LOGINBlurb: Emilia De Luca and Luca Romano are heirs of rival mafia empires at war for generations. One night, behind the anonymity of a masquerade, they set fire in an unforgettable passion. And when she finds out that she is pregnant, their forbidden link will get even more complicated than either could have envisioned. Emalia and Luca are two young lovers forged in the fire pits of their ruthless family feud, soon bound to face dark secrets binding their families in a web of deceit and blood. The higher the tensions rise, the more secrets leak out. And one question could not be more urgent: Will they ever manage to build a future together, or will the family sins tear them asunder forever?
View More“Bagaimana kalau kita bersenang-senang sedikit sebelum Tuan Yama tiba?” Suara seorang pria membuat Dea berusaha sadar dari pengaruh wine yang diminumnya setengah jam yang lalu.
“Iya, Tuan hanya menginginkan nyawanya. Toh, dia akan dibuang ke jurang sesudah itu.” Seorang pria lain menyahut sambil tertawa.
"Tuan Y-yama? J-jurang?" Perkataannya membuat kedua mata Dea membulat seketika dan panik. Melihat beberapa pria yang sedang mengelilinginya saat ini. Dea menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, berusaha sadar dari pengaruh alkohol yang sudah semakin kuat menjalar di tubuhnya. Sebuah kamar mewah! Dia sadar harus segera melarikan diri walau kepalanya terasa sangat berat. Dia setengah mabuk.
“Kalian siapa? Pergi!”
Dea masih tidak mengerti bagaimana dia bisa terbangun di ranjang dengan beberapa pria berwajah sangar menatapnya seolah-olah mereka sangat lapar.
Satu jam sebelumnya, dia menyaksikan bagaimana kekasihnya berlutut di hadapan salah seorang teman kerjanya. Sebuah cincin membuat kedua insan itu bertunangan secara resmi. Dia merasa dikhianati dan terpuruk.
Jean-Sahabatnya menelepon, berusaha menghibur hatinya dan mengatakan bahwa dia sudah mempersiapkan sebuah hiburan untuk menghibur Dea yang terluka. Sahabatnya malah mengatakan bahwa dia sudah menyiapkan beberapa pria penghibur yang ketampanannya ribuan kali dari mantan pacarnya.
Akan tetapi, saat sampai di Bar tempat mereka janji untuk bertemu, malah tidak terlihat bayangan sahabatnya—Jean.
Alhasil, Dea memesan sejumlah wine dan setengah botol minuman itu sudah berhasil membuat dirinya sempoyongan. Dea memilih pulang untuk mencegah terjadinya hal yang tidak dia inginkan. Namun, saat keluar dari cafe itu, dia malah diculik oleh beberapa pria asing dan tidak mampu melawan.
Dea berakhir di ranjang saat ini. Ada enam pria berwajah sangar sedang mengelilinginya. Salah satu mereka sudah memaksanya minum obat perangsang sehingga Dea sudah hampir kehilangan kesadarannya, ditambah efek minuman yang sudah dihabiskannya setengah botol tadi juga sudah mulai menguasai dirinya.
Tiba-tiba, salah seorang dari pria itu melangkah maju, berusaha meraih tangan Dea dan mulai mencoba menarik gaun yang dipakai Dea, membuat lamunan Dea buyar seketika.
"J-jangan!" pekik Dea berusaha meronta di antara cahaya minim yang membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas.
Tanpa bisa dicegah, gaunnya sudah berhasil dikoyak oleh beberapa pria yang tertawa terus sepanjang aksinya.
"Sret! Sret!"
Bagian atas gaun yang dipakainya ikut terkoyak dan dalam hitungan detik sudah menyisakan dalaman yang membuat mata mereka yang lapar semakin lapar.
"Wow! Jalang kecil ini masih mulus." Ejekan menjijikkan keluar dari mulut mereka disertai siulan nakal beberapa pria.
"Lepaskan!" pekik Dea histeris dengan suara penuh keputusasaan.
"Plak!"
Sebuah tamparan mengenai pipi Dea dan membuat pelipisnya sobek, darah mengalir membasahi sudut matanya sehingga matanya basah bercampur air mata.
"J-jangan..." Suara Dea bergetar dan tanpa daya berada dalam kukungan beberapa pria yang siap mengerogoti tubuhnya dengan kejam. Tetapi sebelum para pria itu sempat melakukan aksi bejatnya lebih lanjut, sebuah suara berat memerintah dari belakang mereka.
“Kalian pergi. Dia pasti sudah mendapat pelajaran kali ini."
Dea bisa menebak, suara itu berasal dari Tuan yang mereka panggil Yama. Siluet sosok pria itu berjalan mendekat dengan langkah mantap. Sorot matanya tajam dan penuh otoritas. Dea segera menutupi dirinya dengan selimut kamar berwarna putih.
Dea tidak bisa melihat lebih jelas karena darah yang membasahi sebelah matanya membuatnya terasa perih. Dia hanya tahu, pria itu memiliki sosok rahang tegas dan berperawakan tinggi dengan suara bariton. Kepalanya berat dan pandangannya tidak jelas.
"T-tuan..."
Pria-pria itu segera mundur dengan patuh, meskipun salah satu dari mereka tampak enggan sambil memegang sudut celananya yang sudah terasa ketat. Beberapa dari mereka sudah sempat membuka kemeja dan hanya menyisakan celana pendek.
“Kalian dengar apa yang kukatakan? Pergi!” ulang Yama, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
Akhirnya, mereka pergi, meninggalkan Dea sendirian dengan pria itu.
Dea yang masih terisak menggenggam pakaian koyaknya dengan erat. “Kalian sebenarnya siapa? Dan mengapa menangkapku?” tanyanya dengan suara bergetar. "Permainan kalian kasar. Aku tidak suka ini! Panggil Jean!"
"Siapa Jean? Kau menganggap ini permainan?" Yama merapat dan mengungkung Dea dengan cepat. Kedua tangan Dea ditekan ke atas kepalanya dan menempel di sandaran tempat tidur.
"Lepaskan, aku tidak akan membayar kalian!" geram Dea.
Pria itu menatapnya beberapa saat dan merasa bingung, sebelum akhirnya berkata, “Aku yang seharusnya bertanya, mengapa Ibumu mencelakakan Ibuku?"
"I-ibuku?"
Kondisi Dea membuat kedua mata Yama tertuju pada belahan depan gadis itu yang sudah tidak tertutup pakaian lagi.
“Siapa Ibumu?” Dea menatapnya bingung dengan mata nanar. Kepalanya tidak bisa mencerna dengan baik akibat efek mabuk yang mulai menguasainya sehingga dia juga tidak bisa membedakan apakah dia sedang bermimpi atau sedang dalam kondisi naas.
Kedua mata indah milik Dea berkedip-kedip terus dan berusaha melihat pria di depannya lebih jelas. Yama mengernyitkan keningnya lalu melepaskan tangan Dea.
“Errgh…” Suara Dea terdengar manja.
Pria yang dipanggil Yama itu menjepit dagu Dea dengan kedua jarinya sehingga wajah mereka bertemu. Saat itu, di antar cahaya remang lampu kamar, akhirnya Dea bisa melihat wajah Yama yang terlihat garang. Kumis tipis mengelilingi wajah tampan itu di antara cahaya samar-samar yang memantul di antara mereka.
"Ternyata kamu pria tampan," puji Dea tanpa sadar. Tenaganya untuk melawan sudah habis dan dia pasrah terhadap keadaan akibat obat perangsang yang didapatnya tadi.
Pria itu mengeryitkan alisnya sekali lagi dan melepaskan dagu Dea, tetapi masih tetap mengukung gadis itu di bawahnya.
Di luar dugaan, bukannya melarikan diri, Dea malah mengelus pipi Yama dengan lembut dan tidak menyadari bahaya yang dibawa pria itu.
"Kau mabuk?" Tanpa sadar, tatapan Yama menelusuri tubuh yang terkulai tak berdaya di bawah kukungannya. Seolah-olah sedang mengagumi kecantikan dari gadis yang sudah kehilangan tenaganya untuk meronta itu.
Kulit mulus Dea dengan beberapa tetesan keringat sebesar butiran jagung menghiasi tengkuk leher dan lekuk tubuhnya yang hanya tertutup kain dengan jumlah sangat minim, menimbulkan sebuah hasrat yang tidak mampu ditahan oleh pria normal seperti dirinya.
Bau alkohol menyeruak dari bibir tipis yang mungil miliknya, membuat dada Yama berdesir seakan-akan ingin ikut menikmati rasa manis yang mungkin disuguhkan.
"Pria Tampan, aku ingat sekarang. Jean memesanmu untuk melayaniku, bukan? Lakukanlah tugasmu sekarang!" bisik Dea dengan mata penuh manja.
Yama menelan salivanya sebelum berkata, "Baiklah, kalau kau masih tidak mau mengakuinya. Sepertinya aku harus mengambil sedikit keuntungan darimu sebagai bayaran atas apa yang sudah kalian perbuat!"
Sret!
