공유

PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)
PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)
작가: Lystania

1. Periksa

작가: Lystania
last update 게시일: 2026-04-15 13:47:37

“Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.

Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.

“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yang diberikan oleh salah satu petugasnya.

“Ibu Niken Anjani, ada yang bisa saya bantu?” lanjut Riana menatap wanita muda di depannya.

Siang ini Niken memberanikan diri pergi ke klinik bidan yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya.

“Beberapa minggu ini badan saya sakit semua, Bu Bidan. Asi saya juga keluar terus,” ucap Niken dengan suara lirih.

Mendengar apa yang Niken ucapkan Riana mengerutkan kening. Bingung.

“Kita cek dulu ya.” Riana tersenyum kecil sambil meminta perawat membantu Niken untuk berbaring ditempat tidur.

Memasang stetoskop di telinga, Riana lantas memeriksa keadaan wanita muda itu sejenak.

“Bayi Ibu gak mau minum asi?” tanya Riana begitu selesai memeriksa.

Spontan wajah Niken berubah murung saat mendengar pertanyaan Riana. Ia turun dari tempat tidur dan kembali duduk di hadapan dokter.

“Bayi saya meninggal dua minggu yang lalu, Bu,” sahut Niken dengan suara sendu.

“Maaf ya, Bu. Saya turut berduka,” ucap Riana dengan wajah iba.

Niken mengangguk kecil.

“Sakit yang Bu Niken alami ini karena asi yang seharusnya keluar, tapi tidak bisa Ibu keluarkan. Sebenarnya bisa saja Ibu pompa,” ucap Riana menatap Niken.

“Dipompa? Buat apa juga, Bu? Bayi saya sudah gak ada,” ucap Niken pasrah. Setiap kali asinya rembes, ia selalu menangis mengingat bayinya yang malang.

“Saya bisa minta obat agar asi saya gak keluar lagi? Biar kering,” lanjut Niken lagi.

“Kebetulan obat itu sedang kosong di apotek sini, tapi tenang aja saya bakal tuliskan nama obatnya di kertas. Jadi Bu Niken bisa beli di apotek luar,” ucap Riana yang beberapa saat kemudian memberikan selembar kertas pada Niken.

“Makasih ya, Bu Bidan.” Niken bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan Riana.

Duduk di kursinya Riana menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Niken. Entah kenapa ia merasa iba dengan wanita muda itu. Usia yang masih muda tapi harus merasakan sakitnya kehilangan anak yang baru saja dilahirkan.

Riana baru saja akan meninggalkan klinik untuk melihat keponakannya yang baru lahir dua hari lalu, saat ponselnya berdering.

“Kenapa, Mas?” tanya Riana menempelkan ponsel di telinga.

“Tolong kamu carikan wanita yang bisa menyusui Evan,” kata Dante di seberang sana dengan nada cemas.

“Hah? Maksudnya, Mas? Memangnya Mbak Agatha gak bisa, Mas?” tanya Riana bingung.

“Dia pergi. Kabur gak tahu kemana,” sahut Dante emosi kemudian menutup panggilannya.

Riana kembali duduk dan mengatur nafasnya yang memburu karena syok mendengar ucapan Dante tadi. Ia tidak habis pikir kenapa dan apa yang menyebabkan kakak iparnya itu bisa kabur setelah melahirkan. Sejauh yang ia lihat kehidupan Dante dan Agatha baik-baik saja. Walau kadang ia bisa mendengar mereka bertengkar.

“Orang tadi,” sergah Riana teringat Niken yang pasti bisa memenuhi permintaan Dante.

Melirik ke arah jam, Riana yakin Niken masih berada di sekitaran kliniknya.

Riana bergegas keluar dan menuju meja kasir untuk menanyakan keberhasilan Niken.

“Atas nama Niken tadi sudah pergi?” tanyanya pada petugas kasir.

