Share

6. Ponsel Baru

Author: Lystania
last update publish date: 2026-06-03 21:29:34

Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.

“Kenapa, Sayang?” Niken mengecek popok Evan yang ternyata penuh.

Setelah mengambil popok dan perlengkapannya dari dalam laci, Niken memindahkan Evan dari box dan membaringkannya di atas tempat tidur.

“Kita ganti dulu ya, Sayang.” Niken menatap Evan beberapa saat, kemudian mengganti popoknya dengan yang baru. Tak lupa ia mengoleskan minyak telon di perut Evan. Seolah suka dengan usapan tangan Niken, bibir kecil Evan mengulas senyum tipis. Niken lantas kembali membaringkan Evan di dalam box sementara ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.

Baru saja menekan botol pump yang berisi sabun tangan, sayup-sayup terdengar suara tangisan Evan. Buru-buru Niken menyudahi aktivitasnya. Sambil mengeringkan tangannya dengan tisu, Niken keluar dari kamar mandi dan berjalan sedikit tergesa mendekat ke arah box Evan.

“Kamu haus ya?” Niken mengangkat Evan dan menggendongnya beberapa detik, lalu membawa bayi itu duduk di sofa dan mulai menyusuinya.

Beberapa hari di sini bersama dengan Evan rasanya membuat hidup Niken kembali berwarna. Meski rasa takut dan segan pada Dante sering muncul saat pria itu ada di rumah. Namun semenjak tinggal di sini, pertemuannya dengan Dante bisa dihitung dengan jari. Pria itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit.

Seperti saat ini, jam di dinding telah menunjukkan pukul setengah empat pagi dan Dante belum pulang dari rumah sakit.

Niken mengalihkan netranya menatap Evan yang telah tertidur. Mulut mungilnya sedikit terbuka dengan sisa asi di pinggir bibirnya.

“Tidur ya, Sayang,” ucap Niken melangkahkan kaki menuju box. Penuh hati-hati ia menidurkan Evan di dalam kotak dengan aksen kayu itu.

Tak dapat membohongi diri, Niken yang sudah sangat ngantuk akhirnya tertidur juga.

***

Tepat pukul delapan pagi, Dante pulang. Wajahnya tampak lelah dengan tangan yang menenteng jas dokternya. Dengan kasar ia menjatuhkan diri duduk di sofa ruangan tamu.

“Bos, tasnya saya letakkan di kamar ya,” ucap Azka menatap Dante sekilas kemudian melangkahkan kaki menuju kamar Dante.

Terdiam beberapa saat, suara datar Dante membuat langkah kaki Azka terhenti. Beberapa langkah lagi ia sampai di depan kamar dokter itu.

“Kenapa, Bos?” tanya Azka menoleh ke arah Dante.

“Gak usah banyak tanya. Bawa kesini tasnya. Setelah ini kamu bisa istirahat,” perintah Dante sembari menyandarkan punggungnya di sofa dan memejamkan mata.

Tak berani bersuara, Azka membalikan badan dan meletakkan tas milik Dante di samping pria itu. Sesuai perintah Dante, Azka menuju ruang belakang tempat biasa ia beristirahat.

Dari arah tangga terlihat Riana menuruni satu per satu anak tangga sambil membawa tas di tangannya. Keningnya berkerut saat melihat Dante di ruang tamu.

“Mas? Kamu tidur?” suara Riana terdengar sayup-sayup membuat Dante menghela nafas sembari membuka matanya.

“Kamu mau kemana?”

Dante menatap tas yang cukup besar yang berada di dekat kaki adik perempuannya itu.

“Aku ada acara seminar di Bandung, Mas. Tiga hari.” Riana duduk di samping Dante sambil fokus mengetik di layar ponselnya.

“Biar Azka yang nganterin kamu ke Bandung.” Dante beranjak dari sofa membawa tas dan baju dokternya.

“Tapi nanti kalau Mas Dante mau pakai?” Riana menatap Dante yang mulai menjauh.

“Pakai aja,” sahut Dante datar menghilang di balik pintu kamarnya.

Setibanya di kamar, Dante melangkah menuju box Evan. Senyum tipis terukir di wajah lelahnya melihat anaknya sudah rapi, wangi, meski sepagi ini masih tertidur. Setelah meletakkan tasnya, Dante menuju kamar mandi. Rasanya begitu rileks saat air hangat mengenai tubuhnya. Setelah ini pria itu ingin tidur karena lelah akibat operasi besar kemarin.

“Bu Bidan, mau ke klinik?” tanya Niken saat melihat Riana di ruang makan.

Riana meletakkan gelas di samping piringnya yang telah kosong lantas menatap Niken sambil tertawa kecil.

“Kenapa, Bu?” Niken mengerutkan kening. Bingung apa yang membuat Riana tertawa. Menurutnya pertanyaan yang ia lontarkan barusan adalah pertanyaan yang wajar.

“Lucu aja kamu masih manggil aku kayak gitu. Kita kan lagi di rumah, bukan di klinik.”

Niken tersenyum kecil. Jujur saja ia bingung harus memanggil Riana dengan sebutan apa.

“Kamu bisa panggil nama aku aja langsung, Ken,” kata Riana yang mulai merasa nyaman dengan Niken. Pembawaan Niken yang apa adanya membuat Riana merasa dekat walaupun belum mengenal lebih dalam.

“Ya gak mungkin lah, Bu,” sahut Niken cepat.

“Memangnya aku sudah setua itu? Selisih umur kita lo, paling cuma beberapa tahun aja,” lanjut Riana dengan nada tak terima.

“Iya, Mbak. Saya panggil Mbak Riana aja.” Niken mengulum senyum. Menurutnya panggilan ini yang paling pas untuk Riana.

“Oke. Itu lebih baik.” Riana meminta Niken untuk duduk di sebelahnya.

Tak ada bantahan, Niken dengan santai duduk di samping Riana yang kemudian menyodorkan sebuah kotak berwarna putih. Sudah jelas itu adalah sebuah ponsel baru.

“Ini ponsel buat kamu. Mas Dante kemarin minta aku buat beliin kamu ponsel.” Riana Mendekatkan lagi kotak ponsel itu dan meminta Niken untuk membukanya.

“Kamu tinggal pakai aja. Di dalam sudah ada nomor aku, Mas Dante, dan orang rumah. Jadi kalau ada apa-apa atau kamu perlu sesuatu kamu tinggal bilang.”

Niken menatap Riana.

“Kamu gak usah sungkan di rumah ini,” lanjut Riana.

Rona kebahagiaan terpancar dari wajah Niken kala mencoba membuka menu yang ada di ponsel barunya itu. Ponsel yang lebih canggih dari ponsel yang ia punya.

“Makasih banyak, Mbak.” Niken tak lepas memegang ponsel barunya.

Riana membalas dengan anggukan kepala. Dari arah pintu dapur, Mbok Tini datang membawakan semangkuk sayur daun katuk untuk Niken.

“Kamu makan yang banyak ya,” ucap Riana menatap Niken kemudian menatap semangkuk sayur katuk itu.

“Ini bagus buat asi kamu.” Riana meraih tisu dan merapikan lipstiknya.

Mendorong pelan kursinya, Riana lalu pamit pada Niken yang mulai menyantap sayur itu.

“Hati-hati, Mbak. Nanti pulang dari klinik jam berapa?”

Suara Niken barusan sukses membuat Riana membalikkan badan dan kembali menghampiri Niken.

“Hampir lupa ngasih tahu kamu. Hari ini sampai tiga hari kedepan aku ada seminar di Bandung.”

Uhuk uhuk.

Niken tersedak dan hampir mengeluarkan makan yang baru saja dikunyahnya.

“Pelan-pelan makannya. Ini minum dulu,” ujar Riana menuangkan segelas air minum dan memberikannya pada Niken.

