Mag-log inCedric menatap lantai sejenak, lalu berkata tanpa menoleh, “Aku tidak seharusnya menceritakan ini sekarang.”Clarissa menatapnya, terkejut. “Cedric, aku—”“Aku tahu,” potongnya lembut. “Aku tahu itu masa lalu. Aku tahu kau memilihku.” Ia mengangkat pandangan. “Tapi melihatmu panik seperti itu,” Cedric menarik napas dalam. “Aku cemburu. Dan aku membencinya.”Clarissa mendekat, memegang lengannya dengan tangan gemetar. “Aku panik karena aku takut kehilangan orang,” katanya jujur. “Bukan karena cinta.”Cedric menatapnya lama, lalu mengangguk kecil. “Aku tahu,” ulangnya. Clarissa menunduk, matanya berkaca-kaca. “Aku istrimu sekarang.”Cedric menghela napas, lalu menarik Clarissa ke dalam pelukan. Clarissa terisak pelan, memeluk balik. Ia hanya keceplosan. Lupa, jika di hadapannya ada suami yang mencintainya secara ugal-ugalan. …Kabut sore menyelimuti gang sempit di kota perbatasan Dragoria. Clara melangkah pelan, punggungnya sedikit membungkuk, rambutnya disembunyikan di balik tudung k
"Jealousy is no more than a fear of comparison." (Cemburu tak lebih dari rasa takut untuk dibandingkan; Pride and Prejudice, Jane Austin)...Velmont Raya, Clarissa melenguh pelan sembari menyentuh perutnya yang mulai membuncit. Ia meringis ketika menelan potongan kecil roti yang diberikan oleh suaminya. “Aku tidak suka roti ini,” Katanya tiba-tiba, menepis tangan suaminya yang berusaha menyuapinya. Ia menghela napas panjang seolah membuang beban yang terpendam dalam benaknya. Cedric mengernyitkan keningnya, mengamati perubahan kecil pada raut wajah istrinya. Kehamilannya memang benar-benar menguji kesabarannya.Cedric menaruh potongan roti di atas piringnya kembali. Ia menatap istrinya lekat. Setelah dilihat-lihat, berat badan istrinya sudah bertambah. Tatapannya menyisir dari wajah, pipi lalu lengannya yang berisi. Ia bisa makan dengan baik asalkan makanannya cocok di lidahnya. Perubahan kehamilannya cukup signifikan. Bahkan ia terlihat lebih bersinar dan bergairah. “Kenapa m
Evander berdiri di dalam sel sempitnya, kedua pergelangan tangannya terikat rantai besi yang ditanam ke dinding. Darah kering melekat di sudut bibirnya, tetapi ia nyaris tak merasakannya. Suara jerit pelan di sebelahnya justru yang menyayat hatinya. Itu suara Inez. Sial, kenapa dari awal mereka tidak menolak lalu memberontak, melawan para prajurit Dragoria. Evander berusaha membebaskan diri. Ia berusaha keras melepaskan rantai besi yang menjeratnya tetapi nihil. Pergelangan tangannya sampai memerah bahkan terluka hingga mengeluarkan darah karena ia berusaha keras. “Inez,” gumamnya, nyaris tak bersuara. Jantungnya berdenyut pilu. Tubuhnya menegang. Apa yang ia takutkan terjadi. Inez justru mendapat siksaan di tahanan yang sama dengannya. Bahkan ia berada di sebelahnya. Naasnya, ia merasa menjadi manusia tidak berguna karena tidak bisa menolong Inez. “Inez, maafkan aku. Aku memang pecundang,” gumam Evander lirih. Seharusnya, tadi dia tidak menunjukan perhatian lebih kepada Inez. Me
Komandan Dragoria menggiring Evander dan Inez menuju tahanan sementara. Begitu tiba, keduanya tak diberi waktu untuk bernapas. Mereka langsung diseret dan dibawa ke ruang interogasi. Sang komandan memimpin sendiri proses itu, namun Evander dan Inez dipisahkan, masing-masing digiring ke ruangan yang berbeda.Evander didudukkan di kursi besi. Rantai membelit pergelangan tangan dan kakinya, ditautkan pada cincin besi yang tertanam di lantai batu. Ia tidak melawan. Namun, sialnya, sikap itu yang membuat mereka kesal.Pintu berderit terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi besar dengan jubah beremblem Dragoria masuk. Semua orang terdiam. Tidak ada yang berani bersuara. Karena ruangan yang hening itu, langkah sepatu boot-nya terdengar menggema di atas lantai. Tatapannya langsung tertuju pada Evander yang berada di sana. Sebelumnya, Pangeran Draven memang sengaja menyebar gambar sketsa pangeran Ravensel. Ia sudah lebih dulu mendengar bahwa armada yang membawa Pangeran Evander hancur karena di
Evander dan Inez masih duduk di bangku batu yang bersebelahan dengan bengkel kulit. Mereka tengah menikmati roti kasar tanpa benar-benar lapar. Mereka hanya ingin memperlambat waktu, menikmati kebersamaan yang jarang bisa mereka curi seperti ini.“Mau lagi?” Evander bertanya. Tatapannya tertumbuk pada bibir Inez—yang meskipun tidak berdandan dan masih sakit tetapi masih terlihat merah muda. Roti di tangannya sudah habis lebih dulu. Inez menoleh lalu menjawab singkat. “Tidak. Aku sudah kenyang.” Ia menepuk-nepuk tangannya, membuang remahan roti yang menempel di telapak tangannya. Evander menghela panjang. Ia memuaskan matanya dengan pemandangan hiruk pikuk kota. Untuk sesaat beban di pundaknya meredup. Namun melihat para pria bergerombol berjalan di depannya, melewatinya, ia menjadi teringat pasukan Ravensel. Sebuah pertanyaan terbesit di kepalanya. Apakah para awak kapal Ravensel selamat? Ia yakin mereka selamat. Hanya saja, mungkin mereka juga terdampar di kepulauan asing. Keyaki
“Maksudku, ini ayahku. Ya, ayahku,” Clara meralat ucapannya. Ia menarik napas dalam. Ucapan tadi hanya spontanitas saja. Pria pemilik kedai diam sesaat. Suara panggilan mengusiknya. “Sayang, apa Robert masih libur? Kita sangat sibuk. Kita tidak bisa menangani kedai berdua. Apalagi pembeli sedang ramai. Bagaimana ini?”Wanita gendut menghampirinya—istri dari si pemilik kedai. Tatapan pria itu beralih dari istrinya lalu beralih pada Hector. Lalu beralih pada istrinya. “Honey, sepertinya ada yang bisa gantikan Robert beberapa hari ke depan,” tukasnya dengan tersenyum samar. Bukankah ia bisa memperkerjakan ke dua pria dan wanita berbeda usia itu di depannya.Wanita itu menaruh satu keranjang berisi buah-buahan kering di atas meja. Lalu ia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan penasaran. “Kau sudah menemukan orang yang akan menggantikan Robert sementara?”Pria itu manggut-manggut. “Sudah, Honey. Tenang saja kau tidak usah khawatir. Kau juga tidak akan cape.”Wanita itu tersenyum menden






