Home / Rumah Tangga / PELAN PELAN SAYANG / 508. SEMUA DIBENCI OLEH IBU RAIN KECUALI....

Share

508. SEMUA DIBENCI OLEH IBU RAIN KECUALI....

last update Last Updated: 2025-12-30 17:26:55

“Iya, Mbak?” sahut Gendis yang tengah makan siang ketika ponselnya berdering menampilkan nama Wanda.

“Dis, lagi sibuk nggak?” tanya Wanda dengan nada riang dari seberang sana.

“Lagi sibuk banget, dong,” jawab Gendis sambil terkekeh kecil. “Ngurusin bayi gede semua di rumah ini.”

“Masa sih?” Wanda tertawa.

“Iya, serius,” balas Gendis sambil menghela napas pelan. Lirikan matanya sempat mengarah ke ibu mertuanya, lalu ke Rain yang duduk tak jauh darinya. “Mbak lagi di mana?” tanyanya kemudian, suaranya kembali direndahkan.

“Di jalan. Aku ke sana,” ujar Wanda dari balik kemudi. “Kebetulan Mas Cipta nggak full dinas hari ini. Habis apel doang, terus kita suntuk di rumah berdua. Jadi kepikiran mau ke sana, lihat Bima.”

“Ayo, buruan ke sini,” sahut Gendis tanpa ragu. Nada suaranya terdengar ringan, meski matanya kembali melirik ke arah meja makan. “Kebetulan Mama juga ada di sini.”

Di seberang, Wanda terdiam sesaat. “Mama di sana?” tanyanya pelan, nada riangnya sedikit meredup.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PELAN PELAN SAYANG   558. TERKEJUT. APAKAH SUDAH TERLAMBAT?

    ​“Yuni? Um... ya, Yuni...” sahut Gendis pelan sambil mengusap wajahnya yang masih terasa berat karena kantuk. Ia beranjak dari sofa dengan sangat hati-hati, seolah takut gerakan sekecil apa pun akan mengusik tidur pulas Rain. ​“Bu...” panggil Yuni lagi dari balik pintu. ​“Sebentar...” Gendis menyahut lirih seraya membuka pintu kamar sedikit saja. ​“Maaf mengganggu, Bu... Ada tamu di depan,” ucap Yuni dengan wajah sungkan. ​“Tamu? Siapa yang dateng jam segini?” tanya Gendis heran. ​“Sepertinya penting, Bu. Seorang perempuan, saya agak lupa namanya tadi...” jawab Yuni mencoba mengingat. ​Gendis tertegun sejenak, lalu teringat ucapan Rain tadi. “Oh? Iya, iya! Suruh masuk sekarang!” perintahnya pada Yuni dengan nada mendesak. ​“Baik, Bu.” Yuni segera berlalu untuk menjemput Dokter Retno. ​Gendis menyempatkan diri merapikan rambut dan pakaiannya di depan cermin sebelum berbalik untuk membangunkan suaminya. Ia mengusap bahu Rain dengan lembut. “Sayang, bangun... Dokter Retno

  • PELAN PELAN SAYANG   557. KEHADIRAN DOKTER RETNO. BERPENGARUH KAH?

    ​“Ada dokter yang nyariin Mama,” ucap Rain pelan sambil meletakkan Bima dengan hati-hati di atas ranjang. Ruangan itu seketika terasa sejuk, sistem pendingin udara otomatis menyesuaikan suhunya demi kenyamanan bayi yang baru saja masuk ke dalam kamar mewah tersebut. ​“Dokter? Emangnya, Mama sakit apa?” tanya Gendis heran. Ia menoleh ke arah suaminya dengan kening berkerut. ​“Dia nggak ada keliatan lagi sakit, sehat banget, malah... makannya banyak. Dan sekarang aja dia masih sanggup berurusan di kantor polisi,” sahut Gendis dengan nada yang masih menyimpan kekesalan. Ia segera membantu Yuni merapikan mainan Bima ke dalam lemari dan meletakkan tas anaknya. Setelah tugasnya selesai, Yuni berpamitan keluar kamar untuk menyiapkan makan malam. ​“Saya curiga...” gumam Rain. Ia duduk di sofa panjang di sudut kamar Bima, lalu menarik tangan Gendis agar duduk di pangkuannya. ​“Kenapa, Mas?” tanya Gendis lembut. Ia menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya, sementara matanya tetap

  • PELAN PELAN SAYANG   556. DOKTER YANG MENCARI RAIN. ADA APA?

