ログインKeluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi.
“Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” gumam Riana berjalan mengikuti Mbok Narti ke arah dapur. Ia ingin memastikan makanan yang dimasak Mbok Narti sudah sesuai dengan permintaannya kemarin. “Kalau Niken sudah keluar dari kamarnya gak, Mbok?” tanya Riana lagi. “Belum juga, Mbak. Mungkin masih tidur karena tadi malam Evan nangis terus,” ucap Mbok Narti memberitahu. Riana memutuskan untuk sarapan sebentar sebelum pergi ke klinik. Selesai di ruang makan, Riana berjalan menuju kamar Niken berniat untuk mengecek keadaannya, tapi niat itu dibatalkannya mengingat apa yang dikatakan Mbok Narti barusan. “Mas,” panggil Riana sambil mengetuk dan memutar gagangnya. Ia benar-benar terkejut saat melihat Niken dan Dante tidur di ranjang yang sama tapi dengan jarak yang cukup jauh. Dante berada di ujung sementara Niken dekat dengan box Evan. “Mas Dante, gak ke rumah sakit?” tanya Riana membangunkan Dante. Bukannya Dante yang bangun tapi malah Niken yang terbangun dulu. “Bu Bidan?” Niken kaget saat melihat Riana, “astaga saya ketiduran di sini. Maaf, Bu.” Niken buru-buru bangun dan keluar dari kamar itu. Sehabis menyusui Evan kemarin, ia benar-benar ngantuk dan ketiduran. “Mas Dante,” panggil Riana menggoyangkan badan Dante hingga pria itu akhirnya bangun. “Ada apa sih?” Dante mengucek-ngucek matanya. “Sudah jam segini Mas Dante gak kerja?” Dante menggeleng. “Aku mau bicara sama Niken.” “Bicara apa, Mas? Nanti biar aku aja yang sampaikan,” ucap Riana cepat, takut nanti Dante malah ngomong yang macam-macam. “Ya ngomong tentang Evan. Biar dia bisa urus Evan tanpa harus ganggu aku.” Riana mengerutkan kening lantas memberikan pilihan untuk memindahkan semua perlengkapan Evan ke kamar Riana. Namun hal itu ditolak mentah-mentah oleh Dante. “Sekarang Evan dan Niken biar aku yang urus,” ucap Dante beranjak dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi. Riana memijat keningnya dan berharap Dante tidak berbuat yang aneh-aneh. ** “Ikut saya ke ruang kerja,” ucap Dante yang tiba-tiba berdiri di depan Niken yang tengah berada di ruang tamu depan. Dengan sigap Mbok Narti mengambil Evan dari gendongan Niken dan menyuruhnya bergegas menemui Dante. Pasalnya Dante paling tidak suka menunggu. Dengan jantung yang berdetak kencang, Niken mengetuk pintu ruang kerja Dante dan masuk ketika terdengar suara dalam. “Iya, Pak.” Niken duduk di hadapan Dante yang terlihat serius. Pria itu terlihat mengenakan pakaian santai menandakan ia tidak pergi ke rumah sakit pagi ini. Sebenarnya ia agak keberatan dengan panggilan pak, tapi itu lebih baik daripada panggilan tuan. “Kenapa Riana bisa kenal sama kamu?” tanya Dante mengawali percakapan. Niken tak langsung menjawab. Rasanya malas kalau harus menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. “Saya ketemu di klinik waktu saya periksa, Pak.” “Memangnya kamu sakit apa?” “Saya gak sakit, Pak,” sahut Niken tak berani memandang Dante. “Apapun yang menyangkut Evan kamu harus cepat kasih tahu! Mulai malam ini kamu bisa pindah ke kamar Evan,” ucap Dante dengan wajah datarnya. Niken cuma mengangguk. Ia menutup rapat mulutnya meski ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan. “Semua keperluan kamu akan jadi tanggung jawab saya