Beberapa detik Niken mengatur nafasnya, dengan mata yang tak lepas menatap Riana. Bingung. Ia seolah kehilangan induk kalau Riana tidak ada di rumah. Apalagi sampai selama itu.

“Tiga hari di Bandung, Mbak? Lalu saya gimana?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    92. Berdua Saja

    Memastikan dirinya sudah terlihat rapi di depan kaca, Niken memutar kunci pintu lantas keluar. Baru satu langkah keluar dari kamar mandi, detak jantung berpacu cepat saat netranya menangkap bayangan seorang pria yang tidak mengenakan baju. Keningnya berkerut menatap pria itu dari belakang.“Mas, kenapa gak pakai baju?” tanya Niken polos saat Dante berbalik. Ia baru saja mencolok kabel untuk mengisi daya ponselnya.Niken jadi bingung sendiri harus ngapain. Baru kali ini mereka hanya berdua di kamar, tanpa kehadiran Evan.“Panas,” sahut Dante naik ke salah satu sisi kasur.“Tapi kan ac nya nyala, Mas. Saya juga sudah siapin baju,” kata Niken mengambil baju yang masih teronggok di atas kasur kemudian menyimpannya di dalam lemari.Berjalan ke sisi tempat tidur yang lain, Niken ragu untuk naik.“Saya ambil Evan aja ya, Mas. Kasihan Evan kalau nanti kebangun karena haus,” ucap Niken coba-coba berharap Dante luluh.“Riana juga pasti sudah siapin susu buat Evan. Kan asi perah kamu masih bany

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    91. Kulineran

    Memarkir mobilnya agak jauh karena kawasan yang padat, mereka lalu berjalan menyusuri jalan sambil melihat-lihat makanan yang menarik perhatian. “Tapi ini kebanyakan goreng-gorengan, Mas. Emangnya gapapa?” tanya Niken memastikan. Secara Dante adalah seorang dokter yang pasti menjaga kesehatannya. "Gorengan kan juga makanan ... enak lagi. Walau gak sehat kalau dimakan setiap hari," sahut Dante, "ambil aja yang itu, saya juga mau," lanjut Dante menunjuk penjual gorengan yang berada di sebelah kiri Niken. Tak tinggal diam, Niken mendekat lantas menunjuk beberapa gorengan dengan isian daging serta mayones. Tak lupa ia meminta cabe rawit dalam jumlah yang banyak. Dante cepat mendekat ketika pesanan Niken sudah siap dibungkus. "Makasih, Pak," kata Dante menerima kembalian. Jalanan yang cukup padat dengan pejalan kaki, membuat Niken beberapa kali hampir terjatuh karena terdorong orang di belakang. Sigap, Dante menggenggam jemari tangan istrinya lantas membawanya melipir ke salah sat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    90. Bertemu Mantan

    “Turun … makan,” ucap Dante lebih dulu keluar dari dalam mobil. Cepat Niken juga keluar menyusul suaminya itu, sebelum ia dikunci di dalam. Suasana tempat makan makan mereka datangi siang ini cukup ramai, sebenarnya membuat Niken kurang nyaman tapi ia tidak berani untuk protes. Duduk berhadapan dengan Dante, saat pelayan datang menanyakan pesanan, ia memilih untuk menyamakan saja pesanannya. Meski pelayan terlihat sibuk mondar mandir, mereka tidak perlu menunggu lama hingga pesanan mereka tersaji di meja. Tak ada perbincangan yang berarti sepanjang mereka makan. Niken sendiri tampak menikmati makanannya. Tidak salah Dante membawanya ke sini, karena makanannya memang enak. Ia baru sana merapikan sendok dan garpu di piringnya, saat seorang pelayan berjalan di depannya membawa minuman dingin yang tampak menggugah selera. Minuman hijau dengan kuah berwarna putih serta tambahan gula aren. "Kamu mau?" tanya Dante menoleh- melihat Niken yang netranya tak lepas menatap ke arah pelayan tadi

