Ia belajar paling banyak saat tidak melakukan apa pun selain mendengar.Di rumah bangsawan itu, suara sering kali lebih jujur daripada wajah. Para bangsawan berbicara seolah para pelayan adalah perabot—ada, tapi tidak perlu diingat. Mereka menurunkan nada, menjaga senyum, namun kata-kata tetap mengalir tanpa saringan. Di sanalah ia berdiri, dengan kepala sedikit tertunduk, tangan sibuk, dan pikiran terbuka.Ia tidak mencatat nama. Nama tidak penting baginya. Yang ia simpan adalah cara orang berbicara, jarak antar kata, dan perubahan nada yang nyaris tak terlihat.“Susunan duduknya harus diubah,” kata seorang pria dengan suara rendah namun tegas. “Keluarga timur terlalu dekat dengan pintu.”“Karena asal-usul mereka,” sahut yang lain, disertai senyum tipis yang tidak mencapai mata.Ia mengingat kalimat itu. Bukan sebagai gosip, melainkan sebagai petunjuk. Di rumah ini, asal-usul adalah sesuatu yang selalu hadir—meski jarang disebut terang-terangan. Jarak duduk, posisi berdiri, bahkan ar
Last Updated : 2025-12-22 Read more