LOGIN"Kau tidak bisa lari. Karena kau sudah jadi milikku." -- Duke Dillard Donoughoe menginginkan kejatuhan keluarga Brieris, dan Juliet adalah harga yang harus dibayar. Namun, ketika kebenaran terungkap di tengah lantai dansa, siapa yang sebenarnya sedang dipermainkan?
View MoreGaun ini berat sekali.
Aku menarik napas dalam-dalam, tapi korset terlalu ketat; tulang rusukku terasa ditekan, dadaku sesak. Kerudah tebal menutupi wajah, menghalangi pandangan. Hanya bayangan dan cahaya lilin yang bisa kulihat. Tangan Ibu mencengkeram lenganku. Kuat. Kukunya menggores kulit. "Jangan sampai kau membuat kami lebih malu lagi, Juliet." Aku mengangguk kecil. Leher kaku. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis. Kemarin malam, Celestine kabur. Meninggalkan surat pendek dan gaun pengantin ini tergeletak di lantai kamarnya. Dan pagi tadi, sebelum matahari terbit, Ayah menyeretku dari tempat tidur. "Kau akan menggantikan kakakmu. Tidak ada pilihan lain." Tidak ada pilihan. Pintu besar katedral terbuka. Musik organ menggelegar. Ratusan pasang mata menoleh. Kakiku gemetar di setiap langkah. Lantai marmer dingin di bawah sepatu satin yang terlalu besar. Aku hampir tersandung dua kali. Altar semakin dekat. Di sana, sosok tinggi berdiri membelakangi. Jubah hitam dengan bordir perak berkilau di bawah cahaya lilin. Bahu lebar, punggung tegap; seperti tembok yang tidak bisa ditembus. Jantungku menggedor keras di dada. Ini Duke Dillard Donoughoe. Aku sampai di sampingnya. Pendeta sudah membuka kitab besar. Suaranya bergema. "Hari ini, kita menyaksikan ikatan suci antara Duke Dillard Donoughoe dan Putri Celestine Brieris..." Napas terhenti di tenggorokan. Nama yang salah. Aku bukan Celestine. Dillard berbalik. Mata abu-abu. Tajam seperti pecahan kaca. Rahang keras dengan garis tegas di sepanjang tulangnya. Bibir tipis terkatup rapat. Dia menatap kerudahku; lama. Terlalu lama. "Angkat." Suaranya rendah. Seperti guntur di kejauhan. Pendeta terbata. "Y-Yang Mulia, upacara belum; " "Sekarang." Tanganku gemetar mengangkat kerudah. Kain jatuh ke belakang. Detik itu, wajah Dillard berubah. Matanya menyipit. Alis terangkat sedikit. Rahang mengeras hingga otot di pipinya bergerak. "Kau bukan Celestine." Bisikan meledak di seluruh ruangan. Keras. Kasar. Ibu terengah di belakangku. Ayah melangkah maju, tapi kakinya limbung. "Yang Mulia, kami mohon; ini bisa dijelaskan; " Dillard tidak menoleh. Matanya terpaku padaku. Menatap wajahku dari dahi, turun ke mata, hidung, bibir. Seolah sedang menilai barang belian. "Namamu." Bibir kering. Tenggorokan tercekat. "J-Juliet." "Juliet Brieris?" Aku mengangguk. Dillard mundur selangkah. Lalu tertawa; pendek, tajam, tanpa kehangatan. "Keluarga Brieris mengirim pengganti. Anak yang bahkan tidak layak disebut bangsawan." Dadaku sesak. Napas tercekat. Ayah merangkak. Benar-benar merangkak. "Yang Mulia, kami mohon—" "Pernikahan tetap berlanjut." Hening. Semua orang terkejut. Termasuk aku. "A-apa?" Dillard melangkah mendekat. Setiap langkahnya berat. Menggetarkan lantai. Atau mungkin itu hanya jantungku yang bergetar terlalu keras. "Kau akan jadi istriku, Juliet Brieris." Wajahnya sekarang hanya beberapa senti dariku. Aku bisa melihat garis-garis tipis di sekitar matanya. Bisa mencium aroma kayu cedar dan sesuatu yang lebih gelap; seperti asap. Aroma tubuhnya hangat, berkebalikan dengan tampangnya. Bagaimana bisa? "Bukan karena aku menerimamu. Tapi karena keluargamu harus belajar apa arti pengkhianatan." Napas hangatnya menyapu wajahku. Aku mundur satu langkah; tapi dia mengikuti. "Mulai hari ini, setiap napas yang kau ambil, setiap detik yang kau jalani, adalah untuk membayar kesalahan mereka pada Donoughoe." Jari panjangnya menyentuh daguku; dingin, keras. Mengangkat wajahku paksa hingga mata kami bertemu. "Dan kau tidak bisa lari. Karena kau sudah jadi milikku." Dia melepaskan daguku dengan cepat. Berbalik ke pendeta. "Lanjutkan." Pendeta terbata membaca doa. Aku berdiri kaku. Tubuh gemetar. Kaki hampir tidak kuat menahan berat badan. "Duke Dillard Donoughoe, apakah Anda menerima Juliet Brieris sebagai istri?" "Ya." Satu kata. Dingin seperti musim dingin. "Juliet Brieris, apakah Anda menerima Dillard Donoughoe sebagai suami?" Mulut terbuka. Tidak ada suara. Dillard menatapku; menantang. "Aku..." Suara serak. Hampir tidak terdengar. "Aku menerima." Selesai. Tidak ada ciuman. Tidak ada senyum. Dillard berjalan meninggalkan altar. Jubahnya berkibar. Langkahnya keras. Aku berdiri sendirian. Tangan mengepal di samping tubuh. Kuku menggores telapak tangan hingga terasa perih. * Perjalanan menuju Kastil Donoughoe dalam diam. Kami di kereta terpisah. Aku duduk sendirian di bangku berlapis beludru merah. Jendela tertutup tirai tebal. Gelap. Pengap. Setiap guncangan kereta membuat perut mual. Korset masih terlalu ketat. Aku mencoba mengendurkan tali di belakang, tapi tanganku tidak sampai. Tiga jam perjalanan terasa seperti tiga hari. Ketika kereta berhenti, aku turun dengan kaki lemas. Kastil Donoughoe berdiri di depan; besar, gelap, dengan menara-menara tinggi menjulang ke langit yang sudah menggelap. Pelayan tua menyambutku. "Duchess, silakan ikut saya." Aku mengikuti dalam diam. Lorong-lorong panjang dengan langit-langit tinggi. Lilin-lilin di dinding menyala redup. Bayangan bergerak di setiap sudut. Dingin. Kami berhenti di depan pintu besar. "Ini kamar Anda." "Duke Dillard...?" "Di sayap lain, Duchess." Tentu saja. Aku masuk. Kamar besar dengan tempat tidur kanopi hitam. Jendela menghadap hutan gelap. Tidak ada bunga. Tidak ada warna. Aku duduk di tepi tempat tidur. Gaun pengantin masih melekat di tubuh. Berat. Sesak. Aku membungkuk, menundukkan kepala ke telapak tangan. Ini nyata. Aku benar-benar menikah dengan Duke Dillard Donoughoe. Dan aku tidak tahu apakah aku akan bertahan hidup. * Tengah malam. Pintu terbuka tanpa ketukan. Aku terbangun, langsung duduk. "Siapa– " Dillard berdiri di ambang pintu. Masih pakai kemeja putih; kancing atas terbuka, memperlihatkan sebagian dada bidang. Lengan digulung sampai siku, memperlihatkan lengan berotot dengan urat yang menonjol. Rambut sedikit acak. Mata abu-abu menatap tajam dalam gelap. "Kita perlu bicara." Jantung berdegup keras. "Sekarang?" Dia masuk. Menutup pintu. Ruangan langsung terasa lebih kecil. "Aku tidak peduli siapa kau. Tapi kau sekarang Duchess Donoughoe. Bertindaklah seperti itu." Aku berdiri. "Aku tidak tahu caranya; " "Belajar." Dia melangkah mendekat. Setiap langkah membuat napas tersangkut. "Dan jika ada yang tanya tentang Celestine, kau tidak tahu apa-apa." Aku mengangguk cepat. Tapi dia belum selesai. Dia berhenti tepat di depanku. Tingginya membuatku harus mendongak. Leher tegang. "Satu lagi." Suaranya turun; lebih rendah, lebih seram. "Jangan coba kabur." Napas tersangkut. Jantung berpacu. "Karena kalau kau kabur..." Jari panjangnya menyentuh rahangku; pelan, tapi dingin seperti es. "Keluargamu akan bayar harga yang jauh lebih mahal." Jarinya bergerak ke leher, menyusuri garis tenggorokan; perlahan. Sentuhan ringan. Tapi cukup membuat bulu kuduk berdiri. Aku menelan ludah dengan susah payah. Anehnya, bagian tubuhku yang lain bereaksi. Bagian bawah perutku terasa panas. "Mengerti?" Aku mengangguk. Bibir gemetar. Dillard melepaskan tangannya dari leherku. Melangkah mundur. Tapi matanya masih terpaku padaku; dari wajah, turun ke leher, bahu, sedikit ke bawah lagi. Kusilangkan kedua tangan di atas dada. Lalu pandangannya kembali ke mata. "Tidur. Besok akan panjang." Dia pergi. Pintu tertutup. Aku berdiri sendirian. Tangan terangkat, menyentuh leher di mana jarinya tadi berada. Lalu menunduk ke arah pakaianku. Aku mendesah pelan. Pasti karena udara malam yang dingin dan baju tidur yang tipis.Dillard tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tanganku yang meremas jemarinya. Bahunya yang tegap tampak turun satu inci, tanda bahwa ketegangan dalam dirinya sedikit mengendur, meski rahangnya masih mengeras. Pria ini selalu mengukur segala hal dengan hasil nyata—pedang yang menebas, dokumen yang ditandatangani, atau wilayah yang dikuasai. Baginya, kehadiran fisik tanpa solusi medis adalah bentuk kegagalan."Logika yang buruk," gumamnya, meski ia tidak menarik tangannya. "Istana ini telah membuat standar keamananmu menjadi terlalu rendah.""Bukan istana," koreksiku, ibu jariku bergerak perlahan di atas kulit punggung tangannya yang kasar oleh bekas kapalan pedang. "Tapi hidupku sebelum ini."Dillard terdiam. Ia tahu persis apa yang kumaksud. Ia tahu tentang tahun-tahun yang kuhabiskan dengan berjalan di atas telur, tentang bagaimana setiap rasa sakit yang kutunjukkan di masa lalu hanya akan dianggap sebagai kelemahan yang siap dieksploitasi oleh ayahku sendiri. Di dunia itu,
Begitu kami berhasil keluar ke koridor, Dillard langsung bergerak cepat. Ia membimbingku masuk ke dalam sebuah bilik kecil di samping aula. Bilik itu biasanya digunakan untuk menyimpan barang atau tempat istirahat pengawal. Begitu kami masuk, Dillard langsung menutup pintu kayu itu dengan rapat. "Mual?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Matanya menatapku dengan penuh kecemasan yang tertahan. "Hanya sebentar," jawabku sambil memegangi perutku yang bergejolak. "Ini akan segera lewat." "Duduk," perintah Dillard dengan tegas. "Aku tidak apa-apa, Dillard. Aku bisa berdiri—" "Duduk, Juliet," potongnya lagi. Kali ini suaranya melembut, namun tetap tidak menerima bantahan. Aku akhirnya menyerah pada perintahnya. Aku melangkah dan duduk di atas sebuah kursi kayu kecil di sudut ruangan. Aku menyandarkan kepala belakangku ke dinding tembok yang dingin. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengambil napas dalam-dalam secara perlahan. Aku berusaha menenangkan detak jantungku yang berp
