MasukLayang Samba, yang fokus pada air dan angin, tidak siap untuk serangan yang datang dari bumi. Keseimbangannya hilang.
Dia melompat ke belakang untuk menghindari gempa, tetapi pada kejap ia melompat, Dipasena sudah berada di udara, mengejarnya. Dipasena melancarkan sebuah tendangan mengandung tenaga besar, tendangan yang sangat cepat dan bertujuan pada ulu hati Layang Samba. Wutt! Layang Samba, meskipun terhuyung, adalah pendekar terlatih. Dia secara naluriah mengangkat Tongkat Waru-nya untuk menahan serangan itu, mengubahnya menjadi perisai kayu. Trakk! Tendangan Dipasena menghantam tongkat. Kali ini, tidak ada pantulan angin, hanya benturan energi keras dengan keras. Suara benturan itu terdengar seperti guntur kecil yang meledak di tepi sungai. Layang Samba terlempar mundur, tubuhnya melayang sekitar tiga tombak dan menghantam rumpun bambu. Tongkat Waru-nya terlepas dari genggaman dan jatuh ke sungai. Layang Samba bangkit, memegang lengannya yang kebas dan gemetar. Wajahnya pucat pasi. Dia tidak terluka parah, tetapi dia telah merasakan kekuatan yang melampaui usianya. Tenaga Dalam Dipasena kini bukan lagi hanya murni, melainkan kejam dan mematikan. “Kau… Kau luar biasa,” gumam Layang Samba, napasnya tersengal. “Kekuatanmu… bukan kekuatan hitam. Itu murni. Tapi mengapa kau begitu gelap?” Dipasena melangkah maju, sorot matanya dingin, seolah dia adalah mata badai yang tenang di tengah kekacauan. “Kegelapan bukan pada ilmu, Layang Samba. Kegelapan ada pada hati yang menolak kebenaran. Aku tidak ingin membunuhmu. Kau tidak layak mati hanya karena kebutaan pikiranmu,” kata Dipasena. “Ambil tongkatmu. Pergi. Beritahu gurumu. Dipasena tidak akan lari selamanya. Aku akan kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.” Layang Samba menatap Dipasena. Dia melihat kepedihan di mata pemuda itu, tetapi kepedihan itu kini dihiasi oleh tekad yang tak tergoyahkan, sekeras batu akik. Layang Samba tahu, dia tidak akan bisa mengalahkan Dipasena hari ini. Pertarungan ini akan membunuhnya, dan dia tidak punya alasan untuk mati di tangan seorang buronan yang sebenarnya kuat dan jujur. Layang Samba membungkuk sedikit, meskipun enggan. “Aku tidak tahu yang mana kebenaranmu, Dipasena. Tapi aku tidak akan mengejarmu lagi. Aku hanya berharap, jalan yang kau pilih tidak akan menjerumuskanmu ke dalam kubangan yang sebenarnya.” Layang Samba lalu memutar tubuhnya, melompat ke tepi sungai, dan mengambil Tongkat Waru-nya yang terapung. Dia pergi, menghilang ke dalam rimbunnya pohon. Dipasena berdiri sendirian, diapit oleh gemuruh Sungai Serayu dan ketenangan hutan. Kemenangan ini terasa kosong. Itu hanya jeda singkat dari takdir yang mengejarnya. Dia baru saja menarik napas lega, baru tiga kejap ia biarkan tubuhnya santai, ketika suara gemuruh lain terdengar. Kali ini bukan suara sungai, melainkan suara ratusan kaki yang berlari di atas tanah kering. Dipasena mendongak. Di atas bukit di seberang sungai, terlihat puluhan titik api obor. Mereka bukan lagi murid-murid Jati Sakti saja. Mereka adalah gabungan dari Rancawaru dan padepokan lainya, bahkan beberapa pendekar bebas yang haus akan ketenaran dari penangkapan buronan paling dicari. “Dia di sana! Jangan biarkan dia menyeberang!” teriak sebuah suara dari kerumunan itu. Dipasena tersenyum tipis. Senyum itu penuh kepuasan ironis. Dia adalah ayam hutan yang diburu oleh seluruh desa. Pemuda itu menoleh ke belakang, ke arah rimbunnya hutan yang gelap. Di sana, jalan setapak itu menanjak tajam, menuju puncak yang lebih tinggi, menuju Lawu. Dia tidak bisa lagi bersembunyi di keramaian. “Baiklah,” bisik Dipasena pada dirinya sendiri, suaranya diresapi oleh janji yang dingin. “Jika kalian ingin mengejarku, aku akan membawa kalian ke tempat yang tak pernah kalian bayangkan.” Dia berlari, meninggalkan tepi sungai. Dia berlari bukan karena takut akan kematian, tetapi karena takdirnya kini baru dimulai. Dia harus lebih kuat, lebih cepat, dan lebih kejam dari semua yang mengejarnya. Dia harus menaiki tangga tertinggi di dunia persilatan, bahkan jika ia harus menginjak kepala semua orang yang pernah mengkhianatinya. Angin yang bertiup dari arah barat terasa dingin dan berat, seolah membawa bau tanah busuk dan kematian. Di depan Dipasena terhampar