saya, Bu. Silakan duduk,” ucap Cipta ramah, mempersilakan Dokter Retno menempati kursi di depan mejanya. ​Retno memperhatikan penampilan Cipta sejenak sebelum duduk. “Sepertinya jam kerja Anda sudah habis, ya? Saya mengganggu waktu istirahat Anda tidak?” tanya Retno merasa sedikit tidak enak hati. ​Cipta terkekeh pelan, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang tampak sudah tua. “Kebetulan saya baru sampai sepuluh menit yang lalu dari rumah, terpanggil lagi karena
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: 559. GENDIS TAKUT KALAU MARTHA...
“Apa maksud kamu, Rain? Apa yang dilakukan Ibu Martha pada Bima?” tanya Dokter Retno dengan suara yang hampir berbisik, tangannya gemetar saat ia kembali memegang berkas medis di atas meja. Gendis yang berada di samping Rain mulai terisak pelan, tidak sanggup lagi menahan beban kenyataan bahwa ibu mertuanya sendiri adalah ancaman nyata bagi keselamatan buah hatinya. “Mama saya sering melakukan tindakan kekerasan sama cucunya sendiri. Dari yang paling disebut ringan, sampai yang paling berat... yang terjadi semalam. Dia memukuli anak kami seperti memukul binatang,” ucap Rain dengan rahang mengeras. Suaranya bergetar hebat, menahan ledakan emosi dan amarah yang nyaris pecah di depan Dokter Retno. “Huh... ibu Martha... sudah sejauh itu?” gumam Dokter Retno lemas. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Benar, Bu Dokter. Dan sekarang... Mama ada di kantor polisi,” tambah Gendis dengan suara serak, tangannya sibuk menyeka
Last Updated: 2026-01-09
SEDIKIT LAGI, SAYANG!

SEDIKIT LAGI, SAYANG!

Setelah ibunya meninggal dan seluruh harta habis untuk pengobatan, Cindy tidak punya tempat pulang. Kontrakan sudah jatuh tempo, tabungan ludes. Satu-satunya pintu yang masih bisa ia ketuk hanyalah… rumah mantan suaminya. “Jangan lagi-lagi kamu lari pakai handuk doang. Kalau lepas gimana?!” bentaknya. Cindy membalas, “Kayak kamu gapernah liat aku gapakai aja!” Tinggal serumah lagi membuat pertanyaan perceraian lama muncul, tatapan Nathan yang terlalu panas, sentuhan yang tidak sengaja, jarak yang makin tipis setiap malam, dan kebiasaan Nathan yang tidak pernah Cindy tahu selama menikah.
Read
Chapter: 101. PENGANTIN LAMA VS CEO BARU
“Semua udah siap?” tanya Nathan dengan suara rendah namun tegas, memastikan rencana penting mereka hari ini tidak terhambat. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela ruang gym pribadi, menyinari butiran keringat yang membasahi tubuh atletis Nathan. Setelah sesi latihan yang intens, Nathan berjalan menghampiri istrinya sambil menyeka peluh di dahi dan leher menggunakan handuk kecil. “Udah semua, Sayang... Udah aku jadiin satu dalam map cokelat dan kita tinggal daftar aja,” ucap Cindy dengan nada riang. Ia mendekat, mengambil alih handuk dari tangan Nathan dan mulai menyeka keringat di dada serta leher suaminya. Jemarinya yang lentur sesekali sengaja menyentuh otot perut sixpack Nathan yang masih keras dan panas pasca olahraga. Nathan menangkap tatapan itu. Ia menyeringai tipis, lalu menarik pinggang Cindy hingga tubuh mereka merapat. “Kenapa? Mau seks lagi?” tanya Nathan dengan senyum nakal yang menggoda. “Ih... Semalam kita udah habis-habisan... Dasar!” Cindy mencubit pelan lengan
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: 100. OBSESI PADA CINDY. PAKAI TANGAN PUN JADI.
Malam yang sunyi di apartemen mewah itu terasa semakin mencekam bagi Nathan. Deru napasnya masih memburu setelah terjaga dari mimpi buruk yang terasa begitu nyata—sebuah bayangan kelam di mana ia kehilangan Cindy selamanya.“Sial,” umpatnya pelan, suaranya nyaris berbisik agar tidak mengusik ketenangan di ruangan itu.Nathan menoleh ke samping, menatap sosok Cindy yang masih terlelap pulas. Kulit wanita itu tampak bersinar di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui celah gorden, sisa-sisa kelelahan setelah percintaan panas mereka masih terlihat dari raut wajahnya yang damai.“Mimpi...” gumam Nathan sambil mengusap wajah dan meraup rambutnya kasar, mencoba mengusir sisa-sisa ketakutan yang menghantui pikirannya.Sebelum beranjak, ia membungkuk sebentar dan mengecup kening Cindy dengan sangat lembut—sebuah janji bisu bahwa ia akan selalu menjaganya. Nathan melangkah menuju lemari es kecil di sudut kamar, mengambil sebotol air mineral, dan meneguknya perlahan hingga separuh botol. Dingi
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: 99. KETIKA MORGAN ADALAH CINTA PERTAMA CINDY YANG TERSISIHKAN.
“Ini uang bayaran lo. Dua kali lipat, sesuai janji gue di awal,” ucap Morgan datar. Jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel, menekan tombol konfirmasi pada aplikasi mobile banking-nya. Sebuah notifikasi transaksi berhasil muncul, menandai berakhirnya interaksi mereka malam itu. “Um... terima kasih ya, Mas,” sahut wanita itu pelan. Ia tampak sibuk merapikan pakaiannya yang sempat berserakan di lantai, lalu melangkah ke arah cermin untuk membenahi rambutnya yang kusut setelah mandi. “Oke,” sahut Morgan singkat. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Baginya, wanita itu tak lebih dari sekadar alat pelepas penat. Hasrat seksualnya telah tersalurkan, dan secara fungsional, wanita itu tidak lagi memiliki nilai baginya saat ini. Morgan meraih kunci mobil dan dompetnya di atas nakas dengan gerakan efisien. Tanpa sepatah kata pamit atau basa-basi manis, Morgan melangkah keluar meninggalkan kamar hotel tersebut. Langkah kakinya terdengar mantap dan tenang di atas karpet koridor y
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: 98. KEBANGGAAN ORANG TUA SEDANG ASYIK DI HOTEL DENGAN WANITA PENGHIBUR
​“Morgan belum pulang, Pa?” tanya ibunya malam itu. Ia tampak sibuk membersihkan sisa riasan di wajahnya di depan cermin meja rias, sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat. ​“Belum kayaknya. Tapi tadi dia menelepon Papa, katanya lagi kumpul sama teman-temannya,” jawab sang ayah tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang tengah ia baca di atas ranjang. ​“Oh... begitu. Tapi dia siap, kan, untuk hari pertamanya besok? Jangan sampai dia malah nggak datang ke kantor,” ucap ibunya dengan nada cemas. Ia meletakkan kapas pembersihnya dan berbalik menatap suaminya. Bagi ibunya, citra Morgan di perusahaan adalah segalanya. ​“Pasti dia datang, Ma. Papa sudah bicara langsung dengannya tadi. Dia sudah memastikan sendiri kalau dia akan hadir di hari pertama,” ucap ayahnya dengan nada tenang, berusaha meredakan kegelisahan sang istri. ​Ayahnya menutup buku, lalu melepas kacamata bacanya. “Dia tahu betul seberapa besar taruhannya kali ini. Morgan nggak akan sebod
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: 97. PENGANGGURAN
​“Jadi, minggu depan kita bisa nikah lagi?” tanya Cindy penuh harap pada Nathan malam itu. ​Suasana ruang TV apartemen mereka terasa kontras. Cindy tampak sibuk di atas karpet, menyusun tumpukan berkas penting untuk pengurusan administrasi. Sementara itu, Nathan justru tenggelam dalam dunianya sendiri. Pria itu memakai headphone besar, fokus menatap layar televisi lebar sambil sesekali mengarahkan senjata nirkabel mainannya ke arah musuh virtual dari atas sofa. ​“Sayang, kita harus foto lagi, kan? Buat buku nikah yang baru,” ucap Cindy lagi. Ia mengambil buku nikah lama mereka yang masih tersimpan rapi, lalu membukanya perlahan. ​Ada rasa getir sekaligus lucu saat jemarinya menyentuh lembaran itu. “Bisa nggak, sih, buku lama ini diterusin aja? Tapi kayaknya nggak mungkin, ya... Di lembar belakang udah ada stempel cerai. Hmmm...” Cindy tertawa kecil meratapi masa lalu mereka yang sempat hancur. ​Namun, tawa itu perlahan surut saat ia menyadari tidak ada respons dari pria di sam
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: 96. KELUARGA NATHAN PANIK JIKA CINDY BERTEMU MORGAN?
​“Kamu kan tahu sendiri Sayang... aku nggak pernah bisa cuma satu kali...” bisik Nathan serak. Ia terus mengecupi leher jenjang Cindy, sementara jemarinya tidak berhenti memberikan rangsangan dengan ritme yang semakin cepat dan menuntut. ​“Ah... Mas... Um... Mas... Ah....” ​Desahan Cindy pecah di dalam kamar yang sunyi itu. Kedua kakinya mulai terasa lemas dan gemetar, membuatnya terpaksa menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada Nathan. Ia melingkarkan kedua tangannya di atas bahu dan leher suaminya, mencari pegangan saat sensasi nikmat mulai merayapi seluruh tubuhnya. ​Tubuh Cindy bergerak naik-turun perlahan mengikuti permainan tangan Nathan yang terus meremas dadanya, sementara lehernya kini terasa basah oleh kecupan-kecupan panas. ​“Udah terlalu basah, Sayang... Aku nggak mau berhenti sampai kamu benar-benar keluar dan puas... Umm...” ucap Nathan dengan napas memburu. Ia begitu menikmati setiap inci kulit Cindy yang bersentuhan dengan jari-jarinya, membiarkan gairah itu
Last Updated: 2026-01-08
SELINGKUH DENGAN ISTRIKU

SELINGKUH DENGAN ISTRIKU

"Dia istriku. Tapi kini tidur di ranjang pria lain." Bara Adrian tak pernah menyangka, perempuan yang ia nikahi diam-diam beberapa tahun lalu... kini telah menjadi istri orang. Bukan karena cerai. Tapi karena kecelakaan merenggut ingatan Dara, dan semua tentang pernikahan mereka lenyap begitu saja. Dara hidup bahagia—setidaknya di mata dunia. Tapi tak ada yang tahu, bahwa anak perempuan yang ia besarkan... sebenarnya darah daging Bara. Kini Bara kembali, dengan identitas asli sebagai CEO yang tak segan menghancurkan siapapun, termasuk suami Dara yang selama ini menyakitinya dalam diam. Bagi Bara, ini bukan perselingkuhan. Ini adalah perjuangan menjemput istri yang bahkan tak tahu bahwa dia masih milik suaminya sendiri. Cinta, dendam, dan rahasia besar dari masa lalu. Bisakah cinta pertama bertahan. . . ketika yang kedua lebih kejam?
Read
Chapter: AKHIR DARI KISAH MEREKA
Satu bulan berlalu. Kini Bara dan Dona jauh lebih bahagia. Dona resmi bukan lagi istri Rangga, dan Bara mulai merencanakan pernikahan ulang bersama wanita yang ia cintai sejak dulu. “Aku nggak sabar liat perut Mama gendut banget kayak perut aku!” ucap Nola sambil berlenggok di depan cermin, memutar tubuhnya seperti balerina kecil. “Gini kan...” sahut Bara sambil menyelipkan bantal sofa ke dalam bajunya. “Hahaha!” tawa mereka bertiga pecah malam itu di dalam kamar. Dona sempat merekam tingkah suami dan anaknya dengan kamera ponsel. Pukul sembilan malam, Nola tertidur pulas di kamarnya. “Udah bobok?” tanya Dona sambil tersenyum melihat suaminya yang sedang berakting jadi zombie. “Zombie nggak bisa ngomong, Sayang...” ucap Bara dengan wajah serius. “Oh, lupa... Hahaha!” Dona menepuk dahinya sambil tertawa lepas. “Zombie mau bobok sama aku, kan?” goda Dona. “Nah, kalau ini bisa ngomong,” sahut Bara, lalu tersenyum dan naik ke ranjang, memeluk erat istrinya. “Kamu bahagia nggak?”
Last Updated: 2025-10-01
Chapter: BARA DAN DONA, DIPERTEMUKAN DENGAN KEDUA ORANG TUA RANGGA.
“Dona?” ucap ibu Rangga sambil tersenyum, lalu segera memeluk menantunya dengan erat. Bara melihat itu, ia ikut tersenyum. Tak lama kemudian, Dona dan Bara dipersilakan masuk ke dalam rumah. Rangga yang tadinya duduk di ruang bermain menoleh. Ia segera berdiri, menarik napas dalam, menahan segala emosi. Perasaan sakit, sedih, amarah, dan cemburu bercampur jadi satu, namun semua ia pendam rapat-rapat ketika melihat istrinya datang malam itu bersama Bara. Mereka akhirnya duduk dalam satu ruangan. Nola tampak begitu bahagia bisa dekat dengan orang-orang yang ia sayangi. Sesekali ia duduk di pangkuan Bara, lalu kembali berlari ke arah Rangga. “Kami... minta maaf kalau selama menjadi...” ucap ibu Rangga, suaranya bergetar, menahan air mata. “Ma...” ucap Dona lirih, lalu mendekat dan mengusap punggung tangan mertuanya dengan lembut. Rangga kemudian membujuk Nola. “Main di sana dulu, ya. Lagi meeting,” ucapnya sambil berbisik dengan nada bercanda. “Oke, Daddy, aku main dulu!” s
Last Updated: 2025-10-01
Chapter: RANGGA MENGAKUI KESALAHANNYA PADA KEDUA ORANG TUANYA
Menjelang sore hari, Bara terlihat meninggalkan kantor menuju apartemen. Setibanya di sana, Dona langsung menyambutnya dengan pakaian minim dan terbuka. “Apa-apaan nih?” ucap Bara sambil tersenyum, matanya menatap istrinya penuh godaan. “Kenapa? Nggak suka?” ucap Dona dengan senyum genit, seakan menantang. “Semalam ada yang nangis karena sakit anu-nya, loh…” ucap Bara mengingatkan dengan nada nakal. “Ih! Aku kan udah nggak sakit lagi…” balas Dona, wajahnya merona. “Oh, jadi mau gituan lagi, Sayang?” tanya Bara sambil tersenyum, meletakkan tas kerjanya, lalu dengan cepat membuka jas dan kancing kemejanya tepat di hadapan Dona. “Hahaha!” Dona tertawa lalu berlari menuju dapur untuk bersembunyi dari Bara. “Sini…” ucap Bara, kini tanpa mengenakan pakaian, berjalan cepat mendekati istrinya. “Nggak!” teriak Dona sambil tertawa, menghindar dengan lincah. “Ah, salah sendiri mancing nafsu suami!” ucap Bara sambil tersenyum, akhirnya berhasil menangkap tubuh Dona. Keduanya
Last Updated: 2025-09-30
Chapter: BARA DAN RANGGA AKHIRNYA SEPAKAT
Dona menarik napas panjang, menahan gejolak dalam dadanya. “Mas... jangan gantungin hidup kamu di aku. Aku bukan rumah yang bisa kamu pulangin lagi. Aku cuma kenangan, dan kenangan nggak bisa kamu peluk terus-terusan,” ucapnya lirih, suaranya bergetar. Rangga menunduk, air matanya jatuh. Dona menatapnya sekali lagi, lalu tersenyum dengan getir. “Aku doain kamu nemuin rumah baru yang bener-bener bikin kamu bahagia. Bukan aku.” Rangga terdiam sejenak, sementara hati mereka berdua sama-sama retak dalam keheningan yang seolah tak bisa disembuhkan kata-kata. “Bisa nggak aku lanjutin hidup tanpa kamu?” tanya Rangga dengan suara parau, seolah setiap kata yang terucap menyayat dadanya. Dona hanya bisa menangis mendengar itu, bahunya bergetar menahan sesak. “Andai aja aku bisa lebih lama sama kamu... Segalanya bakal aku lakuin asal bisa sama kamu terus. Aku mohon izin sama kamu, buat lanjutin hidup aku tanpa kamu. Semoga aku sanggup, Dona,” ucap Rangga, matanya berkaca-kaca, menatap
Last Updated: 2025-09-30
Chapter: PENGAJUAN CINTA RANGGA UNTUK TERAKHIR KALI PADA DONA
“Aku janji, nggak sentuh kamu,” ucap Rangga di telepon, suaranya penuh desakan. “Nggak bisa,” ucap Dona singkat, tapi nada suaranya tegas. “Dona, aku masih suami kamu, loh...” ucap Rangga pelan, seolah mencoba melembutkan hati istrinya. Dona terdiam. Hatinya ingin membantah, tapi kenyataan pahit itu memang benar: secara hukum, ia masih istri dari Rangga. “Tolong... sebentar aja,” ucap Rangga lagi, kali ini nadanya penuh harap. “Aku minta izin suami aku dulu,” ucap Dona, berusaha menahan getaran di suaranya. “Dona, nggak perlu! Kamu... kamu istrinya aku. Kenapa sesulit ini ketemu kamu?” ucap Rangga dengan nada meninggi, emosinya mulai pecah. Ia menahan napas sejenak lalu melanjutkan dengan suara bergetar, “Kenapa takut ketemu aku... kalau kamu memang benar-benar nggak punya sedikit pun perasaan sama aku lagi?” “Aku nggak mau. Aku harus menjaga perasaan suami aku... yang pertama kali dalam hidup aku,” ucap Dona, matanya basah menahan tangis. Rangga mengusap wajahnya kasar, suar
Last Updated: 2025-09-29
Chapter: RANGGA NEKAT MENGHUBUNGI DONA.
