เข้าสู่ระบบ“Rain? Cipta?” tanya Martha dengan suara parau saat melihat keduanya melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini beraroma lavender itu. “Ma...” Cipta menyapa ibu mertuanya dengan nada ramah yang dipaksakan. Ia berusaha menekan rasa sesak di dadanya melihat wanita yang biasanya angkuh itu kini tampak begitu rapuh. Keduanya duduk dengan jarak yang cukup lebar dari sang ibu di atas sofa yang sama, menciptakan ruang kosong yang seolah menggambarkan jurang pemisah di antara mereka. Rain hanya terdiam, matanya menatap lekat jemari ibunya yang gemetar. “Kalian udah makan?” tanya Martha sambil melirik deretan makanan enak di atas meja. Hidangan itu sengaja disiapkan oleh Cipta sebelum ia harus mengikuti rapat penting di lantai lima bersama para petinggi kepolisian lainnya. “Udah, Ma...” sahut keduanya nyaris bersamaan. Jawaban singkat itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan. Martha mengangguk-angguk pelan, lalu pandangannya mulai berkeliling ruangan seolah m
“Dia bisa ketawa seolah-olah dia nggak pernah menyakiti Gendis atau hampir mencelakai Bima. Apa dia benar-benar sakit, atau ini hanya perlindungan dirinya agar tidak masuk penjara?” ucap Cipta sambil melirik Rain sekilas.Rain tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan bagaimana Dokter Retno merespons tawa Martha dengan anggukan kecil yang empati, namun matanya tetap jeli mengobservasi.“Dalam psikologi, ada yang disebut represi, Cipta. Dia mengubur ingatan yang membuatnya merasa bersalah dan hanya memunculkan yang indah-indah aja. Tapi kita harus pastikan apakah ini permanen atau cuma akting sesaat,” balas Rain tenang, meski hatinya pun ikut geram melihat manipulasi emosi di depan matanya.“Kamu sedikit banyak paham kondisi kayak gini, Rain,” ucap Cipta sambil melirik iparnya itu sekilas.Rain mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari sosok ibunya di balik kaca. “Saya memang psikolog reproduksi, walau kedengarannya jauh, tapi kami para psikolog mempelajari bagaimana pasien berbicara,
Kembali ke suasana di kantor polisi yang mulai memanas. Cipta melangkah dengan tegas menyusuri lorong setelah keluar dari ruang rapat di lantai lima. Seragam kepolisiannya tampak rapi, namun wajahnya menunjukkan guratan kelelahan setelah berhadapan dengan para petinggi. Sambil berjalan menuju tangga, ia menempelkan ponsel ke telinga.“Halo, Gendis? Rain udah jalan ke sini?” tanya Cipta pagi itu. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai keramik menggema di sepanjang lorong sunyi.“Oh, Mas Cipta. Udah dari tadi, kok. Mungkin sebentar lagi sampai atau malah udah di parkiran,” ucap Gendis dari seberang telepon. Di latar belakang, terdengar suara tawa kecil Bima yang sedang asyik bermain.“Oke, thanks. Sorry ganggu pagi-pagi. Salam kangen buat Bima ganteng dari uncle pakde, ya,” ucap Cipta sambil tersenyum tipis, sejenak melupakan ketegangan kasus Martha saat mendengar nama keponakannya.“Ahahaha... siap deh, Pakde Uncle!” sahut Gendis ceria sebelum mengakhiri percakapan tersebut.Cipta m
“Ya, Cipta. Gimana?” sahut Rain sambil mengunyah makanannya dengan tenang. “Rain, nanti ke kantor, kan?” tanya Cipta yang suaranya terdengar renyah, seolah sedang menikmati sarapan pagi yang hangat bersama Wanda. “Iya, ke sana. Sesuai pesan kamu semalam,” ucap Rain. Ia melirik Gendis yang duduk di sampingnya, mencoba mencari ketenangan di mata istrinya sebelum menghadapi kerumitan urusan ibunya kembali. “Oke. Soalnya Dokter Retno jam tujuh nanti mau ke sana. Kamu harus jadi wali Mama juga untuk persetujuan pengobatan beliau,” tutur Cipta. Suaranya kini sedikit merendah, menyadari betapa berat beban yang harus dipikul Rain untuk menghadapi kondisi psikis Martha. “Oh, oke,” balas Rain singkat. Ia mengangguk pelan, meski dalam hati ada sedikit rasa pahit yang tersisa setiap kali nama sang ibu disebut sebagai pasien. “Bima mana? Biasa... Wanda kangen nih,” ucap Cipta kembali ceria, mencoba mencairkan suasana. “Oh, ada dong. Video call aja,” sahut Rain. Ia segera mengusap layar
Suasana kamar yang tadinya penuh kecemasan berubah drastis saat matahari pagi mulai naik. Ketukan sopan dari luar pintu menjadi penanda hari baru telah dimulai. “Bu... Pak... Sarapan sudah siap...” ucap Yuni, asisten rumah tangga mereka, dengan nada ramah. “Iya, Yuni! Terima kasih ya!” sahut Gendis lantang agar suaranya terdengar sampai keluar. Mendengar Yuni sudah menjauh, Rain melirik ke arah Bima yang ternyata sudah bangun sepenuhnya. Mata bulat balita itu berbinar, sisa-sisa air mata semalam telah hilang digantikan oleh binar kejenakaan. “Sarapan dulu, Sayang. Saya juga mau olahraga sebentar dan... kayaknya ada yang sudah bangun tidur nih...” ucap Rain sambil melirik jahil, berpura-pura tidak melihat Bima yang sedang berusaha menarik perhatiannya dengan senyum lebar. Gendis yang baru saja selesai mengancingkan pakaiannya setelah memberikan ASI, ikut masuk ke dalam permainan suaminya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat. “Um... masa
Suasana hening pukul empat pagi pecah seketika. Suara tangisan Bima dari monitor bayi tidak terdengar seperti tangisan lapar biasanya; itu adalah jeritan ketakutan yang menyayat hati, seolah ia tengah terjebak dalam mimpi yang sangat buruk. “Bima?” ucap Rain dengan nada panik yang jarang ia tunjukkan. Tanpa sempat memakai alas kaki, ia segera beranjak dari ranjang dengan gerakan kilat, membuat Gendis yang sedang terlelap langsung terjaga. “Mas? Kenapa?” tanya Gendis dengan suara serak karena terkejut. Namun, begitu telinganya menangkap suara teriakan Bima yang semakin melengking dari monitor kecil di atas nakas, kesadarannya pulih seratus persen. “Bima!” Gendis segera menyibak selimut dan mengejar punggung Rain yang sudah lebih dulu berlari menuju kamar anak mereka. Jantungnya berdegup kencang, memenuhi dadanya dengan firasat buruk. Begitu pintu kamar Bima terbuka, mereka mendapati anak gempal itu sedang meronta dalam tidurnya, dengan mata yang masih tertutup rapat namun air mata






