
Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.
Saat bapaknya jatuh sakit sementara suaminya menghabiskan uang untuk berjudi, Sarah tak punya pilihan selain menerima pekerjaan sebagai pembantu di rumah keluarga Adijaya.
Di balik rumah mewah itu, ia justru menemukan keluarga yang nyaris hancur. Rafael dan istrinya, Widya, tak pernah berhenti bertengkar, sementara putri kecil mereka tumbuh tanpa perhatian seorang ibu.
Tak tega melihat Salsabila terus menangis, Sarah merawat gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang, seperti anaknya sendiri. Tanpa disadari, kehangatan yang selama ini hilang dari rumah itu perlahan kembali... dan membuat Rafael mulai memandang Sarah dengan cara yang berbeda.
Namun sebuah kesalahpahaman mengubah segalanya.
"Aww.., pak jangan! Saya baru pertama kali begini." lirih Sarah sambil menggigit bibir, menahan rasa sakit.
"Tenang saja, saya akan pelan-pelan," jawab Rafael tanpa mengalihkan fokus dari apa yang sedang dikerjakannya.
Tepat saat itu, pintu terbuka.
Mertua Rafael membeku melihat posisi mereka yang begitu mencurigakan.
Dalam semalam, Sarah dicap sebagai perebut suami orang. Padahal, ia hanya seorang pembantu yang ingin mencari nafkah demi menyelamatkan bapaknya.
"Maaf, Pak... saya hanya pembantu biasa."
Baca
Chapter: 177. Tolong jangan mendekat!Kini, Sarah menatap Mbak Yati dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Perempuan yang selama ini cukup dekat dengannya itu juga hanya diam, seolah sedang berusaha memahami sesuatu yang baru saja didengarnya. Namun, justru keheningan tersebut membuat Sarah semakin gelisah. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Mbak Yati, apakah perempuan itu masih memercayainya atau mulai menganggap tuduhan Widya sebagai sesuatu yang benar.Sarah melangkah satu langkah, berniat menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Akan tetapi, sebelum sempat membuka mulut, suara Mbak Yati lebih dulu terdengar dan membuat dadanya terasa diremas."Saya mau ambili pakaian dulu."Tanpa menunggu jawaban, Mbak Yati segera berbalik dan meninggalkan dapur. Langkahnya cukup cepat, seolah tidak ingin mendengar penjelasan apa pun dari Sarah. Perempuan itu bahkan tidak memberikan kesempatan kepada Sarah untuk mengatakan bahwa semua tuduhan Widya tidak seperti yang dibayangkan.Sarah hanya berdiri mematung, mengikuti kepergian Mbak
Terakhir Diperbarui: 2026-10-24
Chapter: 176. Meminta bantuan RafaelWidya kembali menatap Sarah. Ketika dua pembantu itu hanya bisa menunduk. Kali ini, kemarahannya seolah akan membabi buta. "Memang hebat kamu, Sarah. Baru berapa lama bekerja di sini, tapi sudah berhasil membuat Rafael membawamu pergi berdua ke hotel!" kalimat itu mampu membuat Sarah merasa seluruh darah di wajahnya seakan surut. Dari ekor matanya, Sarah bisa melihat keterkejutan di wajah Mbak Yati. Ia tak tahu, mungkin perempuan itu akan menilainya sebagai wanita yang buruk. "Bu," lirihnya hendak menjelaskan semuanya, tapi kata-katanya berhenti, mengalahkan rasa takutnya. "Jangan panggil saya begitu seolah-olah kamu tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan!" Widya menunjuk ke arah Sarah dengan tangan gemetar menahan amarah. "Saya melihat kalian datang bersama! Kamu pikir saya sebodoh itu sampai tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi?" Kepala wanita itu menggeleng berkali-kali. "Saya bisa menjelaskan, Bu. Sungguh, semuanya tidak seperti yang Ibu pikirkan." "Menjelas
Terakhir Diperbarui: 2026-10-19
Chapter: 175. Sarah, ternyata kamu? "Mbak, ada apa? Kok dari tadi melamun?"Suara Mbak Yati membuyarkan pikiran Sarah. Tangannya yang sejak tadi sibuk memotong wortel berhenti di tengah gerakan. Ia tersadar bahwa beberapa menit terakhir dirinya hanya menatap sayuran di atas talenan tanpa benar-benar memperhatikannya.Sarah segera menggeleng. "Gak ada apa-apa kok, Mbak."Mencoba fokus, dan kembali menunduk mengambil pisau, berusaha melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Namun, gerakannya tidak lagi setenang tadi. Jemarinya bahkan sempat berhenti beberapa kali karena pikirannya kembali kepada percakapan Rafael dan Widya di lorong.Meskipun cukup dekat dengan Mbak Yati, ia tetap memilih menyimpan semuanya sendiri. Bukan karena tidak percaya, tetapi karena ia takut perempuan yang selama ini selalu membelanya sebagai sesama pembantu justru akan memandangnya berbeda setelah mengetahui masalah tersebut.Namun, raut wajah Yati jelas menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya.
