LOGINAda yang mau belanja nihh Pada mau ikut gakkk
“Kok sudah pakai cincin?” Riana duduk di seberang Niken yang tengah menyuapi Evan makan. Tak lama Dante datang dan duduk tepat di samping Niken.Tak seperti biasanya.Riana lalu beralih menatap Dante, karena Niken tak bersuara.“Kok Niken sudah pakai cincin? Memangnya Mas Dante sama Niken sudah nikah?” cecar Riana tak henti.Niken semakin malu. Ia menutup rapat mulutnya dan fokus menyuapi Evan.“Ya belum lah. Emang nikah bisa secepat itu? Cincin itu cuma buat ngukur jari tangan dia,” sahut Dante kemudian meraih sepotong roti.Niken memundurkan sedikit kursinya dan membawa mangkuk makan Evan yang telah kosong ke dapur. Ia meninggalkan beberapa finger food untuk Evan agar bayi itu tetap tenang. Ia sengaja berada lebih lama di dapur, berharap Dante cepat pergi dari ruang makan. Namun saat ia kembali ke ruang makan, betapa terkejutnya ia saat mendapati Dante sendirian di sana. Sepertinya Evan sudah dibawa oleh Riana ke ruang depan. Niken tak bisa kabur, ia sendiri sudah dari tadi menahan
Matanya tak berkedip menatap Dante. Ia mencoba mengingat apa yang barusan pria itu katakan. Takut salah mendengar. “Bapak gak salah ngomong? Di kontrak saya kan cuma jadi ibu susu buat Evan dua tahun. Kenapa tiba-tiba saya harus nikah sama Bapak?” Niken mencoba protes. “Bukannya kamu tahu … kamu dilarang membantah,” tegas Dante duduk semakin dekat dengan Niken. Tatapan matanya yang tadinya tajam perlahan berubah menjadi sendu. Pria itu hendak meraih tangan Niken tapi cepat ia jauhkan. “Saya hanya ingin menjaga Evan agar tetap aman disini, tanpa ada yang bisa ganggu dia. Karena saya tahu, gak ada orang lain yang tulus sayang sama Evan selain kamu,” kata Dante yang membuat Niken merasa ada yang aneh dalam perutnya– seperti ada yang terbang di dalamnya. Ia menatap Dante– bingung harus menjawab apa. Hal seperti ini sama sekali tidak pernah dibayangkan olehnya. Beberapa detik kemudian, Niken menggeleng. “Jadi kamu gak mau nikah sama saya? Kamu menolak saya?” Niken menelan salivanya,
Duduk di sofa panjang ruang tengah, kejadian yang Agatha lihat kemarin saat di restoran kembali terulang di dalam pikirannya. Adegan demi adegan yang Dante lakukan pada Niken, entah kenapa membuatnya panas– tak terima. Anita yang baru pulang dan melihat ekspresi tegang anaknya, segera mendekat. “Kenapa kamu?” tanya Anita meletakkan tas kulitnya di atas meja. “Gak terima aja,” kata Agatha marah. Kening Anita berkerut mendengar jawaban itu. Belum sempat bertanya lebih jauh, Agatha langsung menceritakan apa yang ia lihat kemarin di restoran. Begitu menggebu-gebu hingga Anita bisa tahu kalau anaknya menyimpan rasa kesal. Namun ia tahu semua ini terjadi juga karena kesalahan Agatha. “Terus kamu mau apa? Kamu sama Dante sudah resmi cerai. Hak asuh juga sama Dante, terus kamu mau apa?” Agatha mendengus kesal. Berkali-kali ia mengatakan tidak terima dengan perlakuan Dante ke perempuan lain. “Tapi dia itu siapa sih, Ma? Kok pengasuh anak kayak gitu pakaiannya. Duduk berdua di depan. Pakai
