MasukMalam itu datang tanpa upacara. Tidak ada peristiwa besar. Tidak ada suara gaduh. Tidak ada perubahan yang bisa ditunjuk dan disebut sebagai awal dari sesuatu. Namun, justru itulah yang membuatnya terasa berbeda—karena segala sesuatu berjalan terlalu rapi, seolah setiap orang telah sepakat untuk tidak mengusik lapisan tipis yang mulai terbentuk di permukaan istana. Ia menyelesaikan tugas malamnya lebih cepat dari biasanya. Ruang-ruang yang dilewatinya terasa lengang, hanya suara langkah dan desau api lentera yang menemani. Di lorong barat, angin malam masuk melalui jendela-jendela tinggi, membawa aroma batu basah dan dedaunan yang baru disiram. Ia menahan langkah sejenak. Ada perasaan asing yang mengikutinya sejak sore—bukan takut, bukan pula harap. Lebih seperti kesadaran bahwa sesuatu sedang bergerak perlahan di sekitarnya, namun belum menyentuh kulitnya. Seperti arus yang belum menyeret, tapi sudah cukup kuat untuk membuat air bergetar. Ia melanjutkan langkah. Di hala
Ada hari-hari ketika keheningan tidak lagi terasa kosong. Hari itu adalah salah satunya. Sejak pagi, istana bergerak dengan ketertiban yang sama seperti biasanya, namun di balik keteraturan itu, ia merasakan lapisan lain yang mulai terbentuk—seperti udara yang sedikit lebih padat, membuat setiap tarikan napas terasa disadari. Tidak ada perubahan aturan. Tidak ada perintah baru. Tidak ada pengumuman yang memancing perhatian. Namun, cara orang-orang menahan pandangannya telah berubah. Bukan menghindar. Bukan menilai terang-terangan. Lebih seperti kehati-hatian yang baru dipelajari. Ia melewati ruang-ruang kerja dengan langkah terukur. Setiap sapaan dibalas secukupnya, setiap tugas diselesaikan tanpa tambahan. Ia tidak ingin terlihat mencolok, dan untuk sementara, istana seolah membalas keinginannya itu—membiarkannya berada di tengah tanpa diseret ke tepi mana pun. Namun, ketenangan semacam itu jarang bertahan lama. Di ruang persiapan, kepala pelayan mengatur ulang jadwal sore. Su
Hari itu dimulai dengan ketenangan yang terasa terlalu rapi. Langit cerah, angin bergerak pelan, dan halaman dalam istana tampak bersih dari lalu lalang yang biasanya menyisakan suara gesekan sepatu atau perintah singkat. Segalanya berjalan seperti jam yang dirawat terlalu baik—tepat waktu, tak berbunyi, dan nyaris tanpa kesalahan. Ia tidak mempercayai hari seperti itu. Sejak pagi, ada perasaan samar yang menempel di dadanya. Bukan firasat buruk, melainkan kewaspadaan yang datang dari kebiasaan lama. Ia sudah terlalu sering belajar bahwa hari-hari yang terlihat paling tenang justru menyimpan pergeseran kecil yang tidak bisa ditarik kembali. Ia menyelesaikan tugas pertamanya tanpa kendala. Jalur yang ia lewati tetap terang, pintu-pintu terbuka sesuai jadwal, dan orang-orang berbicara seperlunya. Tidak ada yang menanyakan lengannya. Tidak ada yang menghindari topik tertentu. Seolah insiden itu memang telah terkubur rapi di bawah lapisan ketertiban. Namun, tubuhnya tidak sepenuhnya
Beberapa hari berlalu tanpa kejadian yang bisa disebut ganjil. Tidak ada suara benturan. Tidak ada perintah mendadak. Tidak ada perubahan yang cukup besar untuk dijadikan bahan bisik-bisik. Istana berjalan seperti mesin yang baru saja dilumasi—halus, senyap, dan terlalu rapi. Dan justru itulah yang membuatnya merasa tidak tenang. Ia bangun dengan tubuh yang sudah kembali patuh pada kebiasaan lama. Lengan kanannya tidak lagi dibalut perban tebal, hanya kain tipis yang lebih berfungsi sebagai pengingat daripada perlindungan. Kulit di sana masih sensitif, memerah jika tergesek terlalu keras, namun tidak lagi menyakitkan. Tubuhnya bekerja sebagaimana mestinya, seolah insiden itu hanya catatan kecil yang sudah ditutup. Namun ia tahu—tubuh mungkin patuh, tetapi hari tidak lagi sama. Ia menyadarinya sejak pembagian tugas pagi. Namanya disebut tanpa tambahan. Tidak ada jalur sempit. Tidak ada lorong tertutup. Tidak ada lentera. Ia menerima rute baru—lebih terbuka, lebih terang, lebih
Pagi datang dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya. Di ruang persiapan, aktivitas berjalan seperti biasa. Nama-nama disebut, tugas dibagi, langkah-langkah diatur rapi. Ia menerima bagiannya tanpa catatan tambahan. Tidak ada yang menyinggung insiden. Tidak ada yang bertanya dengan suara keras. Seolah lentera itu tidak pernah jatuh. Seolah api tidak pernah menyentuh kulit. Ia bersyukur pada ketertiban itu. Dan pada saat yang sama, merasa asing di dalamnya. Saat ia merapikan ikatan kain di lengannya, sebuah suara kecil terdengar dari samping. “Kau… benar-benar sudah boleh bekerja?” Ia menoleh. Seorang pelayan perempuan yang jarang berbicara dengannya berdiri canggung, membawa baki kosong. Tatapannya singgah sekilas pada lengan bajunya yang sudah diturunkan, lalu cepat dialihkan, seakan takut dianggap terlalu ingin tahu. “Sudah,” jawabnya. “Tidak parah.” Pelayan itu ragu sejenak, lalu merogoh sakunya dan menyelipkan sesuatu ke atas meja—beberapa potong manisan kering, dib
Ruang perawatan kecil itu tidak dibuat untuk percakapan panjang. Cahaya masuk dari jendela sempit, cukup untuk melihat, tidak cukup untuk menghangatkan. Bau ramuan tipis bercampur kain bersih memenuhi udara, menciptakan kesunyian yang terasa resmi—seolah ruangan ini memang disiapkan untuk hal-hal yang tidak perlu diketahui banyak orang. Ia duduk di bangku kayu, lengan kanannya disangga kain. Kulitnya masih memerah, panas yang tersisa berdenyut pelan. Tidak menyakitkan, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa tubuhnya telah melewati batas hari ini. Tabib bekerja dengan tenang. Gerakannya terlatih, tanpa banyak bicara. Ia membersihkan luka dengan hati-hati, mengoleskan ramuan dingin yang membuatnya menarik napas singkat. Ia menahan reaksi itu. Tuan muda berdiri tidak jauh. Terlalu dekat untuk disebut kebetulan, terlalu jauh untuk disebut mendampingi. Ia tidak ikut campur, tidak bertanya berlebihan. Namun, kehadirannya terasa—seperti bayangan yang tidak bergerak, tapi jelas ada. “