dan setelah usia Evan dua tahun, saya tidak melarang kamu untuk pergi. Tenang saja, akan ada harga yang sesuai untuk itu semua,” lanjut Dante yang hanya direspon dengan anggukan kepala Niken. “Lalu anak dan suami kamu?” Pertanyaan Dante membuat Niken mengangkat wajah dan menatap pria di depannya. Tidak mengira kalau hal itu akan Dante tanyakan padanya. “Anak saya meninggal beberapa waktu lalu, Pak,” sahut Niken sendu. “Suami?” Ekspresi Dante penuh tanya, sedikit mendekatkan wajahnya menatap Niken. Untung saja Mbok Narti datang dan membawa Evan yang menangis masuk ke dalam ruang kerja Dante. “Permisi. Sepertinya Evan haus,” ucap Mbok Narti yang langsung disambut oleh Niken. Sambil menggendong Evan, Niken pamit keluar bersama Mbok Narti. Dalam hatinya bersyukur karena ia tidak perlu menjelaskan kehidupan pribadinya. Meski tampan, Niken merasa kalau Dante orang yang keras dan sangat penuh aturan. “Ini Mbok sudah siapin cemilan kacang sangrai buat kamu,” ucap Mbok Tini membawa satu toples kacang pada Niken yang sedang menyusui Evan di ruang samping dekat kolam renang. “Makasih ya, Mbok.” Niken tersenyum. “Sama-sama. Orang yang lagi menyusui itu memang harus banyak makan supaya asinya banyak. Apalagi anak laki-laki itu menyusunya kuat. Kemarin malam kamu begadang ya,” ucap Mbok Tini duduk tak jauh dari Niken. “Iya, Mbok. Saya sampe ketiduran di kamar Pak Dante. Untung pas saya keluar dia masih tidur. Takut saya sama dia, Mbok,” ucap Niken memainkan tangan mungil Evan. “Mas Dante memang begitu orangnya, tapi pada dasarnya baik kok,” kata Mbok Tini yang sudah sangat lama bekerja di sini. “Tapi tetap aja, Mbok. Untung aja ada Bu Bidan. Kalau enggak saya gak mau ada di sini,” ucap Niken menutup bajunya karena Evan telah selesai menyusu. “Memangnya apa yang terjadi, kalau boleh Mbok tahu,” kata Mbok Tini mengambil Evan dari Niken dan menepuk pelan pundak Evan agar bayi mungil itu bersendawa. “Hidup saya gak ada yang menarik, Mbok. Anak saya meninggal dan sekarang saya harus menyusui bayi orang lain,” sahut Niken menghela nafas panjang. “Maaf ya. Mbok turut berduka cita.” Mbok Tini mengusap pelan punggung Niken. “Sudah takdir saya, Mbok. Tapi paling nggak selama dua tahun ini rasa sedih saya bisa terobati dengan adanya Evan.” Niken tersendiri getir. Dari balik pintu, Dante yang tengah menguping perbincangan Niken dan Mbok Tini terkejut saat Azka, asisten merangkap supirnya muncul di depannya. “Ngapain sih kamu?” tanya Dante kesal. “Maaf, Pak. Orang yang mau pasang cctv sudah datang,” ucap Azka memberi tahu. “Kamu awasi mereka selama di kamar aku. Jangan lupa titik pemasangannya harus pas,” perintah Dante. Azka maju beberapa langkah dan tersenyum pada Niken yang kebetulan sedang memandang ke arah Azka berdiri. “Kenapa kamu senyum-senyum?” “Itu. Pengasuhnya Evan,” ucap Azka masih senyum-senyum. Dante melotot membuat Azka bergegas pergi dari hadapan pria itu. Selain kamar utama, Dante juga memasang cctv yang langsung terhubung ke ponselnya di dapur, di ruang samping, serta di beberapa sudut rumahnya. “Buat apa sih cctv baru, Pak? Bukannya sudah ada cctv?” tanya Azka penasaran saat cctv baru sudah selesai terpasang semua. “Bukan urusan kamu,” sahut Dante ketus fokus menatap layar ponselnya. Wajah Azka berubah mendengar jawaban ketus bosnya