Mag-log in
Pintu ruang keluarga terbuka. Akash membawa masuk Asha–anak IRT yang sedang membersihkan ruangan sebelah ke hadapan keluarga besarnya yang sedang membicarakan rencana pertunangannya dengan Amora–seorang anak pengusaha besar yang juga sahabat ayahnya.
Semua mata menatap tajam ke arah mereka, terutama pada tangan Akash yang memegang pergelangan tangan Asha dengan erat. Tatapan mata mereka seolah menelisik penuh tanya.
“Aku akan menikahi Asha.” Satu kalimat meluncur dari mulut Akash membuat suasana hening berubah jadi tegang. Aura dalam ruangan itu terasa mencekam, terutama untuk Asha yang tidak tahu apa-apa tapi malah harus masuk dalam situasi yang ia yakini akan berakhir menjadi masalah baru untuknya.
“Jangan bercanda Akash, bercandamu keterlaluan dan Ayah tidak suka.” Sandy–ayah Akash sontak berdiri dan bicara dengan nada tinggi.
“Aku gak bercanda, aku akan menikah dengan Asha, bukan dengan perempuan pilihan Ayah!”
Asha mengepalkan kedua tangannya di sisi badan, dia ingin berteriak, ingin menolak, tapi mulutnya kelu.
“Bisa-bisanya kamu lebih memilih anak pembantu dibanding Amora, apa lebihnya dia?” hardik Sandy. “Amora jauh lebih baik dari perempuan ini, dia cantik, terpelajar, dari keluarga terhormat dan sebentar lagi akan menjadi CFO di perusahaan ayahnya. Sementara perempuan ini? Dia hanya anak pembantu Akash!” teriakan Sandy menggema di ruang keluarga yang dihadiri banyak orang itu.
“Dia jauh lebih terhormat dibanding Amora gadis pilihan Ayah itu, aku lebih tahu siapa dia dan aku tidak menyukainya.” Akash kembali menjawab.
“Tapi gak dengan anak pembantu juga Kash, kamu mau mempermalukan keluarga besar kita?” tanya Maha–salah satu kayak Akash.
“Aku tidak perduli dengan nama baik keluarga ini, yang jelas kalau kalian ingin melihat aku menikah sekarang, maka yang akan aku nikahi adalah Asha.”
Kedua tangan Asha mengepal makin erat, dia ingin berteriak mengutarakan penolakan, tapi lagi-lagi suaranya tercekat. Berdiri di tengah keluarga besar Kurniawan seperti saat ini sudah membawa ketakutan tersendiri untuknya.
“Kamu mau menikah dengan Akash?” Cakra–orang yang paling dituakan di rumah itu membuka suara, dan pertanyaan itu ditujukan pada Asha.
Asha menggeleng pelan, dia tahu apapun jawaban yang dia berikan, dia akan tetap dihardik. Tapi dari hati kecilnya yang paling dalam, dia sangat ingin menolak.
“Saya tidak pantas untuk tuan muda,” jawab Asha pelan. Cakra mengangguk-anggukan kepalanya lalu beralih pandang pada Akash.
“Kamu serius dengan pilihanmu Kash?” Akash mengalihkan pandangan pada Kakeknya.
“Serius,” jawab Akash.
“Ayah tidak setuju, ayah tidak akan mengizinkanmu menikah dengan anak pembantu apapun alasannya,” ucap Sandy sambil berdiri.
“Tapi Asha anak yang baik Mas, meskipun dia hanya anak pembantu tapi dia juga telah menempuh pendidikan tinggi,” bela Amerta–Mama Akash.
“Tetap saja dia tidak setara dengan kita, dia cuma anak pembantu.” Sandy hampir meninggalkan ruangan itu saat Cakra kembali buka suara.
“Kalau ayahmu tidak mau menikahkan kalian, maka aku yang akan melakukannya.”
Langkah Sandy terhenti.
Tidak hanya satu dua orang yang kaget mendengar perkataan Cakra. Bahkan Akash sendiri pun ikut kaget. Sejujurnya apa yang dia sampaikan tadi hanya untuk menghindar dari rencana pertunangannya dengan Amora. Siapa sangka sekarang Cakra malah mewujudkannya.
“Kakek jangan bercanda! Kakek mau menikahkan cucu kakek dengan anak pembantu?” Arjuna–kakak pertama Akash sontak berdiri dan ikut buka suara setelah cukup lama jadi penonton.
Namun Cakra tidak menanggapinya.
“Bima!” Seorang laki-laki berperawakan tinggi besar dengan pakaian serba hitam masuk ke ruangan setelah mendengar Cakra memanggil. “Siapkan pernikahan Akash dan Asha, segera!” perintahnya.
“Baik Tuan,” jawab Bima.
“Kek, pikirin dulu baik-baik, kakek gak malu menikahkan Akash dengan Asha?” lagi-lagi penolakan kembali hadir dari anggota keluarga yang lain.
“Aku tidak akan mengubah keputusanku kecuali kalau Akash mau mundur, bagaimana Kash?” Akash bergeming, sesungguhnya bukan ini yang dia inginkan, tapi kenapa…
“Kalau kamu serius, Kakek akan menaikkan jabatanmu setelah kalian menikah.” Akash mengerjap.
Apa-apan itu? Selama bertahun-tahun ikut bekerja di perusahaan keluarga Akash tidak pernah punya kesempatan untuk naik jabatan, tapi kenapa setelah memutuskan akan menikahi Asha, tawaran naik pangkat itu malah hadir, seolah Cakra memang menunggu pernikahan ini terjadi.
“Bagaimana?” tanya Cakra sekali lagi.
“Aku akan menikahi Asha.”
Akash tidak menunggu lebih lama untuk menjawab. Tidak ada ruginya untuknya, dengan menikahi Asha dia bisa melepaskan diri dari rencana perjodohan dengan Amora dan sebagai bonusnya dia akan naik jabatan. Dimana letak kerugiannya?
“Tuan, saya tidak pantas untuk tuan muda, pernikahan ini tidak baik Tuan.” Cakra bangun dari duduknya dan berjalan mendekat pada Asha, menelisiknya dalam-dalam dan berkata…
“Saya yang memutuskan apakah kamu pantas untuk cucu saya atau tidak, dan menurut saya, kamu pantas.” Asha menggigit bibirnya ragu.
“Tapi Tuan,” kalimat Asha terpotong.
“Kalau kamu menolak, saya akan minta Amerta untuk memecat ibumu sekarang juga.” Asha mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk–kaget.
Apa lagi ini? Sudahlah dipaksa menikah, dan sekarang diancam akan dipecat? Hati Asha mencelos mendengar ancaman itu.
“Pilihanmu hanya menikah dengan cucuku atau keluar dari rumah keluarga Kurniawan.” Asha kembali menunduk.
Asha tidak punya pilihan lain, dia tidak mungkin meninggalkan rumah keluarga Kurniawan saat ini, dia baru saja mengetahui kalau ibunya memiliki hutang yang nilainya sangat besar pada keluarga ini. Kalau dia memutuskan keluar dari rumah ini, bagaimana caranya mereka akan membayar hutang?
“Bagaimana?”
“Baik Tuan, akan saya lakukan,” jawab Asha pasrah.
Tidak ada yang bisa diperbuatnya lagi.
Dia tahu apapun pilihannya dia tetap akan mendapat masalah. Baik dia menerima atau menolak pernikahan ini, dia tetap akan berurusan dengan keluarga ini, Asha hanya berharap dia tidak salah mengambil keputusan kali ini.
***
Kinasih–ibu Asha memukul pundak Asha berkali-kali saat keduanya ada di dalam kamar. Kinasih menyayangkan keputusan Asha yang menerima permintaan tuan besar mereka.
“Kenapa kamu terima? Kita akan jadi musuh keluarga ini nantinya Sha.” Puas memukul pundak anaknya yang sedari tadi diam, kali ini Kinasih menepuk-nepuk dadanya. “Kamu tahu bagaimana keluarga ini Sha, kita akan dikira macam-macam Nak, astagfirullah Sha.”
Kinasih tidak tahu harus berkata apa lagi.
Dia tahu Asha tidak punya banyak pilihan saat itu, tapi Kinasih lebih memilih untuk melepaskan pekerjaannya dibanding harus menyerahkan Asha pada keluarga Kurniawan. Apalagi dengan Akash yang terkesan dingin dan tidak ramah. Bagaimana anaknya nanti akan menjalani kehidupan bersama orang seperti Akash.
“Ibu akan bicara dengan Tuan besar, ibu akan memohon untuk membatalkan pernikahan ini.”
Kinasih berniat bangun tapi Asha menahan tangannya.
“Gak usah Bu, Tuan akan marah besar nanti,” ucap Asha. “Kalau ini dibatalkan dan Ibu dipecat, kemana kita harus cari uang untuk melunasi semua hutang kita? Sampai sekarang Asha belum dapat pekerjaan, kita gak punya pegangan apapun untuk hidup di luar Bu.”
Kinasih menghela nafas, Asha benar. Saat itu rasa sesal memenuhi dadanya, kenapa dia memaksakan diri untuk membiayai kuliah Asha dengan pinjaman uang dari Cakra, padahal Asha tidak pernah meminta kuliah.
Maafin Ibu Nak, ini semua terjadi karena Ibu.
Siapa sangka pernikahan Akash dan Asha yang dimulai dengan niat untuk melunasi hutang Kinasih, dan berniat diakhiri dalam waktu satu tahun ternyata bisa bertahan hingga 10 tahun.Dalam satu dekade itu, mereka dikaruniai dua orang pangeran dalam hidup mereka. Atha yang penyayang dan perhatian, serta Kael yang lucu dan menggemaskan. Keduanya, lahir dari sebuah hubungan yang dulunya tidak diharapkan.Dan kini, setelah sepuluh tahun berlalu, ternyata biduk rumah tangga itu bisa dipertahankan.Dua hari di Jogja menjadi hadiah ulang tahun pernikahan yang indah untuk Asha dari Akash. Waktu terasa diberikan khusus untuk mereka—waktu yang selama ini nyaris tak pernah mereka miliki tanpa distraksi, tanpa suara anak-anak, tanpa pekerjaan yang mengejar dari segala arah.Makan malam yang indah, perjalanan siang yang menyenangkan, obrolan yang hangat, wajah yang terus tersenyum, tawa lebar dan gurauan yang selalu membuat suasana terasa jauh lebih hidup.“Mas,” panggil Asha dengan penuh kelembutan.
“Mas, ini—”Kalimat Asha terhenti saat merasakan kedua tangan Akash melingkar di pinggangnya. Sementara dagu pria itu bertahta di bahu kirinya.“It’s our honey moon, right?” bisiknya. Asha mengangguk pelan menjawab ucapan Akash. “Dan ini akan jadi kamar honeymoon kita, sayang.”Asha memejamkan matanya, suara Akash di telinganya terdengar berat, ia tahu kemana arahnya ini semua. Tapi, apa tidak berlebihan pikirnya? Kamar ini benar-benar dihias seperti kamar pengantin baru.Di atas kasur, taburan kelopak mawar membentuk pola hati yang sederhana namun penuh makna. Tepat di tengahnya, ada sebuah kotak kecil berwarna ivory, dibungkus pita emas tipis yang berkilau.“Mas,”
Angin malam berhembus lembut, lampu kota mulai berkelip di kejauhan—siluet Malioboro dan jalanan Jogja di malam hari tampak redup indah dari ketinggian. Mereka duduk di meja kecil di sudut rooftop, di salah satu hotel di Jogja. Satu meja sudah dihias dengan lilin pelan yang berkelip, menciptakan atmosfer hangat dan intim.“Mas,” ucap Asha dengan suara tenang.“Kenapa, Sayang?” jawab Akash.“Ini … kita liburan berdua, anak-anak gimana?” tanya Asha.Sejujurnya, dia masih kaget dengan semua ini. Tiba-tiba dibawa ke Jogja dengan alasan pekerjaan, tapi ternyata malah liburan dalam rangka anniversary. Tentu dia akan memikirkan kondisi kedua putranya di Jakarta.Akash mengulas senyum. “Jangan khawatir, mereka tahu kok kita liburan. Mereka juga lagi liburan di rumah Oma dan Opanya.”Asha berdecak pelan. “Kenapa gak sekalian diajak aja sih? Kan seru liburan rame-rame,” ucap Asha, dengan wajah sedikit cemberut.Pria yang kini berusia 38 tahun itu mengusap lembut tangan istrinya. “Ada masanya ki
Sesampainya di bandara, keduanya segera melakukan check in. Asha sedikit kebingungan, “Kok langsung check in?” pikirnya. Padahal sebelumnya mereka tidak ada rencana untuk berangkat, lalu … kenapa tiba-tiba bisa check ini? Tiketnya dari mana?Lalu kebingungan berikutnya terjadi, ketika mendengar pengumuman yang meminta penumpang pesawat menuju Jogja segera naik ke pesawat.“Jogja?” tanya Asha dalam hatinya. “Emang kita ada klien dari Jogja? Siapa?”Tapi, sama seperti sebelumnya, Asha tidak bertanya banyak. Dia menurut saja, apalagi saat itu dia melihat wajah Akash sudah cukup lelah.Sepanjang perjalanan, Asha memilih diam meski ada banyak pertanyaan di kepalanya. Bahkan dia sedang berpikir apa yang akan dibahas dengan klien nanti? Kontrak? Masalah? Atau apa?Saat pesawat mendarat di Bandara Adisutjipto, Akash justru lebih tenang. Seseorang sudah menunggu mereka di bagian kedatangan. Seorang pria yang langsung menyerahkan kunci mobil pada Akash.“Ayo sayang,” ajak Akash sambil menggengg
Atha akhirnya masuk ke ruangan ayahnya setelah rapat selesai dan rekan kerjanya meninggalkan ruangan. Pria kecil itu terlihat antusias menceritakan teman-teman barunya yang lebih banyak dibanding saat di TK. Ia juga menunjukkan apa yang digambarnya di sekolah. Gambar dirinya dan Fadlan, teman barunya yang juga suka menggambar.Sementara Atha bercerita banyak, Akash setia mendengarkan. Sesekali ia menanggapi dengan kata ‘Wah, keren atau maa syaa Allah.’Ada rasa lega di hati Akash dan Atha saat melihat binar di mata putra mereka, belum lagi semangatnya bercerita, senyumnya, tawanya. Pria kecil itu baru berhenti bicara setelah dia lelah, menguap beberapa kali dan berakhir berbaring di atas sofa panjang.“Sepertinya dia happy,” ucap Akash.Asha mengangguk sambil meletakkan kopi di atas meja kerja Akash. Wangi kopi menguar, mengundang pria berkacamata itu segera menyesapnya.“Ah, akhirnya bisa minum kopi hari ini,” kekehnya.Kening Asha mengernyit. “Memang hari ini belum minum kopi?”A
Waktu menunjuk pukul sebelas siang, saat anak-anak dari kelas 1 Hasan keluar. Mereka berlari ke satu arah, ke tempat para orang tua menunggu mereka. Di antara semua anak itu, ada Atha yang berlari sambil berteriak.“Bunda!” tangannya terentang lebar.Sementara Asha spontan berjongkok dengan tangan yang tidak kalah lebarnya. Saat mereka bertemu, keduanya saling berpelukan.Asha pikir, Atha akan kehabisan energinya, ternyata … energinya masih sama seperti pagi tadi. Wajah anak berumur 6.5 tahun itu tampak begitu bahagia, matanya berbinar, dan dia tepat setelah pelukannya melonggar dia tidak segan bercerita tentang banyak hal.Tentang kelas barunya, banyak temannya, gurunya yang ramah. Dan Asha bersyukur, karena Atha ternyata bisa berbaur dengan begitu mudahnya dengan lingkungan barunya.“Mau langsung pulang? Atau—”“Ke kantor ayah yuk Bun, Atha mau cerita soal sekolah Atha ke Ayah.”Asha tidak menolak, mereka berjalan sambil bergandeng tangan menuju parkiran. Di sana supir kantor yang d