“Mas, hari ini... kamu mau anterin Olla ke rumah Mas Rangga?” tanya Dona sambil menyiapkan pakaian kerja Bara dengan penuh perhatian. “Iya, sekalian aku mau ketemu dia dan minta dia untuk pisah dari kamu,” ucap Bara mantap, sorot matanya serius. “Um... tolong minta dia buat nggak usah temui aku lagi, Mas,” ucap Dona lirih, seolah tak ingin ada bayangan masa lalu yang menghantui. “Iya, pasti, Sayang. Aku juga nggak mau Rangga ketemu kamu lagi,” ucap Bara sambil menggenggam tangan istrinya dengan erat. Setelah bersiap-siap, Bara segera mengajak Nola untuk pergi ke sekolah. “Hati-hati di jalan. Nanti pulang sekolah sama Daddy, dan Daddy yang anterin kamu ke rumah Nenek, ya,” ucap Dona penuh kasih pada Nola. “Siap, Mama! Mama jangan sedih ya. Aku mau ketemu Papa dulu nanti. Bye, Mama!” seru Nola sambil melambaikan tangannya dan memberikan ciuman jauh yang manis pada Dona. “Dasar genit, kayak Daddy-nya. Dadah... sayang!” balas Dona dengan senyum lebar dari depan pintu apartem
Last Updated: 2025-09-28
RAHASIA MENANTU IDAMAN

RAHASIA MENANTU IDAMAN

“Aku yang di atas... atau kamu yang di bawah, Mas?” Suara Kanya terdengar pelan tapi tajam. Brian hanya tersenyum tipis, menurunkan kacamatanya dan menatap lurus ke mata wanita itu. “Aku nggak keberatan posisi mana pun,” ucapnya tenang. “Asal kamu siap kalah.” Sejak malam itu, pernikahan mereka bukan lagi tentang cinta—tapi tentang siapa yang lebih berbahaya. Wanita penuh luka. Pria penuh rahasia. Dijodohkan dan justru saling membunuh atau menyelamatkan. Kanya, model papan atas dengan senyum memabukkan dan tingkah penuh energi, sebenarnya menyimpan luka masa lalu yang kelam, korban pemerkosaan brutal oleh sekelompok pria yang sampai kini belum tersentuh hukum. Diam-diam, ia membesarkan seorang anak laki-laki yang lahir dari tragedi itu. Ketika ia ditunjuk sebagai Brand Ambassador di NHB perusahaan fashion elit yang sedang naik daun, Kanya bertemu Brian, manajer dingin, kaku, dan terlalu profesional untuk urusan hati. Ia mengira pria itu cuma pria kantoran yang cupu dan membosankan. Tapi siapa sangka di balik sikap tenangnya, Brian juga menyimpan masa lalu yang tak kalah kelam. Hidupnya selama ini dikendalikan pacar ambisius bernama Sintia dan beban kerja yang mencekik. Pertemuan mereka seharusnya hanya sebatas kerja. Namun takdir berkata lain. Ternyata mereka dijodohkan oleh kedua orang tua. Dan yang lebih mengejutkan, rahasia masa lalu mereka saling terhubung. Terlalu dalam. Terlalu gelap. Kanya berniat memanfaatkan pernikahan itu sebagai senjata balas dendam. Tapi saat Brian mulai menunjukkan sisi gilanya, Kanya sadar dia mungkin bukan senjata tapi rekan kejahatan paling berbahaya yang pernah ada. Dua orang penuh luka. Satu pernikahan yang jadi ladang konspirasi. Dan cinta yang tumbuh dari reruntuhan dendam.
