Share

06. Park Bo-gem

Dengan ragu, Thalia memutuskan untuk menjawab panggilan di ponselnya.

"Ya, halo ..., dengan siapa?" jawab Thalia dengan suara mengambang.

"Saya Sumaryanto, Mbak. Masih setia menunggu di luar, sampai Mbak mau menemui saya."

"Sumaryanto ..." Thalia masih mencoba mencerna nama itu dalam kepalanya.

"Ojol, Mbak."

"Lhoh, kenapa, Mas?"

"Mbak 'kan belum bayar, helm saya juga masih dibawa sama Mbak?"

"Haah?" dengan keterkejutannya, Thalia menoleh ke arah ambang pintu kamar. Dan benar saja, ada sebuah helm yang tak ia kenali menggelundung di samping pintu. "Ya Allah, sori Mas. Tadi saya buru-buru banget soalnya. Tunggu ya, Mas. Tunggu sebentar, saya keluar sekarang."

Langsung saja Thalia menyambar helm dan tasnya. Kemudian berjalan cepat-cepat menuju ke luar, ke tempat di mana Sumaryanto menunggunya.

Tampak oleh Thalia punggung seseorang yang mengenakan jaket hijau-hitam khas ojek online. Orang itu—Sumaryanto—tengah bersandar pada tunggangannya, sumber nafkahnya. Sumaryanto melepas helmnya karena, tampaknya ia kepanasan. Ia lalu mengibas-ngibaskan rambutnya yang lepek karena keringat.

Iiish ..., mulut Thalia mencebik melihat aksi kang ojol yang menurutnya berlebihan. Huek ...! Ingin Thalia melemparkan helm bau apek di tangannya pada pria berjaket hijau yang sedang berakting bagai model iklan shampo itu. Sayangnya ia ingat betapa baik dan sabarnya kang ojol itu yang telah bersedia bersusah payah mencarinya di tengah terik siang tadi, lantaran itulah Thalia mengurungkan niat jahatnya.

"Mas ...." panggil Thalia dengan sopan. Bagaimanapun Sumaryanto telah berbaik hati menolongnya, jadi ia harus bersikap sopan.

"Oh ya, Mbak." jawab Sumaryanto sambil beranjak dari sadel sepeda motornya dan mengusak-usak rambutnya dari bawah ke atas. Memberikan ruang bagi udara agar bisa mengalir melalui sela-sela rambutnya dan memberikan rasa segar di kulit kepalanya.

Dan pada saat itulah Thalia takjub sekaligus kesal dengan pemandangan indah yang tersaji di hadapannya. "Park Bo-gem ..." gumam Thalia refleks.

"Jangan dibogem, Mbak. Saya masih sayang sama muka saya." respon Sumaryanto sambil sedikit membungkuk dan menunduk. "Kalau ada pelayanan saya yang kurang memuaskan, Mbak boleh mengambil kembali uang Mbak. Tapi tolong jangan bogem saya dan jangan beri review jelek. Saya nggak mau kena suspend, Mbak. Saya mohon, Mbak."

"Hah ...?" Thalia jadi salah tingkah dengan permohonan Sumaryanto yang tak beralasan.

Sumaryanto masih menunduk.

Haruskah Thalia menjelaskan bahwa yang dimaksudnya dengan 'bogem' bukanlah pukulan kepalan tangan alias tinju? Melainkan Bo-gem, Park Bo-gem—nama ejekan yang Thalia sematkan pada Park Bo-gum. Begitu miripnya wajah Sumaryanto dengan aktor ganteng imut nyaris cantik asal negeri ginseng itu. Aktor yang menjadi idola kaum hawa hingga membuat khayalan mereka membubung tinggi ke luar angkasa. Namun, bagi Thalia tipe wajah laki-laki yang seperti itu sangatlah menjijikkan. Menjijikkan, itu hanyalah dalih Thalia yang tak mau mengakui rasa irinya pada pria-pria yang menurut persepsinya berwajah cantik.

"Nggak kok, Mas. Saya cuma ... itu ... ingat sama teman saya yang sering dipanggil 'Bogem'." Thalia berkilah. Dan ini helmnya." kata Thalia sambil menyodorkan helm di tangannya.

Tetapi saat itu, mata Thalia terbelalak melihat apa yang terjadi pada helm di tangannya. Kaca visor helm itu pecah di sebelah kiri, menjadikan dua bagian yang berbeda ukuran.

"Ya salam." suara Thalia jelas sekali menyiratkan keterkejutan.

"Kena ... pa .... Mbak, kok bisa pecah sih?" Sumaryanto terlihat kecewa.

"Eh ... maaf, Mas. Biar saya ganti ya. Gimana mas? Berapa harganya?" saat mengatakannya, Thalia terlihat tak yakin.

"Ya ... gimana ya?" ekspresi Sumaryanto berubah ragu. "Saya 'kan harus narik sekarang. Kalau helmnya pecah gini 'kan nggak bisa dipakai."

"Tukar sama helm saya 'aja, gimana?"

"Eng ... nggak apa-apa sih?"

"Oke ..." baru saja Thalia akan melangkah kembali ke dalam, ia teringat bahwa helmnya masih dibawa oleh Dhimas. "Mas, saya baru ingat, helm saya masih dibawa teman saya."

"Terus gimana dong, Mbak?"

Sebenarnya Thalia bersyukur dalam hati ketika mengingat helmnya masih dibawa oleh Dhimas. Ia sayang sekali dengan helm itu, selain karena kenangan manis bersama helm itu, tetapi juga harganya, yang Thalia ketahui lumayan mahal. Thalia tak akan mungkin memiliki helm itu kalau bukan karena seseorang menghadiahkannya.

Terdengar suara sepeda motor sport yang mirip dengan milik Dhimas. Beberapa detik kemudian muncul sosok Dhimas sedang mengendarai sepeda motornya perlahan memasuki gang di depan kos. Gawat!

"Sebentar ya, Mas. Saya ke belakang dulu. Sebentar 'aja kok." setelah mengatakan itu, Thalia langsung melesat meninggalkan Sumaryanto.

Di dalam kamar Thalia menunggu dengan cemas kedatangan Dhimas. Bastian duduk di kasur spons, bersandar pada dinding kamar. Ia terlihat lemas. Ia heran melihat Thalia tampak bingung. Ingin diabaikannya saja teman seperjuangannya itu. Ia masih ingin menikmati mengelus perutnya yang baru saja terbebas dari penderitaan. Namun, Bastian tak tega. Setidaknya ia harus berbasa-basi.

"Kenapa, Ya?" tanya Bastian tak bersunguh-sungguh.

"Emm ..." Thalia berpikir sejenak. "Bas, helm kamu boleh aku gantiin gak?"

"Maksud kamu?"

"Aku beli helm kamu."

"Mencurigakan."

"Bas, aku perlu bantuan. Aku barusan mecahin helm tukang ojol di depan. Sekarang aku harus ganti."

"Helm kamu sendiri, kenapa?"

"Jangan lah, Bas. Sayang, 'kan helm mahal."

"Ya salah kamu sendiri, kenapa dipecahin."

"Nggak sengaja, Bas. Bas, ayolah, Bas. Udah deh, aku beli sesuai harga baru."

"Nggak, dengan uang segitu sekarang sudah nggak bisa beli helm dengan kualitas yang sama."

"Jahat kamu, Bas, sama teman sendiri juga. Nggak ingat tadi sudah ditolongin. Lagian helm murah juga, sok-sokan bicara kualitas."

"Ya ..."

"Heh, Bas! Kamu nggak b***r di kamarku 'kan?" sahut Dhimas tiba-tiba yang baru saja datang.

"'tu, minta tolong 'tu sama Dhimas."

"Kenapa emang?"

Menanggapi keingintahuan Dhimas, Thalia pun menceritakan permasalahannya. Dhimas berpikir. Memikirkan solusi terbaik yang low budget.

.

.

Thalia berjalan dengan langkah berat menuju gerbang kos. Di tangannya tertenteng sebuah lakban selebar 7 cm berwarna hitam. Ia mendengus kesal, ingin menyalahkan seseorang, tetapi nyatanya ia sendirilah yang salah. Bastian menemaninya.

Dan saat keduanya telah berhadapan dengan Sumaryanto, Bastian sempat terkejut melihat oppa ganteng berjaket ojek online itu. Untung saja, ia bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Mas ..." panggil Thalia pada Sumaryanto yang telah kembali bersandar pada sepeda motornya.

"Ya, Mbak."

"Emm ... gini, Mas. Saya nggak bisa ganti helmnya Mas Sumaryanto dengan helm saya, bisanya ganti pakai uang. Saya transfer sekarang juga."

"Iya, Mas. Untuk sementara helmnya Mas ditambal dulu pakai lakban, yang penting 'kan Mas-nya bisa narik hari ini." Bastian menimpali

Sumaryanto terlihat mempertimbangkan usulan Bastian. "Ya sudah."

"Mas, saya isi saldonya Mas aja buat ganti helmnya, soalnya saya nggak pegang uang cash." sambung Thalia.

"Sudah, Mbak, nggak usah. Nggak apa-apa ...."

"Ya ..., Mas, kok nggak mau sih, 'kan saya jadi nggak enak."

"Nggak apa-apa, Mbak. Ongkosnya 'aja, Mbak."

Mulailah perdebatan yang tak akan berujung, kecuali salah satu mengalah.

Bastian menyela adu kemauan antara pemberi dan pengguna jasa ojek itu, "Sini, Mas, biar saya tambal helmnya." Ia menyambar lakban dari tangan Thalia, lalu mengambil helm yang berada di atas sadel sepeda motor Sumaryanto  

"Mas, tolong diterima. Saya merasa bersalah kalau Mas nggak mau terima." mohon Thalia dengan wajah memelas.

Akhirnya Sumaryanto mengalah, "Ya sudah, Mbak. Ini nomor ponsel saya." Ia tak ingin lebih banyak lagi waktu terbuang hanya karena berdebat, dan mengurangi jam nariknya.

Thalia pun mentransfer sejumlah uang ke nomor ponsel Sumaryanto, meski dengan setengah hati. Sejujurnya, Thalia berat melakukannya, apalagi uang itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri dengan menjual manga¹ doujinshi² roman picisan pada para ABG labil—siswi SMP. Menjual secara online manga doujinshi tidaklah mudah, pemainnya banyak, penggemarnya pun banyak, tetapi lebih banyak yang suka gratisan. Maklum, di negeri khatulistiwa ini berlaku prinsip ekonomi, pengorbanan sekecil-kecilnya dengan keuntungan sebesar-besarnya. Dan prinsip ini diterapkan dengan sangat baik, tidak hanya oleh para penjual, tetapi juga konsumen, termasuk konsumen doujinshi. Wujudnya adalah, kalau bisa mendapat gratisan kenapa harus membeli? Miris, mental gratisan. Namun, Thalia tak ingin menjadi orang yang tak bertanggung jawab, meski dengan berat hati, ia tetap mengganti helm Sumaryanto dengan sejumlah uang.

.

.

"Kok ada ya, oppa-oppa ganteng mau jadi tukang ojol?" kritik Bastian tanpa mengalihkan fokus matanya pada permainan di ponselnya.

"Daripada kaya kamu? Ganteng enggak, gengsi selangit." Dhimas menimpali.

"Masih mendinglah, nggak ganteng, tapi manis. Manis itu lebih enak dilihat daripada ganteng. Daripada kamu, dilihat dari sisi mana pun, kamu nggak ada sedap-sedapnya dilihat."

"Apaan manis, tebu 'tu manis plus cungkring. Pede tahu tempat 'napa?" ledek Dhimas pada temannya yang kurus itu.

"Iri bilang, bos? Lihat 'aja, sebentar lagi wajahku akan menghiasi iklan-iklan ..."

"Iklan apa ... paling juga iklan pil kina."

"Khu ... khu ... khu ..." kikikan Thalia yang tertahan oleh telapak tangannya sendiri menginterupsi debat Bastian-Dhimas.

"Kenapa, kamu?" penasaran Bastian.

"Kebayang nggak sih, gimana tampang Sumaryanto pake helm tambalan gitu?"

"Kenapa memangnya?" Dhimas tak mengerti. 

Thalia dan Bastian pun kompak menjelaskan, bergantian, bersahutan. Sambung-menyambung menjadi satu cerita.

_______

Sumaryanto melanjutkan pekerjaannya menjemput dan mengantar orang-orang yang membutuhkan jasanya. Dengan sedikit kesal ia tetap mengemudikan sepeda motornya keliling kota.

Bagaimana tak kesal, kalau ia jadi merasa seperti orang yang matanya buta sebelah? Kaca helmnya patah tepat di bagian depan mata kiri dan lakban yang diberikan teman Thalia—yang tak lain adalah Bastian—bukanlah lakban transparan, melainkan lakban berwarna hitam. Lakban itu dipasang melintang sepanjang 10 cm, sebanyak tiga tambalan. Bodoh ... bodoh ... bodoh ...!

Sebenarnya siapa yang bodoh? Bastian yang menambal visor helm itu asal-asalan atau Sumaryanto yang mau saja menerima helm itu?

Tak mungkin Sumaryanto membiarkan penumpangnya memakai helm itu. Ia mengalah memakainya demi memberi pelayanan terbaik pada penumpangnya. Ya sudahlah. Sudah terlanjur.

Setelah menurunkan penumpangnya, laki-laki berwajah mirip Park Bo-gum itu kembali melajukan sepeda motornya. Namun, tak sampai jauh ia menghentikan sepeda motor dan mematikan mesinnya. Lalu ia membuka sadel dan mengambil sebuah obeng dari bagasi. Dengan obeng itu ia melepas visor helmnya. Ia semakin menyesali kebodohannya, seharusnya ia melepaskan visor itu sejak tadi.

_______

Lagi, ponsel Thalia berdering dengan memunculkan sederet angka tanpa identitas. Thalia berdecak kesal. Semoga saja bukan mantan pacar yang selama seminggu ini terus menerornya dengan nomor yang selalu berbeda. Atau penagih pinjaman online yang selalu menagihnya atas hutang yang ia sendiri tak kenal nama debiturnya.

Hanya saja, mau tak diangkat juga sayang. Bagaimana kalau itu adalah publisher yang sudah Thalia kirimi naskah novel roman picisannya? Okelah, Thalia mau menjual sendiri manga-nya, tetapi untuk novel ia ingin menjadi penulis yang sesungguhnya, menulis untuk sebuah publisher dan mendapat bayaran yang pantas atas karya recehannya. Lalu apakah Thalia tidak menyimpan nomor publishernya? Tentu saja sudah, tetapi bisa saja 'kan publisher menelepon menggunakan nomor yang berbeda?

Thalia masih ragu untuk menjatuhkan jempolnya pada tombol hijau di layar ponsel.

_______

1. manga : komik Jepang

2. doujinshi : karya berupa novel, manga, gambar, lagu, game dan semacamnya yang diterbitkan secara independen

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status