MasukPak Dokter suka ada-ada aja idenya yaa hmmm
“Pada ngapain?” Riana mengejutkan Dante dan Niken yang berdiri berhadapan, tak jauh dari pintu kamar.“Kamu bawa dia … cek. Kemarin dia demam,” ucap Dante santai menghampiri Evan ke boxnya, lantas membawa anaknya itu keluar kamar.Riana mendekati Niken dan mengajaknya untuk duduk di sofa. Dengan punggung tangannya, ia mengecek suhu tubuh Niken.“Masih ada sedikit sih, panasnya. Tapi kamu sudah minum obat kan?” tanya Riana menatap Niken.“Sudah, Mbak.”“Obat dari mana?” Riana menyelidik.“Kemarin di kasih Pak Dante. Awalnya saya mau minta ke Mbak,” kata Niken— nada suaranya menurun.Riana kemudian mengatakan dimana letak obat biasanya disimpan, agar Niken lebih mudah mencarinya.“Mas Dante sudah minta maaf sama kamu kan?” Niken tak bersuara. Ia menutup rapat mulutnya. Meski kadang masih kesal, ia sudah berusaha melupakan hal itu dan tidak berharap kata maaf dari Dante. Dari sikap yang Niken tunjukkan, Riana sudah bisa menebak kalau Dante belum minta maaf.“Dasar ya, Mas Dante sudah di
Baru beberapa menit– tak sampai sepuluh menit menunggu, Niken malah tertidur di sofa. Beralaskan tangan, kepalanya bersandar di tangan sofa.Rupanya obat yang Dante berikan tadi, menyebabkan kantuk dan langsung bereaksi.Pria itu bergegas keluar kamar setelah selesai berganti pakaian. Ia menatap lurus ke depan, ke arah ruang tengah. Berjalan perlahan, hendak mengecek Niken.“Tidur?” gumam Dante berdiri di samping sofa. Tempat Niken tertidur.Tangannya terulur meraba kening Niken– suhu tubuh wanita itu masih tinggi. Nalurinya sebagai dokter sedikit bergetar. Ia tidak mungkin membiarkan orang yang sedang sakit untuk tidur dalam posisi duduk.Perlahan ia menggeser kepala Niken dan mengangkat tubuhnya. Sempat terdengar gumaman tak jelas dari mulut Niken saat ia menggendongnya. Dengan siku tangannya, Dante membuka pintu kamar dan membaringkan Niken di atas ranjang. Membenarkan posisi tidurnya, kemudian menarik selimut hingga lehernya.Dante berdiri di sisi ranjang– memandangi Niken. Tangan
Entah kenapa sejak beberapa hari lalu, Niken merasa tenggorokannya tak enak. Padahal seingatnya ia hanya makan yang dimasak oleh orang rumah. Beberapa kali ia terbangun hanya karena batuk yang hebat– terasa gatal. Ia sampai harus ke kamar mandi agar suara batuknya tidak mengganggu tidur Evan. “Aduh ini kenapa sih?” gumam Niken meraba lehernya. Kalau bisa, sudah ia garuk tenggorokannya gatal. Setelah batuknya sedikit mereda, ia keluar kamar mandi. Netranya melirik ke atas meja tempat gelas air minum yang biasa ia bawa ke kamar. Sayang isinya sudah kosong. Salah satu tangannya meraba dadanya yang terasa kencang dan sedikit sakit. Jam sebelas malam ini adalah jadwal pumpingnya, namun berhubungan kondisi tubuhnya yang kurang fit, Niken terpaksa menunda hingga ia merasa sehat. Membawa gelas kosong itu ke dapur, ia berniat untuk menyeduh perasan lemon yang dicampur dengan madu. Obat tradisional yang sejak dulu katanya selalu ampuh meringankan batuk. Setibanya di dapur, Niken berjalan men
Dante menautkan alisnya, kemudian menatap ke arah Niken. Di zaman sudah modern seperti ini, istilah DBF saja Niken tidak tahu. “Direct breastfeeding,” sahut Dante penuh penekanan. Apalagi itu. Mendengarnya saja baru kali ini. Kata dengan bahasa asing yang ia tidak tahu arti dan cara pengucapannya. Mulutnya menganga, ingin mengucapkan ulang ucapan Dante tadi. “Di … dai …” Niken terbata-bata. Dante menghela nafas– sedikit kesal. Memangnya dia ini tidak lulus sekolah atau bagaimana. “Direct breastfeeding … menyusui langsung dari sumbernya,” cecar Dante spontan membuat Niken menyilangkan tangan di depan dadanya. Dante memandang Niken bingung– heran dengan reaksi yang Niken tunjukkan. “Kenapa?” tanya Dante masih dengan tatapan yang sama. Niken menggeleng sembari menurunkan tangannya ke pangkuan. Belum mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi, Dante kembali mengulangi pertanyaannya. “Kata Mbak Riana, sayang kalau asinya kebuang-buang.” Dante menatap ke arah Niken– matanya menyipi
Hati-hati ia berjongkok di pinggir kolam renang, lalu tangannya terulur hendak memberikan Evan pada Dante. “Tunggu dulu dong. Gak bisa langsung kayak gitu,” celetuk Dante dengan nada tinggi pada Niken. Wanita itu menggigit bibir bawahnya. Kaget bercampur takut melihat ekspresi Dante. Ia terus menjaga pandangan matanya yang sedari tadi mencoba untuk berkeliaran. Pria itu meminta Niken untuk duduk di tepi kolam dan mencelupkan dulu kaki Evan– ingin tahu reaksi Evan saat kulitnya merasakan air kolam renang. Bukannya takut, Evan malah terlihat girang. Mulutnya berceloteh, dengan kaki yang terus bergerak-gerak di dalam air. Evan suka bermain air. Sesekali Niken memalingkan muka karena terkena ciprat air yang Evan ciptakan. “Buka dulu popoknya,” kata Dante dengan tangan terulur siap mengambil Evan dari tangan Niken. Ia mengerjapkan mata saat tangan mereka saling bersentuhan. Kemudian membuka celana Evan dan membuka popok bayi itu. Masih kering, karena memang baru saja ia menggantinya.
Meski Riana sudah mengatakan kalau ia sudah izin pada Dante, tapi kali ini Niken tidak mau ambil resiko lagi. Di dalam mobil– sebelum berangkat, ia mengirimkan pesan minta izin pada Dante. Walau sempat ragu, karena merasa aneh mengirim pesan duluan pada ayahnya Evan itu. [Saya dan Evan, jalan sama Mbak Riana untuk nyari alat pumping ya, Pak.] Isi pesan Niken pada Dante. Pria itu baru saja membacanya– empat jam setelah Niken mengirimkan pesan itu. Melirik ke dinding ruangan pribadinya, jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia baru saja selesai operasi. Cukup sulit, hingga operasi yang dijadwalkan berjalan tiga jam harus molor satu jam. Setelah merapikan meja kerjanya, ia keluar ruangan sembari menghubungi Azka agar standby di lobby rumah sakit. Rasanya hari ini sangat lelah, ia ingin segera sampai rumah dan beristirahat. Melihat tampang bosnya yang letih, Azka mengurungkan niatnya untuk memberi tahu perkembangan proses perceraian bosnya. Sepanjang jalan, Dante terus memejamkan
“Bos.” Suara Azka membuat Dante berpaling. Sementara itu Niken yang tengah berjalan menuju sofa, menghentikan langkahnya. Azka berpaling menatap Niken dan menyapanya. Senyum pria itu begitu manis, membuat Dante yang melihat hal itu tidak suka. “Bawa Evan ke kamar.” Suara Dante barusan spontan mem
“Jangan bilang kalau ini Pak Dante,” gumam Niken dalam hati. Tak berani bergerak, ia membiarkan sejenak tangannya berada dalam genggaman orang itu. Berharap tangannya akan segera dilepas, nyatanya tidak. Ia lalu membalikkan badannya dan menatap ke arah tangannya. Benar saja itu Dante. Entah kapan pr
Dari tempatnya duduk bersama Evan, Niken bisa melihat kalau Dante baru saja keluar kamar. Itu artinya ia bisa membawa Evan ke kamar utama untuk mandi. Wanita itu terkejut saat membuka pintu kamar mandi dan melihat peralatan mandi Evan sudah siap di dekat bak mandinya. Sudah dapat dipastikan kalau in
Tiba di rumah hampir pukul setengah sepuluh, Niken berjalan duluan masuk ke dalam rumah. Ia sudah tak sabar menidurkan Evan di dalam boxnya. Sejak keluar dari rumah sakit, entah kenapa ia jadi sangat mengantuk. Langkahnya lalu melambat saat hampir tiba di kamar. Rasanya seperti ada orang yang berjal