“Dia baru aja keluar, Bu. Soalnya saya baru selesai ngitung uang dia,” ucap kasir itu sambil menunjukan tumpukan uang kecil ke atas meja.

“Oke,” sahut Riana singkat sembari setengah berlari menuju pintu keluar dan melihat ke sekitar kliniknya. Petugas satpam yang melihat Riana tampak bingung kemungkinan datang mendekat.

“Oh wanita yang itu, Bu. Saya cari dulu ya, Bu. Seharusnya dia masih dekat karena tadi dia jalan kaki aja,” ucap satpam itu saat Riana memberitahu ciri-ciri Niken.

Menunggu di depan klinik sekitar 10 menit, satpam kliniknya akhirnya kembali bersama Niken.

“Makasih, Pak,” ucap Riana pada petugas keamanan kliniknya.

“Ada apa ya, Bu Bidan?” tanya Niken dengan wajah takut, “uang saya tadi kurang?” tanya Niken lagi.

Riana menggelengkan kepala lantas mengajak Niken masuk ke ruangannya lagi.

“Jadi ada apa, Bu?” tanya Niken begitu tiba di ruangan. Salah satunya membenarkan jaket untuk menutupi bagian dadanya yang basah.

“Bu Bidan?” tanya Niken kala Riana tidak kunjung bicara.

“Aku boleh nanya? Mungkin pertanyaan ini sedikit pribadi?”

Niken mengangguk tanpa ragu.

“Kalau boleh tahu, apa penyebab bayi kamu meninggal? Terus bayinya laki-laki atau perempuan?”

“Bayi saya laki-laki dan dia kelainan jantung, Bu. Selama kehamilan saya jarang periksa karena faktor biaya tapi saya selalu berusaha untuk makan yang bergizi, meski cuma menu sederhana.”

“Jadi minum vitamin atau sejenisnya juga gak pernah?”

“Gak, Bu. Saya takut periksa, takut mahal. Uang yang ada cuma cukup untuk kehidupan sehari-hari saya saja,” sahut Niken.

“Kalau suami kamu?” tanya Riana hati-hati. Takut membuat Niken merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya.

“Dia juga sudah meninggal,” sahut Niken menaikkan satu sudut bibirnya, “kalau dia masih ada, berarti saya yang sudah meninggal,” lanjut Niken membuat Riana bingung tapi tidak bertanya lebih lanjut karena merasa hal itu sangat sensitif.

Mendapat pertanyaan seperti itu membuat ingatannya yang sudah tenang kembali terusik. Rasanya baru kemarin ia merasakan bahagianya menikah, tapi semua itu lenyap seketika saat mendiang suaminya berani main tangan. Malam itu Niken berniat untuk memberitahu kehamilannya, namun bukan sambutan hangat yang diterima tapi malah pukulan demi pukulan yang Niken dapatkan. Perubahan sikap mendiang suaminya itu terjadi karena ia kehilangan pekerjaannya setelah ketahuan mengambil uang kas kantor. Bukannya berubah, sikapnya semakin hari semakin kasar hingga puncaknya di usia kehamilan Niken yang memasuki bulan ke tujuh, pertengkaran hebat terjadi antara mereka berdua. Kalau saja Niken tidak berteriak mungkin ia sudah tinggal nama. Takut dengan amukan warga, pria tidak bertanggung jawab itu kabur dan malah tertabrak truk yang sedang melintas. Jujur saja Niken merasa lega melihat orang yang dulu pernah ia cintai kini meninggal secara tragis. Ia yakin kejadian ini adalah jawaban dari doanya setiap malam.

“Tapi kenapa Bu Bidan menanyakan hal ini?” gantian sekarang Niken yang bertanya balik.

“Mungkin ini agak aneh tapi cuma kamu yang bisa bantu aku saat ini,” ucap Riana.

Niken mengerutkan kening tak mengerti maksud perkataan Riana.

“Daripada kamu minum obat, lebih baik kamu donorkan asi kamu buat bayi yang lebih membutuhkan.”