Masih berada di atas tempat tidur, Niken menoleh ke arah jaket yang tersampir di sofa. Teringat saat kejadian di mobil kemarin. Bisa-bisanya tidak ada tisu, hingga ia harus menggunakan jaket Dante untuk menutup bajunya yang basah. Reflek tangannya meraba bagian yang kemarin sempat Dante pijat– dengan lancang. “Apa maunya sih?” gumam Niken pusing. Semakin hari sikap Dante semakin tak jelas dan membuatnya pusing. Mengira hanya akan merawat dan mengurusi Evan, nyatanya ia juga harus meladeni sikap ayah anak yang sedang ia rawat. Ia sengaja membiarkan Evan tidur lebih lama pagi ini, agar bisa tetap berada di dalam kamar. Mengira Dante sudah pergi, dengan langkah santai Riana keluar dari dalam kamar. Siap pergi ke klinik. “Duduk,” kata Dante membuat Riana kaget. Ia menoleh ke arah sumber suara. Rupanya Dante telah duduk di sofa atas sejak tadi. Riana tak bisa berkutik. Sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, ia duduk di ujung sofa. Tanpa basa basi Dante langsung bertanya apa hub
Mobil yang Dante kendarai mulai melambat saat masuk di salah satu komplek perumahan. Terlihat beberapa mobil berbaris rapi di pinggir jalan. Malam ini Akbar mengadakan acara syukuran menempati rumah barunya. Karena mereka datang sedikit terlambat, alhasil mereka parkir cukup jauh dari rumah Akbar. Turun dari kendaraan beroda empat itu, Dante menekan tombol– mengunci mobilnya. “Saya gak apa-apa ikut ke acara Pak Dante?” tanya Niken takut-takut. Melihat banyaknya mobil yang berjejer, sudah pasti tamu yang datang bukan orang sembarangan. Dokter dan sejenisnya. Ia merasa rendah diri dan takut membuat Dante malu. Dante tak menjawab malah menarik tangan wanita itu agar berjalan lebih cepat. Sebelum masuk ke dalam rumah, ia meminta Niken untuk tidak memanggilnya dengan sebutan bapak saat berada di sana nanti. Niken hanya diam, tidak mengiyakan dan juga tidak menolak. Dalam hatinya berkata sebisa mungkin ia tidak akan bicara apapun dan akan selalu berada dekat dengan Dante. “Ayo masuk,” s
Menuruni tangga lalu ke ruang makan, Riana segera duduk di samping Dante yang telah lebih dulu berada disana.“Mas … kemarin aku lihat Mbak Agatha,” kata Riana menggebu-gebu. Dante menoleh malas. “Oh. Di mana?”Dengan semangat ia menceritakan dimana dan kapan ia melihat Agatha, hingga tak sadar menyebutkan nama seseorang yang membuat Dante mengerutkan kening.Riana cepat menutup mulutnya.“Bima? Siapa?” ulang Dante membuat Riana semakin erat menutup mulutnya. Ia merutuki dirinya kenapa bisa sampai menyebutkan nama Bima saat bicara dengan Dante. Walau sebenarnya tidak masalah, tapi malas saja kalau nanti Dante malah bertanya yang macam-macam.Dante masih menatapnya, menunggu penjelasan.“Dokter Bima … yang di rumah sakit Mas Dante. Kemarin gak sengaja ketemu,” terang Riana hati-hati.“Iya, Mas. Gak sengaja ketemu,” ujar Riana meyakinkan lantas mengalihkan pembicaraan agar Dante berhenti bertanya soal Bima.Percakapan mereka terhenti saat Niken dan Evan tiba di ruang makan.“Evan gak m
Ditanya serius oleh Riana, Niken tak langsung menjawab. Tawaran yang datang padanya begitu aneh dan tiba-tiba.“Jadi kamu mau atau enggak?” tanya Riana lagi membuat Niken tersentak.Niken masih diam.“Kamu bisa ikut aku sebentar?”Niken tak bersuara tapi ia mengikuti kemana Riana melangkah. Setiban
Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma
“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal
Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai







