Home / Pendekar / PENDEKAR PENGUASA AGUNG / 72 Perpisahan dengan Mu Qing

Share

72 Perpisahan dengan Mu Qing

Author: Less22
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-20 17:40:20

Sinar matahari pagi membias hangat di atas dermaga penerbangan batu Akademi Kerajaan. Kapal udara spiritual berukir Teratai Es milik Kediaman Mu mengapung megah di udara, memancarkan pendaran Qi keperakan yang siap membelah awan menuju arah utara.

Di pelataran dermaga, Tetua Utama Feng Tian berdiri didampingi oleh beberapa tetua senior akademi dan Patriark Mu Zhen. Ratusan murid elit berbaris rapi di sepanjang pagar batu, memberikan penghormatan tertinggi bagi pemuda yang telah mengukir sejarah
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   77 Melangkah ke Benua Tengah (Puncak Awal)

    Langit di atas Pegunungan Awan Merah yang dulunya diselimuti kabut darah kini berubah terang benderang. Sisa-sisa badai Qi yang tercipta dari terbukanya makam purba perlahan menyusut, meninggalkan keheningan yang amat sakral di sepanjang lembah cadas. Di tepi tebing tertinggi yang menghadap lurus ke arah utara, Jing Huan berdiri tegap. Jubah biru tuanya berkibar gagah ditiup angin kencang perbatasan Benua Tengah. Di punggungnya, Pedang Dewa Abadi yang baru menyatu memancarkan pendaran cahaya keemasan bercampur perak yang teramat tipis, namun memancarkan aura penindasan yang sanggup membekukan niat membunuh siapa pun di sekitarnya. Kulitnya yang kini memancarkan pendaran keemasan halus membuktikan keberhasilan pembaptisan Tubuh Pedang Abadi. Di dalam dadanya, danau spiritus Ranah Pondasi Spiritual Tingkat 6 bergolak tenang namun begitu padat, siap meledak bagaikan gunung berapi setiap kali ia memanggil energi Meridian Dewa. Di bawah tebing, membentang daratan tak bertepi yang begit

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   76 Warisan Sejati & Pedang Dewa Abadi

    Langkah kaki Jing Huan bergaung pelan di atas lantai giok keemasan yang melapisi Aula Inti Makam Dewa Pedang Abadi. Di kiri dan kanan lorong raksasa ini, berdiri belasan patung batu raksasa berwujud para pendekar pedang purba, seolah tunduk memberi penghormatan kepada siapa pun yang melintasi jalur suci tersebut. Di ujung aula, di atas altar batu pualam melayang yang dikelilingi oleh kolam cairan darah keemasan membara, mengapung sebuah pedang pusaka yang diselimuti oleh petir keemasan dan aura es murni. Pedang itu memancarkan keberadaan yang begitu agung, menindas, dan membuat seluruh struktur makam bergetar halus. Itulah Pedang Dewa Abadi—senjata asli milik Dewa Pedang Abadi yang telah tertidur selama ribuan tahun. "Luar biasa..." bisik Jing Huan, matanya membelalak menatap pendaran keemasan murni yang memantul dari bilah pedang tersebut. “Hahaha! Akhirnya... aku kembali melihat wujud fisik senjataku!” gema suara Dewa Pedang Abadi bergetar hebat di dalam jiwa Jing Huan, sarat a

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   75 Makam Dewa Perang

    "Kaka Lu, lihat pakaiannya! Itu hanya jubah murid akademi kecil dari wilayah terpencil!" ujar salah satu murid dengan nada mengejek. "Dia pasti mengekor di belakang rombongan lain atau beruntung menemukan jalur aman!" Lu Chen melangkah maju dua tindak, menunjuk dada Jing Huan dengan ujung pedangnya yang berkilauan. "Bocah!" bentak Lu Chen dengan nada memerintah yang sangat tinggi. "Makam Dewa Pedang ini adalah warisan kuno Benua Tengah! Orang-orang dari benua bawah yang hina seperti dirimu tidak pantas menginjakkan kaki di sini! Serahkan seluruh Cincin Spasial dan kunci pembuka yang kau bawa, lalu berlututlah memohon agar aku tidak memotong kedua lenganmu!" Jing Huan menatap Lu Chen dan kedua rekannya dengan pandangan keemasan yang amat tenang—sebuah ketenangan yang justru menyimpan bahaya kematian paling dingin. "Warisan Benua Tengah?" panggil Jing Huan datar, suaranya tenang menembus deru angin lembah. "Gerbang ini telah tersegel selama ribuan tahun menunggu pemilik resminya. S

