Share

Bab 004

last update Last Updated: 2025-10-30 07:56:23

Lima orang itu langsung menyerang Dipasena bersamaan.

Dipasena tidak menggunakan Benteng Pawana. Dia menggunakan jurus Jati Sakti yang paling dasar: sebuah jurus tendangan.

Tetapi dia menyalurkan Tujuh Titik Maut tingkat lima: Titik Keras pada telapak kakinya.

Dia menendang tanah. Tendangan itu tidak ditujukan kepada lawan, tetapi ke bumi di bawahnya.

Ketika kaki Dipasena menghantam tanah, energi internalnya, yang dipadukan dengan Titik Keras, menciptakan getaran kuat di permukaan tanah.

Getaran itu menjalar cepat.

Lima murid yang berdiri di depannya merasa seolah tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba menjadi lumpur hisap yang bergerak-gerak. Mereka kehilangan pijakan, terhuyung, dan jatuh.

Dipasena melompat, kakinya tidak menyentuh satu pun tubuh murid yang jatuh. Dia melompati mereka, dan dalam dua kejap, dia telah berada di belakang mereka.

Dia terus berlari. Lari kali ini memiliki tujuan: mencari kekuatan.

Dia tidak lagi melihat ke belakang, ke arah obor-obor yang mengejarnya. Dia hanya melihat ke depan, ke arah Gunung Lawu yang menjulang tinggi, gelap, dan sunyi.

Aku akan kembali, Anggrawati. Dan saat aku kembali, kau akan tahu bahwa kau telah menukar Raja dengan Pion.

Dengan tekad yang dingin dan sekeras baja, Dipasena menghilang ke dalam bayangan malam, meninggalkan cinta, kesetiaan, dan Padepokan Jati Sakti untuk selamanya.

Dia kini seorang buronan, seorang pengkhianat di mata dunia, tetapi di dalam dirinya, Naga baru telah terbangun, haus akan kuasa dan penguasaan tertinggi dunia persilatan.

***

Hari-hari berikutnya. Warta menyebar bagaikan angin. Begitu cepat seolah menembus waktu.

Dipasena kini hidup dalam pelarian. Namanya kini disandingkan dengan iblis di setiap padepokan di tanah Jawa.

Dari Jati Sakti, kabar tentang ‘Pengkhianat Muda’ telah menyebar seperti wabah. Fitnah yang dimulai di Lawu kini telah menjadi hukum yang harus ditegakkan oleh setiap pendekar golongan putih.

Dipasena belajar untuk tidur dengan mata terbuka, makan dalam kejap, dan bergerak tanpa jejak. Kecepatan dan kelincahan adalah senjata barunya.

Tubuhnya telah beradaptasi, menjadi lebih kurus, tetapi otot-ototnya keras membatu, ditempa oleh rasa sakit dan kebencian yang ia simpan rapi.

Siang itu, Dipasena sedang menenangkan dirinya di sebuah ceruk batu tersembunyi, di tepi Sungai Serayu yang berliku dan deras.

Dia mencoba menarik napas lebih tenang dengan memandang gemuruh air, mencari kedamaian yang tak kunjung datang.

Tiba-tiba, indra keenamnya bergetar. Hawa pendekar. Bukan hawa murka atau emosi liar, melainkan hawa tenang yang dipenuhi keyakinan dan tujuan yang jelas.

Pendekar ini tidak datang untuk membalas dendam; dia datang untuk menangkap, menegakkan keadilan sesuai hukum yang berlaku di dunia persilatan.

Dipasena berbalik. Di bibir ceruk batu, berdiri seorang pemuda yang sedikit lebih tua darinya, mengenakan pakaian berwarna hijau lumut, khas Padepokan Rancawaru.

Di tangannya, pemuda itu menggenggam sebuah tongkat kayu waru yang panjangnya sekitar dua depa, berukir sederhana tetapi memancarkan aura kesaktian yang samar.

“Dipasena,” ucap pemuda itu, suaranya jernih dan berwibawa, seperti air sungai yang mengalir. “Aku Layang Samba. Murid Padepokan Rancawaru. Aku tidak punya urusan pribadi denganmu. Tapi dunia ini punya aturan. Aku diutus guruku untuk menyerahkanmu pada keadilan.”

Dipasena bangkit, membersihkan debu dari celana kainnya.

Dia menatap Layang Samba, mengukur kekuatan lawan. Pemuda dari Padepokan Rancawaru ini tampak tenang, seperti danau di pagi hari.

“Keadilan?” Dipasena tertawa hambar. “Keadilan apa yang kau maksud, Layang Samba? Keadilan yang dibangun di atas pasir fitnah? Padepokan Rancawaru mengajarkanmu kebaikan, tapi kau memilih menjadi alat kebohongan.”

Layang Samba mengangkat tongkatnya, ujungnya menunjuk ke arah Dipasena.

“Aku hanya melihat bukti yang tak terbantahkan. Itu sudah cukup. Tuna satak bathi sanak. Aku hanya ingin menangkapmu. Jangan memaksaku untuk menyakitimu.”

Dipasena menggeleng. “Adigang adigung adiguna. Jangan meremehkan orang yang terbuang. Aku tidak akan menyerah pada penjara kebohongan lagi.”

Pertarungan dimulai.

Layang Samba menyerang lebih dulu. Dia mengayunkan Tongkat Waru ke arah kepala Dipasena.

Ayunan itu tidak sekadar keras, membawa serta hembusan angin basah yang aneh, seolah tongkat itu mampu membelah udara dan air secara bersamaan.

Wuuungh!

Dipasena bergerak menghindar dengan cepat. Ia tahu, melawan senjata membutuhkan pertahanan yang sekuat baja.

Dia mengaktifkan Benteng Pawana. Dia menyedot udara di sekelilingnya, memadatkan partikelnya, dan memutarnya di sekitar tubuhnya.

Lapisan udara ini menjadi perisai yang tak terlihat, seolah Dipasena mengenakan baju zirah dari angin murni.

Ketika Tongkat Waru mengenai lapisan Benteng Pawana, tercipta suara debum yang dalam. Tongkat itu memantul sedikit.

Layang Samba merasakan telapak tangannya kaku, seolah menghantam balok batu, bukan udara.

Layang Samba terkejut dengan pertahanan yang begitu solid, tetapi dia adalah pendekar yang cerdas. Dia tidak berhenti.

Dia memutar Tongkat Waru dengan kecepatan tinggi, mengayunkannya dalam gerakan memutar yang menciptakan pusaran angin kecil.

“Rasakan Tirta Sarewu!” seru Layang Samba.

Tirta Sarewu adalah jurus yang memanfaatkan kelembaban udara dan kedekatan dengan air.

Layang Samba, dengan Tenaga Dalamnya, menarik partikel air dari Sungai Serayu yang berjarak hanya sepuluh depa dari mereka.

Partikel air itu mengembun di ujung Tongkat Waru, lalu meledak menjadi ribuan tetesan air yang ditembakkan ke arah Dipasena.

Tetesan air ini bukan hanya basah; mereka membawa daya ledak dari Tenaga Dalam Rancawaru, seolah Dipasena dihujani peluru air yang sangat padat.

Wush Byarr!

Benteng Pawana milik Dipasena bergetar hebat. Ribuan tetesan air itu menembus lapisan terluar Pawana, tetapi daya ledaknya berhasil ditahan oleh lapisan kedua.

Dipasena merasa seolah ribuan lebah air menghantam tubuhnya, tetapi tidak ada yang menembus kulitnya.

Namun, jurus air itu membuat Benteng Pawana lemah, karena air adalah penawar energi angin.

Dipasena memanfaatkan satu kejap keraguan Layang Samba. Jika air adalah musuhnya, maka dia akan menggunakan guntur untuk membelah air.

Dipasena melompat maju, membatalkan pertahanan, dan beralih ke serangan. Dia mengeluarkan jurus murni Jati Sakti yang telah ia kuasai hingga mencapai tingkatan yang mustahil.

Guntur Menyulam Bumi tingkat ketiga. Hanya dia, murid muda yang berhasil mencapai tingkat tersebut.

Dipasena mendarat dengan lutut menekuk, kedua telapak tangannya menyentuh bumi, seolah dia sedang menyentuh sumber energi inti bumi.

Dia menarik Tenaga Dalam Jati Sakti yang kental, beraroma seperti udara sebelum hujan, dan menyalurkannya ke dalam tanah.

Gelombang energi itu bergerak cepat, tidak terlihat, menjalar melalui tanah.

Ketika mencapai jarak satu depa di depan kaki Layang Samba, energi itu meledak ke atas dalam bentuk gelombang kejut yang memutar.

Layang Samba terkejut. Dia merasakan tanah di bawah kakinya tiba-tiba menjadi hidup, bergetar hebat.

Gelombang kejut itu tidak hanya mengguncang, tetapi juga membawa serta kerikil dan debu yang berputar, menyerang Layang Samba dari bawah.

Derrr!

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 139

    Keterkejutan karena bisikan itu tidak melumpuhkan Satria Kala, melainkan membuatnya semakin yakin. Pikirannya berpacu, mengabaikan denyutan yang masih datang dari perut gunung. Benih kehampaan ini jauh lebih terstruktur daripada yang ia perkirakan. Benih itu cerdas. "Dia sudah bangun." Itu artinya residu kehampaan itu kini telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih berbahaya—sesuatu yang memiliki keinginan. Satria Kala melompat menjauhi kawah itu, meluncur turun dengan kecepatan menembus suara yang tidak lagi menyisakan jejak kaki di lumpur. Prana Penjaga Keseimbangan-nya kini menderu, berfungsi seperti mekanisme pertahanan yang siap dihancurkan kapan saja. Tujuannya sekarang adalah Leuweung Sancang, hutan purba yang dahulu adalah pusat dari Pembusukan kosmik. Ketika ia mencapai wilayah itu beberapa jam kemudian, hujan telah reda, digantikan oleh sunyi yang menyesakkan. Hutan ini telah hijau kembali. Pohon-pohon Rasamala dan Beringin tumbuh tinggi, tegak, memamerka

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 149

    Pergumulan batin ini begitu sunyi, sebuah rahasia yang tersembunyi jauh di dalam inti keberadaan Dipasena, tetapi intensitasnya melebihi ledakan kosmik yang baru saja dialaminya di puncak Gunung Tampomas.Ledakan itu, bukan kehancuran, melainkan restrukturisasi fundamental dari realitasnya sendiri —pelepasan belenggu takdir yang telah mengikatnya selama miliaran tahun.Getarannya masih terasa, bukan sebagai trauma, melainkan sebagai gema kebebasan yang membuncah, memenuhi setiap sel tubuhnya yang kini kembali muda.Dipasena muda sadar, sangat sadar, bahwa takdir Dewa Maut yang pernah ia sandang hanyalah benang takdir tunggal, sebuah garis lurus yang tak terbantahkan, ditarik oleh kekuatan universal yang lebih tua dari waktu itu sendiri.Namun, keajaiban terbesar yang ia temukan adalah bahwa takdir manusia dapat ia pilih, dapat ia rajut ulang dengan benang-benang yang berbeda. Pengetahuannya yang universal, yang melingkupi setiap kemungki

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 150

    Ini adalah caranya untuk menyeimbangkan realitasnya yang luas dengan kesederhanaan dunia ini.Anggrawati justru tertawa kecil. Tawanya polos, memecah ketegangan di antara mereka, membuat Dipasena merasakan getaran kehangatan yang asing namun menyenangkan."Kalimat Anda terdengar seperti yang Bapak Guru katakan di padepokan. Sulit untuk dimengerti. Saya kira Anda baru pindah kemari. Apakah rumah Anda telah dibangun dengan kokoh?"Matanya memancarkan rasa ingin tahu yang murni, tanpa sedikit pun keraguan atau kecurigaan.Dipasena tersenyum tulus, merasakan kehangatan yang tak pernah ia rasakan saat menjadi Satria Kala, atau bahkan sebagai Dipasena dewasa yang dikurung oleh takdir.Perbedaan takdirnya adalah sederhana: di masa ini, di saat ini, ia tidak harus menyelamatkan Anggrawati dari kehancuran, dari beban dunia.Dia hanya harus menjadi sahabatnya, menjaga kepolosannya, dan membiarkannya tumbuh menjadi dirinya sendiri tanpa bay

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 148

    Bebatuan lava hitam di sana masih basah oleh energi residual dari petir kosmik, namun berbeda dari batu-batu di sekelilingnya yang tampak dingin dan kering.Ada anomali kecil, sebuah tanda yang menarik perhatian Benang Emas Takdir di genggamannya. Sambil berdiri, ia berjalan perlahan ke titik itu.Benang Emas berdenyut kecil di genggamannya, seolah bereaksi pada anomali baru, pada kemungkinan yang tak terduga.Di tanah yang basah oleh energi residual —sebelum ketiadaan sepenuhnya menggantikan Satria Kala— Anggrawati melihat bekas kaki.Jejak-jejak itu tercetak jelas dan lembut di atas permukaan berlumpur yang kini disinari matahari pagi yang malu-malu muncul dari balik ufuk timur.Namun, jejak itu bukanlah bekas sepatu bot Satria Kala yang lapuk dan besar, yang selama ini menemani perjalanannya yang penuh pengorbanan.Jejak itu menunjukkan bekas kaki anak kecil. Telapak kaki kecil, mungil, dan tanpa cacat, seolah baru saja mengin

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 147

    Anggrawati memegang Benang Emas Takdir itu erat-erat di antara jemari halusnya, merasakan denyut lembut energi purba yang mengalirinya.Warnanya seperti kunang-kunang cair yang ditangkap dalam jaring laba-laba kosmis.“Aku akan menjaganya,” ucapnya, suaranya mantap namun dipenuhi keharuan yang jarang ia izinkan muncul, “dengan sepenuh Prana Pembangun yang kumiliki. Katakanlah apa tujuanmu yang sebenarnya. Jelaskan maksud 'diri hamba yang dulu'.”Hening menyelimuti puncak Gunung Tampomas, hanya embusan angin pegunungan yang membawa aroma petrichor dan sulfur dari sisa-sisa badai petir semalam.Aliran cahaya perak pada tubuh Satria Kala kini tidak lagi desisan energi yang membara, melainkan hembusan pelan, hampir seperti napas terakhir sebuah bintang yang meredup.Energi hidupnya bergerak ke atas, meninggalkan raganya yang tersisa, seolah jiwanya adalah asap perak yang tipis, naik menuju lapisan langit yang kini mulai tersembunyi di balik f

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 146

    Ada kekecewaan yang samar, namun juga pengertian yang mendalam dalam pertanyaannya.Ia mencoba mengangkat tangannya yang dingin untuk mencegah intervensi Anggrawati, sebuah gerakan yang membutuhkan seluruh sisa kekuatannya."Anda menyuruh saya menunggu di bawah," Anggrawati terisak, air mata mengalir membasahi pipinya yang diwarnai Prana emas.Dia melepaskan aliran Prana Keemasan hangat dari telapak tangannya, Prana Restorasi murni, berniat untuk menyalurkannya, memulihkan kerusakan struktural, setidaknya agar fragmentasi ini bertahan cukup lama.Agar Satria Kala tidak sepenuhnya lenyap. "Namun, saya tidak sanggup membiarkan Anda menanggung penderitaan ini seorang diri. Ini tidak adil.""Mohon jangan sentuh saya, Nona Anggrawati," Satria Kala bergetar kecil, bukan karena rasa sakit, melainkan karena tabrakan energi.Energi Kehampaan yang kini merasuki setiap selnya bertabrakan dengan energi Kehidupan murni dari Prana Restorasi An

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status