LOGINUntuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.
“Kenapa, Sayang?” Niken mengecek popok Evan yang ternyata penuh. Setelah mengambil popok dan perlengkapannya dari dalam laci, Niken memindahkan Evan dari box dan membaringkannya di atas tempat tidur. “Kita ganti dulu ya, Sayang.” Niken menatap Evan beberapa saat, kemudian mengganti popoknya dengan yang baru. Tak lupa ia mengoleskan minyak telon di perut Evan. Seolah suka dengan usapan tangan Niken, bibir kecil Evan mengulas senyum tipis. Niken lantas kembali membaringkan Evan di dalam box sementara ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Baru saja menekan botol pump yang berisi sabun tangan, sayup-sayup terdengar suara tangisan Evan. Buru-buru Niken menyudahi aktivitasnya. Sambil mengeringkan tangannya dengan tisu, Niken keluar dari kamar mandi dan berjalan sedikit tergesa mendekat ke arah box Evan. “Kamu haus ya?” Niken mengangkat Evan dan menggendongnya beberapa detik, lalu membawa bayi itu duduk di sofa dan mulai menyusuinya. Beberapa hari di sini bersama dengan Evan rasanya membuat hidup Niken kembali berwarna. Meski rasa takut dan segan pada Dante sering muncul saat pria itu ada di rumah. Namun semenjak tinggal di sini, pertemuannya dengan Dante bisa dihitung dengan jari. Pria itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Seperti saat ini, jam di dinding telah menunjukkan pukul setengah empat pagi dan Dante belum pulang dari rumah sakit. Niken mengalihkan netranya menatap Evan yang telah tertidur. Mulut mungilnya sedikit terbuka dengan sisa asi di pinggir bibirnya. “Tidur ya, Sayang,” ucap Niken melangkahkan kaki menuju box. Penuh hati-hati ia menidurkan Evan di dalam kotak dengan aksen kayu itu. Tak dapat membohongi diri, Niken yang sudah sangat ngantuk akhirnya tertidur juga. *** Tepat pukul delapan pagi, Dante pulang. Wajahnya tampak lelah dengan tangan yang menenteng jas dokternya. Dengan kasar ia menjatuhkan diri duduk di sofa ruangan tamu. “Bos, tasnya saya letakkan di kamar ya,” ucap Azka menatap Dante sekilas kemudian melangkahkan kaki menuju kamar Dante. Terdiam beberapa saat, suara datar Dante membuat langkah kaki Azka terhenti. Beberapa langkah lagi ia sampai di depan kamar dokter itu. “Kenapa, Bos?” tanya Azka menoleh ke arah Dante. “Gak usah banyak tanya. Bawa kesini tasnya. Setelah ini kamu bisa istirahat,” perintah Dante sembari menyandarkan punggungnya di sofa dan memejamkan mata. Tak berani bersuara, Azka membalikan badan dan meletakkan tas milik Dante di samping pria itu. Sesuai perintah Dante, Azka menuju ruang belakang tempat biasa ia beristirahat. Dari arah tangga terlihat Riana menuruni satu per satu anak tangga sambil membawa tas di tangannya. Keningnya berkerut saat melihat Dante di ruang tamu. “Mas? Kamu tidur?” suara Riana terdengar sayup-sayup membuat Dante menghela nafas sembari membuka matanya. “Kamu mau kemana?” Dante menatap tas yang cukup besar yang berada di dekat kaki adik perempuannya itu. “Aku ada acara seminar di Bandung, Mas. Tiga hari.” Riana duduk di samping Dante sambil fokus mengetik di layar ponselnya. “Biar Azka yang nganterin kamu ke Bandung.” Dante beranjak dari sofa membawa tas dan baju dokternya. “Tapi nanti kalau Mas Dante mau pakai?” Riana menatap Dante yang mulai menjauh. “Pakai aja,” sahut Dante datar menghilang di balik pintu kamarnya. Setibanya di kamar, Dante melangkah menuju box Evan. Senyum tipis terukir di wajah lelahnya melihat anaknya sudah rapi, wangi, meski sepagi ini masih tertidur. Setelah meletakkan tasnya, Dante menuju kamar mandi. Rasanya begitu rileks saat air hangat mengenai tubuhnya. Setelah ini pria itu ingin tidur karena lelah akibat operasi besar kemarin. “Bu Bidan, mau ke klinik?” tanya Niken saat melihat Riana di ruang makan. Riana meletakkan gelas di samping piringnya yang telah kosong lantas menatap Niken sambil tertawa kecil. “Kenapa, Bu?” Niken mengerutkan kening. Bingung apa yang membuat Riana tertawa. Menurutnya pertanyaan yang ia lontarkan barusan adalah pertanyaan yang wajar. “Lucu aja kamu masih manggil aku kayak gitu. Kita kan lagi di rumah, bukan di klinik.” Niken tersenyum kecil. Jujur saja ia bingung harus memanggil Riana dengan sebutan apa. “Kamu bisa panggil nama aku aja langsung, Ken,” kata Riana yang mulai merasa nyaman dengan Niken. Pembawaan Niken yang apa adanya membuat Riana merasa dekat walaupun belum mengenal lebih dalam. “Ya gak mungkin lah, Bu,” sahut Niken cepat. “Memangnya aku sudah setua itu? Selisih umur kita lo, paling cuma beberapa tahun aja,” lanjut Riana dengan nada tak terima. “Iya, Mbak. Saya panggil Mbak Riana aja.” Niken mengulum senyum. Menurutnya panggilan ini yang paling pas untuk Riana. “Oke. Itu lebih baik.” Riana meminta Niken untuk duduk di sebelahnya. Tak ada bantahan, Niken dengan santai duduk di samping Riana yang kemudian menyodorkan sebuah kotak berwarna putih. Sudah jelas itu adalah sebuah ponsel baru. “Ini ponsel buat kamu. Mas Dante kemarin minta aku buat beliin kamu ponsel.” Riana Mendekatkan lagi kotak ponsel itu dan meminta Niken untuk membukanya. “Kamu tinggal pakai aja. Di dalam sudah ada nomor aku, Mas Dante, dan orang rumah. Jadi kalau ada apa-apa atau kamu perlu sesuatu kamu tinggal bilang.” Niken menatap Riana. “Kamu gak usah sungkan di rumah ini,” lanjut Riana. Rona kebahagiaan terpancar dari wajah Niken kala mencoba membuka menu yang ada di ponsel barunya itu. Ponsel yang lebih canggih dari ponsel yang ia punya. “Makasih banyak, Mbak.” Niken tak lepas memegang ponsel barunya. Riana membalas dengan anggukan kepala. Dari arah pintu dapur, Mbok Tini datang membawakan semangkuk sayur daun katuk untuk Niken. “Kamu makan yang banyak ya,” ucap Riana menatap Niken kemudian menatap semangkuk sayur katuk itu. “Ini bagus buat asi kamu.” Riana meraih tisu dan merapikan lipstiknya. Mendorong pelan kursinya, Riana lalu pamit pada Niken yang mulai menyantap sayur itu. “Hati-hati, Mbak. Nanti pulang dari klinik jam berapa?” Suara Niken barusan sukses membuat Riana membalikkan badan dan kembali menghampiri Niken. “Hampir lupa ngasih tahu kamu. Hari ini sampai tiga hari kedepan aku ada seminar di Bandung.” Uhuk uhuk. Niken tersedak dan hampir mengeluarkan makan yang baru saja dikunyahnya. “Pelan-pelan makannya. Ini minum dulu,” ujar Riana menuangkan segelas air minum dan memberikannya pada Niken. Beberapa detik Niken mengatur nafasnya, dengan mata yang tak lepas menatap Riana. Bingung. Ia seolah kehilangan induk kalau Riana tidak ada di rumah. Apalagi sampai selama itu. “Tiga hari di Bandung, Mbak? Lalu saya gimana?”Tiba di rumah hampir pukul setengah sepuluh, Niken berjalan duluan masuk ke dalam rumah. Ia sudah tak sabar menidurkan Evan di dalam boxnya. Sejak keluar dari rumah sakit, entah kenapa ia jadi sangat mengantuk. Langkahnya lalu melambat saat hampir tiba di kamar. Rasanya seperti ada orang yang berjalan tepat di belakangnya. Berhenti sebentar, Niken kemudian memutar badannya. Matanya membulat melihat Dante berdiri persis di belakangnya. Hanya berjarak beberapa sentimeter. Apa yang sedang Dante lakukan hingga harus mengikutinya sampai ke depan kamar, pikir Niken dalam hati. “Evan gak demam kan?” Pertanyaan konyol bagi seorang dokter yang sebenarnya tahu kalau vaksin yang diterima anaknya adalah vaksin diatas standar. Vaksin yang tidak akan menimbulkan efek samping seperti demam. Untung saja Niken awam soal itu. Reflek Niken menempelkan punggung tangannya ke dahi Evan yang masih tidur dalam gendongannya. Niken menggeleng. “Suhu badannya normal, Pak.” Melihat Dante yang masih be