batas Hutan Seribu Maut, sebuah nama yang cukup untuk membekukan darah setiap pendekar di tanah Jawa. Hutan itu tampak seperti mulut naga yang menganga, pepohonannya tinggi, gelap, dan saling bertautan, tak menyisakan celah bagi cahaya matahari. Di belakangnya, kerumunan pengejar berhenti mendadak. Obor-obor itu membentuk garis terang di perbatasan, tetapi tidak ada satu pun yang berani melangkah melewati batas. “Gila! Dia masuk ke Hutan Seribu Maut!” teriak salah satu pendekar. Ki Gendola, yang memimpin kelompok Jati Sakti, menggeleng, wajahnya diliputi kengerian. “Biarkan saja! Kebo nusu gudel. Dia mencari kematiannya sendiri. Hutan itu tidak membutuhkan tangan kita untuk membunuhnya. Dalam tiga hari, bahkan tulang-belulangnya tidak akan tersisa!” Para pengejar, meski kecewa, merasa puas. Dipasena akan mati dengan cara yang jauh lebih mengerikan daripada diserahkan ke Padepokan. Mereka berbalik, meninggalkan Dipasena di ambang kehancuran. Dipasena tidak menoleh. Dia telah mendengar keputusan mereka. Mereka memberinya hukuman yang paling kejam: dibuang ke tempat yang tak pernah terjamah oleh hukum manusia. Namun, bagi Dipasena, Hutan Seribu Maut adalah satu-satunya rumah yang tersisa, tempat di mana fitnah dan pengkhianatan tidak dapat mencapainya. Dengan tekad yang membaja, sekeras baja yang baru ditempa, Dipasena melangkah masuk. Di dalam, udara pengap dan berat. Kelembaban tinggi, dan bau lumut bercampur dengan bau darah kering yang tak diketahui asalnya. Setiap kejap dia berjalan, matanya harus beradaptasi dengan bayangan yang bergerak dan suara-suara aneh yang menusuk telinga. Dia terus berjalan, menembus belantara sekitar seratus depa, ketika tiba-tiba, keheningan hutan itu pecah. Dari balik akar pohon beringin raksasa yang menjulang, muncul sepasang mata merah menyala, seolah menyimpan dua bara api yang siap membakar. "Hoarrrr!" Sosok itu melompat keluar. Itu adalah Siluman Serigala Merah. Tubuhnya seukuran kuda poni, ditutupi bulu tebal berwarna merah darah, dan taringnya panjang, melengkung ke luar seperti sabit kematian. Aura kegelapan yang memancar dari serigala itu begitu pekat, membuat udara di sekitarnya terasa sesak. Makhluk ini adalah salah satu penjaga sejati Hutan Seribu Maut. Serigala itu mengeluarkan raungan yang memekakkan telinga, bukan raungan binatang biasa, melainkan raungan yang membawa serta gelombang kejut Tenaga Dalam. Dipasena tahu, ini adalah ujian sejatinya. Jika dia mati di tangan makhluk ini, sumpahnya akan sia-sia. “Aku tidak akan mati di sini, Iblis!” teriak Dipasena, suaranya mengandung semua kepedihan dan amarahnya. Dipasena mengambil kuda-kuda Naga Duduk, sebuah postur yang mengumpulkan energi ke pusat perut. Dia tidak akan menggunakan jurus yang terlalu bergantung pada angin atau air. ***Keterkejutan karena bisikan itu tidak melumpuhkan Satria Kala, melainkan membuatnya semakin yakin. Pikirannya berpacu, mengabaikan denyutan yang masih datang dari perut gunung. Benih kehampaan ini jauh lebih terstruktur daripada yang ia perkirakan. Benih itu cerdas. "Dia sudah bangun." Itu artinya residu kehampaan itu kini telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih berbahaya—sesuatu yang memiliki keinginan. Satria Kala melompat menjauhi kawah itu, meluncur turun dengan kecepatan menembus suara yang tidak lagi menyisakan jejak kaki di lumpur. Prana Penjaga Keseimbangan-nya kini menderu, berfungsi seperti mekanisme pertahanan yang siap dihancurkan kapan saja. Tujuannya sekarang adalah Leuweung Sancang, hutan purba yang dahulu adalah pusat dari Pembusukan kosmik. Ketika ia mencapai wilayah itu beberapa jam kemudian, hujan telah reda, digantikan oleh sunyi yang menyesakkan. Hutan ini telah hijau kembali. Pohon-pohon Rasamala dan Beringin tumbuh tinggi, tegak, memamerka
Pergumulan batin ini begitu sunyi, sebuah rahasia yang tersembunyi jauh di dalam inti keberadaan Dipasena, tetapi intensitasnya melebihi ledakan kosmik yang baru saja dialaminya di puncak Gunung Tampomas.Ledakan itu, bukan kehancuran, melainkan restrukturisasi fundamental dari realitasnya sendiri —pelepasan belenggu takdir yang telah mengikatnya selama miliaran tahun.Getarannya masih terasa, bukan sebagai trauma, melainkan sebagai gema kebebasan yang membuncah, memenuhi setiap sel tubuhnya yang kini kembali muda.Dipasena muda sadar, sangat sadar, bahwa takdir Dewa Maut yang pernah ia sandang hanyalah benang takdir tunggal, sebuah garis lurus yang tak terbantahkan, ditarik oleh kekuatan universal yang lebih tua dari waktu itu sendiri.Namun, keajaiban terbesar yang ia temukan adalah bahwa takdir manusia dapat ia pilih, dapat ia rajut ulang dengan benang-benang yang berbeda. Pengetahuannya yang universal, yang melingkupi setiap kemungki
Ini adalah caranya untuk menyeimbangkan realitasnya yang luas dengan kesederhanaan dunia ini.Anggrawati justru tertawa kecil. Tawanya polos, memecah ketegangan di antara mereka, membuat Dipasena merasakan getaran kehangatan yang asing namun menyenangkan."Kalimat Anda terdengar seperti yang Bapak Guru katakan di padepokan. Sulit untuk dimengerti. Saya kira Anda baru pindah kemari. Apakah rumah Anda telah dibangun dengan kokoh?"Matanya memancarkan rasa ingin tahu yang murni, tanpa sedikit pun keraguan atau kecurigaan.Dipasena tersenyum tulus, merasakan kehangatan yang tak pernah ia rasakan saat menjadi Satria Kala, atau bahkan sebagai Dipasena dewasa yang dikurung oleh takdir.Perbedaan takdirnya adalah sederhana: di masa ini, di saat ini, ia tidak harus menyelamatkan Anggrawati dari kehancuran, dari beban dunia.Dia hanya harus menjadi sahabatnya, menjaga kepolosannya, dan membiarkannya tumbuh menjadi dirinya sendiri tanpa bay
Bebatuan lava hitam di sana masih basah oleh energi residual dari petir kosmik, namun berbeda dari batu-batu di sekelilingnya yang tampak dingin dan kering.Ada anomali kecil, sebuah tanda yang menarik perhatian Benang Emas Takdir di genggamannya. Sambil berdiri, ia berjalan perlahan ke titik itu.Benang Emas berdenyut kecil di genggamannya, seolah bereaksi pada anomali baru, pada kemungkinan yang tak terduga.Di tanah yang basah oleh energi residual —sebelum ketiadaan sepenuhnya menggantikan Satria Kala— Anggrawati melihat bekas kaki.Jejak-jejak itu tercetak jelas dan lembut di atas permukaan berlumpur yang kini disinari matahari pagi yang malu-malu muncul dari balik ufuk timur.Namun, jejak itu bukanlah bekas sepatu bot Satria Kala yang lapuk dan besar, yang selama ini menemani perjalanannya yang penuh pengorbanan.Jejak itu menunjukkan bekas kaki anak kecil. Telapak kaki kecil, mungil, dan tanpa cacat, seolah baru saja mengin
Anggrawati memegang Benang Emas Takdir itu erat-erat di antara jemari halusnya, merasakan denyut lembut energi purba yang mengalirinya.Warnanya seperti kunang-kunang cair yang ditangkap dalam jaring laba-laba kosmis.“Aku akan menjaganya,” ucapnya, suaranya mantap namun dipenuhi keharuan yang jarang ia izinkan muncul, “dengan sepenuh Prana Pembangun yang kumiliki. Katakanlah apa tujuanmu yang sebenarnya. Jelaskan maksud 'diri hamba yang dulu'.”Hening menyelimuti puncak Gunung Tampomas, hanya embusan angin pegunungan yang membawa aroma petrichor dan sulfur dari sisa-sisa badai petir semalam.Aliran cahaya perak pada tubuh Satria Kala kini tidak lagi desisan energi yang membara, melainkan hembusan pelan, hampir seperti napas terakhir sebuah bintang yang meredup.Energi hidupnya bergerak ke atas, meninggalkan raganya yang tersisa, seolah jiwanya adalah asap perak yang tipis, naik menuju lapisan langit yang kini mulai tersembunyi di balik f
Ada kekecewaan yang samar, namun juga pengertian yang mendalam dalam pertanyaannya.Ia mencoba mengangkat tangannya yang dingin untuk mencegah intervensi Anggrawati, sebuah gerakan yang membutuhkan seluruh sisa kekuatannya."Anda menyuruh saya menunggu di bawah," Anggrawati terisak, air mata mengalir membasahi pipinya yang diwarnai Prana emas.Dia melepaskan aliran Prana Keemasan hangat dari telapak tangannya, Prana Restorasi murni, berniat untuk menyalurkannya, memulihkan kerusakan struktural, setidaknya agar fragmentasi ini bertahan cukup lama.Agar Satria Kala tidak sepenuhnya lenyap. "Namun, saya tidak sanggup membiarkan Anda menanggung penderitaan ini seorang diri. Ini tidak adil.""Mohon jangan sentuh saya, Nona Anggrawati," Satria Kala bergetar kecil, bukan karena rasa sakit, melainkan karena tabrakan energi.Energi Kehampaan yang kini merasuki setiap selnya bertabrakan dengan energi Kehidupan murni dari Prana Restorasi An