Niken semakin bingung. Siapa bayi yang lebih membutuhkan asi yang dimaksud oleh Riana.

“Bu Bidan punya bayi?”

“Kamu mau atau enggak?” Riana bertanya balik dengan tatapan serius.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    107. Dirawat

    Duduk di kursi belakang bersama Riana, Niken terus meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Beruntung saat itu jalannya tidak macet hingga Azka bisa dengan mudah dan cepat menuju rumah sakit. Sebenarnya klinik Riana letaknya lebih dekat dari pada rumah sakit, tapi ia tidak mau ambil resiko. Ia yakin pasti Niken tidak menyadari kalau sekarang ia sedang hamil dan terancam kehilangan janinnya. "Azka, cepet dong. Ini Mbak Niken sudah kesakitan," pinta Riana memukul pelan kursi pengemudi. "Ini sudah ngebut banget, Mbak," sahut Azka. Melirik melalui kaca spion, ia jadi ikutan gugup serta khawatir saat melihat ekspresi Niken yang pucat menahan sakit. Hampir lupa menginjak pedal rem, mobil yang Azka kendarai akhirnya sampai juga di rumah sakit. Bergegas ia keluar dari mobil dan menuju ruang IGD minta perawat membawakan brankar keluar. Tidak sampai dua menit, Azka keluar bersama seorang perawat. Dengan dibantu Riana, Niken di baringkan di atas brankar kemudian di bawa masuk ke dalam

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    106. Nyeri Hebat

    Sekitar pukul sembilan, Niken baru saja selesai mandi. Entah kenapa beberapa hari ini ia bangun selalu siang. Namun yang bikin hatinya senang, selalu ada Dante setiap ia membuka mata. “Jam berapa ke rumah sakit, Mas?” tanya Niken keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang menutupi badannya. Sekarang ia sudah mulai terbiasa berganti pakaian saat ada suaminya. Setelah kejadian di hotel itu, rasa percaya diri terhadap tubuhnya semakin tumbuh. Dante tak menjawab. Reflek Niken menoleh saat mendengar suara pintu yang terkunci. Keningnya berkerut saat Dante memamerkan deretan giginya pada Niken, sesaat setelah mengunci pintu kamar. “Kenapa di kunci, Mas?” tanya Niken kemudian mengalihkan pandangannya ke lemari pakaian. Dante semakin mendekat, hingga berakhir berdiri di belakang Niken lantas memeluk istrinya itu. “Kamu sudah rapi lo, Mas. Saya masih … basah,” kata Niken melirik suaminya. Beberapa bagian tubuhnya memang masih basah. “Hari ini jadwal saya padat. Mungkin besok ba

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    105. Sedikit Nyeri

    [Transfer Masuk] [Rp 1xx.xxx.xxx] Notifikasi yang masuk di layar ponsel Niken. Sempat bingung, tapi ia yakin itu adalah kiriman uang dari suaminya. Bergegas ia menghubungi Dante dan mengucapkan terima kasih. "Iya, Sayang," sahut Dante merespon panggilan dari istrinya. Beberapa detik kemudian panggilan itu berubah menjadi panggilan video. Tampak Dante tersenyum lebar menatap Niken, kemudian mencari Evan. "Sini, Evan sayang. Ada Papa," ucap Niken menunjukkan layar ponselnya. Dengan langkah yang belum terlalu seimbang, Evan berlari ke arah Niken yang berada di ujung sofa. Evan mengambil ponsel dari tangan ibunya dan bicara dengan bahasa bayi pada Dante. Sesekali Niken menciumi anaknya yang begitu menggemaskan. Hingga mau tak mau Dante mengakhiri panggilan video itu karena jadwal visit pasien yang sudah mendekati jamnya. "Saya mungkin pulang agak malam, Sayang," ucap Dante memberitahu Niken sebelum mematikan panggilannya. "Gapapa, Mas. Dah," sahut Niken mengumbar senyum. Setelah se

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    104. Kangen Evan

    Berada di dalam selimut putih yang tebal itu, netra Niken terusik karena cahaya matahari yang masuk dari tirai gorden yang Dante buka. Kelopak matanya masih terasa berat untuk terbuka, hingga ia memilih untuk berbalik membelakangi jendela. Dante yang merasakan ada pergerakan dari atas kasur, reflek berbalik. Niatnya yang ingin ke kamar mandi, ia tunda. Pria itu lebih memilih untuk menyapa istrinya terlebih dahulu. “Selamat pagi, Sayang,” sapa Dante ikut masuk ke dalam selimut lantas menarik istrinya lebih dekat. Niken mengulas senyum sembari berbalik– menghadap suaminya dan membalas sapaan Dante barusan. “Apa sih, Mas? Lihatnya kok kaya gitu?” tanya Niken dengan nada menyelidik. Pasalnya tatapan Ayahnya Evan membuat bulu kuduknya merinding. Dante menyeringai, menambah rasa takut Niken. “Cukup ya, Mas,” kata Niken penuh penekanan. Raut wajahnya serius dengan tangan yang menyilang di depan dada. Bagaimana tidak, Niken baru benar-benar tertidur nyenyak menjelang pukul tiga pagi. Seka

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    103. Penuh Gelora

    Menempelkan kartu itu di dekat gagang pintu, perlahan Dante memutar dan mendorong pintu itu hingga terbuka. Niken dibuat takjub saat melihat isi kamar tempat mereka akan menginap. Kamar yang luas dengan tempat peraduan berukuran sangat besar. Tanpa sadar kaki Niken melangkah maju lebih dulu– masuk ke dalam memperhatikan setiap furniture yang ada di dalam. Langkahnya semakin dalam hingga ia sampai di depan gorden besar berwarna gold. “Keren banget sih,” gumam Niken saat menyingkap gorden di depannya dan melihat langsung pemandangan ibukota dari ketinggian. Dari arah belakang, Dante perlahan berjalan mendekat dan melingkari pinggang istrinya. “M–mas,” ucap Niken terbata-bata. Dante hanya berdehem sambil meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya. Rasa bahagia menyelimuti hati pria itu saat ini. Kebahagiaan yang sempat hilang karena pengkhianatan Agatha. Meski begitu ia masih beruntung bisa dengan cepat menemukan kebahagiaan lain bersama Niken. "Makasih ya, Sayang," gumam Dante me

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    102. Masih Malam Minggu

    Mobil yang Dante kemudikan memasuki halaman parkir salah satu hotel berbintang yang ada di ibukota. Dari tempatnya duduk, Netra Niken melirik ke kiri kanan– memperhatikan sekitar. Banyak mobil mewah yang terparkir rapi di sana. Ia jadi takut sendiri dengan omongan Dante tadi. “Kalau gak pulang, lalu mau ngapain disini,” pikirannya berkecamuk. Setelah memarkirkan mobilnya, Dante mengajak Niken keluar dari parkiran. Mereka berjalan kaki ke salah satu mall yang berada sangat dekat dengan hotel tempat mereka parkir tadi. “Kenapa gak parkir di mallnya langsung sih, Mas?” tanya Niken menggandeng lengan Dante karena jalanan saat itu cukup padat. Pria itu hanya tertawa kecil– tak menjawab. Setibanya di mall, mereka berjalan menyusuri sederetan gerai dengan brand ternama. Naik ke lantai dua, langkah Dante berbelok ke salah satu gerai pakaian. Otomatis Niken mengikuti kemana suaminya melangkah. “Pilih …” kata Dante dengan dagu yang menunjukkan ke arah pakaian yang terdisplay. “Baj

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    6. Ponsel Baru

    Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    5. CCTV Baru

    Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    4. Melihat Isi Baju

    “Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status