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    89. Sudah Satu Tahun

    Merasa susah mengambil nafas– sesak, Niken reflek batuk-batuk hingga terbangun. Perlahan membuka mata, wanita itu menundukkan kepala menatap ke arah lehernya. Sebuah lengan begitu kokoh melingkari lehernya. Tidak perlu diragukan lagi kalau itu ada Dante. Pria itu berada sangat dekat dengannya. Pertama Niken berhasil memindah lengan pria itu, tapi baru beberapa detik tangan pria itu kembali melingkari lehernya. “Aduh … Mas,” lirih Niken pelan kembali menjauhkan tangan pria itu. Ia menggeser sedikit posisi Evan agak ke pinggir, agar ia bisa menjauh dari dokter itu. Mengira sudah bebas, nyatanya pria itu malah menarik tubuh berisi istrinya itu. “Mas … kamu tidur atau engga sih?” Niken menatap wajah tegas Dante yang berada tepat di depannya. Matanya enggan berkedip memindai setiap inci wajah Dante yang terpahat begitu indah. Rambut halus yang tumbuh di sekitar pipinya, alis hitam yang begitu rapi. “Kamu maunya apa? Mau saya tidur atau engga?” Dante malah bertanya balik. Netra pria i

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    88. Jangan Dibahas

    “Pak Dante.” Ucapan Niken langsung membuat ekspresi wajah pria itu berubah dingin. Sudah nyaman dipanggil dengan sebutan mas, rasanya aneh di telinga Dante saat Niken mengucapkan kata pak. Itu sengaja ia lakukan agar Dante bisa sedikit sadar. “Habisin ini dulu,” ucap Dante sembari menyendok dessert coklat itu lagi. Bergantian– menyuap Niken dan dirinya sendiri. Jujur dessert ini memang enak, tapi kalau kebanyakan jadinya bikin perut kurang nyaman. “Saya sudah, Pak,” ucap Niken sembari mengelus perutnya yang mulai tidak nyaman. Refleks Dante ikut mengelus perut Niken. “Apa sih, Mas?” Niken memukul pelan punggung tangan Dante sembari melotot. Tanpa mereka sadari, pintu ruangan terbuka dengan Riana, Evan, dan Bima berdiri di depannya. Untuk beberapa saat mereka diam memperhatikan Niken dan Dante, berharap mereka sadar tapi nyatanya tidak. “Pantas ya, Mas,” celetuk Riana masuk membuat Niken dan Dante terperanjat. Sedikit mendorong Dante, Niken berdiri– sedikit jauh dari kursi Dante.

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    87. Berdua Di Ruangan Pribadi

    “Sebentar Mima keluar dulu ya, Sayang,” pamit Niken yang telah rapi, mencium Evan yang masih nyenyak tidur. Ia keluar kamar dengan sangat pelan lantas menyusul Dante yang pasti sudah berada di ruang makan. Duduk di salah satu kursi, Dante tampak serius menatap ponselnya. Sementara di depannya sudah tersaji beberapa menu makanan yang belum disentuh sama sekali olehnya. “Mas, mau makan apa?” tanya Niken berdiri di samping Dante siap melayani suaminya itu. “Memangnya kamu gak mau makan sama-sama disini sama saya?” Niken menggigit bibir bawahnya. “Evan masih tidurkan?” tanyanya lagi memastikan. Wanita itu mengangguk pelan seraya menarik kursi tepat di samping Dante. Saat Dante membalik piring yang ada di depannya, Niken reflek berdiri hendak mengambilkan makanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari piring mereka. Masih bisa dijangkau dalam posisi duduk. “Duduk aja. Kamu gak usah tegang kayak gitu.” Mendengar itu Niken kembali duduk, tapi dengan kepala yang menunduk– malu sendir

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    3. Harus Bersih

    Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    5. CCTV Baru

    Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    4. Melihat Isi Baju

    “Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status