    ​“Ibu Martha, ada?” ​Sore itu, seorang wanita berusia sekitar 45 tahun dengan pakaian formal yang rapi tampak berdiri di depan gerbang. Ia baru saja tiba di kediaman mewah orang tua Rain dengan raut wajah yang tidak tenang. ​“Ibu Martha kebetulan sedang di rumah anak mantunya, Bu. Tidur di sana sejak kemarin. Ada perlu apa, ya?” tanya Ujang, sang sopir, yang saat itu sedang sibuk mencuci mobil di depan garasi. ​“Waduh... gawat kalau begitu...” gumam wanita itu dengan nada bicara yang penuh kecemasan. ​“Kenapa ya, Bu?” tanya Ujang heran. Ia menghentikan aktivitasnya dan melangkah mendekat ke arah pagar. ​“Saya ini psikolog pribadinya, nama saya Retno. Dan... Ibu Martha sudah dua bulan lebih tidak datang ke klinik. Dia juga sama sekali tidak menebus resep obatnya,” ucap Retno. Tangannya bergerak cepat, mencoba menghubungi ponsel Martha, namun tampaknya tidak ada jawaban. ​“Klinik? Obat? Oh... iya, iya! Saya baru ingat. Ibu Retno ini dokternya Ibu Martha toh? Pantas wajahnya t

  • PELAN PELAN SAYANG   555. KESEMPATAN KEDUA DARI YANG TAK TERDUGA

    ​Usai Gendis menjalani pemeriksaan yang cukup melelahkan, kini giliran Rain yang melangkah masuk ke ruang interogasi. Ia tidak sendirian; Bima ada dalam dekapannya. Balita itu baru saja terbangun, mengusap matanya yang masih mengantuk sambil memeluk leher sang ayah dengan erat. ​“Halo, jagoan...” sapa beberapa anggota polisi di dalam ruangan itu dengan nada suara yang sengaja dilembutkan saat melihat Bima. ​“Wah, kita jadi mengganggu tidurnya, nih,” ucap salah satu penyidik sambil tertawa kecil. Keramahan mereka seketika mencairkan suasana siang menjelang sore yang tadinya kaku menjadi terasa jauh lebih hangat. ​Bima, yang biasanya malu-malu, justru memberikan senyuman tipis kepada orang-orang berseragam di sana. Ia perlahan memutar badannya dalam gendongan Rain, memperhatikan satu per satu petugas yang duduk di depan maupun yang berdiri di belakang ayahnya dengan rasa ingin tahu yang polos. ​Setelah suasana dirasa cukup tenang, penyidik utama mulai membuka laporannya. ​“Baik

  • PELAN PELAN SAYANG   534. HAMIL?

    Wanda melangkah gontai menuju koridor yang sepi. Di sana, ia membiarkan air matanya tumpah, menangis seorang diri meratapi kehancuran hubungan dengan ibu kandungnya. Sementara itu, di depan ruang penyidik, Cipta baru saja melangkah keluar. Wajahnya tampak lelah namun tetap profesional. “Gendis, sekarang giliran kamu ke ruangan. Nanti baru gantian dengan Rain," ucap Cipta lembut. “Oke, Mas," sahut Gendis. Sebelum melangkah masuk, ia menyempatkan diri memeluk Rain erat, mencari kekuatan sejenak dari suaminya sebelum menghadapi proses hukum yang melelahkan itu. “Bagaimana tadi?" tanya Rain pelan setelah Gendis masuk. Ia masih duduk di samping sofa, menjaga Bima dengan penuh kewaspadaan. “Aman. Yuni memberikan keterangan yang jujur dan sangat kooperatif. Tinggal pemeriksaan terakhir nanti... Mama," jawab Cipta sambil mengalihkan pandangannya pada Bima yang masih tertidur pulas, seolah tak terganggu oleh badai yang sedang terjadi di sekitarnya. Tak lama kemudian, Yuni keluar dari

  • PELAN PELAN SAYANG   533. BUKAN HUKUM KARMA

    “Ini... Istri Pak Cipta?” tanya dokter ahli forensik itu dengan nada ragu, saat ia baru menyadari bahwa wanita yang dengan telaten menggendong Bima adalah Wanda. “Iya, benar. Saya sendiri,” jawab Wanda sambil memberikan senyum tipis yang anggun namun tetap terlihat bersahaja. Dokter itu tampak sedikit terkejut dan segera memperbaiki sikapnya. “Oh... mohon izin, Bu Wanda. Mohon izin sebelumnya. Jadi... mereka ini keluarga Anda?” “Iya, Bima ini keponakan saya. Rain adalah adik saya, dan Gendis tentu saja adik ipar saya,” ucap Wanda menjelaskan hubungan mereka dengan jelas, menegaskan posisi Rain dan Gendis di bawah perlindungannya. Suasana di ruangan itu seketika berubah penuh hormat. Salah seorang petugas senior yang sedari tadi memperhatikan Rain tiba-tiba menyela dengan mata membelalak. “Mohon maaf, kami benar-benar tidak tahu kalau kalian satu keluarga. Pak Rain ini... Anda keponakan almarhum Komjen Kevin Wijaya, bukan?" tanya petugas itu, merujuk pada sosok Kevin yang merupa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status