Dalaman sebagai penutup bagian atas yang dipakai Dea koyak seketika dan dilempar ke belakang oleh pria itu secara asal. Membuat tubuh gadis itu polos seutuhnya.
chapter 14Marco exhaled sharply. “Well, shit.”Luca stood, pacing. “We need to move before they do.”Emilia crossed her arms. “And do what? Attack first? We barely made it out tonight. If Alessandro is coming, he’s not coming unprepared.”Marco rubbed his jaw. “Then we make him come to us. On our terms.”Luca’s pacing stopped. He turned to Marco, eyes narrowing. “You have a plan?”Marco grinned. “Oh, I always have a plan.”They spent the next few hours refining the details. The Vitales were expecting retaliation, but they wouldn’t expect them to set the trap first. The plan was risky, but it had to be. There was no playing it safe in this war.By the time dawn broke, the prisoners had been silenced one knocked unconscious, the other bound tighter. Luca and Emilia stepped outside for air, the early morning chill wrapping around them.“You think this will work?” Emilia asked, watching the sky shift from black to gray.Luca exhaled, his breath visible in the cold. “It has to.”She turne
Chapter 13The night air was thick with tension as Luca, Emilia, and Marco retreated from the docks. The sound of gunfire had faded, but the weight of what they had done still clung to them. They had made their move, struck first. Now, the Vitales would retaliate.Luca kept his grip tight on the wheel as they sped through the empty streets, their two prisoners groaning in the backseat. Marco sat beside them, arms crossed, a pleased smirk tugging at his lips. Emilia sat shotgun, her body tense, her mind already working through the next steps.“We need a secure location to hold them,” she said finally. “Somewhere the Vitales won’t be able to track.”Luca’s jaw clenched. “I know a place. An old warehouse on the west side. It’s off the grid, no cameras, no traffic. We can keep them there until they talk.”Marco chuckled. “And if they don’t?”Luca glanced at him, his expression hard. “They will.”The drive was short, but the weight of the situation made every second stretch. The warehouse
Chapter 12The room fell silent in the wake of Luca’s words. The tension was palpable, thick enough to choke on. Emilia’s heart pounded, but she pushed away the fear. If she let it take hold now, she wouldn’t survive what was coming next.Marco Rossi studied them both for a long moment before nodding approvingly. “Good. You’ll need to move quickly. The Vitales won’t waste time.”Luca crossed his arms, his sharp gaze never leaving Marco. “And what exactly do you suggest?”A slow smile touched Marco’s lips. “I have a plan. One that requires precision, coordination... and a willingness to get your hands dirty.”Luca snorted. “That won’t be a problem.”Marco’s smile widened slightly. “That’s what I was hoping to hear. But before we get into the details, I need to know something.” His eyes flicked to Emilia. “How far are you willing to go?”Emilia swallowed, her pulse thrumming in her ears. She knew what he was asking. Was she ready to cross the line? To abandon any chance at normalcy and
11The air in the safe house remained heavy long after Matteo De Luca had stormed out, his parting words lingering like a dark cloud over the room. Emilia stood still, her arms wrapped around herself as if trying to hold everything together. Luca, on the other hand, exhaled sharply, dragging a hand through his hair before turning to face her."You okay?" he asked, his voice quieter now, less edged with the fury that had fueled him moments ago.Emilia nodded, though her shoulders sagged with exhaustion. "I just... I didn't expect him to react like that."Luca let out a bitter chuckle. "Really? The man’s been waiting for an excuse to put a bullet in my head since we first met. This was just another opportunity."She shot him a sharp look. "He’s my father. He’s just protective.""Protective or paranoid?" Luca challenged, crossing his arms. "You think he's really mad at me, or is he just scared that someone else is pulling the strings and he doesn’t know who?"Emilia opened her mouth, the
"Luca, slow down! What's going on?" she wrenched her arm free, swinging around a corner. He spun to face her, dark and commanding. "I told you to stay close. Do you want to get caught in the crossfire?" "I don't even know what's happening!" she hissed, trying to sound defiant despite a shaking voice
Emilia swallowed and fought for her voice. "I didn't know who you were, either," she flashed right back in a slightly shaking voice. "We aren't here to talk about the past." Luca's jaw flexed, glints dancing in his eyes. "Stop lying to me." "I am not," Emilia shot back with far too little venom.
Luca's voice sliced in low and smooth, with an edge. "A compromise which would quite suitably be in favor of the De Lucas. Her chest constricted at his voice, Emilia dared not glance at him. Inscrutable, his eyes clouded and became a tempest that did not let her move her gaze from his. Luca leaned
"Emilia," he whispered solemnly. "Tell me the truth, what's wrong?"She opened her mouth to answer, the words catching in her throat-and the tension between them grew and thickened.Her voice came just a moment before the sound of an engine springing into life out on the drive shattered the tensio
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews