Share

7. Ditinggal Pergi

Author: Lystania
last update publish date: 2026-06-04 21:01:24

Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan.

“Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama Mbok Tini,” kata Riana mencoba menenangkan Niken.

Sayur katuk yang sebenarnya enak itu, tiba-tiba hilang rasanya di lidah Niken.

“Habisin ya.” Riana tersenyum sembari mengusap pelan pundak Niken lalu pamit.

Tangannya berkali-kali mengaduk kuah sayur itu sebelum akhirnya ia minum dengan sendok. Dari tempatnya duduk, ia dapat mendengar suara Riana dan Dante yang tengah berbincang.

“Aku jalan ya, Mas.”

“Iya.”

Suara berat Dante langsung membuat jantung Niken berdetak tak karuan. Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki menuju ruang makan, membuat Niken buru-buru mengangkat mangkuk sayur agar tidak bertemu dengan Dante. Tapi karena gugupnya, ia tak sengaja menumpahkan sedikit kuah sayur di atas meja.

“Mbok.”

Suara Dante persis berada di belakangnya. Niken terdiam beberapa detik kemudian tersadar saat Dante kembali memanggil asisten rumah tangga.

“Iya, Mas.” Mbok Tini datang ke arah sumber suara.

“Kamu mau kemana?” Tanya Dante kala Niken melangkah kaki ingin pergi dari ruang makan.

“Mau simpan ini, Pak,” sahut Niken sedikit berbalik dan menunjukkan mangkuk yang ia pegang.

Niken kembali melangkah menuju dapur meninggalkan Dante dan Mbok Tini. Hanya berselang satu menit, Mbok Tini menyusulnya ke dapur kemudian sibuk menyiapkan makanan.

Setelah meletakkan mangkuk kosong di wastafel dan mencuci tangan, Niken berniat ingin mengecek Evan ke kamar. Pasalnya dadanya sudah terasa penuh. Tak ingin berpapasan dengan Dante di ruang makan, ia memilih untuk memutar dari pintu belakang. Namun baru beberapa langkah, ia teringat ponsel yang diberikan oleh Riana tadi masih berada di atas meja makan. Tak mungkin ia membiarkan ponsel itu terus berada di sana, sementara Dante juga ada di sana. Mau tak mau ia kembali masuk dan menuju meja makan.

“Lagi makan, Mbok?” tanya Niken dengan mata melirik ke arah ruang makan.

“Iya, Mbak. Mas Dante lagi makan,” sahut Mbok Tini kembali sibuk dengan aktivitasnya.

Tak buang waktu lama Niken memberanikan diri menuju ruang makan, dengan harapan Dante sudah menjauh. Namun sayang, pria itu masih berada di sana sambil memperhatikan ponsel yang Riana berikan tadi.

“Ini.” Dante memegang ponsel itu dengan salah satu tangan yang terangkat, sembari menatap Niken yang berdiri tak jauh darinya.

“Iya, Pak. Tadi Mbak Riana kasih sebelum pergi. Katanya dari Bapak.” Suara Niken sedikit takut. Langkahnya seolah tertahan karena Dante yang masih menatapnya.

“Lalu kenapa masih ada di sini?” Dante meletakkan ponsel itu di atas kotaknya.

Niken melangkah mendekat, dengan wajah tersenyum kecut menatap Dante.

“Saya lihat Evan dulu, Pak.” Tangan kanannya meraih ponsel serta kotaknya.

Bergegas Niken menuju kamar untuk mengecek Evan sebelum bayi itu menangis.

***

Duduk di ruang samping sambil menatap pohon yang daunnya seolah menari diterpa angin, Niken menggendong Evan yang baru saja terbangun. Sesekali ia mencium pipi bayi laki-laki itu, yang semakin hari semakin tembem saja.

“Kita jalan-jalan ke sana yuk.” Ajak Niken bangkit dari sofa lalu menggendong Evan lebih erat.

Rumah ini punya halaman yang cukup luas. Khususnya halaman samping yang dekat dengan kolam renang minimalis. Pohon-pohon besar menambah kesejukan dan keasrian tempat ini. Rasanya membuat hati semakin tenang. Sebelum hari semakin sore, ia membawa Evan untuk dimandikan. Setibanya di kamar, Niken meletakkan Evan di dalam box sementara ia menyiapkan baju ganti dan keperluan lainnya. Tanpa ragu Niken membuka pakaian Evan dan membawanya ke kamar mandi. Namun betapa kagetnya ia saat tangannya memutar gagang pintu. Matanya membulat melihat apa yang ada di depannya.

“Maaf, Pak.” Niken menutup pintu dan menunggu di depannya.

Niken tak menyangka kalau Evan akan mandi di kamar mandi kamarnya. Oke ini memang kamarnya, tapi ucapan Dante kemarin yang bilang kalau Niken pindah ke kamar utama, jelas membuat Niken punya hak yang sama di kamar itu.

“Kamu bisa pakai kamar mandinya sekarang.” Dante keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk. Aroma segar tercium jelas saat pria itu berhenti sejenak di dekatnya untuk mencolek pipi Evan.

Tanpa aba-aba, Niken masuk dan menutup sedikit pintu. Rupanya pria itu sudah menyiapkan perlengkapan mandi Evan di dekat bak mandi.

Sangat hati-hati ia memandikan Evan yang terlihat bahagia berada di dalam air hangat.

“Sudah selesai, Sayang.” Niken mengangkat Evan dan membalutnya dengan handuk putih. Hampir sepuluh menit memandikan Evan, Niken yakin kalau Dante sudah selesai dan keluar dari kamar. Namun dugaannya salah. Dante masih berada di dalam kamar, tengah duduk di sofa. Tentu saja pria itu sudah berpakaian rapi.

Bajunya yang setengah basah akibat memandikan Evan otomatis membuat beberapa bagian tubuh Niken tersirat.

Sedikit membungkuk, Niken cekatan merapikan Evan. Memijat pelan perut serta punggung bayi itu dengan minyak lantas memakaikannya baju. Aroma khas bayi langsung memenuhi seisi kamar.

“Kamu bisa mandi sekarang, biar Evan sama saya.”

Entah sejak kapan Dante berdiri di belakangnya. Beberapa menit lalu pria itu masih duduk di sofa.

Niken mengangguk dan membiarkan Dante membawa Evan keluar dari kamar itu. Ia duduk sejenak di tepi ranjang kemudian berlalu menuju kamar sebelah untuk mandi. Pakaian dan perlengkapannya masih berada di kamar pertama yang ditempatinya. Ia masih ragu untuk memindahkan barangnya ke kamar utama, karena disana barang-barang Dante pun masih tersusun rapi.

Mengenakan pakaian yang diberikan oleh Riana, Niken keluar kamar. Biasanya setelah mandi Evan selalu rewel ingin menyusu.

“Gak ada.” Keningnya berkerut melihat kamar yang kosong. Menutup pintu kamar, ia kemudian menuju ruang tamu depan. Sayangnya Evan juga tidak ada. Dari belakang Mbok Tini menepuk pundaknya. Wanita berusia hampir kepala enam itu memberi tahu kalau Dante membawa Evan ke ruang kerjanya.

“Gak apa-apa, Mbak. Mbok mau siapin makan malam dulu ya,” tolak Mbok Tini secara halus, saat Niken minta ditemani ke ruang kerja Dante.

Tidak tahu kenapa, ia merasa takut masuk ke ruangan itu. Masih terbayang wajah Dante yang datar saat menginterogasinya.

“Permisi, Pak,” ujar Niken mengetuk pintu lantas membukanya sedikit hingga kepalanya bisa melihat ke dalam.

Pria itu memutar kursinya dan menatap ke arah pintu. Sorot matanya seperti memberi instruksi agar Niken masuk ke dalam dan Niken mengerti itu.

“Saya ada janji dengan pasien di rumah sakit.” Dante memberikan Evan perlahan pada Niken.

Senang rasanya mendengar ucapan Dante barusan itu artinya pria itu tidak akan ada di rumah malam ini.

“Kemungkinan saya pulang larut malam.” Dante mengelus kepala Evan lalu pergi.

Perasaan senang itu ternyata salah.

Lystania

Kira kira Niken bisa tidur nyenyak gak ya :)

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    10. Ruangan Pribadi

    Selang beberapa menit, perawat datang membawa catatan di tangannya, disusul Niken dan Evan. Dokter Akbar membaca catatan yang diberikan perawat tadi. Bibirnya tersenyum dengan kepala yang mengangguk kecil. Dokter itu lantas meminta perawat tadi menyiapkan peralatan dan vaksin untuk Evan. “Apa?” Dante menatap Akbar penuh tanya. Akbar lalu menunjukkan isi kertas itu pada Dante. Alis Dante berkerut lalu mengambil kertas dari tangan Akbar. “Sepertinya Evan cocok dengan susunya.” Akbar melirik ke arah Niken dan Dante bergantian dengan senyum menggoda. Tak menggubris Akbar, Dante memperhatikan catatan itu. Membaca dengan teliti setiap tulisan yang ada di dalamnya. Bibir Dante melengkung– senang karena berat dan tinggi badan anaknya berangsur naik. Dibandingkan saat ia lahir, berat badannya sekarang naik cukup signifikan. Dari arah tempat tidur terdengar suara tangisan. Evan baru saja selesai divaksin. “Bayinya di kasih susu aja, Bu,” ujar perawat itu tersenyum. Usul perawat itu benar

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    9. Imunisasi

    “Tolong tutup kulkasnya sekarang.” Pinta Dante lagi yang terdengar seperti perintah. Niken meletakan kue keju itu di meja lalu menutup pintu kulkas. Dapur yang tadinya sedikit terang karena cahaya dari kulkas kini menjadi remang-remang. Situasi ini membuat Niken tiba-tiba menjadi bingung. Ia malah melangkah hendak berlalu dari tempat itu. Namun tangannya cepat diraih oleh Dante. Reflek Niken menatap tangan Dante yang sedang memegang tangannya. Kemudian wajahnya terangkat sedikit demi sedikit menatap wajah Dante. Perlahan tapi pasti matanya mulai beradaptasi dalam gelap. Matanya susah berkedip. Wajah pria itu terpahat sempurna dengan rahang tegas ditumbuhi rambut tipis hingga dagunya serta tulang hidung yang menonjol. “Saya mau ngecek Evan, Pak,” ucap Niken tersadar. Sudah terlalu lama berada di dapur. Terlalu lama menatap Dante. “Selesaikan saja dulu. Saya akan cek Evan.” Dante berbalik dan meninggalkan Niken yang masih berdiam diri. Apa itu? Kenapa setiap kali ada Dante, aku s

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    8. Cahaya Kulkas

    Sepeninggal Dante, Niken membawa Evan ke ruang makan. Ditemani Mbok Tini dan Mbok Narti yang bergantian menjaga bayi mungil itu, Niken bisa menikmati makan malamnya dengan tenang. Tak pernah terbayangkan ia bisa berada di tempat ini, dengan segala kemudahan yang ia terima. Meski harus selalu was was dengan Dante. Ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya takut. Entah apa, ia juga belum tahu. “Mau nyusu kayaknya, Mbak,” kata Mbok Narti saat Evan mulai rewel. Cepat Niken menghabiskan makannya. “Sudah. Biar Mbok yang beresin. Kamu ajak Evan aja ke kamar atau gak ke ruang tengah,” cecar Mbok Narti melihat Niken hendak membereskan peralatan makannya. Sangat hati-hati ia menerima Evan dari Mbok Narti. Kakinya melangkah cukup cepat menuju ruang tengah sebelum tangis Evan makin kencang. Duduk di sofa yang besar dan sangat empuk ini, Niken membuka beberapa kancing bajunya dan mulai menyusui Evan. Bayi laki-laki itu terus menempel di dadanya seolah tidak ada kenyang. Salah satu tangannya m

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama Mbok Tini,” kata Riana mencoba menenangkan Niken. Sayur katuk yang sebenarnya enak itu, tiba-tiba hilang rasanya di lidah Niken. “Habisin ya.” Riana tersenyum sembari mengusap pelan pundak Niken lalu pamit. Tangannya berkali-kali mengaduk kuah sayur itu sebelum akhirnya ia minum dengan sendok. Dari tempatnya duduk, ia dapat mendengar suara Riana dan Dante yang tengah berbincang. “Aku jalan ya, Mas.” “Iya.” Suara berat Dante langsung membuat jantung Niken berdetak tak karuan. Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki menuju ruang makan, membuat Niken buru-buru mengangkat mangkuk sayur agar tidak bertemu dengan Dante. Tapi karena gugupnya, ia tak sengaja menumpahkan sed

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    6. Ponsel Baru

    Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?” Niken mengecek popok Evan yang ternyata penuh.Setelah mengambil popok dan perlengkapannya dari dalam laci, Niken memindahkan Evan dari box dan membaringkannya di atas tempat tidur.“Kita ganti dulu ya, Sayang.” Niken menatap Evan beberapa saat, kemudian mengganti popoknya dengan yang baru. Tak lupa ia mengoleskan minyak telon di perut Evan. Seolah suka dengan usapan tangan Niken, bibir kecil Evan mengulas senyum tipis. Niken lantas kembali membaringkan Evan di dalam box sementara ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.Baru saja menekan botol pump yang berisi sabun tangan, sayup-sayup terdengar suara tangisan Evan. Buru-buru Niken menyudahi aktivitasnya. Sambil mengeringkan tangan

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    5. CCTV Baru

    Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi.“Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan.“Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti.“Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” gumam Riana berjalan mengikuti Mbok Narti ke arah dapur.Ia ingin memastikan makanan yang dimasak Mbok Narti sudah sesuai dengan permintaannya kemarin.“Kalau Niken sudah keluar dari kamarnya gak, Mbok?” tanya Riana lagi.“Belum juga, Mbak. Mungkin masih tidur karena tadi malam Evan nangis terus,” ucap Mbok Narti memberitahu. Riana memutuskan untuk sarapan sebentar sebelum pergi ke klinik.Selesai di ruang makan, Riana berjalan menuju kamar Niken berniat untuk mengecek keadaannya, tapi niat itu dibatalkannya mengingat apa yang dikatakan Mbok Narti barusan.“Mas,” panggil Riana sambil mengetuk dan memutar gagangnya.Ia benar-benar terkejut saat melihat Niken dan Dante tidur di ranjang yang sama tapi d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status