
Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.
Saat bapaknya jatuh sakit sementara suaminya menghabiskan uang untuk berjudi, Sarah tak punya pilihan selain menerima pekerjaan sebagai pembantu di rumah keluarga Adijaya.
Di balik rumah mewah itu, ia justru menemukan keluarga yang nyaris hancur. Rafael dan istrinya, Widya, tak pernah berhenti bertengkar, sementara putri kecil mereka tumbuh tanpa perhatian seorang ibu.
Tak tega melihat Salsabila terus menangis, Sarah merawat gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang, seperti anaknya sendiri. Tanpa disadari, kehangatan yang selama ini hilang dari rumah itu perlahan kembali... dan membuat Rafael mulai memandang Sarah dengan cara yang berbeda.
Namun sebuah kesalahpahaman mengubah segalanya.
"Aww.., pak jangan! Saya baru pertama kali begini." lirih Sarah sambil menggigit bibir, menahan rasa sakit.
"Tenang saja, saya akan pelan-pelan," jawab Rafael tanpa mengalihkan fokus dari apa yang sedang dikerjakannya.
Tepat saat itu, pintu terbuka.
Mertua Rafael membeku melihat posisi mereka yang begitu mencurigakan.
Dalam semalam, Sarah dicap sebagai perebut suami orang. Padahal, ia hanya seorang pembantu yang ingin mencari nafkah demi menyelamatkan bapaknya.
"Maaf, Pak... saya hanya pembantu biasa."
Read
Chapter: 137. Sarah, maukah kamu?"Jadi nostalgia makanan kampung ya Pa." Itu suara Anisa, nampak terdengar riang setelah mencicipi masakan Sarah. Suaminya yang duduk di samping tersenyum tipis lalu mengangguk. "Persis masakan di kampung dulu." Adijaya menikmati setiap bumbu yang terasa nikmat di lidahnya, membawanya pada kenangan masa lalunya di kampung. Rafael yang duduk di hadapan mereka, tersenyum senang mendengar pengakuan kedua orang tuanya. "Salsabila juga suka masakan Sarah, katanya enak." "Oh ya?" Anisa menatap cucunya yang sedang makan dengan lahap "Iya Nek, pokoknya masakan Tante Sarah paling enak!" seru gadis kecil itu menggemaskan. Keluarga itu tertawa kecil, kecuali Widya yang kini hanya terdiam sembari tangannya meremas ujung sendok dengan kuat. "Widya kamu kok pinter cari pembantu?" tanya Anisa yang kini menoleh ke arah menantunya. Widya yang sedang melamun sedikit terkejut, bibirnya tersenyum samar. "Iya Ma, kebetulan di rekomendasikan kenalan." Anggukan kepala menjadi jawaban, se
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: 136. Karena kamu Sarah!"Mbak Sarah, pagi ini mbak aja yang belanja ya?" Mbak Yati berjalan mendekatinya, sembari menyodorkan secarik kertas bertuliskan kebutuhan rumah yang mau dibeli. Tanganya menerima secarik kertas itu dengan sedikit keraguan, matanya menatap Mbak Yati dengan kebingungan. "Loh, biasanya kan Mbak Yati? ada apa, kok tumben saya?" "Perut saya gak nyaman mbak," tangan wanita itu memegangi perutnya, sembari bergerak tak nyaman. "Ya Allah, kenapa gak bilang dari tadi Mbak? ya sudah saya berangkat dulu sama Pak Darto ya, nanti sekalian saya belikan obat." Mbak Yati mengangguk dan segera berjalan cepat menuju kamar mandi. Sarah memandangi punggung wanita itu yang perlahan menghilang. Lalu kakinya melangkah mencari pak Darto yang ternyata sedang duduk santai sambil menikmati kopi hitam di halaman depan. "Pak, antar saya belanja ya?" Pria tersebut sedikit terkejut, karena biasanya rutinitas itu di kerjakan pembantu yang lain tapi mengapa pagi ini Sarah yang ambil alih. Karena itu,
Last Updated: 2026-07-27
Chapter: 135. Sarah, saya mau kamu..Mulutnya terdiam, tetapi tidak dengan pikirannya. Pemandangan di hadapannya membuat dada perempuan itu dipenuhi rasa bersalah, seolah kehadirannya kembali menjadi penyebab keretakan yang sebenarnya sudah lama ada di dalam rumah itu. "Ya Allah, jangan sampai Bu Widya dan Pak Rafael bertengkar gara-gara aku." jarinya meremas ujung baju. Bayangan beberapa pekan lalu membuatnya takut. Widya mengembuskan napas kasar sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tatapannya bergantian antara Rafael dan Sarah, sebelum akhirnya kembali berhenti pada suaminya. "Bukannya aku gak mau, kamu kan' tahu sendiri kalau aku sibuk!" Tangan pria itu menyelip ke saku celananya, tubuhnya masih terlihat tenang. "Nah, karena itu aku menyuruh Sarah. Lagi pula gak ada salahnya kan? itu sudah tugasnya." "Terserah kamu! suruh aja Sarah atur semua urusan rumah!" putus Widya dan berlalu pergi, dengan suara ketukan heels yang begitu keras menggema. Keheningan langsung mengambil alih ruangan. Sarah te
Last Updated: 2026-07-26
Chapter: 134. Masakan kamu enak Sarah, tapi..Sarah tidak langsung menjawab. Bibirnya sempat terbuka, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar. Pertanyaan Rafael terasa begitu sederhana, namun justru menghantam bagian paling rapuh dalam hidupnya. Di balik status yang selama ini ia sembunyikan, ada kenyataan pahit yang tidak pernah ingin di ceritakan kepada siapa pun pada rumah itu. Jika Rafael mengetahui bahwa dirinya telah bersuami, lalu tahu seperti apa sosok Teguh sebenarnya, akankah pria itu masih memercayainya bekerja di rumah Adijaya? Jemarinya saling menggenggam semakin erat. "Sa... saya..." Belum sempat Sarah menyelesaikan kalimatnya, suara dering ponsel memecah keheningan malam. Rafael refleks merogoh saku celananya, lalu menatap layar ponsel yang menyala beberapa detik. "Maaf." Ia berdiri sambil mengangkat panggilan itu. Sarah hanya mengangguk kecil. Kakinya melangkah menjauh beberapa meter agar tidak mengganggu, sementara suaranya mulai terdengar samar karena berbicara dengan seseorang di seberang telepon
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: 133. Sarah, temani saya ngobrol."Kenapa kamu belum tidur?" pertanyaan Rafael sedetik membuat Sarah terkejut, namun ia kemudian bersikap biasa. "Saya belum bisa tidur pak, saya sengaja menunggu bapak," tuturnya, kepalanya masih menunduk menatap tanah di bawahnya. Rafael hanya menggumam, tanganya menyibak rambut lalu tubuhnya bersandar di sandaran kursi. "Apa kamu gak capek berdiri terus?" Lagi, ucapan itu membuat Sarah menatap majikannya sekarang. Sesaat tatapan mata mereka bertemu, lalu tangan Rafael mengetuk kursi di sampingnya, seolah mempersilahkan Sarah untuk duduk di dekatnya. "Ta-.. Tapi pak?" Sarah masih merasakan bahwa antara mereka memiliki batas. Tapi, gelengan kepala yang lembut dari Rafael membuatnya memahami bahwa hanya menemani pria itu duduk bukanlah sebuah masalah besar, kakinya melangkah pelan lalu duduk tepat di samping majikan. "Gak perlu merasa aneh, saya hanya butuh teman saja." sebelum Sarah khawatir tentang kedekatan mereka malam ini bahkan Rafael lebih dulu menjelaskan. Ba
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: 132. Ternyata ini jawabnya..Sebelum Sarah sempat memutuskan untuk melupakan semuanya, malam justru datang membawa kegelisahan yang semakin sulit ia bendung. Sejak mengantar Salsabila sekolah hingga pekerjaan rumah selesai satu per satu, pikirannya tak pernah benar-benar lepas dari ucapan Rafael pagi tadi. Pria itu kembali mengatakan bahwa ia akan menjelaskan semuanya nanti malam. Namun malam hampir berganti larut, sedangkan tak ada satu pun tanda Rafael akan memanggilnya. Berkali-kali melirik jam dinding di dapur, lalu mengembuskan napas pelan. Barangkali majikannya lupa. Atau mungkin memang sengaja mengurungkan niatnya. Meski begitu, semakin berusaha mengabaikannya, rasa penasaran itu justru semakin memenuhi kepalanya. Ia tidak ingin hidup dengan utang yang tidak jelas bentuknya, apalagi jika harus menebak-nebak sesuatu yang tidak pernah ia pahami."Aku harus tanya lagi," gumamnya lirih pada diri sendiri. Setelah memastikan seluruh pekerjaan selesai dan Mbak Yati sudah masuk ke kamarnya, Akhirnya memberanikan
Last Updated: 2026-07-23
Jangan Ditahan-tahan Pak!
Sejak diputuskan karena dianggap membosankan dan tidak menarik, Kirana Prameswari bersumpah akan membuat mantannya menyesal. Caranya? Mendapatkan pacar yang jauh lebih baik.
Targetnya pun tidak main-main—Adrian, CEO Arkana Group yang tampan, dingin, disiplin, dan anti berpacaran dengan karyawan.
Di saat semua perempuan memilih menunggu, Kirana justru mengejar. Ia menggoda, merayu, bahkan terang-terangan mengumumkan bahwa Adrian adalah calon pacarnya. Sayangnya, pria itu sudah dijodohkan dengan perempuan pilihan keluarganya.
Bisakah Kirana meluluhkan hati CEO yang super dingin itu? Ataukah keberaniannya justru berakhir dengan patah hati untuk kedua kalinya?
Read
Chapter: 7. Pak Adrian tersenyumKabar bahwa Adrian mengajak Kirana untuk dinas luar kota langsung menyebar ke seluruh Arkana Group. "Serius?" "Baru beberapa hari kerja, kok yang diajak sekretaris baru?" "Pak Adrian biasanya paling susah percaya sama orang." Bisik-bisik terdengar di hampir setiap sudut kantor. Clarissa yang baru saja datang pun ikut menghentikan langkahnya. "Pak Adrian mengajak Kirana?" Sekretaris senior mengangguk pelan. "Iya, Bu." Clarissa tampak sedikit terkejut. Namun, ia hanya tersenyum tipis. "Oh... semoga perjalanan mereka lancar." Sementara itu, Kirana yang mendengar pembicaraan itu justru tersenyum bangga. "Tuh, kan." "Berarti aku mulai dipercaya calon pacarku." Beberapa karyawan langsung memijat pelipis. Clarissa yang berdiri tak jauh darinya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Perempuan itu benar-benar tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan perasaan. **** Tak lama kemudian, mobil dinas meninggalkan halaman Arkana Group. Begitu duduk,
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: 6. Dinas di luar kota"Baru calon kan? belum jadi istri?" gumamnya pelanItulah kesimpulan yang berhasil dibuat Kirana setelah semalaman memikirkan ucapan Clarissa. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin sambil menunjuk bayangannya sendiri. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan." Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. "Semangat, Kirana! untuk dapatkan Pak Adrian!" ***Sejak pagi, bahkan satu kantor kembali dibuat geleng-geleng kepala. Bukan karena Kirana membuat keributan. Melainkan karena setiap kali Clarissa muncul di dekat Adrian, entah bagaimana Kirana selalu muncul lebih dulu. Saat Clarissa membawa kopi, Kirana datang dengan minuman lain. Ketika Clarissa hendak menyerahkan berkas, Kirana sudah lebih dulu mengambilnya.Bahkan saat Clarissa hanya berbincang santai dengan Adrian beberapa menit, Kirana tiba-tiba muncul membawa map, jadwal rapat, atau sekadar bertanya hal yang sebenarnya bisa menunggu. Semua kejadian itu seolah memang nampak di sengaja oleh Kirana, bahk
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: 5. Menyingkirkan hamaKirana mematung beberapa detik di depan ruang rapat, ucapan itu perlahan membuatnya berpikir lebih keras. "Pak Adrian mau nikah?" cicitnya pelan. Kata-kata yang tidak sengaja didengarnya sejak tadi terus berputar di kepalanya. Ia menatap kosong ke arah pintu ruang kerja CEO. Lalu, menepuk kedua pipinya sendiri. "Nggak! Belum tentu!" Beberapa staf yang melintas langsung menoleh. Kirana mengepalkan tangan dengan semangat. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan!" Ia mengangguk mantap, menyemangati dirinya sendiri. "Harus bisa dapatin Pak Adrian, demi pamer ke Gerry!" Salah satu staf berbisik pada temannya, mereka sedang membicarakan ke anehan sekretaris baru Pak Adrian yang suka berbicara sendiri, menurut para pekerja di sana, perempuan itu memang manusia paling aneh. Meskipun demikian, Kirana sama sekali tidak peduli. Karena mereka tak tahu, rasanya direndahkan oleh mantan pacarnya hanya karena penampilan, harga dirinya sebagai perempua
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: 4. Maju atau gak?Malam itu, kamar Kirana masih terang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur hingga memantul pelan. Kedua kakinya menempel di dinding, sementara matanya menatap langit-langit kamar dengan wajah lesu. "Ah, gagal satu misi." Ia meraih ponselnya, lalu membuka aplikasi catatan yang berisi daftar misinya. Misi Menaklukkan Pak Adrian: Pak Adrian kenal aku. Pak Adrian ngomong panjang sama aku. Pak Adrian senyum. Pak Adrian ngajak ngobrol duluan. Jadi pacar Pak Adrian. Kirana menghembuskan napas panjang. "Yang senyum aja belum.. eh, malah muncul Clarissa." Bayangan perempuan cantik yang memeluk lengan Adrian sore tadi kembali terlintas. "Siapa, sih, dia?" gumamnya sambil mengerucutkan bibir. "Pacarnya? Tunangannya? Jangan-jangan istrinya? Ih... jangan serem-serem gitu, deh." Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri, sebelum akhirnya duduk tegak di atas kasur. "Nggak bisa!" katanya sambil mengepalkan tangan. "Kalau aku keduluan, gimana mau pamer ke Gerry? Dia harus
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: 3. Mau rebut calon pacar aku?Siang harinya, satu kantor mendadak heboh. "Astaga, siapa yang naruh bunga di meja pak Adrian?" salah satu OB keluar dari ruangan pria itu. Beberapa karyawan saling berpandangan, tak ada yang berani mengaku. Sampai Kirana datang dengan langkah riang. "Wah, bunganya udah sampai ya?" Seluruh ruangan langsung menoleh ke arahnya. "Jangan bilang.." ucap salah satu staf Senyum Kirana mengembang dengan bangga. "Iya, itu dari aku." "Hah?!" pekik mereka hampir bersamaan, beberapa dari mereka menggelengkan kepala tak percaya. "Jadi, tadi pagi aku bikin beliau marah, aku inisiatif buat minta maaf." "Lewat bunga?" "Iya." Kirana mengangguk tanpa merasa ada yang aneh "Romantis kan?" Seluruh staf lagi-lagi menggeleng keheranan, ada yang saling pandang karena baru pertama kali menemukan seseorang seperti Kirana. "Itu meja CEO!" Kirana tersenyum santai. "Iya makanya." "Kalau meja satpam nanti gak spesial." "Kamu gak tahu, kalau Pak Adrian gak suka bunga?"
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: 2. Bapak ganteng ihHari keduanya bekerja, Kirana datang lima belas menit lebih awal, bukan untuk mendapatkan gelar karyawan teladan. Tetapi, agar Pak Adrian tahu bahwa Kirana gak main-main dalam mengejarnya. Hari ini ia mengganti pita hitam kemarin dengan pita merah muda yang lebih besar. Pin kartun di blazer juga bertambah satu. Sneakers putihnya kini dihiasi tali sepatu warna kuning. Benar-benar nyentrik, dan membuat mata pegal melihatnya. Kalau kemarin penampilannya dianggap nyentrik, hari ini naik satu tingkat. Sambil duduk di kursi sekretaris yang berada tepat di samping pintu masuk ruang CEO, Kirana beberapa kali bercermin menggunakan layar ponselnya. Beberapa menit kemudian. Terdengar langkah kaki mendekat. Seluruh staf yang melintas langsung menepi. "Selamat pagi, Pak Adrian." Adrian hanya mengangguk tipis sambil terus berjalan. Tangannya meraih gagang pintu ruang kerja. Pintu terbuka. Namun baru selangkah masuk. Langkahnya langsung berhenti. Alisnya langsung berkerut. Kirana sudah ber
Last Updated: 2026-07-20
PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU
"Emmhh, tolong pelan-pelan Raiden. Nanti kau akan kubayar satu miliar, cukup layani aku dan buat aku hamil. Lalu kau boleh pergi," kata Jasmine pada pemuda berpakaian sederhana itu, yang kini memandangnya dengan pandangan sulit di jelaskan.