itu, tapi meski begitu ia sudah kebal dengan sikap Dante yang seperti itu. Kalau tidak mungkin ia sudah lama resign dari kerjaan ini. “Kalau gitu saya keluar dulu, Bos,” ucap Azka yang direspon dengan kibasan tangan Dante yang menyuruh Azka keluar. Jemari tangan Dante lincah menggeser tombol pada aplikasi pemantauan cctv di ponselnya. Mengawasi Niken dan juga Evan.Duduk di sofa panjang ruang tengah, kejadian yang Agatha lihat kemarin saat di restoran kembali terulang di dalam pikirannya. Adegan demi adegan yang Dante lakukan pada Niken, entah kenapa membuatnya panas– tak terima. Anita yang baru pulang dan melihat ekspresi tegang anaknya, segera mendekat. “Kenapa kamu?” tanya Anita meletakkan tas kulitnya di atas meja. “Gak terima aja,” kata Agatha marah. Kening Anita berkerut mendengar jawaban itu. Belum sempat bertanya lebih jauh, Agatha langsung menceritakan apa yang ia lihat kemarin di restoran. Begitu menggebu-gebu hingga Anita bisa tahu kalau anaknya menyimpan rasa kesal. Namun ia tahu semua ini terjadi juga karena kesalahan Agatha. “Terus kamu mau apa? Kamu sama Dante sudah resmi cerai. Hak asuh juga sama Dante, terus kamu mau apa?” Agatha mendengus kesal. Berkali-kali ia mengatakan tidak terima dengan perlakuan Dante ke perempuan lain. “Tapi dia itu siapa sih, Ma? Kok pengasuh anak kayak gitu pakaiannya. Duduk berdua di depan. Pakai
Masih berada di atas tempat tidur, Niken menoleh ke arah jaket yang tersampir di sofa. Teringat saat kejadian di mobil kemarin. Bisa-bisanya tidak ada tisu, hingga ia harus menggunakan jaket Dante untuk menutup bajunya yang basah. Reflek tangannya meraba bagian yang kemarin sempat Dante pijat– dengan lancang. “Apa maunya sih?” gumam Niken pusing. Semakin hari sikap Dante semakin tak jelas dan membuatnya pusing. Mengira hanya akan merawat dan mengurusi Evan, nyatanya ia juga harus meladeni sikap ayah anak yang sedang ia rawat. Ia sengaja membiarkan Evan tidur lebih lama pagi ini, agar bisa tetap berada di dalam kamar. Mengira Dante sudah pergi, dengan langkah santai Riana keluar dari dalam kamar. Siap pergi ke klinik. “Duduk,” kata Dante membuat Riana kaget. Ia menoleh ke arah sumber suara. Rupanya Dante telah duduk di sofa atas sejak tadi. Riana tak bisa berkutik. Sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, ia duduk di ujung sofa. Tanpa basa basi Dante langsung bertanya apa hub
Mobil yang Dante kendarai mulai melambat saat masuk di salah satu komplek perumahan. Terlihat beberapa mobil berbaris rapi di pinggir jalan. Malam ini Akbar mengadakan acara syukuran menempati rumah barunya. Karena mereka datang sedikit terlambat, alhasil mereka parkir cukup jauh dari rumah Akbar. Turun dari kendaraan beroda empat itu, Dante menekan tombol– mengunci mobilnya. “Saya gak apa-apa ikut ke acara Pak Dante?” tanya Niken takut-takut. Melihat banyaknya mobil yang berjejer, sudah pasti tamu yang datang bukan orang sembarangan. Dokter dan sejenisnya. Ia merasa rendah diri dan takut membuat Dante malu. Dante tak menjawab malah menarik tangan wanita itu agar berjalan lebih cepat. Sebelum masuk ke dalam rumah, ia meminta Niken untuk tidak memanggilnya dengan sebutan bapak saat berada di sana nanti. Niken hanya diam, tidak mengiyakan dan juga tidak menolak. Dalam hatinya berkata sebisa mungkin ia tidak akan bicara apapun dan akan selalu berada dekat dengan Dante. “Ayo masuk,” s
