LOGIN“Menghindari api, jatuh ke bara,”...Inez menyeret kakinya dengan sekuat tenaga. Di luar jeruji para penjaga tahanan langsung menyerbunya. “Tuhan,” gumamnya pada diri sendiri. Tidak ada pedang dan senjata. Ia benar-benar harus melewati mereka dengan tangan kosong. Namun ketika seseorang terdesak kemampuan itu akan muncul secara tiba-tiba dan tak terkendali. Inez melawan mereka dengan jurus mematikan yang hanya akan ia keluarkan saat terdesak, karena setelah itu energinya akan terkuras habis. “Tidak adil, aku seorang diri dengan senjata. Tapi mereka mengepungku banyakan,” gumamnya dengan mendesis pelan. Ia memasang kuda-kuda lalu bersiap melawan ke lima pria dengan pedang terhunus. Mereka tertawa saat mendekati Inez, terlalu percaya diri bahwa baja bisa menghabisi manusia dengan sekali tebasan. Serangan pertama datang meluncur dengan gesit dari arah kanan. Sebuah tebasan cepat. Kepala Inez langsung menunduk dalam, membiarkan mata pedang menyisir udara di atas kepalanya. Ia mel
“Jika ingin menumbangkan harimau, kau harus berani menjejak sarangnya,” ...Clara berhasil mengecoh para penjaga dengan sulfurous smoke. Dengan melempar bubuk itu asap mengepul hebat dan ia berhasil membawa Evander menjauh dari kereta tahanan. “Cepat selamatkan Inez,” pinta Evander penuh harap. Matanya memerah dan suaranya melemah. Bahkan ketika kondisinya memprihatinkan, satu nama yang selalu Evander sebut, Inez Valeria. Clara mengangguk meskipun sempat merasa kesal karena Evander terus menerus menyebut nama Inez. Sial, ia jadi iri pada Inez yang mendapat perhatian begitu dalam dari sang pangeran.Sesekali ingatannya tentang Leonhart muncul di kepalanya, menari-nari seperti bayangan obor. ‘Aku menyelamatkanmu. Tapi, kau sama sekali tidak tertarik padaku. Hem, mungkin ada hati yang harus dijaga. Ketika ia tidak beristri mungkin kisah cinta lain akan tumbuh.’Lalu Clara berkata cepat. “Yang Mulia, kau harus berjalan lurus dari sini. Lalu belok ke kanan dan masuk ke lorong sebelah
Cedric menatap lantai sejenak, lalu berkata tanpa menoleh, “Aku tidak seharusnya menceritakan ini sekarang.”Clarissa menatapnya, terkejut. “Cedric, aku—”“Aku tahu,” potongnya lembut. “Aku tahu itu masa lalu. Aku tahu kau memilihku.” Ia mengangkat pandangan. “Tapi melihatmu panik seperti itu,” Cedric menarik napas dalam. “Aku cemburu. Dan aku membencinya.”Clarissa mendekat, memegang lengannya dengan tangan gemetar. “Aku panik karena aku takut kehilangan orang,” katanya jujur. “Bukan karena cinta.”Cedric menatapnya lama, lalu mengangguk kecil. “Aku tahu,” ulangnya. Clarissa menunduk, matanya berkaca-kaca. “Aku istrimu sekarang.”Cedric menghela napas, lalu menarik Clarissa ke dalam pelukan. Clarissa terisak pelan, memeluk balik. Ia hanya keceplosan. Lupa, jika di hadapannya ada suami yang mencintainya secara ugal-ugalan. …Kabut sore menyelimuti gang sempit di kota perbatasan Dragoria. Clara melangkah pelan, punggungnya sedikit membungkuk, rambutnya disembunyikan di balik tudung k
"Jealousy is no more than a fear of comparison." (Cemburu tak lebih dari rasa takut untuk dibandingkan; Pride and Prejudice, Jane Austin)...Velmont Raya, Clarissa melenguh pelan sembari menyentuh perutnya yang mulai membuncit. Ia meringis ketika menelan potongan kecil roti yang diberikan oleh suaminya. “Aku tidak suka roti ini,” Katanya tiba-tiba, menepis tangan suaminya yang berusaha menyuapinya. Ia menghela napas panjang seolah membuang beban yang terpendam dalam benaknya. Cedric mengernyitkan keningnya, mengamati perubahan kecil pada raut wajah istrinya. Kehamilannya memang benar-benar menguji kesabarannya.Cedric menaruh potongan roti di atas piringnya kembali. Ia menatap istrinya lekat. Setelah dilihat-lihat, berat badan istrinya sudah bertambah. Tatapannya menyisir dari wajah, pipi lalu lengannya yang berisi. Ia bisa makan dengan baik asalkan makanannya cocok di lidahnya. Perubahan kehamilannya cukup signifikan. Bahkan ia terlihat lebih bersinar dan bergairah. “Kenapa m
Evander berdiri di dalam sel sempitnya, kedua pergelangan tangannya terikat rantai besi yang ditanam ke dinding. Darah kering melekat di sudut bibirnya, tetapi ia nyaris tak merasakannya. Suara jerit pelan di sebelahnya justru yang menyayat hatinya. Itu suara Inez. Sial, kenapa dari awal mereka tidak menolak lalu memberontak, melawan para prajurit Dragoria. Evander berusaha membebaskan diri. Ia berusaha keras melepaskan rantai besi yang menjeratnya tetapi nihil. Pergelangan tangannya sampai memerah bahkan terluka hingga mengeluarkan darah karena ia berusaha keras. “Inez,” gumamnya, nyaris tak bersuara. Jantungnya berdenyut pilu. Tubuhnya menegang. Apa yang ia takutkan terjadi. Inez justru mendapat siksaan di tahanan yang sama dengannya. Bahkan ia berada di sebelahnya. Naasnya, ia merasa menjadi manusia tidak berguna karena tidak bisa menolong Inez. “Inez, maafkan aku. Aku memang pecundang,” gumam Evander lirih. Seharusnya, tadi dia tidak menunjukan perhatian lebih kepada Inez. Me
Komandan Dragoria menggiring Evander dan Inez menuju tahanan sementara. Begitu tiba, keduanya tak diberi waktu untuk bernapas. Mereka langsung diseret dan dibawa ke ruang interogasi. Sang komandan memimpin sendiri proses itu, namun Evander dan Inez dipisahkan, masing-masing digiring ke ruangan yang berbeda.Evander didudukkan di kursi besi. Rantai membelit pergelangan tangan dan kakinya, ditautkan pada cincin besi yang tertanam di lantai batu. Ia tidak melawan. Namun, sialnya, sikap itu yang membuat mereka kesal.Pintu berderit terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi besar dengan jubah beremblem Dragoria masuk. Semua orang terdiam. Tidak ada yang berani bersuara. Karena ruangan yang hening itu, langkah sepatu boot-nya terdengar menggema di atas lantai. Tatapannya langsung tertuju pada Evander yang berada di sana. Sebelumnya, Pangeran Draven memang sengaja menyebar gambar sketsa pangeran Ravensel. Ia sudah lebih dulu mendengar bahwa armada yang membawa Pangeran Evander hancur karena di