Selang beberapa menit, perawat datang membawa catatan di tangannya, disusul Niken dan Evan. Dokter Akbar membaca catatan yang diberikan perawat tadi. Bibirnya tersenyum dengan kepala yang mengangguk kecil. Dokter itu lantas meminta perawat tadi menyiapkan peralatan dan vaksin untuk Evan. “Apa?” Dante menatap Akbar penuh tanya. Akbar lalu menunjukkan isi kertas itu pada Dante. Alis Dante berkerut lalu mengambil kertas dari tangan Akbar. “Sepertinya Evan cocok dengan susunya.” Akbar melirik ke arah Niken dan Dante bergantian dengan senyum menggoda. Tak menggubris Akbar, Dante memperhatikan catatan itu. Membaca dengan teliti setiap tulisan yang ada di dalamnya. Bibir Dante melengkung– senang karena berat dan tinggi badan anaknya berangsur naik. Dibandingkan saat ia lahir, berat badannya sekarang naik cukup signifikan. Dari arah tempat tidur terdengar suara tangisan. Evan baru saja selesai divaksin. “Bayinya di kasih susu aja, Bu,” ujar perawat itu tersenyum. Usul perawat itu benar
“Tolong tutup kulkasnya sekarang.” Pinta Dante lagi yang terdengar seperti perintah. Niken meletakan kue keju itu di meja lalu menutup pintu kulkas. Dapur yang tadinya sedikit terang karena cahaya dari kulkas kini menjadi remang-remang. Situasi ini membuat Niken tiba-tiba menjadi bingung. Ia malah melangkah hendak berlalu dari tempat itu. Namun tangannya cepat diraih oleh Dante. Reflek Niken menatap tangan Dante yang sedang memegang tangannya. Kemudian wajahnya terangkat sedikit demi sedikit menatap wajah Dante. Perlahan tapi pasti matanya mulai beradaptasi dalam gelap. Matanya susah berkedip. Wajah pria itu terpahat sempurna dengan rahang tegas ditumbuhi rambut tipis hingga dagunya serta tulang hidung yang menonjol. “Saya mau ngecek Evan, Pak,” ucap Niken tersadar. Sudah terlalu lama berada di dapur. Terlalu lama menatap Dante. “Selesaikan saja dulu. Saya akan cek Evan.” Dante berbalik dan meninggalkan Niken yang masih berdiam diri. Apa itu? Kenapa setiap kali ada Dante, aku s
Sepeninggal Dante, Niken membawa Evan ke ruang makan. Ditemani Mbok Tini dan Mbok Narti yang bergantian menjaga bayi mungil itu, Niken bisa menikmati makan malamnya dengan tenang. Tak pernah terbayangkan ia bisa berada di tempat ini, dengan segala kemudahan yang ia terima. Meski harus selalu was was dengan Dante. Ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya takut. Entah apa, ia juga belum tahu. “Mau nyusu kayaknya, Mbak,” kata Mbok Narti saat Evan mulai rewel. Cepat Niken menghabiskan makannya. “Sudah. Biar Mbok yang beresin. Kamu ajak Evan aja ke kamar atau gak ke ruang tengah,” cecar Mbok Narti melihat Niken hendak membereskan peralatan makannya. Sangat hati-hati ia menerima Evan dari Mbok Narti. Kakinya melangkah cukup cepat menuju ruang tengah sebelum tangis Evan makin kencang. Duduk di sofa yang besar dan sangat empuk ini, Niken membuka beberapa kancing bajunya dan mulai menyusui Evan. Bayi laki-laki itu terus menempel di dadanya seolah tidak ada kenyang. Salah satu tangannya m
Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama Mbok Tini,” kata Riana mencoba menenangkan Niken. Sayur katuk yang sebenarnya enak itu, tiba-tiba hilang rasanya di lidah Niken. “Habisin ya.” Riana tersenyum sembari mengusap pelan pundak Niken lalu pamit. Tangannya berkali-kali mengaduk kuah sayur itu sebelum akhirnya ia minum dengan sendok. Dari tempatnya duduk, ia dapat mendengar suara Riana dan Dante yang tengah berbincang. “Aku jalan ya, Mas.” “Iya.” Suara berat Dante langsung membuat jantung Niken berdetak tak karuan. Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki menuju ruang makan, membuat Niken buru-buru mengangkat mangkuk sayur agar tidak bertemu dengan Dante. Tapi karena gugupnya, ia tak sengaja menumpahkan sed
Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?” Niken mengecek popok Evan yang ternyata penuh.Setelah mengambil popok dan perlengkapannya dari dalam laci, Niken memindahkan Evan dari box dan membaringkannya di atas tempat tidur.“Kita ganti dulu ya, Sayang.” Niken menatap Evan beberapa saat, kemudian mengganti popoknya dengan yang baru. Tak lupa ia mengoleskan minyak telon di perut Evan. Seolah suka dengan usapan tangan Niken, bibir kecil Evan mengulas senyum tipis. Niken lantas kembali membaringkan Evan di dalam box sementara ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.Baru saja menekan botol pump yang berisi sabun tangan, sayup-sayup terdengar suara tangisan Evan. Buru-buru Niken menyudahi aktivitasnya. Sambil mengeringkan tangan