Read
Chapter: KANYA JADI INCARAN MUSUH LAMA
Malam itu di sudut gelap dekat warung kopi tua yang sepi pelanggan, dua pria itu duduk di atas motor masing-masing, helm masih menggantung di setang. Rokok menyala di ujung jari mereka, dan obrolan pelan tapi penuh racun mengalir di antara kepulan asap. “Besok kita mulai rencana,” kata si pria bertubuh kekar, menyesap rokoknya pelan. “Kita culik, tapi nggak langsung. Kita bikin dia panik dulu.” “Penculikan, pemerasan, bisa dapet ratusan juta. Cewek kayak gitu pasti punya harga,” jawab temannya yang lebih kurus, matanya tajam memperhatikan layar ponsel yang menampilkan foto Kanya dari akun sosial medianya. “Masalahnya, dia tinggal sama cowok. Mungkin suami. Mungkin pacar.” “Kita pastiin dulu besok. Kalau perlu kita nginep depan gedung. Kita harus tahu siapa aja yang keluar masuk apartemen itu.” Mereka tertawa pelan. Tawa yang lebih mirip desisan ular ketimbang manusia. Sementara itu... Di dalam apartemen yang terang dan modern, Brian duduk rapi dengan kemeja putih yang atasnya u
Last Updated: 2025-07-19
Chapter: ORANG YANG MENCURIGAKAN MUNCUL?
Sementara itu di apartemen, Brian duduk di depan laptop dengan rambut sedikit acak-acakan dan kaos oblong berwarna abu-abu. Daniel duduk manis di pangkuannya, tangan kecilnya sibuk memainkan stabilo berwarna kuning. “Daniel, jangan ganggu mouse-nya Daddy dong…” Daniel menyeringai sambil menunjuk layar dan berucap, “Dino! Daddy, itu Dino!” “Bukan, itu grafik performa keuangan bulan ini, Nak…” Brian tersenyum lelah, namun matanya tetap hangat. “Tapi kalo kamu bilang Dino juga, ya udahlah…” Hari ini, mereka tidak hanya menjalankan peran. Mereka hidup di dalamnya. Kanya di depan kamera, Brian di balik layar, dan Daniel menjadi pusat dari semesta mereka berdua. ••• Siang itu, di apartemen yang mulai sunyi karena AC menyala lembut dan tirai ditutup setengah, Brian duduk di lantai sambil menyuapi Daniel yang enggan diam. Bayi gemuk itu lebih sibuk bermain dengan sendok dan menjatuhkan mangkuk kecil ke lantai. “Daniel, suap nih... Aaaa... pesawat mendarat di mulut!” suara Brian
Last Updated: 2025-07-17
Chapter: KELUARGA SINTIA KECEWA. BRIAN SAMA KANYA SIBUK BUAT ANAK KE DUA.
Rumah Sakit, malam hari Lampu di ruang IGD bersinar terang. Di luar, Ibu Silvi duduk dengan mata sembab, sementara Pak Erik berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang. Dokter baru saja keluar dan menjelaskan bahwa Sintia masih belum sadar akibat overdosis dan benturan dari kecelakaan. Ibu Silvi dengan suara gemetar, “Dia cuma butuh ditanya kabarnya. Sekedar ‘kamu nggak apa-apa’, gitu aja nggak ada...” Pak Erik menahan amarah, “Brian... bocah itu. Dulu sopan. Dulu perhatian. Tapi sekarang?! Ditelepon pun jawabannya cuma ‘maaf, Brian nggak bisa kesana’. Lalu ditutup.” Ibu Silvi menghapus air matanya. Ibu Silvi berucap, “kamu pikir dia kayak gini karena siapa? Karena disakitin, karena dikhianatin? Tapi dia perempuan, Erik. Sekalipun salah, masih pantas dikasih waktu bicara.” Pak Erik duduk akhirnya, diam sejenak sebelum dia berkata, “kalau anak itu bisa tega ninggalin perempuan yang pernah dia tunangin begitu aja... berarti hatinya udah dibagi ke yang lain.” ••• Daniel suda
Last Updated: 2025-07-16
Chapter: MANTAN BRIAN DATANG LAGI?
LOBBY KANTOR NHB – JAM 14.10 SIANG Suasana kantor elite NHB mendadak gaduh. Security yang biasa bersikap tenang langsung siaga waktu seorang wanita berdandan glamor datang masuk tanpa appointment. Sintia. Dengan high heels menggedor lantai, rambut terurai, dan wajah penuh amarah yang ditutup senyum palsu. “Maaf, Mbak. Nggak bisa sembarangan masuk—” “Gue tunangannya Brian!” hardik Sintia, langsung melenggang ke lift eksekutif. Satpam bingung, tapi tetap ikutin dari belakang. RUANGAN BRIAN – LANTAI 12 Brian yang sedang review katalog lookbook baru tiba-tiba berdiri pas pintu ruangannya dibuka paksa. “Sayang, kita bisa ngomong baik-baik nggak?” Suara Sintia mendayu-dayu. Nggak cocok sama cara dia maksa masuk. Brian berdiri pelan. Tarik napas. Lalu menatap wanita itu dari ujung kaki sampai kepala seolah dia lagi lihat sesuatu yang menjijikkan. “Satpam.” Nada suaranya datar. “Brian?!” “Keluarin dia.” Dua satpam masuk dan langsung mengarah ke Sintia. “Brian! Lo
Last Updated: 2025-07-15
Chapter: IMBAS PENGKHIANATAN IRVAN KE BRIAN.
PAGI DADDY DAN GRAFIK Pagi itu, aroma tumisan sayur dan telur orak-arik khas buatan Kanya menguar dari dapur. Kanya mengenakan apron lucu bergambar dinosaurus—bukan karena hobi, tapi karena Daniel yang milih waktu mereka belanja bareng. Di meja makan, kotak bekal stainless steel udah disusun rapi, isinya lengkap: nasi, ayam bumbu kecap, sayuran, dan potongan buah. Sementara itu, suara cipratan air terdengar dari kamar mandi. “Daniel... sabunnya jangan di makan, ya sayang…” teriak Kanya sambil nyalain hair dryer, lalu buru-buru ke kamar mandi. Daniel duduk di dalam ember mandi warna biru laut, tubuh gempalnya penuh busa, dan wajahnya senyum-senyum sambil ngerespon mainan bebek karet yang tenggelam di antara gelembung sabun. Di depan kaca wastafel, Brian berdiri dengan wajah serius, rambut masih sedikit basah. Pakaian kantor udah rapi, dasi tinggal disesuaikan. Tapi tangannya masih pegang ponsel yang menampilkan grafik progres proyek. “Kalau kita pakai pendekatan minimalis, g
Last Updated: 2025-07-11
Chapter: DARI MASA LALU MUNCUL
“Maksudnya... kita pura-pura pernah punya masa lalu?” tanya Kanya sambil nyuapin Daniel suapan terakhir.Brian angguk sambil peluk Daniel makin erat.“Kita ketemu lagi baru-baru ini. Reconnect. Kamu bawa Daniel. Aku syok, tapi mutusin buat tanggung jawab. Cerita kayak gini masih bisa dimaafin... dibanding kalau kita jujur soal kekerasan itu.”Kanya diem. Matanya berkaca-kaca.“Tapi aku bohongin mama papa, Mas...”“Aku juga. Tapi bohongin demi kebaikan mereka. Kita yang nanggung. Daniel nggak akan ngerti nanti—yang penting dia tumbuh dalam cinta.”Kanya taruh sendok dan tatap Brian penuh rasa percaya. “Oke... deal, Mas.”Brian senyum, lalu gendong Daniel tinggi-tinggi.“Deal. Kita tutup masa lalu kamu, kita mulai dari cerita versi kita.”Daniel tertawa-tawa kegirangan diangkat ke udara. Kanya ikut tertawa sambil ngelap mulut si kecil.“Yang penting kita bertiga... bareng terus,” ucap Kanya.
Last Updated: 2025-07-10
You may also like
Batas Tipis Benci
Batas Tipis Benci
Rumah Tangga · Joya Janis
1.3K views
Bukan Suami Pilihanku
Bukan Suami Pilihanku
Rumah Tangga · Rish Alra
1.3K views
Mengejar cinta mantan
Mengejar cinta mantan
Rumah Tangga · VIGIANI NURIKE
1.3K views
Bukan Pelakor
Bukan Pelakor
Rumah Tangga · Anna Noerhasanah
1.3K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status