Partager

37 Kitab kuno

last update Date de publication: 2026-09-23 21:51:18

Mendengar hukuman yang sangat tidak adil itu, dada Guru Jian bergemuruh hebat oleh amarah. Namun, sebagai seorang instruktur akademi, ia tidak bisa secara terang-terangan menentang keputusan resmi yang dijatuhkan oleh Tan Hau di depan publik tanpa memicu kekacauan besar.

Sebelum Arkan melangkahkan kakinya menuju Lembah Tengkorak yang penuh bahaya, Guru Jian bergegas cegat pemuda itu di jalan setapak yang sepi di perbatasan gubuk.

"Arkan, tunggu!" seru Guru Jian pelan namun tegas.

Arkan menghent
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    37 Kitab kuno

    Mendengar hukuman yang sangat tidak adil itu, dada Guru Jian bergemuruh hebat oleh amarah. Namun, sebagai seorang instruktur akademi, ia tidak bisa secara terang-terangan menentang keputusan resmi yang dijatuhkan oleh Tan Hau di depan publik tanpa memicu kekacauan besar.Sebelum Arkan melangkahkan kakinya menuju Lembah Tengkorak yang penuh bahaya, Guru Jian bergegas cegat pemuda itu di jalan setapak yang sepi di perbatasan gubuk."Arkan, tunggu!" seru Guru Jian pelan namun tegas.Arkan menghentikan langkahnya dan berbalik. Di bawah remang cahaya bulan, ia melihat ekspresi gurunya yang dipenuhi rasa khawatir sekaligus keprihatinan yang mendalam."Guru...""Tan Hau sengaja mendorongmu ke dalam jurang kematian," potong Guru Jian cepat. Tanpa membuang waktu, ia merogoh bagian dalam jubahnya dan mengeluarkan sebuah gulungan kitab kuno yang terbuat dari kulit binatang langka. Permukaan kitab itu memancarkan pendaran energi keemasan yang samar namun terasa sangat pekat.Guru Jian menyodorkan

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    36 Pengasingan

    Lie terduduk kaku, seluruh persendiannya gemetar hebat. Bayangan tinju Arkan yang menghancurkan tengkorak monster tingkat empat itu terus berputar di otaknya bagai mimpi buruk. Rasa dingin merayapi punggungnya ketika Arkan berjalan melewatinya begitu saja, meninggalkannya yang bersimbah peluh dingin di tengah bangkai Beruang Besi Berduri."Dia... dia bukan manusia," bisik Lie serak. Ketakutan murni melumpuhkan harga dirinya yang selama ini ia agungkan sebagai murid bertalenta klan Tan Hau. Dengan sisa-sisa tenaga, Lie merangkak menjauhi tempat itu, meratapi fakta bahwa pemuda yang selalu ia sebut sampah kini memegang kendali atas hidup dan matinya.Sementara itu, di pinggir Hutan Hitam yang berbatasan dengan Sektor Sembilan, Tan Hau dan Tetua Kelam berdiri di atas tebing batu dengan tangan terlipat. Waktu ujian hampir habis, dan senyum kemenangan merekah di bibir mereka."Sudah terlalu lama," ujar Tetua Kelam seraya menyunggingkan seringai puas. "Ketiga pembunuh bayaran yang kita utus

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    35 Hutan Hitam

    Hutan Hitam langsung menyambut Arkan dengan udara lembap yang berbau tanah basah dan desis tajam angin malam yang menyelinap di antara pepohonan purba. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, menghalangi cahaya matahari hingga area Sektor Sembilan hanya diterangi pendar redup jamur-jamur beracun yang tumbuh di akar-akar besar.Arkan berjalan perlahan dengan langkah tanpa suara. Di dadanya, telur hitam bergaris emas bergetar halus, mengirimkan gelombang kehangatan yang memperajam indra penglihatannya di tengah kegelapan.Srak... Srak...Suara gesekan dedaunan terdengar dari tiga arah berbeda. Bukannya jeritan monster, Arkan justru merasakan pancaran tekanan mana manusia yang dingin dan dipenuhi niat membunuh.Tiga sosok berjanggut hitam mengenakan pakaian serba gelap melompat turun dari dahan pohon, mengepung Arkan dalam formasi segitiga. Dari aura yang dipancarkan, ketiganya adalah pendekar tingkat menengah—pembunuh bayaran yang disewa oleh Tetua Kelam dan Tan Hau."Sayang sekali, Bocah,"

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    34 Ujian Tahunan

    Keesokan paginya, suasana di lapangan utama Akademi Cakrawala tampak ramai seperti biasa. Para murid berkumpul untuk menyimak pengumuman rutin, tetapi suasana tenang itu mendadak buyar saat Lie melangkah maju dengan wajah congkaknya.Didorong rasa iri dan ketakutan usai menyaksikan latihan rahasia Arkan semalam, Lie sengaja mencari gara-gara untuk memancing Arkan memamerkan kekuatannya di depan umum—sekaligus memojokkannya.BRAK!Lie menendang wadah air milik seorang murid junior hingga pecah berantakan di tengah lapangan. Murid itu terlonjak kaget dan menunduk ketakutan."Hei, sampah!" teriak Lie dengan suara lantang, matanya yang tajam langsung mengunci keberadaan Arkan yang sedang berjalan tenang di tepi lapangan sambil mengenakan kembali Gelang Penutup Jiwa-nya.Seluruh perhatian murid-murid seketika tertuju pada Arkan dan Lie."Kau pikir dengan berlindung di balik ketiak Guru Jian, kau bisa melupakan statusmu di tempat ini?" Lie melangkah mendekati Arkan, memamerkan senyum licikn

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    33 Terus Diawasi

    "Kau sudah pulang? Bagaimana latihanmu di sana?" tanya Guru Jian begitu Arkan melangkah masuk ke dalam kediamannya yang tenang."Mereka tidak melatihku, Guru... mereka hanya fokus menghindari serangan dan menilaiku," jawab Arkan. "Pasti Guru benar-benar orang yang sangat hebat, hingga seluruh guru di akademi begitu sungkan dan segan pada Guru."Guru Jian tertawa lepas mendengar kepolosan muridnya itu."Tentu saja! Aku saja sebenarnya sudah cukup untuk melatihmu. Tan Hau saja yang sengaja ingin menghalangi perkembanganmu dengan berbagai muslihat," ujar Guru Jian penuh percaya diri. "Jika memang begitu situasinya, aku akan menjadwalkan latihan khusus pada malam hari untukmu.""Baik, Guru," sahut Arkan mantap."Sekarang, copot gelangmu. Aku ingin melihat seberapa jauh kau berkembang," perintah Guru Jian seraya menatap pergelangan tangan muridnya.Arkan mengangguk lalu perlahan melepaskan Gelang Penutup Jiwa dari tangannya. Begitu gelang itu terlepas, gelombang mana yang amat murni dan pe

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    32 Perlakuan Bebeda

    "Tapi aku masih belum bisa menguasai kekuatanku..." bisik Arkan pelan, menatap telapak tangannya sendiri yang sesekali masih bergetar hebat akibat luapan energi liar dari telur misterius itu.Guru Jian menatap muridnya dengan tatapan lembut namun sarat akan kebijaksanaan. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya membuat keputusan yang tak terduga."Baiklah, kalau begitu kau pergi ke akademi sana sesuai apa yang dikatakan Tan Hau," ujar Guru Jian pelan. "Tenang saja, aku akan membayangimu dan melindungimu dari balik layar."Arkan mendongak, terkejut mendengar perubahan rencana gurunya."Ingat pesan pentingku ini, Arkan," lanjut Guru Jian dengan nada amat serius. "Jangan pernah menarik perhatian mereka, dan jangan pula memancing amarah siapa pun di sana. Kau harus bisa bersabar lebih lama lagi. Meskipun perlakuan mereka nantinya tetap tidak akan baik kepadamu, setidaknya masih ada ilmu dan pengetahuan teknik pertarungan di perpustakaan akademi yang bisa kau pelajari."Guru Jian menepu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status