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: 174. Dasar perebut lelaki orang!Sarah menggigit bibir bawahnya, kemudian buru-buru melepaskannya ketika sadar dirinya semakin gugup. Pikirannya mulai kacau membayangkan bagaimana Widya memandangnya sekarang. Seorang pembantu yang pergi bersama suaminya ke hotel. Apa pun penjelasannya, dari luar semuanya memang terlihat buruk. Sarah menundukkan kepala. Kedua tangannya kini saling menggenggam erat. Jika saja Widya tahu bahwa keberadaan mereka di hotel itu bukan sesuatu yang ia rencanakan. Bahkan Sarah sendiri tidak pernah benar-benar memahami apa yang sedang direncanakan keluarga Adijaya dan hanya mengikuti. Tapi sekarang, justru dirinya yang harus menanggung akibatnya. "Jaga omonganmu!" Bentakan Rafael membuat Sarah tersentak. Bahu perempuan itu naik karena kaget bahkan sempat menutup mulut dengan telapak tangan ketika jantungnya berdegup begitu keras. "Aku lihat buktinya!" Suara Widya kembali terdengar. Sarah memejamkan mata. Air matanya mulai menggenang. Ia buru-buru mengusap sudut matanya, lalu menari
Terakhir Diperbarui: 2026-10-01
Chapter: 173. Pak..Tolong jangan!"Pak, tolong jangan masuk dulu." ia sedikit berteriak. "Iya," jawaban Rafael terdengar begitu singkat. Namun, sebelum langkah pria itu benar-benar menjauh, Sarah mendengar Rafael berkata pelan. "Saya benar-benar minta maaf. Sarah." suaranya sarat akan rasa bersalah. Setelah itu terdengar langkah kaki yang perlahan menghilang di lorong. Sarah masih berdiri di tempatnya. Ia menatap pintu yang kini tertutup rapat, kemudian menundukkan kepala. Entah kenapa, kejadian sederhana itu justru membuat perasaan Sarah semakin tidak tenang. Ia tahu Rafael tidak sengaja dan tak perlu ada yang di besar-besarkan. Namun, setelah semua percakapan mereka hari ini, setelah pria tersebut mengungkapkan perasaannya dan setelah orang tua Rafael bahkan mengatakan bahwa mereka merestui hubungan keduanya, Sarah tidak bisa menganggap kejadian ini sebagai sesuatu yang sepele. "Kenapa hidupku jadi serumit ini." Sarah menghembuskan napas panjang. Dari balik pintu, suara Rafael terdengar lagi. "Sarah,
Terakhir Diperbarui: 2026-09-30
Chapter: 172. Aaakhhhh, bapak ngapain?"Kamu istirahat saja dulu." Adijaya membuka suara setelah melihat Sarah yang masih tampak gelisah. Namun, perempuan itu justru menggeleng cepat. "Maaf, Pak. Pekerjaan saya masih banyak. Saya gak enak dengan yang lain." Sarah langsung teringat pada Mbak Yati dan para pekerja lain. Bagaimana kalau mereka melihat dirinya justru beristirahat ketika pekerjaan masih menumpuk? Pasti akan muncul pertanyaan. Terlebih setelah kejadian hari ini, Sarah sendiri sudah merasa tidak nyaman menerima perlakuan khusus dari keluarga Adijaya. "Tidak apa-apa, Sarah. Ini kami yang perintah." Nada Anisa terdengar lembut, tetapi bagi Sarah kalimat itu justru membuatnya tidak punya alasan lagi untuk menolak. Ia kembali bungkam. Bagaimanapun, dirinya hanyalah seorang pembantu di rumah ini. Ia tidak memiliki banyak suara untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan. Ketika orang-orang yang menjadi atasannya sudah memberikan perintah, Sarah hanya bisa mengangguk dan menurut. "Baik, Bu." Pada
Terakhir Diperbarui: 2026-09-28
Chapter: 7. Pak Adrian tersenyumKabar bahwa Adrian mengajak Kirana untuk dinas luar kota langsung menyebar ke seluruh Arkana Group. "Serius?" "Baru beberapa hari kerja, kok yang diajak sekretaris baru?" "Pak Adrian biasanya paling susah percaya sama orang." Bisik-bisik terdengar di hampir setiap sudut kantor. Clarissa yang baru saja datang pun ikut menghentikan langkahnya. "Pak Adrian mengajak Kirana?" Sekretaris senior mengangguk pelan. "Iya, Bu." Clarissa tampak sedikit terkejut. Namun, ia hanya tersenyum tipis. "Oh... semoga perjalanan mereka lancar." Sementara itu, Kirana yang mendengar pembicaraan itu justru tersenyum bangga. "Tuh, kan." "Berarti aku mulai dipercaya calon pacarku." Beberapa karyawan langsung memijat pelipis. Clarissa yang berdiri tak jauh darinya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Perempuan itu benar-benar tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan perasaan. **** Tak lama kemudian, mobil dinas meninggalkan halaman Arkana Group. Begitu duduk,
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: 6. Dinas di luar kota"Baru calon kan? belum jadi istri?" gumamnya pelanItulah kesimpulan yang berhasil dibuat Kirana setelah semalaman memikirkan ucapan Clarissa. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin sambil menunjuk bayangannya sendiri. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan." Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. "Semangat, Kirana! untuk dapatkan Pak Adrian!" ***Sejak pagi, bahkan satu kantor kembali dibuat geleng-geleng kepala. Bukan karena Kirana membuat keributan. Melainkan karena setiap kali Clarissa muncul di dekat Adrian, entah bagaimana Kirana selalu muncul lebih dulu. Saat Clarissa membawa kopi, Kirana datang dengan minuman lain. Ketika Clarissa hendak menyerahkan berkas, Kirana sudah lebih dulu mengambilnya.Bahkan saat Clarissa hanya berbincang santai dengan Adrian beberapa menit, Kirana tiba-tiba muncul membawa map, jadwal rapat, atau sekadar bertanya hal yang sebenarnya bisa menunggu. Semua kejadian itu seolah memang nampak di sengaja oleh Kirana, bahk
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: 5. Menyingkirkan hamaKirana mematung beberapa detik di depan ruang rapat, ucapan itu perlahan membuatnya berpikir lebih keras. "Pak Adrian mau nikah?" cicitnya pelan. Kata-kata yang tidak sengaja didengarnya sejak tadi terus berputar di kepalanya. Ia menatap kosong ke arah pintu ruang kerja CEO. Lalu, menepuk kedua pipinya sendiri. "Nggak! Belum tentu!" Beberapa staf yang melintas langsung menoleh. Kirana mengepalkan tangan dengan semangat. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan!" Ia mengangguk mantap, menyemangati dirinya sendiri. "Harus bisa dapatin Pak Adrian, demi pamer ke Gerry!" Salah satu staf berbisik pada temannya, mereka sedang membicarakan ke anehan sekretaris baru Pak Adrian yang suka berbicara sendiri, menurut para pekerja di sana, perempuan itu memang manusia paling aneh. Meskipun demikian, Kirana sama sekali tidak peduli. Karena mereka tak tahu, rasanya direndahkan oleh mantan pacarnya hanya karena penampilan, harga dirinya sebagai perempua
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: 4. Balas dendam dimulai“Apa aku pelet aja Pak Adrian?” celetuk Kirana dengan pikiran konyolnya. Namun, detik berikutnya ia langsung menggeleng kuat-kuat. Ide itu bahkan terdengar aneh di telinganya sendiri. Malam itu, kamar Kirana masih terang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur hingga tubuhnya memantul pelan. Kedua kakinya menempel di dinding, sementara matanya menatap langit-langit dengan wajah lesu. “Ah, baru aja mulai udah ada penghalang!” Tangannya meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala, menampilkan aplikasi catatan yang berisi daftar misi menaklukkan Adrian. Kirana menghela napas. Akan tetapi, belum sempat ia memikirkan langkah berikutnya, bayangan wajah Adrian yang begitu dekat dengannya siang tadi kembali terlintas di benaknya. Seketika wajah lesunya berubah. Senyumnya mengembang, bahkan pipinya sedikit memerah mengingat kejadian tersebut. “Gak salah sih aku punya target cowok ganteng dan kaya.” Tubuhnya berguling ke kanan, kemudian ke kiri, seolah tidak bisa diam karena pikir
