Mag-log inMasih belum saatnya nih kak ckckc untung Dokter Dante sabarr yaa
Memastikan dirinya sudah terlihat rapi di depan kaca, Niken memutar kunci pintu lantas keluar. Baru satu langkah keluar dari kamar mandi, detak jantung berpacu cepat saat netranya menangkap bayangan seorang pria yang tidak mengenakan baju. Keningnya berkerut menatap pria itu dari belakang.“Mas, kenapa gak pakai baju?” tanya Niken polos saat Dante berbalik. Ia baru saja mencolok kabel untuk mengisi daya ponselnya.Niken jadi bingung sendiri harus ngapain. Baru kali ini mereka hanya berdua di kamar, tanpa kehadiran Evan.“Panas,” sahut Dante naik ke salah satu sisi kasur.“Tapi kan ac nya nyala, Mas. Saya juga sudah siapin baju,” kata Niken mengambil baju yang masih teronggok di atas kasur kemudian menyimpannya di dalam lemari.Berjalan ke sisi tempat tidur yang lain, Niken ragu untuk naik.“Saya ambil Evan aja ya, Mas. Kasihan Evan kalau nanti kebangun karena haus,” ucap Niken coba-coba berharap Dante luluh.“Riana juga pasti sudah siapin susu buat Evan. Kan asi perah kamu masih bany
Memarkir mobilnya agak jauh karena kawasan yang padat, mereka lalu berjalan menyusuri jalan sambil melihat-lihat makanan yang menarik perhatian. “Tapi ini kebanyakan goreng-gorengan, Mas. Emangnya gapapa?” tanya Niken memastikan. Secara Dante adalah seorang dokter yang pasti menjaga kesehatannya. "Gorengan kan juga makanan ... enak lagi. Walau gak sehat kalau dimakan setiap hari," sahut Dante, "ambil aja yang itu, saya juga mau," lanjut Dante menunjuk penjual gorengan yang berada di sebelah kiri Niken. Tak tinggal diam, Niken mendekat lantas menunjuk beberapa gorengan dengan isian daging serta mayones. Tak lupa ia meminta cabe rawit dalam jumlah yang banyak. Dante cepat mendekat ketika pesanan Niken sudah siap dibungkus. "Makasih, Pak," kata Dante menerima kembalian. Jalanan yang cukup padat dengan pejalan kaki, membuat Niken beberapa kali hampir terjatuh karena terdorong orang di belakang. Sigap, Dante menggenggam jemari tangan istrinya lantas membawanya melipir ke salah sat
“Turun … makan,” ucap Dante lebih dulu keluar dari dalam mobil. Cepat Niken juga keluar menyusul suaminya itu, sebelum ia dikunci di dalam. Suasana tempat makan makan mereka datangi siang ini cukup ramai, sebenarnya membuat Niken kurang nyaman tapi ia tidak berani untuk protes. Duduk berhadapan dengan Dante, saat pelayan datang menanyakan pesanan, ia memilih untuk menyamakan saja pesanannya. Meski pelayan terlihat sibuk mondar mandir, mereka tidak perlu menunggu lama hingga pesanan mereka tersaji di meja. Tak ada perbincangan yang berarti sepanjang mereka makan. Niken sendiri tampak menikmati makanannya. Tidak salah Dante membawanya ke sini, karena makanannya memang enak. Ia baru sana merapikan sendok dan garpu di piringnya, saat seorang pelayan berjalan di depannya membawa minuman dingin yang tampak menggugah selera. Minuman hijau dengan kuah berwarna putih serta tambahan gula aren. "Kamu mau?" tanya Dante menoleh- melihat Niken yang netranya tak lepas menatap ke arah pelayan tadi
Merasa susah mengambil nafas– sesak, Niken reflek batuk-batuk hingga terbangun. Perlahan membuka mata, wanita itu menundukkan kepala menatap ke arah lehernya. Sebuah lengan begitu kokoh melingkari lehernya. Tidak perlu diragukan lagi kalau itu ada Dante. Pria itu berada sangat dekat dengannya. Pertama Niken berhasil memindah lengan pria itu, tapi baru beberapa detik tangan pria itu kembali melingkari lehernya. “Aduh … Mas,” lirih Niken pelan kembali menjauhkan tangan pria itu. Ia menggeser sedikit posisi Evan agak ke pinggir, agar ia bisa menjauh dari dokter itu. Mengira sudah bebas, nyatanya pria itu malah menarik tubuh berisi istrinya itu. “Mas … kamu tidur atau engga sih?” Niken menatap wajah tegas Dante yang berada tepat di depannya. Matanya enggan berkedip memindai setiap inci wajah Dante yang terpahat begitu indah. Rambut halus yang tumbuh di sekitar pipinya, alis hitam yang begitu rapi. “Kamu maunya apa? Mau saya tidur atau engga?” Dante malah bertanya balik. Netra pria i
“Pak Dante.” Ucapan Niken langsung membuat ekspresi wajah pria itu berubah dingin. Sudah nyaman dipanggil dengan sebutan mas, rasanya aneh di telinga Dante saat Niken mengucapkan kata pak. Itu sengaja ia lakukan agar Dante bisa sedikit sadar. “Habisin ini dulu,” ucap Dante sembari menyendok dessert coklat itu lagi. Bergantian– menyuap Niken dan dirinya sendiri. Jujur dessert ini memang enak, tapi kalau kebanyakan jadinya bikin perut kurang nyaman. “Saya sudah, Pak,” ucap Niken sembari mengelus perutnya yang mulai tidak nyaman. Refleks Dante ikut mengelus perut Niken. “Apa sih, Mas?” Niken memukul pelan punggung tangan Dante sembari melotot. Tanpa mereka sadari, pintu ruangan terbuka dengan Riana, Evan, dan Bima berdiri di depannya. Untuk beberapa saat mereka diam memperhatikan Niken dan Dante, berharap mereka sadar tapi nyatanya tidak. “Pantas ya, Mas,” celetuk Riana masuk membuat Niken dan Dante terperanjat. Sedikit mendorong Dante, Niken berdiri– sedikit jauh dari kursi Dante.
“Sebentar Mima keluar dulu ya, Sayang,” pamit Niken yang telah rapi, mencium Evan yang masih nyenyak tidur. Ia keluar kamar dengan sangat pelan lantas menyusul Dante yang pasti sudah berada di ruang makan. Duduk di salah satu kursi, Dante tampak serius menatap ponselnya. Sementara di depannya sudah tersaji beberapa menu makanan yang belum disentuh sama sekali olehnya. “Mas, mau makan apa?” tanya Niken berdiri di samping Dante siap melayani suaminya itu. “Memangnya kamu gak mau makan sama-sama disini sama saya?” Niken menggigit bibir bawahnya. “Evan masih tidurkan?” tanyanya lagi memastikan. Wanita itu mengangguk pelan seraya menarik kursi tepat di samping Dante. Saat Dante membalik piring yang ada di depannya, Niken reflek berdiri hendak mengambilkan makanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari piring mereka. Masih bisa dijangkau dalam posisi duduk. “Duduk aja. Kamu gak usah tegang kayak gitu.” Mendengar itu Niken kembali duduk, tapi dengan kepala yang menunduk– malu sendir
Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama
Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai
Ditanya serius oleh Riana, Niken tak langsung menjawab. Tawaran yang datang padanya begitu aneh dan tiba-tiba.“Jadi kamu mau atau enggak?” tanya Riana lagi membuat Niken tersentak.Niken masih diam.“Kamu bisa ikut aku sebentar?”Niken tak bersuara tapi ia mengikuti kemana Riana melangkah. Setiban
“Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan







