author-banner
Kirrun kiyyun
Kirrun kiyyun
Author

Novel-novel oleh Kirrun kiyyun

Jangan Ditahan-tahan Pak!

Jangan Ditahan-tahan Pak!

Sejak diputuskan karena dianggap membosankan dan tidak menarik, Kirana Prameswari bersumpah akan membuat mantannya menyesal. Caranya? Mendapatkan pacar yang jauh lebih baik. Targetnya pun tidak main-main—Adrian, CEO Arkana Group yang tampan, dingin, disiplin, dan anti berpacaran dengan karyawan. Di saat semua perempuan memilih menunggu, Kirana justru mengejar. Ia menggoda, merayu, bahkan terang-terangan mengumumkan bahwa Adrian adalah calon pacarnya. Sayangnya, pria itu sudah dijodohkan dengan perempuan pilihan keluarganya. Bisakah Kirana meluluhkan hati CEO yang super dingin itu? Ataukah keberaniannya justru berakhir dengan patah hati untuk kedua kalinya?
Baca
Chapter: 7. Pak Adrian tersenyum
Kabar bahwa Adrian mengajak Kirana untuk dinas luar kota langsung menyebar ke seluruh Arkana Group. "Serius?" "Baru beberapa hari kerja, kok yang diajak sekretaris baru?" "Pak Adrian biasanya paling susah percaya sama orang." Bisik-bisik terdengar di hampir setiap sudut kantor. Clarissa yang baru saja datang pun ikut menghentikan langkahnya. "Pak Adrian mengajak Kirana?" Sekretaris senior mengangguk pelan. "Iya, Bu." Clarissa tampak sedikit terkejut. Namun, ia hanya tersenyum tipis. "Oh... semoga perjalanan mereka lancar." Sementara itu, Kirana yang mendengar pembicaraan itu justru tersenyum bangga. "Tuh, kan." "Berarti aku mulai dipercaya calon pacarku." Beberapa karyawan langsung memijat pelipis. Clarissa yang berdiri tak jauh darinya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Perempuan itu benar-benar tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan perasaan. **** Tak lama kemudian, mobil dinas meninggalkan halaman Arkana Group. Begitu duduk,
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: 6. Dinas di luar kota
"Baru calon kan? belum jadi istri?" gumamnya pelanItulah kesimpulan yang berhasil dibuat Kirana setelah semalaman memikirkan ucapan Clarissa. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin sambil menunjuk bayangannya sendiri. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan." Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. "Semangat, Kirana! untuk dapatkan Pak Adrian!" ***Sejak pagi, bahkan satu kantor kembali dibuat geleng-geleng kepala. Bukan karena Kirana membuat keributan. Melainkan karena setiap kali Clarissa muncul di dekat Adrian, entah bagaimana Kirana selalu muncul lebih dulu. Saat Clarissa membawa kopi, Kirana datang dengan minuman lain. Ketika Clarissa hendak menyerahkan berkas, Kirana sudah lebih dulu mengambilnya.Bahkan saat Clarissa hanya berbincang santai dengan Adrian beberapa menit, Kirana tiba-tiba muncul membawa map, jadwal rapat, atau sekadar bertanya hal yang sebenarnya bisa menunggu. Semua kejadian itu seolah memang nampak di sengaja oleh Kirana, bahk
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: 5. Menyingkirkan hama
Kirana mematung beberapa detik di depan ruang rapat, ucapan itu perlahan membuatnya berpikir lebih keras. "Pak Adrian mau nikah?" cicitnya pelan. Kata-kata yang tidak sengaja didengarnya sejak tadi terus berputar di kepalanya. Ia menatap kosong ke arah pintu ruang kerja CEO. Lalu, menepuk kedua pipinya sendiri. "Nggak! Belum tentu!" Beberapa staf yang melintas langsung menoleh. Kirana mengepalkan tangan dengan semangat. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan!" Ia mengangguk mantap, menyemangati dirinya sendiri. "Harus bisa dapatin Pak Adrian, demi pamer ke Gerry!" Salah satu staf berbisik pada temannya, mereka sedang membicarakan ke anehan sekretaris baru Pak Adrian yang suka berbicara sendiri, menurut para pekerja di sana, perempuan itu memang manusia paling aneh. Meskipun demikian, Kirana sama sekali tidak peduli. Karena mereka tak tahu, rasanya direndahkan oleh mantan pacarnya hanya karena penampilan, harga dirinya sebagai perempua
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: 4. Balas dendam dimulai
“Apa aku pelet aja Pak Adrian?” celetuk Kirana dengan pikiran konyolnya. Namun, detik berikutnya ia langsung menggeleng kuat-kuat. Ide itu bahkan terdengar aneh di telinganya sendiri. Malam itu, kamar Kirana masih terang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur hingga tubuhnya memantul pelan. Kedua kakinya menempel di dinding, sementara matanya menatap langit-langit dengan wajah lesu. “Ah, baru aja mulai udah ada penghalang!” Tangannya meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala, menampilkan aplikasi catatan yang berisi daftar misi menaklukkan Adrian. Kirana menghela napas. Akan tetapi, belum sempat ia memikirkan langkah berikutnya, bayangan wajah Adrian yang begitu dekat dengannya siang tadi kembali terlintas di benaknya. Seketika wajah lesunya berubah. Senyumnya mengembang, bahkan pipinya sedikit memerah mengingat kejadian tersebut. “Gak salah sih aku punya target cowok ganteng dan kaya.” Tubuhnya berguling ke kanan, kemudian ke kiri, seolah tidak bisa diam karena pikir
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: 3. Lihat saja siapa yang lebih pantas
Namun, kata-kata Kirana justru membuat Adrian semakin terkejut. “Pak, bapak nyaman ya?” Seketika Adrian bangkit dari posisinya. Tangannya menepuk-nepuk pelan kemejanya yang terkena debu, lalu berdehem untuk mengembalikan ketenangannya. Wajahnya kembali dingin, meskipun jelas sekali ia masih terganggu dengan kejadian barusan. “Keluar! Jangan cari kesempatan dalam kesempitan!” Kirana berdiri tak jauh darinya. Bukannya merasa malu atau mundur, perempuan itu malah memperhatikan Adrian dengan tatapan penuh rasa penasaran. Seolah teguran pria itu tidak cukup untuk menghentikan keberaniannya. Dan kali ini tanpa meminta izin, Kirana tiba-tiba meraih tangan Adrian dan menariknya ke arah dadanya sendiri. “Coba rasakan pak, degub jantung saya kuat banget kan?” Mata Adrian langsung melotot. Ia segera menarik tangannya tanpa berpikir panjang, bahkan mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak. “Kirana! Sedang apa kamu! Keluar, keterlaluan!” Kali ini Adrian benar-benar tidak peduli bagaim
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: 2. Bapak mau cium saya?
“Kenapa kamu ada di ruangan saya?” Suara Adrian yang dingin membuat Kirana yang sedang duduk santai di sofa langsung menoleh. Bukannya terkejut, gadis itu justru tersenyum lebar. Kirana bahkan tidak terlihat merasa bersalah meski baru saja ketahuan memasuki ruangan CEO tanpa izin. “Bapak gimana sih? Ya kerja dong, Pak.” Ia bangkit dari sofa, merapikan pakaian nyentriknya, lalu berjalan menghampiri Adrian seolah mereka sudah saling mengenal cukup lama. CEO itu hanya menatapnya dengan dahi berkerut. Sejak pagi, perempuan ini sudah berhasil membuat kepalanya pening. Dan sekarang, di hari pertamanya kerja, Kirana sudah berani masuk ke ruangannya sendiri. “Ini jam makan siang,” ujar Adrian datar. “Dan saya sudah bilang, jangan masuk ke ruangan saya tanpa izin.” Kirana mengangguk. Namun bukannya pergi, ia malah berdiri semakin dekat. Adrian langsung mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu membuat Kirana memperhatikan satu hal. Pria ini benar-benar menjaga jarak darinya. Bukannya ters
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.

Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.

Saat bapaknya jatuh sakit sementara suaminya menghabiskan uang untuk berjudi, Sarah tak punya pilihan selain menerima pekerjaan sebagai pembantu di rumah keluarga Adijaya. Di balik rumah mewah itu, ia justru menemukan keluarga yang nyaris hancur. Rafael dan istrinya, Widya, tak pernah berhenti bertengkar, sementara putri kecil mereka tumbuh tanpa perhatian seorang ibu. Tak tega melihat Salsabila terus menangis, Sarah merawat gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang, seperti anaknya sendiri. Tanpa disadari, kehangatan yang selama ini hilang dari rumah itu perlahan kembali... dan membuat Rafael mulai memandang Sarah dengan cara yang berbeda. Namun sebuah kesalahpahaman mengubah segalanya. "Aww.., pak jangan! Saya baru pertama kali begini." lirih Sarah sambil menggigit bibir, menahan rasa sakit. "Tenang saja, saya akan pelan-pelan," jawab Rafael tanpa mengalihkan fokus dari apa yang sedang dikerjakannya. Tepat saat itu, pintu terbuka. Mertua Rafael membeku melihat posisi mereka yang begitu mencurigakan. Dalam semalam, Sarah dicap sebagai perebut suami orang. Padahal, ia hanya seorang pembantu yang ingin mencari nafkah demi menyelamatkan bapaknya. "Maaf, Pak... saya hanya pembantu biasa."
Baca
Chapter: 162. Pak Rafael benar-benar aneh!
"Maaf kalau sikap saya buat kamu berpikir buruk," ujar Rafael masih mendekap tubuh Sarah yang membeku.Sarah tidak langsung menjawab. Tubuhnya masih kaku, pikirannya bahkan belum sepenuhnya bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Namun, suara Rafael yang terdengar lebih tenang sedikit demi sedikit membuat ketegangan di dalam dirinya mereda."Sebenarnya mengajakmu ke hotel juga salah, tapi Sarah bukan itu tujuan saya." Pria itu melepas dekapannya, menatap mata Sarah yang basah.Sarah segera menundukkan wajah. Tangannya bergerak mengusap sisa air mata di pipi, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia masih merasa malu karena sudah berpikir terlalu jauh, tetapi keadaan yang dibawa Rafael sejak awal memang membuatnya sulit untuk tidak curiga."Saya takut pak, saya..""Tenang saja, saya gak akan melakukan hal lebih." Potong Rafael.Dahi Sarah mengernyit, ia benar-benar butuh penjelasan. Kalimat Rafael justru membuat rasa penasarannya semakin besar. Kalau memang tidak
Terakhir Diperbarui: 2026-09-11
Chapter: 161. Jadi, kamu gak mau Sarah?
"Dari semua yang terjadi?" tanya Rafael mencoba memastikan.Anggukan Sarah menjadi jawaban, karena memang untuk semua ini dia belum paham. Kecuali satu, perasaan Rafael. Tentu saja itu semua membuatnya semakin merasa tak nyaman, apalagi sikap pria itu yang kini Sarah merasa semakin aneh. Sejak awal, Sarah memang berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua yang dilakukan Rafael hanyalah kebetulan. "Pak.." Akhirnya, Sarah mencoba memberanikan diri untuk mengutarakan semua isi kepala yang sejak tadi penuh.Kini, Rafael nampak memperhatikannya dengan seksama, seolah menunggu kalimat selanjutnya. Pria itu tidak menyela sedikit pun. Hanya menatap Sarah dengan wajah yang sulit dibaca, membuat Sarah semakin gugup untuk melanjutkan perkataannya."Sa-saya gak seperti yang bapak pikirkan, saya gak bisa seperti itu."Alis Rafael mengernyit. "Seperti itu?" cicitnya.Sarah mengangguk dengan kuat, seolah memperjelas semuanya. Semua pikiran buruk yang bersarang di kepalanya. Tangannya saling menggenggam
Terakhir Diperbarui: 2026-09-08
Chapter: 161. Saya, mau kamu duduk Sarah!
"Masuk, Sarah."Kali ini, ucapan Rafael terdengar seperti perintah yang sulit ditolak. Pria itu bahkan tidak menjawab apa yang sebenarnya menjadi ketakutan Sarah, seolah sengaja membiarkan perempuan itu terus bertanya-tanya dengan pikirannya sendiri.Sarah masih berdiri di depan pintu. Ada bagian dalam dirinya yang ingin berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu, tetapi rasa takut justru menahannya. Bagaimana kalau ia membuat keributan di tempat baru seperti ini? Bagaimana kalau orang-orang melihatnya dan salah memahami keadaan? Rasanya akan sangat memalukan, terlebih ia datang ke hotel bersama majikannya sendiri."Sarah!"Suara Rafael terdengar lebih tegas kali ini.Sarah tersentak kecil. Kepalanya tetap menunduk, lalu kakinya mulai melangkah perlahan melewati ambang pintu. Setiap langkah terasa berat, sementara ia bisa merasakan tatapan Rafael yang mengikuti gerakannya. Detak jantungnya semakin cepat, sampai-sampai ia harus menarik napas dalam-dalam agar kegugupan itu tidak terli
Terakhir Diperbarui: 2026-09-04
Chapter: 160. Saya bukan seperti yang bapak pikirkan
"Sekarang, ayo kita ke kamar." Ajakan Rafael terdengar begitu saja setelah mereka selesai menyantap hidangan. Sarah yang baru saja meletakkan sendok langsung menoleh. Matanya membulat, dan untuk beberapa detik ia hanya mampu memandangi Rafael dengan wajah penuh kebingungan. Ia yakin pria itu melihat perubahan ekspresinya, tetapi sikapnya justru terlihat tenang seolah ajakan tersebut merupakan sesuatu yang biasa. "Gak apa-apa, Sarah. Ayo." Tangan Rafael terulur, bermaksud mengajaknya berdiri. Namun Sarah masih terpaku di kursinya. Ada begitu banyak kemungkinan yang tiba-tiba memenuhi kepalanya sampai tubuhnya terasa kaku. Bayangan kejadian sebelumnya kembali muncul, membuatnya semakin ragu untuk mengikuti. Bagaimana kalau Rafael akan melakukan hal yang sama seperti tadi? Bagaimana kalau ia kembali berada dalam situasi yang membuatnya tidak tahu harus bersikap seperti apa? Dan kalau itu benar terjadi, dengan cara apa ia menolak tanpa membuat Rafael tersinggung? "Ta-tapi, Pak?"
Terakhir Diperbarui: 2026-08-31
Chapter: 159. Saya tetap, menginginkan kamu!
"Kamu gak apa-apa?" tanya Rafael, wajahnya terlihat panik melihat Sarah yang masih berusaha mengatur napas.Sarah mengangguk pelan. Setelah rasa sesak akibat tersedak mulai mereda, ia akhirnya menyahut, "Saya gak apa-apa, Pak."Padahal kalau boleh jujur, bukan hanya minuman yang membuatnya tersedak. Rasa kaget dan terkejut datang begitu saja setelah mendengar pengakuan Rafael. Sarah bahkan masih sulit mempercayai apa yang baru saja diucapkan majikannya. Bagaimana mungkin Rafael menyukai dirinya? Pria itu masih berstatus sebagai suami orang, sementara dirinya hanyalah seorang pembantu yang bekerja di rumahnya. Sarah tidak mungkin membiarkan dirinya dicap sebagai perebut suami orang, apalagi pria yang mengungkapkan perasaan itu adalah majikannya sendiri.Lalu sekarang, apa yang harus ia jawab?Haruskah ia berpura-pura tidak mendengar dan mengalihkan pembicaraan? Atau..."Bagaimana, Sarah?" tanya Rafael.Pertanyaan itu membuat Sarah kembali tersadar. Percuma saja ia mencoba menghindari p
Terakhir Diperbarui: 2026-08-28
Chapter: 158. Pak, bapak serius?
"Sarah, apakah bisa saya meminta kamu untuk..."Belum sempat Rafael menyelesaikan kalimatnya, seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Dengan senyum ramah, pelayan itu meletakkan satu per satu hidangan di atas meja, membuat ucapan Rafael terpaksa terhenti. Sarah hanya bisa diam, matanya sesekali berpindah dari makanan ke arah Rafael, rasa penasaran sekaligus gugup masih memenuhi pikirannya.Setelah pelayan pergi, Rafael kembali menatap Sarah. Kali ini tatapannya terlihat berbeda, seolah pria itu sedang mengumpulkan kembali keberanian untuk mengatakan sesuatu yang sejak tadi tertahan."Saya mau...""Pak, apa sebaiknya kita makan dulu?"Sarah akhirnya memberanikan diri memotong pembicaraan. Entah mengapa, ia merasa kalau Rafael meneruskan kalimatnya sekarang, ia akan mendengar sesuatu yang sulit untuk ditolak. Ada keyakinan aneh dalam dirinya bahwa perkataan pria itu bukanlah sesuatu yang sederhana dan setelah mendengarnya, mungkin hubungan mereka tidak akan lagi terasa sama.Rafa
Terakhir Diperbarui: 2026-08-26
PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU

PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU

"Emmhh, tolong pelan-pelan Raiden. Nanti kau akan kubayar satu miliar, cukup layani aku dan buat aku hamil. Lalu kau boleh pergi," kata Jasmine pada pemuda berpakaian sederhana itu, yang kini memandangnya dengan pandangan sulit di jelaskan. **** Jasmine perempuan yang suka kebebasan, ia menikah dengan seorang duda tampan dan kaya raya bernama Zen, akan tetapi pernikahannya terasa hambar, karena Zen selalu sibuk dengan pekerjaan, suaminya juga sulit punya anak. Karena itulah, Jasmine membayar seorang pemuda tampan yang sedang butuh uang, untuk menjadi pemuas nafsu dan juga menemaninya saat bersenang-senang, semua itu Jasmine lakukan secara diam-diam. Hingga pada akhirnya sebuah kenyataan terungkap, membawa mereka pada takdir yang berbeda.
Baca
Chapter: 242. Aku akan menunggu.
Sontak, Shen menatap pemilik panti asuhan dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Matanya melebar, seolah baru saja mendengar sesuatu yang terlalu besar untuk langsung dipercaya. "Bu?" Pemilik panti hanya mengangguk pelan. Senyum tipis terbit di wajahnya, tetapi bagi Shen, anggukan itu terasa seperti jawaban dari penantian yang sudah begitu panjang. Dada Shen naik turun. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan, menahan gejolak yang tiba-tiba memenuhi seluruh tubuhnya. Beberapa hari terakhir ia mencari ke mana-mana. Berjalan dari satu tempat ke tempat lain, bahkan hingga membuat dirinya di sekap oleh Intan dan juga Ratna. Tapi sekarang, seakan semua jerih payahnya dan juga tangisannya, terbayar begitu saja. Sejak pertama kali, bahkan perasaan Shen begitu kuat, bahkan rumah yang pernah ia kunjungi memang di sini tempat anaknya dibesarkan.. Dan sekarang, siapa menyangka putranya ternyata begitu dekat. Sebentar lagi, Shen akan bertemu dengannya. Dan perempuan itu berjanji,
Terakhir Diperbarui: 2026-08-27
Chapter: 232. Raiden kau, ternyata..
"Kau?" cicit Tian pelan. Telunjuknya bahkan terangkat menunjuk Shen, seolah masih berusaha memastikan bahwa perempuan yang berdiri beberapa langkah di hadapannya benar-benar orang yang sama.Shen justru tersenyum. "Iya, aku datang lagi."Kakinya melangkah mendekat. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan ketika terakhir kali mereka bertemu.Tian masih terpaku. "Bu-bukannya kau di sekap?"Langkah Shen seketika terhenti. Senyumnya perlahan menghilang. Di sampingnya, Ibu pemilik panti juga menoleh dengan tatapan penuh tanda tanya. Keduanya saling berpandangan selama beberapa detik, sama-sama mencoba memahami bagaimana pemuda di hadapan mereka bisa mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahuinya.Shen kembali menatap Tian. "Bagaimana kau bisa tahu kalau aku di sekap?"Tian tampak gugup. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada jawaban yang langsung keluar. Ia mengusap tengkuknya sambil sesekali melirik ke arah jalan, seolah
Terakhir Diperbarui: 2026-08-13
Chapter: 231. Kau kembali?
Beberapa hari setelah kejadian itu, Shen akhirnya mulai kembali melakukan aktivitasnya. Tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih. Sesekali ia masih merasa lemas jika terlalu lama berjalan, tetapi tinggal diam di kamar justru membuat pikirannya semakin penuh. Setiap kali memejamkan mata, kejadian di rumah tua itu kembali melintas. Karena itu, pagi ini Shen memilih bangun lebih awal dan bersiap mencari informasi mengenai putranya."Apa Ibu yakin mau ikut?" Shen bertanya sambil merapikan tas kecil di pangkuannya.Ibu pemilik panti yang sedang mengunci pintu hanya tertawa kecil."Kalau saya tidak ikut, siapa yang memastikan Ibu tidak memaksakan diri?"Shen mengerucutkan bibir. "Saya tidak selemah itu.""Saya tahu." Perempuan itu berjalan mendekatinya."Tapi Ibu baru saja melewati kejadian yang tidak sederhana. Jadi untuk sementara, anggap saja saya ini pengawal."Shen terkekeh pelan. "Pengawal?""Iya.""Penga
Terakhir Diperbarui: 2026-08-12
Chapter: 230. Sudah cukup,
Raiden menatap Hagia untuk beberapa saat.Wajahnya menyimpan kesedihan yang tidak lagi coba disembunyikan, tetapi di balik itu ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa sedih. Ada kecewa yang perlahan berubah menjadi penerimaan. Diamnya kali ini lebih bermakna. Hanya saja, ketika tatapannya beralih kepada Lucas, amarah yang tadi sempat ia tekan kembali muncul.Pria itu masih berdiri dengan wajah penuh percaya diri, seolah kedatangan Raiden ke rumah tersebut hanyalah kesempatan lain baginya untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul.Tangannya mengepal, meski begitu kali ini ia tidak ingin melawan. Rasanya akan sia-sia, sebab bukankah pada akhirnya ia memang kalah? bukan karena Lucas lebih mencintai Hagia, atau karena perjuangannya tidak pernah berarti. Tetapi karena sejak awal ia terus berusaha membuktikan dirinya kepada orang-orang yang tidak pernah benar-benar melihat ketulusannya.Raiden menarik napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya dari Lucas."Baik, Tante. Sa
Terakhir Diperbarui: 2026-08-11
Chapter: 229. Saya menyerah!
"Apa Tante belum tahu?" Suara Lucas begitu lantang, matanya sempat melirik kearah Raiden yang sekarang terdiam penuh makna. Jarinya mengepal di samping tubuh,menahan amarah yang sejak tadi hendak meluap. "Tolong jelaskan kepada Tante, apa maksud dari perkataan Lucas?" ibu Hagia menatap Raiden penuh tanda tanya, raut wajahnya yang tegas menggambarkan sikap ingin tahunya yang begitu besar. Sedangkan Hagia, berdiri tak nyaman di samping kekasihnya. Ia takut, jika ibunya tahu sekarang Raiden bekerja sebagai pelayan restu itu akan hilang. belum lagi jika ibunya tahu, mobil dan segala aset yang pernah Raiden tunjukan beberapa Minggu lalu saat melamarnya kini sudah tak ada lagi. "Bu, Lucas itu tidak tahu apa-apa," jelas Hagia "Lucas tidak mungkin bohong." Sanggah wanita paruh baya itu dengan cepat. "Kenapa kau harus menutupi kenyataannya hagia? Kenyataan di mana Raiden sekarang bekerja menjadi pelayan di kafe?" Tepat saat itu juga, ibu Hagia menutup mulutnya tak percaya. "Raiden, kau b
Terakhir Diperbarui: 2026-08-08
Chapter: 228. Apa maksudnya Raiden?
"Antarkan aku pulang," ucap Hagia pada akhirnya. Raiden menatap perempuan itu dengan tatapan bingung. Bagaimana tidak, perempuan itu yang memintanya untuk bertemu, dan berjanji tak membahas masalah pernikahan tapi sekarang Hagia sendiri yang juga meminta untuk pulang. Terkadang, pria memang harus serba salah demi seorang perempuan. Pemuda itu akhirnya mengangguk pasrah, sebelum benar-benar mengantarkan Hagia pulang ia tak lupa membayar pesanan. Di sepanjang perjalanan pulang, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Raiden mengendarai motor tuanya dengan kecepatan sedang, sementara Hagia duduk di belakang sambil memeluk tas di pangkuannya. Biasanya, perempuan itu akan bercerita tentang hal-hal kecil yang ditemuinya sepanjang hari. Hari ini tidak. Mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Raiden beberapa kali ingin membuka percakapan, tetapi setiap kali kata-kata itu hampir keluar, bayangan siluet Jasmine di depan kafe ke
Terakhir Diperbarui: 2026-08-07
Anda juga akan menyukai
Menjadi Tawanan CEO Dingin
Menjadi Tawanan CEO Dingin
Romansa · Camelia
348.7K Dibaca
Desahan di Kamar Pembantu
Desahan di Kamar Pembantu
Romansa · Davian
348.7K Dibaca
Pernikahan Hampa
Pernikahan Hampa
Romansa · Mira Restia
348.0K Dibaca
Wanita Yang Dicintai Suamiku
Wanita Yang Dicintai Suamiku
Romansa · Rira Faradina
346.7K Dibaca
GAIRAH ISTRI LIAR
GAIRAH ISTRI LIAR
Romansa · Manda Azzahra
346.1K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status