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: 3. Lihat saja siapa yang lebih pantasNamun, kata-kata Kirana justru membuat Adrian semakin terkejut. “Pak, bapak nyaman ya?” Seketika Adrian bangkit dari posisinya. Tangannya menepuk-nepuk pelan kemejanya yang terkena debu, lalu berdehem untuk mengembalikan ketenangannya. Wajahnya kembali dingin, meskipun jelas sekali ia masih terganggu dengan kejadian barusan. “Keluar! Jangan cari kesempatan dalam kesempitan!” Kirana berdiri tak jauh darinya. Bukannya merasa malu atau mundur, perempuan itu malah memperhatikan Adrian dengan tatapan penuh rasa penasaran. Seolah teguran pria itu tidak cukup untuk menghentikan keberaniannya. Dan kali ini tanpa meminta izin, Kirana tiba-tiba meraih tangan Adrian dan menariknya ke arah dadanya sendiri. “Coba rasakan pak, degub jantung saya kuat banget kan?” Mata Adrian langsung melotot. Ia segera menarik tangannya tanpa berpikir panjang, bahkan mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak. “Kirana! Sedang apa kamu! Keluar, keterlaluan!” Kali ini Adrian benar-benar tidak peduli bagaim
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: 2. Bapak mau cium saya?“Kenapa kamu ada di ruangan saya?” Suara Adrian yang dingin membuat Kirana yang sedang duduk santai di sofa langsung menoleh. Bukannya terkejut, gadis itu justru tersenyum lebar. Kirana bahkan tidak terlihat merasa bersalah meski baru saja ketahuan memasuki ruangan CEO tanpa izin. “Bapak gimana sih? Ya kerja dong, Pak.” Ia bangkit dari sofa, merapikan pakaian nyentriknya, lalu berjalan menghampiri Adrian seolah mereka sudah saling mengenal cukup lama. CEO itu hanya menatapnya dengan dahi berkerut. Sejak pagi, perempuan ini sudah berhasil membuat kepalanya pening. Dan sekarang, di hari pertamanya kerja, Kirana sudah berani masuk ke ruangannya sendiri. “Ini jam makan siang,” ujar Adrian datar. “Dan saya sudah bilang, jangan masuk ke ruangan saya tanpa izin.” Kirana mengangguk. Namun bukannya pergi, ia malah berdiri semakin dekat. Adrian langsung mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu membuat Kirana memperhatikan satu hal. Pria ini benar-benar menjaga jarak darinya. Bukannya ters
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: 242. Aku akan menunggu.Sontak, Shen menatap pemilik panti asuhan dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Matanya melebar, seolah baru saja mendengar sesuatu yang terlalu besar untuk langsung dipercaya. "Bu?" Pemilik panti hanya mengangguk pelan. Senyum tipis terbit di wajahnya, tetapi bagi Shen, anggukan itu terasa seperti jawaban dari penantian yang sudah begitu panjang. Dada Shen naik turun. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan, menahan gejolak yang tiba-tiba memenuhi seluruh tubuhnya. Beberapa hari terakhir ia mencari ke mana-mana. Berjalan dari satu tempat ke tempat lain, bahkan hingga membuat dirinya di sekap oleh Intan dan juga Ratna. Tapi sekarang, seakan semua jerih payahnya dan juga tangisannya, terbayar begitu saja. Sejak pertama kali, bahkan perasaan Shen begitu kuat, bahkan rumah yang pernah ia kunjungi memang di sini tempat anaknya dibesarkan.. Dan sekarang, siapa menyangka putranya ternyata begitu dekat. Sebentar lagi, Shen akan bertemu dengannya. Dan perempuan itu berjanji,
Terakhir Diperbarui: 2026-08-27
Chapter: 232. Raiden kau, ternyata.. "Kau?" cicit Tian pelan. Telunjuknya bahkan terangkat menunjuk Shen, seolah masih berusaha memastikan bahwa perempuan yang berdiri beberapa langkah di hadapannya benar-benar orang yang sama.Shen justru tersenyum. "Iya, aku datang lagi."Kakinya melangkah mendekat. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan ketika terakhir kali mereka bertemu.Tian masih terpaku. "Bu-bukannya kau di sekap?"Langkah Shen seketika terhenti. Senyumnya perlahan menghilang. Di sampingnya, Ibu pemilik panti juga menoleh dengan tatapan penuh tanda tanya. Keduanya saling berpandangan selama beberapa detik, sama-sama mencoba memahami bagaimana pemuda di hadapan mereka bisa mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahuinya.Shen kembali menatap Tian. "Bagaimana kau bisa tahu kalau aku di sekap?"Tian tampak gugup. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada jawaban yang langsung keluar. Ia mengusap tengkuknya sambil sesekali melirik ke arah jalan, seolah
Terakhir Diperbarui: 2026-08-13
Chapter: 231. Kau kembali? Beberapa hari setelah kejadian itu, Shen akhirnya mulai kembali melakukan aktivitasnya. Tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih. Sesekali ia masih merasa lemas jika terlalu lama berjalan, tetapi tinggal diam di kamar justru membuat pikirannya semakin penuh. Setiap kali memejamkan mata, kejadian di rumah tua itu kembali melintas. Karena itu, pagi ini Shen memilih bangun lebih awal dan bersiap mencari informasi mengenai putranya."Apa Ibu yakin mau ikut?" Shen bertanya sambil merapikan tas kecil di pangkuannya.Ibu pemilik panti yang sedang mengunci pintu hanya tertawa kecil."Kalau saya tidak ikut, siapa yang memastikan Ibu tidak memaksakan diri?"Shen mengerucutkan bibir. "Saya tidak selemah itu.""Saya tahu." Perempuan itu berjalan mendekatinya."Tapi Ibu baru saja melewati kejadian yang tidak sederhana. Jadi untuk sementara, anggap saja saya ini pengawal."Shen terkekeh pelan. "Pengawal?""Iya.""Penga
Terakhir Diperbarui: 2026-08-12
Chapter: 230. Sudah cukup,Raiden menatap Hagia untuk beberapa saat.Wajahnya menyimpan kesedihan yang tidak lagi coba disembunyikan, tetapi di balik itu ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa sedih. Ada kecewa yang perlahan berubah menjadi penerimaan. Diamnya kali ini lebih bermakna. Hanya saja, ketika tatapannya beralih kepada Lucas, amarah yang tadi sempat ia tekan kembali muncul.Pria itu masih berdiri dengan wajah penuh percaya diri, seolah kedatangan Raiden ke rumah tersebut hanyalah kesempatan lain baginya untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul.Tangannya mengepal, meski begitu kali ini ia tidak ingin melawan. Rasanya akan sia-sia, sebab bukankah pada akhirnya ia memang kalah? bukan karena Lucas lebih mencintai Hagia, atau karena perjuangannya tidak pernah berarti. Tetapi karena sejak awal ia terus berusaha membuktikan dirinya kepada orang-orang yang tidak pernah benar-benar melihat ketulusannya.Raiden menarik napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya dari Lucas."Baik, Tante. Sa
Terakhir Diperbarui: 2026-08-11
Chapter: 229. Saya menyerah!"Apa Tante belum tahu?" Suara Lucas begitu lantang, matanya sempat melirik kearah Raiden yang sekarang terdiam penuh makna. Jarinya mengepal di samping tubuh,menahan amarah yang sejak tadi hendak meluap. "Tolong jelaskan kepada Tante, apa maksud dari perkataan Lucas?" ibu Hagia menatap Raiden penuh tanda tanya, raut wajahnya yang tegas menggambarkan sikap ingin tahunya yang begitu besar. Sedangkan Hagia, berdiri tak nyaman di samping kekasihnya. Ia takut, jika ibunya tahu sekarang Raiden bekerja sebagai pelayan restu itu akan hilang. belum lagi jika ibunya tahu, mobil dan segala aset yang pernah Raiden tunjukan beberapa Minggu lalu saat melamarnya kini sudah tak ada lagi. "Bu, Lucas itu tidak tahu apa-apa," jelas Hagia "Lucas tidak mungkin bohong." Sanggah wanita paruh baya itu dengan cepat. "Kenapa kau harus menutupi kenyataannya hagia? Kenyataan di mana Raiden sekarang bekerja menjadi pelayan di kafe?" Tepat saat itu juga, ibu Hagia menutup mulutnya tak percaya. "Raiden, kau b
Terakhir Diperbarui: 2026-08-08
Chapter: 228. Apa maksudnya Raiden? "Antarkan aku pulang," ucap Hagia pada akhirnya. Raiden menatap perempuan itu dengan tatapan bingung. Bagaimana tidak, perempuan itu yang memintanya untuk bertemu, dan berjanji tak membahas masalah pernikahan tapi sekarang Hagia sendiri yang juga meminta untuk pulang. Terkadang, pria memang harus serba salah demi seorang perempuan. Pemuda itu akhirnya mengangguk pasrah, sebelum benar-benar mengantarkan Hagia pulang ia tak lupa membayar pesanan. Di sepanjang perjalanan pulang, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Raiden mengendarai motor tuanya dengan kecepatan sedang, sementara Hagia duduk di belakang sambil memeluk tas di pangkuannya. Biasanya, perempuan itu akan bercerita tentang hal-hal kecil yang ditemuinya sepanjang hari. Hari ini tidak. Mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Raiden beberapa kali ingin membuka percakapan, tetapi setiap kali kata-kata itu hampir keluar, bayangan siluet Jasmine di depan kafe ke
Terakhir Diperbarui: 2026-08-07