Pengantin Pengganti Duke Dillard

Pengantin Pengganti Duke Dillard

last updateLast Updated : 2026-05-05
By:  TIZZZUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
132Chapters
4.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Kau tidak bisa lari. Karena kau sudah jadi milikku." -- Duke Dillard Donoughoe menginginkan kejatuhan keluarga Brieris, dan Juliet adalah harga yang harus dibayar. Namun, ketika kebenaran terungkap di tengah lantai dansa, siapa yang sebenarnya sedang dipermainkan?

View More

Chapter 1

1. “Karena kalau kau kabur…,”

Gaun ini berat sekali.

Aku menarik napas dalam-dalam, tapi korset terlalu ketat; tulang rusukku terasa ditekan, dadaku sesak. Kerudah tebal menutupi wajah, menghalangi pandangan. Hanya bayangan dan cahaya lilin yang bisa kulihat.

Tangan Ibu mencengkeram lenganku. Kuat. Kukunya menggores kulit.

"Jangan sampai kau membuat kami lebih malu lagi, Juliet."

Aku mengangguk kecil. Leher kaku. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis.

Kemarin malam, Celestine kabur. Meninggalkan surat pendek dan gaun pengantin ini tergeletak di lantai kamarnya. Dan pagi tadi, sebelum matahari terbit, Ayah menyeretku dari tempat tidur.

"Kau akan menggantikan kakakmu. Tidak ada pilihan lain."

Tidak ada pilihan.

Pintu besar katedral terbuka. Musik organ menggelegar. Ratusan pasang mata menoleh. Kakiku gemetar di setiap langkah. Lantai marmer dingin di bawah sepatu satin yang terlalu besar. Aku hampir tersandung dua kali.

Altar semakin dekat.

Di sana, sosok tinggi berdiri membelakangi. Jubah hitam dengan bordir perak berkilau di bawah cahaya lilin. Bahu lebar, punggung tegap; seperti tembok yang tidak bisa ditembus.

Jantungku menggedor keras di dada.

Ini Duke Dillard Donoughoe.

Aku sampai di sampingnya. Pendeta sudah membuka kitab besar. Suaranya bergema.

"Hari ini, kita menyaksikan ikatan suci antara Duke Dillard Donoughoe dan Putri Celestine Brieris..."

Napas terhenti di tenggorokan. Nama yang salah. Aku bukan Celestine.

Dillard berbalik.

Mata abu-abu. Tajam seperti pecahan kaca. Rahang keras dengan garis tegas di sepanjang tulangnya. Bibir tipis terkatup rapat.

Dia menatap kerudahku; lama. Terlalu lama.

"Angkat."

Suaranya rendah. Seperti guntur di kejauhan.

Pendeta terbata. "Y-Yang Mulia, upacara belum; "

"Sekarang."

Tanganku gemetar mengangkat kerudah. Kain jatuh ke belakang.

Detik itu, wajah Dillard berubah.

Matanya menyipit. Alis terangkat sedikit. Rahang mengeras hingga otot di pipinya bergerak.

"Kau bukan Celestine."

Bisikan meledak di seluruh ruangan. Keras. Kasar.

Ibu terengah di belakangku. Ayah melangkah maju, tapi kakinya limbung.

"Yang Mulia, kami mohon; ini bisa dijelaskan; "

Dillard tidak menoleh. Matanya terpaku padaku. Menatap wajahku dari dahi, turun ke mata, hidung, bibir. Seolah sedang menilai barang belian.

"Namamu."

Bibir kering. Tenggorokan tercekat. "J-Juliet."

"Juliet Brieris?"

Aku mengangguk.

Dillard mundur selangkah. Lalu tertawa; pendek, tajam, tanpa kehangatan. "Keluarga Brieris mengirim pengganti. Anak yang bahkan tidak layak disebut bangsawan."

Dadaku sesak. Napas tercekat.

Ayah merangkak. Benar-benar merangkak. "Yang Mulia, kami mohon—"

"Pernikahan tetap berlanjut."

Hening.

Semua orang terkejut. Termasuk aku.

"A-apa?"

Dillard melangkah mendekat. Setiap langkahnya berat. Menggetarkan lantai. Atau mungkin itu hanya jantungku yang bergetar terlalu keras.

"Kau akan jadi istriku, Juliet Brieris."

Wajahnya sekarang hanya beberapa senti dariku. Aku bisa melihat garis-garis tipis di sekitar matanya. Bisa mencium aroma kayu cedar dan sesuatu yang lebih gelap; seperti asap. Aroma tubuhnya hangat, berkebalikan dengan tampangnya. Bagaimana bisa?

"Bukan karena aku menerimamu. Tapi karena keluargamu harus belajar apa arti pengkhianatan."

Napas hangatnya menyapu wajahku. Aku mundur satu langkah; tapi dia mengikuti.

"Mulai hari ini, setiap napas yang kau ambil, setiap detik yang kau jalani, adalah untuk membayar kesalahan mereka pada Donoughoe."

Jari panjangnya menyentuh daguku; dingin, keras. Mengangkat wajahku paksa hingga mata kami bertemu.

"Dan kau tidak bisa lari. Karena kau sudah jadi milikku."

Dia melepaskan daguku dengan cepat. Berbalik ke pendeta. "Lanjutkan."

Pendeta terbata membaca doa. Aku berdiri kaku. Tubuh gemetar. Kaki hampir tidak kuat menahan berat badan.

"Duke Dillard Donoughoe, apakah Anda menerima Juliet Brieris sebagai istri?"

"Ya."

Satu kata. Dingin seperti musim dingin.

"Juliet Brieris, apakah Anda menerima Dillard Donoughoe sebagai suami?"

Mulut terbuka. Tidak ada suara.

Dillard menatapku; menantang.

"Aku..." Suara serak. Hampir tidak terdengar. "Aku menerima."

Selesai.

Tidak ada ciuman. Tidak ada senyum. Dillard berjalan meninggalkan altar. Jubahnya berkibar. Langkahnya keras. Aku berdiri sendirian. Tangan mengepal di samping tubuh. Kuku menggores telapak tangan hingga terasa perih.

*

Perjalanan menuju Kastil Donoughoe dalam diam. Kami di kereta terpisah. Aku duduk sendirian di bangku berlapis beludru merah. Jendela tertutup tirai tebal. Gelap. Pengap.

Setiap guncangan kereta membuat perut mual. Korset masih terlalu ketat. Aku mencoba mengendurkan tali di belakang, tapi tanganku tidak sampai.

Tiga jam perjalanan terasa seperti tiga hari.

Ketika kereta berhenti, aku turun dengan kaki lemas. Kastil Donoughoe berdiri di depan; besar, gelap, dengan menara-menara tinggi menjulang ke langit yang sudah menggelap.

Pelayan tua menyambutku. "Duchess, silakan ikut saya."

Aku mengikuti dalam diam. Lorong-lorong panjang dengan langit-langit tinggi. Lilin-lilin di dinding menyala redup. Bayangan bergerak di setiap sudut.

Dingin.

Kami berhenti di depan pintu besar. "Ini kamar Anda."

"Duke Dillard...?"

"Di sayap lain, Duchess."

Tentu saja.

Aku masuk. Kamar besar dengan tempat tidur kanopi hitam. Jendela menghadap hutan gelap. Tidak ada bunga. Tidak ada warna.

Aku duduk di tepi tempat tidur. Gaun pengantin masih melekat di tubuh. Berat. Sesak. Aku membungkuk, menundukkan kepala ke telapak tangan.

Ini nyata. Aku benar-benar menikah dengan Duke Dillard Donoughoe. Dan aku tidak tahu apakah aku akan bertahan hidup.

*

Tengah malam. Pintu terbuka tanpa ketukan.

Aku terbangun, langsung duduk. "Siapa– "

Dillard berdiri di ambang pintu.

Masih pakai kemeja putih; kancing atas terbuka, memperlihatkan sebagian dada bidang. Lengan digulung sampai siku, memperlihatkan lengan berotot dengan urat yang menonjol.

Rambut sedikit acak. Mata abu-abu menatap tajam dalam gelap.

"Kita perlu bicara."

Jantung berdegup keras. "Sekarang?"

Dia masuk. Menutup pintu. Ruangan langsung terasa lebih kecil.

"Aku tidak peduli siapa kau. Tapi kau sekarang Duchess Donoughoe. Bertindaklah seperti itu."

Aku berdiri. "Aku tidak tahu caranya; "

"Belajar." Dia melangkah mendekat. Setiap langkah membuat napas tersangkut. "Dan jika ada yang tanya tentang Celestine, kau tidak tahu apa-apa."

Aku mengangguk cepat. Tapi dia belum selesai. Dia berhenti tepat di depanku. Tingginya membuatku harus mendongak. Leher tegang.

"Satu lagi." Suaranya turun; lebih rendah, lebih seram. "Jangan coba kabur."

Napas tersangkut. Jantung berpacu.

"Karena kalau kau kabur..." Jari panjangnya menyentuh rahangku; pelan, tapi dingin seperti es. "Keluargamu akan bayar harga yang jauh lebih mahal."

Jarinya bergerak ke leher, menyusuri garis tenggorokan; perlahan. Sentuhan ringan. Tapi cukup membuat bulu kuduk berdiri. Aku menelan ludah dengan susah payah. Anehnya, bagian tubuhku yang lain bereaksi. Bagian bawah perutku terasa panas.

"Mengerti?"

Aku mengangguk. Bibir gemetar.

Dillard melepaskan tangannya dari leherku. Melangkah mundur. Tapi matanya masih terpaku padaku; dari wajah, turun ke leher, bahu, sedikit ke bawah lagi. Kusilangkan kedua tangan di atas dada. Lalu pandangannya kembali ke mata.

"Tidur. Besok akan panjang."

Dia pergi. Pintu tertutup.

Aku berdiri sendirian. Tangan terangkat, menyentuh leher di mana jarinya tadi berada. Lalu menunduk ke arah pakaianku. Aku mendesah pelan.

Pasti karena udara malam yang dingin dan baju tidur yang tipis.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Rosa santika
Rosa santika
Izin promo Thor ... Judulnya: AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG MEMBENCIKU
2026-04-06 20:55:38
1
0
Keke Chris
Keke Chris
Keren banget, Kak.
2026-02-05 22:13:03
0
0
132 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status