/ Romansa / PEREMPUAN DI BALIK LENTERA / BAB 2 - Perempuan yang Tahu Jarak

공유

BAB 2 - Perempuan yang Tahu Jarak

작가: Y. Rs
last update 최신 업데이트: 2025-12-22 20:42:36

Dapur adalah tempat paling jujur di rumah bangsawan.

Di sana, suara tidak perlu disaring, wajah tidak perlu dirapikan, dan kebenaran sering muncul di sela asap tungku. Ia kembali ke sana setelah pertemuan singkat di pendapa, menggulung lengan bajunya, lalu mengambil alih tugas yang ditinggalkan pelayan lain. Tidak ada yang menanyakan ke mana ia dipanggil. Mereka tahu—dan justru karena tahu, mereka memilih menunggu.

“Pelayan baru,” bisik seseorang akhirnya, nyaris tanpa menoleh. “Kau melihatnya?”

Ia menakar jarak antara dirinya dan tempayan air, lalu menjawab seperlunya. “Aku melihat rumah ini bergerak.”

Beberapa tawa kecil muncul. Bukan tawa senang—lebih seperti tawa yang menyembunyikan gugup. Sejak tuan muda kembali, ritme kerja berubah. Perintah datang lebih teratur. Pengawasan lebih rapat. Kesalahan kecil tak lagi ditoleransi.

Ia tahu, perubahan selalu membawa korban.

Seorang pelayan perempuan di sudut dapur menjatuhkan mangkuk. Suaranya nyaring, memantul ke dinding. Seketika, dapur menjadi senyap. Kepala abdi melirik tajam, lalu menunjuk lantai yang basah.

“Bersihkan,” katanya pendek.

Pelayan itu menunduk terlalu cepat—tanda panik. Tangannya gemetar, kain pel terlepas, air semakin menyebar. Kesalahan kecil berlipat karena tergesa. Ia memperhatikan semua itu tanpa ikut campur. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena ia tahu: campur tangan sering dibaca sebagai pembangkangan.

Ia membantu setelah perintah kedua keluar—saat bantuan tak lagi terlihat sebagai inisiatif, melainkan kepatuhan.

Selesai.

Ia kembali ke posisinya, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Namun di kepalanya, catatan kecil ditambahkan: di rumah ini, ketenangan menyelamatkan lebih banyak daripada niat baik.

Menjelang siang, dapur menerima perintah tambahan. Ruang-ruang yang lama tak dipakai harus dibersihkan. Rak-rak tua, lemari berdebu, lantai yang jarang diinjak. Tugas-tugas yang tidak menarik perhatian, tapi menyita waktu.

Ia memilih ruang yang paling sunyi.

Di sana, bau kayu lama bercampur kertas. Cahaya masuk dari jendela kecil, membelah debu yang melayang. Ia membersihkan perlahan, membaca keadaan, mengenali batas. Ada dokumen yang tak boleh disentuh, ada benda yang cukup dilap, ada sudut yang sebaiknya dibiarkan.

Ia belajar tanpa bertanya. Belajar dalam diam—menyesuaikan ritme yang sering tercipta dalam gerak tubuh manusia.

Belajar dari bekas sidik jari di meja. Dari lipatan kain yang menunjukkan kebiasaan. Dari jarak kursi terhadap jendela. Hal-hal kecil yang tidak pernah diajarkan, tapi menentukan apakah seseorang akan selamat di rumah seperti ini.

Langkah kaki terdengar di luar. Ia menghentikan gerakannya—bukan karena takut, melainkan karena waspada. Pintu terbuka setengah. Kepala abdi melongok, memastikan tugas berjalan. Tidak ada teguran. Tidak ada pujian. Pintu menutup kembali.

Ia melanjutkan.

Sore mendekat. Pekerjaan hampir selesai. Ia membasuh tangannya, merapikan pakaian, lalu berjalan melewati koridor panjang. Di kejauhan, ia melihat bayangan orang-orang berkumpul. Suara rendah. Bahasa terukur. Pusat rumah itu ada di sana—namun ia memilih jalur lain.

Ia tahu jarak. Jarak yang membuatnya aman.

Dari neneknya, ia belajar bahwa jarak bukan selalu penolakan. Kadang, jarak adalah cara paling sopan untuk bertahan hidup. Menjaga diri agar tidak terseret, agar tidak terlihat, agar tidak dicatat sebagai masalah.

Malam turun. Lampu-lampu dinyalakan. Rumah kembali tenang—tenang yang palsu, karena setiap orang menyimpan kecemasan masing-masing. Ia menutup hari dengan hal yang sama seperti ia membukanya: bekerja, mengamati, dan tidak berharap.

Di rumah ini, ia bukan siapa-siapa.

Dan justru karena itu, ia berniat tetap ada.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 29 - Harga Dari Diam

    Sementara itu, di sayap lain rumah besar, diam yang sama sedang dipikul dengan cara yang berbeda.Ada keputusan yang tidak diambil karena ragu, melainkan karena terlalu banyak hal yang harus dilindungi sekaligus.Dan di rumah besar itu, tuan muda memahami satu hal sejak lama: setiap langkah yang tampak sederhana bisa berubah menjadi alasan untuk menghancurkan seseorang—terutama mereka yang tidak memiliki nama besar sebagai pelindung.Pagi itu, ia berdiri di beranda samping, memandangi halaman yang mulai dipenuhi aktivitas. Segalanya tampak berjalan seperti biasa. Terlalu biasa, hingga justru terasa mencurigakan.Ia tahu, perintah pemindahan tugas telah dijalankan. Ia juga tahu, keputusan itu tidak sepenuhnya berasal darinya.Beberapa hari terakhir, tekanan datang tanpa harus diucapkan keras-keras. Dari tatapan para bangsawan yang lebih tua. Dari percakapan singkat yang berhenti ketika ia mendekat. Dari ka

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 28 - Kesetiaan yang Diuji

    Ada kesepian yang tidak datang karena ditinggalkan secara terang-terangan, melainkan karena orang-orang perlahan memilih menjauh—bukan karena membenci, melainkan karena takut ikut tenggelam dalam sesuatu yang belum tentu bisa mereka pahami. Ia merasakannya sejak pagi itu.Bukan dari satu sikap mencolok, bukan pula dari kata-kata kasar atau perintah terbuka, melainkan dari perubahan kecil yang terlalu seragam untuk dianggap kebetulan. Tatapan yang dulu sekadar lewat kini cepat dialihkan. Percakapan yang biasanya terhenti karena kesibukan, kini berhenti sebelum sempat dimulai.Seolah keberadaannya mulai dianggap sebagai sesuatu yang perlu dihindari dengan sopan. Ia tidak menanyakan apa pun.Pengalamannya mengajarkan bahwa pertanyaan sering kali mempercepat kehancuran. Terlalu banyak jawaban yang justru membuka pintu pada prasangka baru. Maka ia memilih diam, seperti yang selalu ia lakukan ketika dunia mulai menguji b

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 27 - Yang Tidak Diucapkan

    Jarak tidak selalu diciptakan dengan langkah mundur. Kadang ia lahir dari ketepatan—dari pilihan untuk tidak berhenti, dari keputusan untuk tidak menoleh, dari kesadaran bahwa terlalu dekat justru akan membuat sesuatu runtuh sebelum waktunya. Dan di rumah besar ini, jarak yang paling berbahaya adalah yang tidak pernah diumumkan. Ia merasakannya sejak pagi itu. Bukan dari satu kejadian besar, melainkan dari rangkaian hal kecil yang terlalu rapi untuk dianggap kebetulan. Jam kerja yang sedikit bergeser. Jalur tugas yang disusun ulang. Lorong-lorong yang sebelumnya bersilangan kini seolah dihindari tanpa instruksi. Tuan muda tidak lagi melintasi lorong samping pada waktu yang sama. Ia mencatatnya tanpa ekspresi. Tidak ada perintah. Tidak ada larangan. Tidak pula sikap dingin yang terang-terangan. Justru sebaliknya—semuanya terlalu tenang. Terlalu terkendali. Seperti jarak yan