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   74 Tidak Ada Tempat Untuk Melarikan Diri

    Kapak baja milik Ketua Sekte Serigala Hitam hancur menjadi serbuk logam! Tebasan pedang Jing Huan meluncur tanpa hambatan, menembus zirah duri besi dan membelah tubuh ketua sekte tersebut menjadi dua bagian sebelum ia sempat melepaskan jeritan terakhirnya! "Ketua!" jerit dua Tetua Sekte Bayangan Hitam ketakutan setengah mati. Tanpa membuang waktu sedetik pun, kedua tetua itu memutar badan dan mencoba melarikan diri menggunakan azimat pelari cepat! Jing Huan mendarat di atas geladak kapal musuh kedua yang tersisa. Ia mengibaskan Pedang Jiwa Merah ke samping secara perlahan. "Di hadapan pedangku..." bisik Jing Huan dingin, "tidak ada tempat untuk melarikan diri." CSST! CSST! Dua garis cahaya es keemasan tipis melesat menembus kabut tebal, menyambar lurus menembus dada kedua tetua tersebut di udara. Tubuh mereka kaku seketika dan jatuh bebas menuju jurang perbatasan yang dalam. Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua menit, seluruh pasukan pengadang dari dua sekte musuh telah dilib

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   73 Perjalanan Menuju Pegunungan Awan Merah

    Awan abu-abu membentang rendah di atas Perbatasan Daratan Utara, wilayah liar yang memisahkan Kota Kerajaan dari wilayah selatan Benua Tengah. Di tempat ini, hukum kerajaan tak lagi berlaku. Yang ada hanyalah hukum rimba: yang kuat menindas yang lemah, dan bau darah senantiasa menyelimuti celah-celah tebing batu yang terjal. Kapal udara spiritual Kediaman Mu bergerak perlahan menembus kabut tebal. Di atas anjungan kapal, Jing Huan duduk bersila dengan mata terpejam. BZZZZZZZT! Pendaran cahaya keemasan bercampur merah darah berputar cepat di sekeliling tubuhnya. Saluran Meridian Dewa di dalam dadanya memompa energi spiritual dalam jumlah raksasa, sementara Batu Hitam meleburkan setiap sisa kristal energi yang tersimpan di dalam Cincin Spasialnya. CRACK! Sebuah getaran tak kasatmata meledak pelan dari tubuh Jing Huan. Udara di atas geladak mendadak membeku seketika, lalu mengepulkan uap panas keemasan! Jing Huan membuka matanya perlahan. Pupil matanya memancarkan kilatan emas yan

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   72 Perpisahan dengan Mu Qing

    Sinar matahari pagi membias hangat di atas dermaga penerbangan batu Akademi Kerajaan. Kapal udara spiritual berukir Teratai Es milik Kediaman Mu mengapung megah di udara, memancarkan pendaran Qi keperakan yang siap membelah awan menuju arah utara.Di pelataran dermaga, Tetua Utama Feng Tian berdiri didampingi oleh beberapa tetua senior akademi dan Patriark Mu Zhen. Ratusan murid elit berbaris rapi di sepanjang pagar batu, memberikan penghormatan tertinggi bagi pemuda yang telah mengukir sejarah baru di Kota Kerajaan.Jing Huan berdiri tegap mengenakan jubah berkelana biru tua dengan Pedang Jiwa Merah tersarung mantap di punggungnya. Di hadapannya, Mu Qing berdiri anggun mengenakan gaun perak bersulamkan teratai. Namun, kali ini Mu Qing tidak membawa tas perjalanan di punggungnya.Jing Huan menatap Mu Qing dengan mata keemasan yang tenang, menyandarkan pandangannya pada raut wajah wanita yang selalu berdiri di sisinya selama pertumpahan darah melawan Keluarga Zhao."Nona Mu..." panggil

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status