****
Jasmine perempuan yang suka kebebasan, ia menikah dengan seorang duda tampan dan kaya raya bernama Zen, akan tetapi pernikahannya terasa hambar, karena Zen selalu sibuk dengan pekerjaan, suaminya juga sulit punya anak. Karena itulah, Jasmine membayar seorang pemuda tampan yang sedang butuh uang, untuk menjadi pemuas nafsu dan juga menemaninya saat bersenang-senang, semua itu Jasmine lakukan secara diam-diam. Hingga pada akhirnya sebuah kenyataan terungkap, membawa mereka pada takdir yang berbeda.
Read
Chapter: 217. Maaf, selama ini aku terlalu sibuk"Belakangan ini, kau kenapa, Jasmine?" Pertanyaan itu hanya bergema di dalam kepala Zen.Mobil yang dikendarainya melaju tenang membelah jalan ibu kota. Lampu-lampu gedung mulai menyala bergantian ketika senja perlahan berubah menjadi malam. Biasanya, jam-jam seperti ini ia masih berada di ruang rapat atau menghadiri makan malam bersama rekan bisnis. Namun beberapa hari terakhir, entah mengapa rasanya selalu ingin segera pulang.Sudah beberapa minggu sejak perjalanan mereka ke Bali berakhir. Sejak saat itu pula, ada sesuatu yang berubah pada istrinya. Perubahan yang awalnya dianggap sepele kini semakin jelas terlihat. Jasmine menjadi jauh lebih pendiam. Ia masih menjalankan pekerjaannya seperti biasa, masih menghadiri rapat, masih menyelesaikan berbagai urusan perusahaan, tetapi sorot matanya seolah kehilangan cahaya yang dulu selalu ada.Nafsu makannya pun ikut berubah. Perempuan yang biasanya mampu menghabiskan seporsi makanan kini hanya menyentuh beberapa suap sebelum meletakkan se
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: 216. Ratna ketakutanUap dari kopi panas mengepul, di temani dengan sepiring pisang goreng yang di sajikan untuk Shen. Wanita itu kini sudah memakai pakaian yang lebih bersih, dengan wajah yang sedikit tenang dan rileks dari sebelumnya. Tubuhnya nampak kurus, dari beberapa Minggu lalu saat mengunjungi panti asuhan tersebut. Mereka duduk di halaman teras bangunan itu. "Isi dulu perut ibu dengan nyaman." tutur beliau pemilik panti asuhan. Shen tersenyum samar, bentuk kasih Tuhan yang benar-benar luar biasa padanya dengan mengirimkan orang sebaik ibu panti asuhan. "Terima kasih ya Bu, sudah mau menerima saya kembali." Perempuan itu tersenyum lembut. "Kami selalu membuka pintu untuk siapapun, termasuk Ibu. Sebab, anak ibu juga dulu pernah kami rawat di sini." Shen mengangguk, ia jadi teringat dengan putranya. Entahlah, sekarang bagaimana dirinya akan memulai semuanya? apakah ia akan melanjutkan lagi pencarian putranya atau membiarkan tubuhnya tenang lebih dulu. "Untuk masalah putra ibu, sebaikny
Last Updated: 2026-07-27
Chapter: 215. Kabur? berani sekali dia!Dug.Dug.Dug.Suara langkah kaki Shen berpacu dengan detak jantungnya sendiri. Kakinya terus berlari menyusuri jalan setapak yang dipenuhi ilalang tinggi, sementara napasnya semakin tidak beraturan. Udara malam yang dingin menusuk hingga ke paru-parunya, tetapi sama sekali tidak berani memperlambat langkah. Yang ada di dalam kepalanya hanya cara agar bisa menjauh dari rumah tua itu. Sebab, jika Damar menyadari dirinya menghilang dan Ratna kembali malam ini, kemungkinan besar mereka akan mengejarnya. Tubuh Shen langsung bergidik hanya membayangkan. Kakinya terus berlari meski telapaknya mulai terasa nyeri. Sandal tipis yang dikenakannya berkali-kali tersangkut akar pohon dan bebatuan kecil. Beberapa kali hampir terjatuh, tetapi kedua tangannya dengan sigap menahan tubuhnya agar tetap berdiri."Haah...""Haah..."Napasnya semakin tersengal. Dadanya terasa seperti diremas dari dalam. Namun Shen tetap memaksa dirinya bergerak, bukan saatnya untuk menyerah. Jalan setapak itu akhirnya b
Last Updated: 2026-07-26
Chapter: 214. Akhirnya Shen berhasil kabur, karena bantuan seseorangMalam turun perlahan menggantikan sisa cahaya senja. Gudang itu kembali diselimuti kesunyian yang selama berhari-hari menjadi teman Shen. Namun kali ini, kesunyian itu terasa berbeda. Ancaman Ratna yang diucapkan beberapa jam lalu terus terngiang di kepalanya, membuat setiap detik berlalu dengan jauh lebih lambat. "Kau akan menyesali keputusanmu." Shen memejamkan mata sesaat, tidak tahu apa yang akan dilakukan Ratna. Tetapi ada sesuatu yang membuatnya yakin, jika ia tetap berada di tempat ini sampai esok pagi, kemungkinan untuk keluar hidup-hidup akan semakin kecil. Perempuan itu menarik napas panjang, berusaha menenangkan gemuruh di dalam dadanya. Kepalanya menggeleng kuat, mencoba untuk tidak panik. Karena semakin panik, akan besar kemungkinan ia melakukan kesalahan yang fatal. Beberapa menit kemudian, suara pintu kembali terdengar, dadanya sedikit merasa lega, karena yang muncul bukan mantan ibu mertua dan mantan kakak iparnya, melainkan Damar yang masuk sambil membawa sebot
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: 213. Merindukan Jasmien."Harusnya kau tahu Hagia, aku begini untuk mu." suaranya serak, napasnya memburu di balik helm. Tangannya meremas setang motor hingga gemetar menahan emosi yang mendesak keluar. Rahangnya mengeras. Suara mesin yang menderu keras tak mampu meredam bising di kepalanya. Entah mengapa, kata-kata Hagia membuatnya merasa wanita itu tak pernah percaya padanya, seakan-akan meremehkan usahanya selama ini. Angin sore yang dingin menampar wajahnya, tapi panas di dadanya jauh lebih membakar. Raiden menatap lurus ke depan, membiarkan roda dua itu membawanya pulang pada sunyi yang menanti di rumah. Deru kasar mesin motor tuanya akhirnya terbatuk, lalu mati tepat di teras semen yang retak-retak. Pria tersebut tidak langsung turun. Ia bersandar pada setang besi yang mulai berkarat, membiarkan sisa getaran mesin tua itu merambat ke lengannya yang tegang. Kendaraan usang adalah saksi bisu betapa keras ia memeras keringat, namun hari ini, semua perjuangan itu terasa seperti lelucon besar. Rasa
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: 212. Raiden tega?"Raiden.." suaranya pelan, hampir tak terdengar. Namun, pria itu tetap menoleh. "Kau sejak tadi sibuk dengan ponsel mu." Tak tahan, akhirnya Hagia mengeluarkan kegelisahannya. Rasa tak nyaman ketika pria itu lebih asik dengan ponselnya sejak beberapa jam yang lalu. Mengerti akan maksud Hagia, tanganya tergerak menyimpan ponsel di dalam saku jaket. Lalu kembali fokus kepada wanita itu. "Maaf, aku hanya sedang mengurus suatu hal." "Pernikahan kita?" "Apalagi." Harusnya bukan itu jawaban yang Hagia pinta. Satu kata, yang entah mengapa mampu membuat dadanya terasa di remas, sedikit tapi sakit. "Bukankah aku sudah bilang, kita tunda saja dulu." Justru Raiden mengerutkan alisnya, menatap Hagia dengan tatapan yang sulit di jelaskan."Pakai helm mu, kita pulang aku harus kembali kerja." Semilir angin sore menerpa wajahnya yang menutupi kekecewaan, dari mulai jawaban Raiden yang acuh, juga perhatian kecil yang tak sama lagi. Biasanya pemuda itu selalu memasangkan helm di kepala
Last Updated: 2026-07-23