LOGINKetika dendam bertemu cinta, siapa yang akan lebih dulu menusuk jantung? Bai Xiang, pendekar cantik dari Sekte Gunung Yang, masuk ke istana hanya untuk satu tujuan, membunuh Jenderal Han Feng, pria bertopeng hitam yang menumpahkan darah keluarganya. Namun takdir berbalik kejam, Kaisar justru menjodohkan mereka. Kini, musuhnya tidur di ranjang yang sama, menatapnya dengan mata yang menyimpan rahasia terlalu dalam. Saat cinta tumbuh di antara bilah pedang dan kebohongan, Bai Xiang perlahan sadar, musuh sejatinya bukan pria di sisinya, melainkan orang yang selama ini ia panggil “Guru”. Dan ketika semua topeng terlepas, hanya satu pilihan tersisa: membunuh atau mencintai.
View MoreLima tahun telah berlalu sejak api peperangan melawan pemberontak dan pasukan Kasgan di perbatasan padam. Kini, kediaman Keluarga Han di pinggiran ibukota dipenuhi oleh riuh rendah suara tawa anak-anak yang memenuhi halaman luas yang asri.Di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Bai Xiang berdiri dengan anggun. Matanya yang dulu sedingin es kini memancarkan kehangatan seorang ibu saat menatap ketiga buah hatinya yang sedang asyik bermain.Putri sulungnya, Han Ling yang kini berusia lima tahun, memiliki paras yang sangat mirip dengan Han Feng, rahang yang tegas namun elegan dan mata yang tajam. Namun, sifatnya adalah cerminan murni dari Bai Xiang. Di sampingnya, si tengah Han Mei lebih muda satu tahun, adalah perpaduan sempurna; ia memiliki kecerdasan Han Feng namun kelembutan wajah ibunya. Sedangkan si bungsu Han Jian, tiga tahun, adalah replika kecil dari ayahnya. Mulai dari cara berjalannya yang angkuh hingga sifatnya yang nakal dan tak bisa diam, ia adalah "Han Feng kecil" yan
Pesta pernikahan Zhu Yu Liang dan Wen Mei berlangsung semarak di aula utama Istana Mingyue. Gelak tawa para pejabat dan denting cawan perunggu yang beradu menciptakan simfoni kemenangan yang membahana. Han Feng, yang tengah mendampingi Kaisar, tampak sibuk meladeni ucapan selamat, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Bai Xiang di barisan meja terhormat. Sejak upacara bermula, Han Feng menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Wajah Bai Xiang yang biasanya segar kini pucat, dan ia berulang kali memijat pelipisnya. Han Feng mengira itu hanyalah kelelahan pasca-tempur melawan pemberontak dan pasukan Kasgan. Saat Han Feng hendak menghampiri istrinya, tiba-tiba tubuh Bai Xiang limbung. Cawan di tangannya jatuh berdenting, dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Han Feng melesat, menangkap istrinya dalam dekapan yang sigap. "Xiang! Xiang!" seru Han Feng, suaranya yang menggelegar seketika menghentikan keriuhan di aula. Pesta yang tadinya penuh tawa berubah menjadi kepanikan keci
Debu peperangan yang menyelimuti perbatasan perlahan luruh, digantikan oleh panji-panji Naga Perak yang berkibar gagah di bawah langit biru menuju Ibukota Mingyue. Barisan pasukan Longyan berbaris panjang, langkah kaki mereka yang serempak menciptakan irama kemenangan yang menggetarkan jalanan utama kota. Rakyat berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai melepaskan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas perdamaian yang berhasil direbut kembali dari ambisi Kasgan dan para pemberontak. Di barisan depan, Han Feng dan Bai Xiang berkuda berdampingan, diikuti oleh Zhu Yu Liang yang terus berada di sisi kereta kuda Wen Mei. Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, Kaisar sudah menunggu di atas podium tinggi, didampingi oleh para pejabat istana yang kini telah bersih dari pengaruh Cao Bing. "Hamba, Han Feng, Panglima Tertinggi Pasukan Longyan, melaporkan bahwa ancaman dari barat telah dipadamkan, dan para pengkhianat telah menerima pengadilannya!" Han Feng turun dari kuda dan berlutut
Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. "Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,
Darah hangat memercik ke pipi Bai Xiang, kontras dengan hawa dingin puncak Gunung Song yang membeku. Di hadapannya, Liu Wei berdiri goyah. Pedang tipis Jin Peng tertancap telak di dada kiri pria itu, hanya beberapa inci dari jantungnya. Jin Peng yang terkejut melihat campur tangan tak terduga
Lembayung senja yang merah darah menyapu jendela berukir di kamar tempat Wen Mei ditawan. Meski berstatus sebagai tahanan kelompok pemberontak, ruangan itu jauh dari kesan penjara bawah tanah yang lembap; lantai beralaskan permadani tebal, dindingnya dihiasi lukisan sutra yang halus, dan Wen Mei se
Dinding batu sel yang lembap dan dingin menjadi saksi bisu hancurnya martabat seorang Putri Mahkota. Di bawah remang cahaya obor yang berkedip gelisah, Wen Mei meringkuk layaknya burung yang sayapnya telah dipatahkan paksa. Gaun sutranya yang dulu melambangkan kemegahan kini kotor dan robek, mence
Udara dingin di Istana Mingyue seolah membeku, selaras dengan keheningan mencekam yang menyelimuti kamar sang putri. Wen Mei, Putri Mahkota yang biasanya memancarkan keceriaan, kini nampak seperti raga tanpa nyawa. Jemarinya bergetar hebat saat menggenggam selembar perkamen. Surat itu merupakan anc


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore