Share

Bab 121

last update Last Updated: 2026-01-03 07:00:54

Suara dengung mantra bergetar di udara malam, dingin dan menusuk. Aromanya kini kuat, bau sangit darah spiritual bercampur belerang dari akar-akar jurang yang jauh.

Satria Kala menunggu. Ia mengawasi pemimpin itu. Pria itu tampak familiar dalam caranya membawa diri; arogan, dan terbuai oleh kekuasaan temporer yang ia anggap tak tersentuh.

Momen ketegangan datang ketika si pemimpin, sambil mengarahkan kristal hitam yang bercahaya di atas kepala para korban, mengucapkan kata-kata peresmian.

“Inti Prana adalah fondasi yang kokoh. Ini adalah kurban pertama yang kita serahkan kepada Dia yang segera datang!” teriaknya dengan suara parau.

Pada saat itulah Satria Kala melangkah keluar dari lindungan semak pinus. Bukan dengan teriakan, bukan dengan pedang yang terhunus. Ia hanya berdiri, keheningan kehadirannya jauh lebih keras daripada badai mana pun. Setiap anggota Bayangan Merah, yang tenggelam dalam ekstase mantra, tersentak.

Pemimpin itu meno
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 129

    Rara Santi menjelaskan bahwa Inti Prana Murni yang terkandung dalam keturunan Raja memiliki kualitas spiritual yang berbeda.Prana murni tersebut dibutuhkan Kalabendu untuk menciptakan wadah, bukan hanya tangga. Wadah bagi Dewa Kematian itu sendiri.Waktu berlalu cepat bagai arus sungai deras yang bertemu air laut.Setelah memastikan Keraton Galuh sebagai target utama Bayangan Merah, Satria Kala dan Rara Santi berpisah;Santi bergerak melalui jaringan informasi mistisnya, sementara Satria Kala menyamar dan menuju ibu kota.Tiga hari penuh dilewatkan dalam persiapan yang dingin.***Keraton Galuh adalah monumen kayu jati dan batu andesit.Biasanya, keheningan di sini bermakna martabat, tetapi malam ini, suasana hening Keraton diiringi rasa dingin yang membusuk, teror yang bergerak lambat dalam struktur bangunan megah tersebut.Itu adalah keheningan yang menyerupai bau lumpur asam setelah hujan badai.

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 128

    Satria Kala mendekat, perhatiannya kini beralih sepenuhnya ke artefak purba tersebut.Kertas itu bukan terbuat dari bambu atau kulit binatang; itu adalah helaian sutra hitam tebal, bertuliskan aksara Sunda kuno dengan tinta yang bersinar merah samar.Bagian tengah gulungan itu bukanlah teks. Itu adalah **peta**.Peta tersebut berputar dan berubah orientasinya perlahan di hadapan mata Satria Kala, seolah menanggapi keberadaan fragmen abadi tersebut."Inilah tujuan Kalabendu yang sebenarnya," kata Santi, jarinya menunjuk ke titik merah yang berdenyut di ujung peta, disimbolkan oleh gunung yang tampak terbalik.Satria Kala mengenali lokasi geografis tersebut dengan akurat dari ingatannya yang baru ditemukan di Cikuray: Gunung Tangkuban Perahu. Tetapi kenapa disebut 'Langit Terbalik'?"Mereka akan melakukan ritus Membalas Penghinaan Abadi di sebuah lokasi purba di Tangkuban Perahu," jelas Santi, membaca tulisan aksara itu. "Ritual it

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 127

    Satria Kala menahan denyutan dingin dari Batu Monolit yang ia pegang.Serpihan Ketiadaan ini bergetar dalam genggaman, identik dengan aura destruktif dari **Gema Ketiadaan** yang dulu pernah dilawan oleh Dipasena. Realitas ini adalah mimpi buruk terulang: musuh bukan lagi para pengikut, melainkan materi primer dari kekacauan itu sendiri.Ia menyisihkan monolit itu, membungkusnya dalam secarik kain dari jubah Lengser, dan berbalik dari Pasar Ciawi yang diselimuti bau kematian. Kujang Sinar Kematian ia sarungkan kembali, bilah itu terasa semakin berat, bukan karena massanya, tetapi karena pengetahuan yang diungkapkannya.Satria Kala tidak memerlukan pembersihan; ia membutuhkan klarifikasi eksistensial, sesuatu yang hanya dapat disediakan oleh para cendekiawan spiritual yang mempelajari siklus kosmik kuno.Perjalanan malam itu dipenuhi refleksi. Semakin dalam ia mengetahui musuh, semakin jauh ia merasa dirinya bergerak menuju jura

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 126

    Lengser menerjang. Pergerakannya begitu cepat; ia bergerak empat kali lipat kecepatan atlet fana tercepat.Tujuannya adalah mengakhirinya dalam satu cakaran yang diarahkan ke Inti Prana di dada Satria Kala, memadukan serangan fisik dan spiritual.Namun, Satria Kala tidak menyerang balik. Ia bergeser —sebuah pergeseran dalam dimensi, bukan ruang fisik.Serangan Lengser hanya merobek udara tempat Satria Kala seharusnya berada.“Sangat lambat, Raden,” ucap Satria Kala, muncul di belakang bahu kanan Lengser. “Energi Anda tersebar. Kulit harimau itu hanyalah topeng spiritual.”Satria Kala mengarahkan bilah kujangnya ke atas, bukan dengan tujuan memotong daging atau tulang, tetapi untuk memutuskan urat nadi yang menyambungkan kesadaran Lengser pada roh harimau yang dikuasainya.Lengser, yang telah terbiasa bertarung dengan pendekar fana yang selalu mengincar tubuh, terkejut dengan tujuan Satria Kala yang tidak konvensional. Ia memutar

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 125

    Satria Kala melaju cepat. Pintu kampung kini di belakangnya, tetapi kata-kata itu mengejarnya seperti seribu pedang spiritual: Langit telah mati.Tugasnya kini lebih berat. Prana Murni yang ia gunakan tadi memang berhasil. Warganya diselamatkan.Tapi harga untuk mengaktifkan kekuatan dewa tersebut dibayar tunai. Dia bisa merasakannya: keberadaannya sebagai Satria Kala, wadah fisik, semakin transparan.Kekosongan akan segera menuntut bagiannya kembali.Saat malam menutup tebal, Satria Kala mencapai perbatasan yang dikenal sebagai tanah pertapaan Situ Cileunca.Ia perlu menenangkan pikirannya. Pergerakannya harus lebih hati-hati, tersembunyi dari para pengganggu.Namun, dalam kehampaan malam yang dingin di pinggiran danau tenang itu, dia tidak sendirian. Satria Kala mendadak berhenti.Jauh di depannya, di antara akar beringin besar, cahaya lentera bergetar lemah, menerangi sesosok wanita yang duduk tenang dengan kain bersa

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 124

    Anak itu terbatuk, upaya kerasnya untuk berbicara hanya menghasilkan udara yang bergetar.Satria Kala meraih tangannya, yang kecil dan hangat, menahan keinginan untuk menarik Kujang Sinar Kematian yang terasa memberati pinggulnya. Instrumen pemutus jiwa itu tidak berguna untuk memperbaiki keretakan spiritual seperti ini."Jangan takut, Nona," ujar Satria Kala, suaranya diucapkan dalam desisan yang memantul kembali dari permukaan kesunyian yang tebal.Ia menggunakan formalitas absolut, karena hanya itu yang tersisa dari kodratnya yang abadi.Anak itu gemetar hebat, isyarat tangannya bergerak cepat seolah memohon pertolongan."Saya harus membantu Nona. Dan semua warga kampung ini," lanjut Satria Kala. "Kekuatan yang mengikat tenggorokan kalian hanyalah sisa. Namun ia perlu dihancurkan menggunakan sesuatu yang melampaui keberadaan fana. Bersabarlah, Nona."Ia memejamkan mata. Otaknya adalah arsitektur perhitungan energi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status