Home / Romansa / PEREMPUAN DI BALIK LENTERA / BAB 31 - Setelah yang Tidak Diucapkan

Share

BAB 31 - Setelah yang Tidak Diucapkan

Author: Y. Rs
last update Last Updated: 2026-01-05 20:41:07

Pagi datang tanpa perubahan yang berarti.

Langit di atas kediaman utama tetap kelabu pucat, seolah menahan cahaya agar tidak jatuh sepenuhnya. Udara masih dingin, dan rumah besar itu kembali bergerak dalam keteraturan yang sama—seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Namun ia tahu, sesuatu telah bergeser, sedikit.

Ia bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena tugas, melainkan karena pikirannya tidak benar-benar beristirahat. Tubuhnya mungkin diam semalam, tetapi ingatan bekerja dengan cara yang sunyi dan melelahkan.

Ia duduk sejenak di tepi ranjang sempitnya, merapikan napas sebelum berdiri. Tidak ada gelisah berlebihan. Tidak pula harapan yang tumbuh tiba-tiba. Hanya kesadaran yang lebih tajam—bahwa setelah kemarin, ia tidak lagi berada di titik yang sama.

Ia berjalan menyusuri lorong samping seperti biasa. Langkahnya terukur, punggungnya tegak, wajahnya tenang. Namun pagi itu, beberapa pasang mata kembali memperhatikannya dengan cara yang berbeda.

Bukan tajam.

Bukan terang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 35 - Arah yang Tidak Lagi Netral

    Pagi datang dengan ritme yang nyaris sama seperti kemarin. Lonceng dapur berbunyi pada waktu yang sama, langkah para pelayan berirama di lorong-lorong panjang, dan udara rumah besar itu tetap dingin oleh keteraturan yang tidak pernah benar-benar ramah. Namun bagi ia, pagi itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena sesuatu yang terjadi. Melainkan karena sesuatu yang tidak lagi terjadi. Ia berdiri di titik biasa menunggu arahan, namun namanya tidak dipanggil pertama. Ia menunggu dengan sikap yang sama—tangan terlipat rapi, kepala sedikit menunduk, punggung tegak tanpa menantang. Ia dipanggil belakangan. Ketika akhirnya mendapat tugas, daftar yang diberikan tidak salah. Tidak berlebihan. Bahkan tampak masuk akal. Namun, urutannya diubah. Jalur kerjanya dipatahkan menjadi beberapa bagian kecil, seolah keberadaannya perlu terus berpindah agar tidak menetap terlalu lama di satu ruang. Ia menerima tanpa bertanya. Ia tahu, rumah ini jarang menghukum secara langsung. Ia lebih suka me

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 34 - Keputusan yang Tidak Menyebut Nama

    Keputusan itu datang tanpa suara. Ia tidak diumumkan dengan lonceng atau perintah lisan. Tidak pula dibacakan di hadapan para pelayan seperti keputusan-keputusan lain yang biasa disampaikan dengan nada resmi dan jarak yang jelas. Keputusan itu hanya hadir sebagai perubahan kecil—hampir tak terlihat—dalam daftar tugas yang ditempel di papan kayu dekat dapur belakang, di antara catatan minyak lampu dan jadwal pengiriman bahan makanan. Ia melihatnya pagi itu, sepintas, saat langkahnya melambat melewati lorong sempit yang masih menyisakan bau kayu lembap. Awalnya ia mengira matanya keliru membaca, atau mungkin daftar itu diperbarui tanpa maksud tertentu. Namun, ketika ia mendekat dan membaca ulang, dadanya mengeras perlahan. Namanya masih ada di sana. Namun, posisinya bergeser. Tidak turun secara terang-terangan, tidak pula dinaikkan sebagai bentuk penghargaan. Hanya dipindahkan ke pinggir, ke bagian yang tidak lagi bersentuhan dengan hal-hal yang memerlukan kepercayaan atau kehadira

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 33 - Jarak yang Dijaga (2)

    Hari-hari setelah itu berjalan seperti air yang mengalir di bawah permukaan—tenang di atas, namun menyimpan arus yang sulit ditebak.Ia kembali pada rutinitasnya. Bangun sebelum cahaya menyentuh jendela, mengenakan pakaian kerja yang sama, menyusuri lorong-lorong yang telah dihafal kakinya. Namun kini, setiap langkah terasa sedikit lebih diperhatikan. Bukan oleh satu pasang mata saja, melainkan oleh banyak kesadaran yang diam-diam mengamati.Pada suatu titik, ia berhenti di depan pintu ruang penyimpanan, menunggu pelayan lain keluar terlebih dahulu. Biasanya, hal itu tidak perlu. Namun kini, ada jeda yang tak terucap—keraguan singkat sebelum seseorang memilih untuk berjalan melewatinya atau memberi jalan.Seorang pelayan perempuan sempat membuka mulut, seolah hendak menyapa, namun menutupnya kembali. Ia menunduk cepat, lalu berlalu tanpa sepatah kata pun.Ia tidak merasa tersinggung. Namun, ia mencatatnya. Hal-hal kecil seperti itu tidak muncul tanpa sebab.Ia tahu, jarak sedang diaja

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 32 - Getar yang Tidak Diakui

    Pagi itu tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya di kediaman utama. Langit cerah, taman dirawat seperti biasa, dan pelayan bergerak mengikuti pola yang telah dihafal tubuh mereka sejak lama. Namun bagi ia, ada sesuatu yang terasa bergeser—bukan pada tempatnya, melainkan pada caranya dipandang. Ia menyadarinya sejak langkah pertama di lorong timur. Sapaan yang biasanya singkat kini menjadi terlalu kaku, atau justru terlalu berhati-hati. Beberapa pelayan menunduk lebih cepat dari seharusnya, sementara yang lain pura-pura sibuk agar tidak perlu berpapasan. Tidak ada sikap terbuka yang kasar, tetapi jarak itu nyata—terbentang halus, dingin, dan disengaja. Ia memahami itu sebagai kelanjutan dari keputusan beberapa waktu lalu. Pemindahan tugas tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa gema. Ia tetap berjalan dengan langkah terukur. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat. Ia tidak mengubah sikap. Jika dunia di sekitarnya sedang menilai, maka ia tidak akan memberi mereka baha

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 31 - Setelah yang Tidak Diucapkan

    Pagi datang tanpa perubahan yang berarti. Langit di atas kediaman utama tetap kelabu pucat, seolah menahan cahaya agar tidak jatuh sepenuhnya. Udara masih dingin, dan rumah besar itu kembali bergerak dalam keteraturan yang sama—seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Namun ia tahu, sesuatu telah bergeser, sedikit. Ia bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena tugas, melainkan karena pikirannya tidak benar-benar beristirahat. Tubuhnya mungkin diam semalam, tetapi ingatan bekerja dengan cara yang sunyi dan melelahkan. Ia duduk sejenak di tepi ranjang sempitnya, merapikan napas sebelum berdiri. Tidak ada gelisah berlebihan. Tidak pula harapan yang tumbuh tiba-tiba. Hanya kesadaran yang lebih tajam—bahwa setelah kemarin, ia tidak lagi berada di titik yang sama. Ia berjalan menyusuri lorong samping seperti biasa. Langkahnya terukur, punggungnya tegak, wajahnya tenang. Namun pagi itu, beberapa pasang mata kembali memperhatikannya dengan cara yang berbeda. Bukan tajam. Bukan terang

  • PEREMPUAN DI BALIK LENTERA   BAB 30 - Retakan yang Tak Disadari

    Tidak semua perubahan datang dengan suara. Sebagian hadir sebagai pengulangan—hari yang tampak sama, tugas yang kembali berjalan seperti biasa, dan wajah-wajah yang berusaha meyakinkan diri bahwa jarak telah cukup untuk meredam segalanya. Namun, bagi ia yang terbiasa membaca keadaan, ada sesuatu yang terasa berbeda pagi itu. Bukan pada perintah. Bukan pada nada bicara. Melainkan pada cara orang-orang berhenti sejenak sebelum menyebut namanya—lalu melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia memahami pola itu. Ketika seseorang tidak lagi dipinggirkan secara terang-terangan, melainkan mulai diperhatikan dengan terlalu hati-hati, itu berarti ia tidak lagi dianggap kecil. Dan kesadaran itu tidak membawa rasa lega. Ia hanya membawa satu pemahaman sunyi: bahwa ia sedang berdiri di ambang sesuatu yang tidak bisa ia tolak, dan tidak bisa ia sambut dengan gegabah. Di rumah besar ini, perhatian adalah mata uang yang mahal— dan sering kali harus dibayar dengan ketenangan. Tidak ada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status