Menuruni tangga lalu ke ruang makan, Riana segera duduk di samping Dante yang telah lebih dulu berada disana.“Mas … kemarin aku lihat Mbak Agatha,” kata Riana menggebu-gebu. Dante menoleh malas. “Oh. Di mana?”Dengan semangat ia menceritakan dimana dan kapan ia melihat Agatha, hingga tak sadar menyebutkan nama seseorang yang membuat Dante mengerutkan kening.Riana cepat menutup mulutnya.“Bima? Siapa?” ulang Dante membuat Riana semakin erat menutup mulutnya. Ia merutuki dirinya kenapa bisa sampai menyebutkan nama Bima saat bicara dengan Dante. Walau sebenarnya tidak masalah, tapi malas saja kalau nanti Dante malah bertanya yang macam-macam.Dante masih menatapnya, menunggu penjelasan.“Dokter Bima … yang di rumah sakit Mas Dante. Kemarin gak sengaja ketemu,” terang Riana hati-hati.“Iya, Mas. Gak sengaja ketemu,” ujar Riana meyakinkan lantas mengalihkan pembicaraan agar Dante berhenti bertanya soal Bima.Percakapan mereka terhenti saat Niken dan Evan tiba di ruang makan.“Evan gak m
“Sudah semua?” tanya Dante sebelum perawat keluar dari ruangan prakteknya.Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat itu.“Sudah, Dok,” sahut perawat itu.Menguap lebar sambil memijat leher belakangnya, pria itu mematikan laptop lalu merapikan mejanya.Keluar dari dalam ruangan, ia berpapasan dengan Wira. Sebenarnya Dante tidak ingin terlibat percakapan dengannya, tapi Wira menyapa duluan dan mengiringi langkahnya.“Baru selesai?”Dante tersenyum tipis.“Oh iya. Aku beberapa kali ketemu sama Riana, dia jalan sama Evan dan siapa … pengasuh Evan ya, Niken,” kata Wira membuat telinga Dante tiba-tiba meninggi.“Memangnya kenapa?” Dante menghentikan langkahnya menatap Wira– rahangnya mengeras.“Aku mau kenalan sama dia … sama Niken,” kata Wira membuat wajah Dante tegang.“Dia sudah ada yang punya. Dan dia gak ada waktu buat kenalan sama orang lain, karena fokus sama hal yang lebih penting,” ucap Dante kemudian pergi meninggalkan Wira. Entah apa yang dikatakannya barusan, ia se
“Bagus ya kamu …” Anita yang duduk di ruang tamu langsung berdiri berkacak pinggang saat melihat Agatha masuk menarik kopernya. “Apa sih, Ma? Aku baru pulang, capek.” Agatha duduk di sofa tak jauh dari Anita. Penuh emosi ia menatap anaknya yang terlihat santai, seperti tidak melakukan kesalahan apapun. Anita lalu mengambil map putih yang sedari tadi ia pegang, lalu melemparkan ke arah Agatha. Agatha duduk bersandar– membuka dan membaca isi map putih itu. Senyum sinis tersungging di bibirnya. “Akta cerai,” gumam Agatha tak tertarik pada kertas itu. Ia menyimpannya kembali di dalam map dan meletakkannya di atas meja. “Kamu masih bisa sesantai itu? Mama heran sama kamu! Kamu melepaskan Dante sama anak kamu, demi pria yang gak jelas itu. Sekarang mana dia? Kenapa kamu pulang? Sudah habis uang dia!?” seru Anita emosi. Agatha tak merespon ucapan Anita, ia malah sibuk dengan ponselnya. Merasa diacuhkan oleh anaknya itu, Anita mendekat dan merampas ponsel yang sedang Agatha pegang. “Kam
Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama
Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”
“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal
“Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan







