LOGINDiselingkuhi, dikhianati, dan dijadikan elixir oleh suaminya Putra Mahkota Qiang Yuze, karena darahnya yang dapat mengobati segala jenis luka dan penyakit. Ming Yue mati dengan penuh kebencian. Namun takdir memberinya kesempatan lagi. Di kehidupan kedua ini, dendam adalah tujuan hidupnya. Ia memilih menikah dengan Qiang Jun, pangeran yang cacat, hanya sebagai langkah awal untuk menghancurkan Putra Mahkota, namun berubah menjadi ikatan hati yang sulit dijelaskan. Kini Ming Yue harus memilih antara kebencian dan dendamnya, atau membuka ruang bagi cinta yang baru. “Mendesahlah, Ming Yue. Buat mereka dengar suaramu,” ucap Qiang Jun berbisik, membuat Ming Yue terdiam.
View More“Y–Yuze… kumohon lepaskan aku. Sakit… seluruh tubuhku benar-benar sakit…” ucap lirih Ming Yue nyaris tak terdengar, seakan tercekik oleh udara lembap yang memenuhi ruang bawah tanah.
Ming Yue tergantung pada rantai besi yang menahan kedua pergelangan tangannya tinggi-tinggi di atas kepala. Posisi itu memaksa tubuhnya tetap berdiri, meski lututnya sudah gemetar tak sanggup menopang.
Di sepanjang lengan mungilnya hingga bahu, goresan luka yang tak terhitung jumlahnya terus mengucurkan darah segar. Setiap tetes merah itu menuruni lengannya, jatuh ke wadah yang diletakkan di bawahnya
Di hadapannya berdiri pria yang dulu ia panggil suami, Putra Mahkota Qiang Yuze. Tatapannya datar, tanpa sedikit pun belas kasih.
“Diamlah, Ming Yue,” suaranya tenang namun penuh penekanan. “Jika kau benar mencintaiku, maka kau harus memberikan apa yang kumau. Darahmu lebih berharga daripada hidupmu sendiri.” Tangannya terampil memindahkan cairan merah itu ke dalam botol, seolah tengah menuang anggur istimewa.
Darah Ming Yue memiliki khasiat sangat unik dan langka, yaitu mampu menyembuhkan segala penyakit dan luka, bahkan yang hampir merenggut nyawa sekalipun. Karena itu, ia dijadikan elixir hidup atau obat penyembuh mujarab bagi tentara kekaisaran yang berperang demi ambisi Qiang Yuze untuk menaklukkan benua.
“A-aku, sudah tidak tahan lagi, Yuze...” suara Ming Yue makin melemah.
Namun mendengar hal itu, Qiang Yuze terlihat jengkel. Dengan kasar, ia mencengkeram rahang Ming Yue hingga wajah mereka hanya berjarak sejengkal.
“Kau harus hidup sampai peperangan ini berakhir. Jangan lagi mengeluh, paham?!” gertaknya, matanya berkilat penuh ancaman.
Air mata jatuh, namun Ming Yue terlalu lemah untuk melawan. Ia hanya bisa menatap balik, hatinya remuk. Sebelum pergi, Yuze mengusap tangannya seolah jijik telah menyentuh kulit istrinya sendiri.
“Sayang sekali kau mandul. Jika saja bisa melahirkan, mungkin darah anakmu pun akan berguna untukku di masa depan.”
Setelah berkata demikian, ia berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Ming Yue hanya bisa menatap punggung pria yang pernah ia cintai sedalam hidupnya. Cinta itu kini retak, berganti pahitnya benci. Semua permohonan, semua usaha kabur yang pernah ia lakukan tak ada gunanya.
Tidak lama setelah kepergiannya, pintu besi kembali berderit terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah angkuh. Senyum sinisnya seketika membuat darah Ming Yue mendidih. Itu adalah Lao Lan, sepupunya sendiri yang sekarang menjadi istri kedua Qiang Yuze.
“Ternyata masih hidup juga, kau sangat menyebalkan, seperti kecoa,” ucapnya sambil mendengus.
Tatapan Ming Yue berubah tajam. Rambut kusutnya segera dijambak kasar, kepalanya dipaksa menengadah.
“Cepatlah mati, agar aku bisa memiliki Yang Mulia Yuze sepenuhnya,” desis Lao Lan penuh kebencian.
Ming Yue tersenyum getir meski tubuhnya sekarat, ia berkata. “Ambil saja manusia sialan itu. Rupanya selera kita sama-sama buruk dalam memilih lelaki.”
Plak!
Tamparan keras membuat sudut bibirnya pecah berdarah.“Di saat seperti ini kau masih berani bicara?!” bentaknya kesal.
Lao Lan mengikat mulutnya dengan selendang agar tak bisa mengucap sepatah kata pun lagi. Ming Yue meronta, namun tubuhnya sudah terlalu lemah untuk melawan.
“Cepat mati, lalu temui keluargamu di neraka. Mereka sama menyebalkannya denganmu. Untung saja Yang Mulia Yuze sudah menyingkirkan mereka,” ucap Lao Lan.
Mendengar hal itu, mata Ming Yue membelalak terkejut.
“Apa? Kau tidak tahu?” Lao Lan menyeringai. “Ya itu benar, kakakmu yang suka berjudi itu bukan mati karena dirampok. Ayahmu juga mati karena mencoba mengungkapkan kejahatan Menteri Wei. Kau paham sekarang? Jadi cepatlah mati dasar kecoa memuakkan.”
Ucapan itu membuat jantung Ming Yue serasa berhenti. Lao Lan kemudian berbalik, meninggalkan sel tahanan dengan tawa puas. Air mata jatuh membasahi wajah Ming Yue. Isakan tertahan di balik kain yang membungkam mulutnya. Ia tak menyangka ternyata pelaku yang membunuh keluarganya adalah suaminya sendiri.
‘Qiang Yuze, Lao Lan, aku tidak akan pernah memaafkan kalian,’ batin Ming Yue bersumpah, sesaat sebelum akhirnya dia terpejam.
Ming Yue, istri Putra Mahkota yang telah sangat lama terkurung kini menghembuskan nafas terakhirnya karena penyiksaan, darahnya yang habis dikuras serta tekanan mental yang ia alami.
Namun, seakan dewa memberinya kesempatan sekali lagi, cahaya terang menyilaukan mata. Ming Yue membuka kelopak matanya dengan nafas sedikit terengah. Tubuhnya bangkit di atas ranjang empuk, bukan lagi rantai besi dan dinginnya penjara.
Ming Yue menatap sekitar dan sontak terkejut. “Ini, kamarku di kediaman Ming,” gumamnya terheran-heran.
Keringat dingin membasahi pelipis. Segalanya tampak nyata. “Tapi bagaimana bisa? Bukankah harusnya aku sudah mati?”
"Ayah, aku mengundangnya bukan berarti aku akan menerima lamarannya," ucap Qiang Suli, masih berusaha membujuk sang ayah.Qiang Jun mendengus, ekspresinya masih masam. "Kalau begitu nanti akan ada banyak pria lain yang mencoba melamarmu."‘Tadi pagi pun memang ada banyak surat lamaran padaku,’ gumam Qiang Suli hanya berani menjawab dalam hati. ‘Mungkin karena aku muncul di pelelangan kemarin.’"Ekhem." Gadis itu berdehem pelan. "Ya sudah. Aku tidak akan memaksa. Terserah jika Ayah mau mengurungku terus."Kata-kata itu membuat Qiang Jun sedikit tertohok. Salah satu alasan, masa lalu yang jadi awal tragedi itu karena sikap keras kepalanya terlalu mengekang anak-anaknya. Walau sebenarnya itu karena ia khawatir.‘Tapi, cepat atau lambat aku pasti harus menghadapi masalah ini,’ batin Qiang Jun sembari memijat pangkal hidungnya yang pening.Dengan helaan napas panjang, pria itu akhirnya menjawab. "Baiklah. Nanti ibumu akan mengirim surat undangannya ke Kerajaan Chen.""Terima kasih, Ayah."
Mendengar hal itu, rahang Qiang Jun menegang. Dia dengan emosi kembali menampar wajah wanita tua itu sampai sudut bibirnya berdarah."Kau berani mempertanyakan hal itu padaku?" desisnya. "Dalam hukum kekaisaran, siapa pun pelaku di bawah kendali seseorang, dia bisa mendapat keringanan hukuman karena itu bukan keinginannya.""Tapi Putri yang menyebabkan—" Tabib Ailing hendak memprotes, tapi Qiang Jun dengan cepat membantahnya."Putriku juga berjasa menghentikan kehancuran kekaisaran. Dia juga menebus kesalahannya. Apa perlu kusebutkan secara detail?!"Qiang Jun tak terima saat putrinya dipandang rendah dan disalahkan. Sedangkan Qiang Suli tampak tenang, karena sebagian besar memang benar. Tapi dia segera menenangkan ayahnya."Sudahlah, Ayah. Tidak perlu menghabiskan waktu dengan orang sepertinya."Tabib Ailing sadar dengan hidupnya yang pasti akan berakhir. Karena itu untuk yang terakhir kalinya dia melampiaskan semua yang tertahan dalam hatinya selama ini."Dasar anak tak tahu berteri
Qiang Suli tersentak. Jantungnya langsung berdebar cepat, antara terkejut sekaligus panik. Dia mengenali suara itu.An Beiye, kini berjalan menghampiri mereka.‘Kenapa dia ke sini?’ jeritnya dalam hati, sedikit gelisah. ‘Dia tak mendengar apa yang kukatakan tadi, kan?’Saat An Beiye berada di hadapannya, Qiang Suli tetap bersikap tenang seperti biasa. Dan sepertinya pria itu tak menyadari perkataannya tadi."Hanya lewat. Paman sendiri, kenapa ada di sini? Bukankah harusnya kau bersama calon istrimu?" tanyanya, dengan wajah datar dan terdengar ketus.An Beiye tersenyum kikuk. Tingkahnya sedikit aneh, suaranya pun terbata-bata dan tak jelas."Yah, itu..." An Beiye kemudian beralih menatap Qiang Rui, seolah mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana penangkapan kemarin? Apa pelakunya sudah diketahui?""Ya. Sepertinya sudah ditangkap juga. Kaisar tak memerintahkan apa pun lagi padaku," jawab Qiang Rui.Qiang Suli tampak jengkel, dia tak puas dengan jawaban An Beiye. Dia tak lagi mempedulikannya.
"H-hah?" Ailing tergagap. Wajahnya tampak bingung sekaligus panik. "Apa maksudnya Anda?"Ming Yue masih tetap tenang, namun tatapannya datar. "Lebih baik kau jujur saja, Tabib Ailing. Dan mungkin hukumanmu bisa diringankan."Tabib Ailing menelan ludah, seperti tertangkap basah. Tapi dia masih bersikap tenang."Saya tak paham apa yang Anda katakan, Yang Mulia. Tolong jangan sembarangan menuduh. Saya baru ingat ada yang harus saya lakukan, permisi."Setelah berpamitan, Tabib Ailing berbalik. Namun di belakangnya sudah ada Xin Yan yang mengarahkan pedang ke arahnya. Tabib itu langsung terdiam."Perilakumu yang seperti ini membenarkan perkataanku, kan? Kenapa harus buru-buru pergi?" tanya Ming Yue di belakangnya, perlahan mendekat.Tabib Ailing terlihat sangat panik. Diam-diam dia mengeluarkan sesuatu dari balik lengannya, lalu dengan cepat melemparkannya ke lantai.Boom!Asap putih menyebar dengan cepat di sekitar, membuat pandangan jadi kabur. Xin Yan langsung mengayunkan pedangnya. Tap






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore