LOGIN"Baiklah... aku mau."
Suara Raiden terdengar pelan, tetapi cukup jelas di tengah kamar yang sunyi. Jasmine langsung menoleh. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum tulus terlihat di wajahnya. "Kau serius?" tanyanya memastikan. Raiden menelan ludah sebelum mengangguk pelan. "Aku akan berusaha." Ia tidak berani memberi janji lebih dari itu. Namun jauh di dalam hati, Raiden sadar bahwa dirinya mulai tergoda. Bukan hanya oleh uang yang ditawarkan Jasmine, tetapi juga oleh perasaan dibutuhkan. Selama ini hidupnya selalu dipenuhi penolakan, kegagalan, dan penghinaan. Sementara wanita di hadapannya justru memintanya untuk tetap tinggal. Jasmine mengembuskan napas lega, seolah beban besar yang selama bertahun-tahun menekan dadanya akhirnya sedikit terangkat. "Terima kasih." Kalimat sederhana itu membuat Raiden terdiam. Entah kenapa, ucapan terima kasih dari wanita kaya raya seperti Jasmine terdengar jauh lebih tulus daripada pujian apa pun yang pernah ia terima. Beberapa saat kemudian, suasana kembali hening. Jasmine berjalan menuju jendela besar kamar hotel dan memandang lampu-lampu kota yang berkilauan di tengah hujan malam. "Aneh ya," ucapnya pelan. "Aku punya semuanya. Uang, rumah, perusahaan keluarga, kehidupan yang terlihat sempurna dari luar." Raiden tidak menjawab. "Tapi setiap pulang ke rumah, aku selalu merasa sendirian." Nada suaranya terdengar begitu lelah hingga membuat Raiden tanpa sadar menatapnya lebih lama. "Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali seseorang benar-benar mendengarkanku." Jasmine tersenyum kecil, tetapi senyum itu terasa pahit. "Mungkin karena itu aku tidak ingin sendirian malam ini." Raiden merasakan sesuatu mengganjal di dadanya. Sejak awal, ia mengira Jasmine hanyalah wanita kaya yang egois dan terbiasa membeli apa pun yang diinginkannya. Namun semakin lama berbicara, semakin jelas bahwa wanita itu sebenarnya sangat kesepian. "Aku tidak tahu apakah keputusan ini benar atau salah," gumam Raiden jujur. "Aku juga tidak tahu," jawab Jasmine sambil menoleh ke arahnya. Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Hanya suara hujan yang terdengar samar dari luar jendela. Akhirnya Jasmine berjalan kembali ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya perlahan. Wajahnya terlihat lelah. Mungkin karena alkohol, mungkin karena terlalu banyak emosi yang ia pendam selama bertahun-tahun. Namun beberapa saat kemudian, wanita itu kembali membuka mata. "Kenapa masih duduk di sana?" Raiden langsung salah tingkah. "Aku..." "Temani aku." Jantung Raiden kembali berdetak tidak teratur. Dengan canggung ia berdiri lalu berjalan mendekati ranjang. Setiap langkah terasa aneh. Beberapa jam lalu mereka bahkan belum saling mengenal. Sekarang mereka berada dalam kamar yang sama, membicarakan masa depan yang bahkan tidak masuk akal. "Tidak malam ini, kan?" tanya Raiden pelan. Jasmine terkekeh kecil. "Tenang saja. Aku tidak sedang memikirkan itu." Raiden langsung mengembuskan napas lega. "Kepalaku pusing," lanjut Jasmine lirih. "Aku hanya ingin beristirahat." Suasana kembali tenang. Namun beberapa detik kemudian, suara wanita itu kembali terdengar. "Tapi..." Raiden menoleh. "Kau harus memelukku." Jantungnya langsung berdebar. "Apa?" "Aku hanya ingin dipeluk." Tidak ada rayuan maupun godaan dalam suara itu. Hanya kelelahan dan kesepian yang sulit disembunyikan. Raiden terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengalah. Dengan gerakan canggung, ia berbaring di samping Jasmine lalu perlahan merangkul bahu wanita itu. Tubuh Jasmine terasa hangat. Aroma parfumnya memenuhi indera Raiden. Dan yang membuatnya semakin gugup, wanita itu langsung memejamkan mata begitu berada dalam pelukannya. Seolah sudah sangat lama tidak pernah merasa aman. Raiden menelan ludah. Jarak mereka sekarang terlalu dekat. Ia bisa merasakan napas hangat Jasmine menyentuh lehernya. Bisa melihat bulu mata wanita itu dari jarak yang nyaris tidak masuk akal. Lalu perlahan... Jasmine membuka mata dan tatapan mereka langsung bertemu. Tidak ada lagi kata-kata maupun alasan yang tersisa. Hanya keheningan yang membuat jantung Raiden berdetak semakin keras. Jasmine menatap bibirnya sejenak sebelum kembali mengangkat pandangannya dan menatap mata Raiden dalam diam. "Raiden..." Suara wanita itu nyaris seperti bisikan. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara lagi. Tatapan mereka saling bertemu dalam jarak yang begitu dekat hingga Raiden bisa melihat jelas mata indah Jasmine yang sedikit bergetar. Entah siapa yang bergerak lebih dulu. Namun perlahan, jarak di antara mereka semakin menipis. Semakin dekat dan dekat. Hingga Raiden bisa merasakan napas hangat wanita itu menyentuh wajahnya. Dan seketika... ia terasa terbawa suasana dengan bibir mereka saling berdekatan."Kau?" cicit Tian pelan. Telunjuknya bahkan terangkat menunjuk Shen, seolah masih berusaha memastikan bahwa perempuan yang berdiri beberapa langkah di hadapannya benar-benar orang yang sama.Shen justru tersenyum. "Iya, aku datang lagi."Kakinya melangkah mendekat. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan ketika terakhir kali mereka bertemu.Tian masih terpaku. "Bu-bukannya kau di sekap?"Langkah Shen seketika terhenti. Senyumnya perlahan menghilang. Di sampingnya, Ibu pemilik panti juga menoleh dengan tatapan penuh tanda tanya. Keduanya saling berpandangan selama beberapa detik, sama-sama mencoba memahami bagaimana pemuda di hadapan mereka bisa mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahuinya.Shen kembali menatap Tian. "Bagaimana kau bisa tahu kalau aku di sekap?"Tian tampak gugup. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada jawaban yang langsung keluar. Ia mengusap tengkuknya sambil sesekali melirik ke arah jalan, seolah
Beberapa hari setelah kejadian itu, Shen akhirnya mulai kembali melakukan aktivitasnya. Tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih. Sesekali ia masih merasa lemas jika terlalu lama berjalan, tetapi tinggal diam di kamar justru membuat pikirannya semakin penuh. Setiap kali memejamkan mata, kejadian di rumah tua itu kembali melintas. Karena itu, pagi ini Shen memilih bangun lebih awal dan bersiap mencari informasi mengenai putranya."Apa Ibu yakin mau ikut?" Shen bertanya sambil merapikan tas kecil di pangkuannya.Ibu pemilik panti yang sedang mengunci pintu hanya tertawa kecil."Kalau saya tidak ikut, siapa yang memastikan Ibu tidak memaksakan diri?"Shen mengerucutkan bibir. "Saya tidak selemah itu.""Saya tahu." Perempuan itu berjalan mendekatinya."Tapi Ibu baru saja melewati kejadian yang tidak sederhana. Jadi untuk sementara, anggap saja saya ini pengawal."Shen terkekeh pelan. "Pengawal?""Iya.""Penga
Raiden menatap Hagia untuk beberapa saat.Wajahnya menyimpan kesedihan yang tidak lagi coba disembunyikan, tetapi di balik itu ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa sedih. Ada kecewa yang perlahan berubah menjadi penerimaan. Diamnya kali ini lebih bermakna. Hanya saja, ketika tatapannya beralih kepada Lucas, amarah yang tadi sempat ia tekan kembali muncul.Pria itu masih berdiri dengan wajah penuh percaya diri, seolah kedatangan Raiden ke rumah tersebut hanyalah kesempatan lain baginya untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul.Tangannya mengepal, meski begitu kali ini ia tidak ingin melawan. Rasanya akan sia-sia, sebab bukankah pada akhirnya ia memang kalah? bukan karena Lucas lebih mencintai Hagia, atau karena perjuangannya tidak pernah berarti. Tetapi karena sejak awal ia terus berusaha membuktikan dirinya kepada orang-orang yang tidak pernah benar-benar melihat ketulusannya.Raiden menarik napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya dari Lucas."Baik, Tante. Sa
"Apa Tante belum tahu?" Suara Lucas begitu lantang, matanya sempat melirik kearah Raiden yang sekarang terdiam penuh makna. Jarinya mengepal di samping tubuh,menahan amarah yang sejak tadi hendak meluap. "Tolong jelaskan kepada Tante, apa maksud dari perkataan Lucas?" ibu Hagia menatap Raiden penuh tanda tanya, raut wajahnya yang tegas menggambarkan sikap ingin tahunya yang begitu besar. Sedangkan Hagia, berdiri tak nyaman di samping kekasihnya. Ia takut, jika ibunya tahu sekarang Raiden bekerja sebagai pelayan restu itu akan hilang. belum lagi jika ibunya tahu, mobil dan segala aset yang pernah Raiden tunjukan beberapa Minggu lalu saat melamarnya kini sudah tak ada lagi. "Bu, Lucas itu tidak tahu apa-apa," jelas Hagia "Lucas tidak mungkin bohong." Sanggah wanita paruh baya itu dengan cepat. "Kenapa kau harus menutupi kenyataannya hagia? Kenyataan di mana Raiden sekarang bekerja menjadi pelayan di kafe?" Tepat saat itu juga, ibu Hagia menutup mulutnya tak percaya. "Raiden, kau b
"Antarkan aku pulang," ucap Hagia pada akhirnya. Raiden menatap perempuan itu dengan tatapan bingung. Bagaimana tidak, perempuan itu yang memintanya untuk bertemu, dan berjanji tak membahas masalah pernikahan tapi sekarang Hagia sendiri yang juga meminta untuk pulang. Terkadang, pria memang harus serba salah demi seorang perempuan. Pemuda itu akhirnya mengangguk pasrah, sebelum benar-benar mengantarkan Hagia pulang ia tak lupa membayar pesanan. Di sepanjang perjalanan pulang, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Raiden mengendarai motor tuanya dengan kecepatan sedang, sementara Hagia duduk di belakang sambil memeluk tas di pangkuannya. Biasanya, perempuan itu akan bercerita tentang hal-hal kecil yang ditemuinya sepanjang hari. Hari ini tidak. Mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Raiden beberapa kali ingin membuka percakapan, tetapi setiap kali kata-kata itu hampir keluar, bayangan siluet Jasmine di depan kafe ke
Perdebatan itu belum benar-benar berakhir. Sepasang kekasih itu masih saling menatap dengan emosi yang sama-sama belum mereda. Tidak ada lagi suara tinggi, tetapi keheningan yang tercipta justru terasa jauh lebih menyesakkan. Masing-masing mempertahankan keyakinannya sendiri, seolah tidak ada yang bersedia mundur selangkah. Raiden mengepalkan jemarinya di atas meja. Di dalam kepalanya hanya ada satu pemikiran, harus tetap melanjutkan pernikahan itu. Apa pun yang terjadi. Sementara Hagia juga tidak bergeming. Ia tidak sedang menolak menikah, hanya tidak ingin lelaki yang dicintainya terus memikul beban seorang diri. Sebenarnya keegoisan mereka lahir dari cinta yang sama. Namun anehnya justru membuat keduanya semakin saling melukai. Di tengah keheningan itu, tatapan Raiden tanpa sengaja bergeser ke arah luar kafe. Saat itulah matanya menangkap sesosok perempuan baru saja membuka pintu sebuah mobil mewah. Hanya sesaat, yang
Jasmine menatap layar ponselnya sebentar sebelum berkata santai, "Nomor rekeningmu." Raiden masih belum sepenuhnya sadar. Dengan tangan gemetar, ia membuka aplikasi perbankan lalu menyerahkan ponselnya. Di sampingnya, pria bertubuh besar yang sejak tadi menagih utang ikut memperhatikan dengan cur
Saat orang-orang lain sibuk mengejar wanita kaya seperti Jasmine, dirinya malah ingin kabur. “Tidak,” ucapnya tegas. “Maaf, kau salah orang.” Tanpa memberi kesempatan Jasmine bicara lagi, Raiden segera berjalan keluar. Pintu kamar tertutup pelan. Menyisakan Jasmine yang hanya diam menatap keper
Jasmine duduk sendirian di sudut ruangan sambil menatap gelas di tangannya. Cairan berwarna keemasan di dalamnya sudah hampir habis, tetapi ia masih belum berniat pulang. Sorot matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan. Ia baru saja meninggalkan pesta perusahaan suaminya, Zen. Di mata b
“Siapa pria itu?” Pertanyaan Zen membuat tangan Jasmine yang memegang ponsel langsung menegang. Ia baru saja membuka galeri untuk melihat kembali foto yang dikirim Raiden semalam. Namun sebelum sempat menutupnya, Zen keburu melihat layar ponselnya. “Pria?” Jasmine berusaha terdengar tenang. Zen