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 25 - Retakan yang Tidak Terlihat

    Perubahan tidak datang sebagai perintah. Ia datang sebagai keterlambatan kecil—satu tugas yang tidak lagi diberikan pada orang yang sama. Satu nama yang tak lagi dipanggil dalam pembagian kerja pagi. Satu jalur yang tiba-tiba ditutup tanpa alasan yang diumumkan, seolah tak pernah ada sebelumnya. Ia memperhatikan semua itu dari tempatnya berdiri. Bukan karena ingin tahu, melainkan karena kebiasaan hidup mengajarkannya membaca gerak yang tidak diucapkan. Di rumah besar ini, orang jarang disingkirkan dengan suara keras. Mereka dipindahkan perlahan, dipersempit ruang geraknya, lalu dibiarkan saling menabrak hingga lelah sendiri—tanpa pernah tahu siapa yang memulai. Pagi itu, ia kembali ke jalur kerja lamanya—tanpa pengumuman, tanpa serah terima resmi. Ia hanya menerima daftar tugas yang diletakkan di mejanya, seperti biasa. Tidak ada cap khusus. Tidak ada penjelasan tambahan. Hanya kepastian yang sunyi. Ia menjalankan tugas itu dengan tenang. Tangannya bergerak pasti, seolah tidak

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 24 - Titik yang Tidak Diumumkan

    Kain itu ditemukan tanpa suara. Bukan di pagi hari yang ramai, bukan pula saat orang-orang berkumpul. Ia ditemukan menjelang subuh, ketika gudang masih dingin dan cahaya lentera belum sepenuhnya digantikan matahari. Seorang pelayan tingkat bawah menemukannya terselip rapi di rak paling dalam—dibungkus seperti seharusnya, dicatat dengan nomor yang semestinya. Tidak rusak. Tidak hilang. Tidak berpindah tangan. Berita itu tidak diumumkan. Tidak ada lonceng. Tidak ada pemanggilan umum. Hanya bisik yang berpindah dari satu lorong ke lorong lain, pelan dan berhati-hati, seolah setiap kata takut terdengar terlalu jelas. Namun ia tahu—bahkan sebelum seseorang memberitahunya. Ia tahu dari cara orang-orang mulai menarik kembali kata-kata mereka. Dari tatapan yang kini lebih singkat, lebih berhitung. Dari langkah yang sedikit lebih menjaga jarak, seolah keberadaannya kini bukan lagi tempat yang aman untuk diseret ke dalam gosip. Ia tetap bekerja seperti biasa. Tidak ada s

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 26 - Garis yang Mulai Terlihat

    Perubahan itu tidak datang dengan suara. Ia datang dalam bentuk jeda—dalam langkah yang tertahan sepersekian detik, dalam tatapan yang terlalu cepat dialihkan, dalam bisik yang dipotong tepat saat ia melintas. Rumah besar itu masih sama, namun, cara orang-orang memandanginya tidak lagi seragam. Ia merasakannya sejak pagi. Saat baki-baki perak disusun ulang tanpa penjelasan. Saat jalur kerjanya bergeser, sedikit demi sedikit, mendekati ruang yang selama ini hanya dilewati mereka yang dipercaya. Tidak ada perintah tertulis. Tidak ada pemanggilan resmi. Hanya perubahan kecil yang disengaja. Ia menerima semuanya tanpa menunjukkan apa pun. Tidak bertanya. Tidak menolak. Pengalaman mengajarkannya bahwa rumah sebesar ini jarang memberi sesuatu tanpa maksud, dan jarang pula menariknya kembali dengan terang-terangan. Kepala abdi berdiri di ujung lorong saat ia lewat. Pandangan mereka bertemu sejenak. Tidak ada anggukan. Tidak ada isyarat tangan. Namun, goresan kecil di sudut da

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status