Ini benar-benar tidak direncanakan. Kejadian ini sama sekali di luar kendaliku. Rapat dewan pagi itu baru saja berjalan sekitar setengah jam. Suasana di dalam aula utama terasa begitu formal dan kaku. Semua orang tampak tegang. Tiba-tiba saja, aku merasakan sebuah gelombang mual yang luar biasa hebat. Rasa mual itu muncul dari dasar perutku. Efeknya jauh lebih buruk daripada yang biasa kurasakan beberapa hari terakhir. Mungkin ini terjadi karena waktu tidurku yang sedikit kurang semalam. Atau, mungkin juga karena aku melewatkan jadwal sarapan pagi ini. Perutku yang kosong tidak bisa berkompromi dengan ketegangan di dalam ruangan. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menahannya. Aku menarik napas dalam-dalam secara sembunyi-sembunyi. Aku memaksa mataku untuk tetap fokus pada catatan di depanku. Jemariku meremas pena bulu dengan erat. Aku berusaha mengabaikan keringat dingin yang mulai terbit di tengkukku. Namun, usaha itu sia-sia. Gelombang mual kedua datang melanda dengan jau
Hari-hari di dalam istana berjalan dengan sangat cepat dan melelahkan. Atmosfer di sekitar kami terasa begitu padat dan menyesakkan. Agenda harian kami selalu dipenuhi oleh rapat dewan yang panjang. Tumpukan laporan intelijen dari perbatasan terus datang silih berganti. Setiap sore, kami harus melakukan analisis mendalam mengenai pergerakan musuh. Belum lagi perencanaan taktik politik yang menguras banyak energi. Kepala rasanya mau pecah setiap kali melihat tumpukan kertas di atas meja kerja.Namun, ada satu hal yang berbeda dari Dillard. Ada satu rutinitas baru yang selalu ia lakukan tanpa gagal. Ia melakukannya dengan sangat disiplin dan konsisten setiap malam.Tepat pada pukul sembilan malam, apa pun yang sedang terjadi, Dillard akan berhenti. Ia tidak peduli seberapa genting situasi politik saat itu. Ia tidak peduli jika ada kurir yang baru saja datang membawa pesan. Pria itu akan langsung menutup semua dokumen di atas mejanya dengan bunyi kecipak yang khas. Setelah itu, ia berdiri
Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas lantai marmer koridor yang dingin itu bergaung, memecah kesunyian yang sempat tercipta sesaat setelah aula rapat utama dikosongkan. Theodore muncul dari belokan koridor dengan jubah resminya yang sedikit berkibar, seolah-olah mempertegas keteganga
Pena bulu di tangan Dillard tidak sekadar menggores perkamen. Benda itu mengetuk permukaan meja kayu ek dengan satu hentakan tunggal yang tegas. Suaranya kecil. Namun, di tengah ruang rapat yang berpenele kayu gelap dan minim sirkulasi itu, bunyinya terdengar seperti vonis mati.Theodore sengaja m
Aku menelan ludah, mencoba menguasai diri sebelum senyum penuh kemenangan terbit di bibirku."Baik," kataku, nada suaraku sengaja dibuat santai untuk menutupi debaran dada. "Tapi aku mau jendela itu."
Di dalam ruang kerja Theodore—yang dulunya merupakan ruang kerja megah milik mendiang Raja Aldous—suasana terasa menyesakkan.Ruangan itu penuh dengan tumpukan dokumen, gulungan perkamen, dan peta-peta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews