LOGIN
"Adrian, coba liat sini!" Satu fotografer berteriak padahal Adrian di sampingnya persis.
Kilatan cahaya membutakan mata Adrian walau dia sudah mengangkat tangan agar cahaya itu tidak langsung mengenai mata.
"Adrian, senyumnya mana?" bujuk fotografer yang lain. Suara kamera mengambil foto membuat Adrian semakin muak.
"Adrian … mana Miranda, katanya semalem bobo-boboan berdua?" tanya seorang fotografer yang langsung disambut tawa oleh semua fotografer lain.
Pertanyaan yang tidak sopan itu membuat emosi Adrian naik tapi, dia tak boleh melakukan apa-apa, kalau tidak, entah apa berita yang akan muncul di tabloid besok pagi.
Walau berusaha untuk melepaskan diri, Adrian akhirnya terperangkap di sudut jalan. Dia hanya ingin membeli rokok di minimarket. Sesuatu yang jadi kebiasaan karena kontrak iklan, sebenarnya tak perlu, tapi bosan melanda, dia harus keluar dan menghirup udara segar!
Adrian memandang handphone-nya dengan putus asa. Di mana Edo? Dia sudah menghubungi asistennya dari setengah jam yang lalu, sekarang dia terperangkap dengan wartawan yang makin banyak.
"Bang Adrian, gimana kabar Miranda? Kabarnya calon mertua marah tuh?" tanya wartawan yang lain.
“Jangan menjawab,” ucap pria berbola mata coklat itu dalam hati sambil mencoba menenangkan diri. Jika ada situasi seperti ini, dia harus sabar, tak boleh terpancing. Dia hanya cukup diam saja.
“Rokokku aman,” desahnya dalam hati sambil menepuk- nepuk kantong celananya. Yang penting para wartawan ini tidak boleh tahu mengetahui perihal rokok ini.
"Adrian sombong ih!" seru seorang dari wartawan itu menggoda. Adrian sengaja tertawa kecil atas ucapan itu. “Perlihatkan gigimu yang rapi Adrian, setidaknya besok saat muncul di tabloid fotomu tampak bagus!” suara Edo asistennya terngiang di benaknya.
Decit suara ban tiba-tiba terdengar dan tak lama datanglah mobil van hitam, akhirnya Edo muncul menyeruak gerombolan wartawan, membelah mereka menjadi dua bagian, beberapa dari mereka marah-marah sambil memukul van.
"Adrian, tunggu dulu, senyum dulu," panggil wartawan sambil mendorong mendekat sambil mengambil foto terlalu dekat sehingga cahaya blitz benar- benar membutakan mata Adrian.
Andrian membanting bokongnya dengan kesal dengan hembusan napas kasar.
"Kapok?" tegur Edo dengan dingin.
Adrian melirik matanya yang menatap lurus ke jalanan, melalui kaca spion dan memilih untuk diam.
"Coba sekali dalam hidup lo, klo mau ngapain, dipake otaknya! Adrian tertangkap pulang dari apartemen Miranda, coba lo pikirin deh!" dengus Edo, ketus.
Adrian sangat mengerti kalau dia telah membuat masalah baru lagi. Tapi seperti biasa agensinya pasti bisa menghilangkan berita apapun.
“Buat apa panik,” pikir Adrian sambil mencoba meraih kotak rokok di kantong celananya dan mulai menatap pemandangan di luar.
Namun seketika Adrian tak bisa bernapas. Hilang, sebungkus rokok itu hilang!
...
"Adrian tertangkap basah membeli rokok di minimarket setelah semalaman di apartemen Miranda," baca Lionel dengan geram. Pria itu lalu memandang Adrian dengan tajam.
"Adrian terlihat di minimarket membeli rokok setelah asyik berkencan dengan Miranda?" Dia mulai membaca artikel yang lain.
"Duta anti rokok tertangkap membeli rokok di minimarket, calon mertua Adrian mengeluh, takut Adrian memberikan contoh yang buruk bagi Miranda?" bacanya lagi dengan jijik.
Kepercayaan diri Adrian menguap, kini dia menunduk memandangi ujung sepatu. Lionel membanting tabloid terakhir ke mejanya dengan kasar, mengagetkan Adrian dan Edo. Hidung bos mereka kembang kempis seperti biasa jika emosinya meledak.
Tiba-tiba teleponnya berbunyi, Lionel mengangkat telepon di mejanya, suaranya berubah menjadi lembut, lirih seperti kehilangan wibawanya. Matanya menusuk Adrian saat akhirnya pria tua itu meminta maaf sambil menutup telepon.
"Kamu kehilangan status duta anti rokokmu, mereka akan memakai Mario, akan ada penalti!" Lionel mengepalkan tangannya.
Mario adalah saingan Adrian dari agensi lain, sejak berapa lama mereka selalu bersaing merebutkan peran di drama atau iklan, dan sialnya karena skandal ini Adrian yang kalah.
Telepon kembali berbunyi, Pak Lionel mengangkat teleponnya lagi sambil memandang Adrian dengan memicingkan matanya.
"Kamu kehilangan iklan permen karetmu." Suaranya yang dingin bisa membuat air membeku.
Adrian mendesah saat teringat dengan iklan permen karet itu. Dengan susah payah dia rebut dari Mario. Hampir seminggu penuh, dia berjalan keliling kota guna memperlihatkan kalau dia makan permen karet nggak enak itu, dan sekarang semua sia-sia.
"Adrian, sampai kapan kamu terus membuat skandal baru, kamu merokok aja aslinya nggak?"
Pertanyaan retoris, tak perlu dijawab.
"Jadwal dia hari ini apa Do?" Lionel bertanya tiba-tiba.
Edo langsung sigap membuka jadwal Adrian.
"Baca cerita di bangsal anak- anak di Harapan Kami, sekalian promo untuk syuting drama Dr. Ken" jawabnya dengan suara gugup. Edo mengambil sapu tangan untuk mengeringkan keringat.
"Setelah itu?" tanya Pak Lionel ketus seakan-akan Adrian tak berada di situ.
"Seharusnya dia pemotretan iklan permen karet, tapi kalau sudah dicopot,-" Edo menunduk kembali. Hati Adrian merosot ke dasar perut, sepertinya kali ini dia membuat masalah besar.
"Ya sudah kalau sudah selesai langsung bawa pulang dia ke kondo. Ikat di kasur kalau perlu!" kata Lionel dengan geram sambil mengambil koran tadi dari meja lalu menggulungnya.
"Aku benar- benar nggak ada hubungan dengan Miranda. Aku hanya bertemu karena iklan shampo waktu itu," dengus Adrian membela diri dengan kesal karena gara-gara wanita jelek itu, dia jadi tidak bisa pergi ke mana-mana.
Pak Lionel menyipitkan mata dan memandang dengan sinis.
"Itu benar Pak Lionel, Adrian tidak ada hubungan apa-apa dengan Miranda.” Edo memberanikan diri untuk membela dengan terbata-bata. Adrian memandangnya dengan rasa penuh terima kasih.
"Aku tahu, dia hanya mau dompleng ketenaran Adrian, tapi, seharusnya kamu sudah tau itu, Adrian!" Pak Lionel menghela napas panjang, kembali duduk di meja kerjanya.
Kerutan di dahinya muncul kembali ketika dia membuka laptop. Adrian tahu dia pasti sedang membaca halaman gosip di internet, pasti ada nama Adrian lagi di sana.
"Dah sana kerja, aku nggak mau lihat mukamu dulu!" Pak Lionel mengusir Adrian dan Edo dengan tangannya seakan- akan mereka lalat.
Adrian mengenakan kacamata hitam, masker dan topi dengan harapan tidak dikenali ketika di Harapan Kami. Namun begitu pintu terbuka otomatis, langsung terdengar suara yang Adrian sudah hapal.
"Itu dia, Adrian! Adrian!"
Lorong RS seketika sudah dipenuhi dengan wartawan dan fotografer.
"Bagaimana menurutmu lamaran Miranda barusan?" teriak salah satu wartawan.
Adrian terdesak dengan kamera dan kilatan blitz lagi. Pria itu mencoba mencari jalan keluar dari desakan wartawan dan berlari di lorong rumah sakit, diikuti oleh serbuan wartawan di belakang.
“Apalagi yang dilakukan oleh Miranda kali ini?” Adrian bertanya di dalam hati tanpa tahu harus ke mana, lorong rumah sakit sungguh membingungkan.
Artis terkenal itu terus berlari tanpa arah berusaha melepaskan diri dari wartawan, topi terlepas, dan maskernya juga Adrian lepas karena percuma dia toh sudah dikenali.
“Di mana tempat kumpulnya?” erang Adrian saat menyadari sudah terputar dan kembali ke daerah lift lagi.
Namun, tiba- tiba ada sebuah pintu yang terbuka di sebelah Adrian, tanpa pikir panjang Adrian segera masuk agar dapat menghindari kejaran wartawan.
Tanpa sengaja dia menabrak sesuatu.
Bibirnya terasa lembut, bola mata biru menatap sang artis dengan terkejut dan memekik saat menyadari tangan Adrian berada di bagian privat atas tubuhnya.
Wanita cantik itu segera melepaskan bibirnya dari ciuman Adrian dan mendorong pria itu ke samping sambil menjerit menutupi bagian dadanya.
Dengan panik, Adrian langsung menutup mulutnya. Jangan sampai para wartawan menemukan dia berduaan dengan wanita berjas putih ini.
Ryan sedang duduk dan makan chips di meja dokter saat Jessica datang. Pria itu tersenyum lebar melihat kedatangan Jessica. Sejak kejadian waktu itu, Jessica dan Louise tidak pernah meremehkan Ryan lagi. Bahkan sekarang pria itu seakan ketua dari mereka dibandingkan Joe.“Torakosentesis-nya Ben sudah dilakukan,” ucapnya seakan laporan. Ben memiliki riwayat yang sama seperti Nico pasien Jessica, sehingga Jessica menjadi lebih nyaman mengawasinya.“Oh, baguslah,” jawab Jessica sambil menaruh tasnya.“Dapat 20ml doang tapi,” ucap Ryan sambil kembali mengambil chips dan memasukkannya ke dalam mulut.“Yah dia baru 3 tahun.” Jessica mengingat-ingat kasus Nico di dalam k
Jason segera mendekati Miranda. Dia sudah menemani Miranda untuk mempersiapkan syuting hari ini. Jadi dia tahu wanita itu bisa mengamuk kalau tiba- tiba syuting dibatalkan. Miranda juga sudah sengaja memundurkan jadwal syuting iklannya, agar hari ini bisa syuting film.“Ada kesalahan dalam script yang harus diperiksa, pengambilan gambar yang kemarin- kemarin juga harus di cek, untung aja Dokter Jessica di sini, mau kasih tau aku, makasi ya dok!” ucap Bob sambil menepuk pundak Jessica dengan hangat.Miranda menatap Jessica dengan tatapan jijik. “Wanita ini lagi, kenapa sih semua cowok tergila-gila sama dia!” pikir Miranda dengan kesal. Dia menatap Jason dengan penuh arti agar pria itu memihaknya.
Dulu, Jessica berpikir membuat film adalah seperti jalannya cerita, tapi ternyata sepotong demi sepotong sesuai dengan ketersediaan aktor dan lingkungannya. Jadi walau mengawasi film, Jessica tidak bisa mendapati kisah utuh dari film tersebut. Jadi seperti syuting hari ini, tiba- tiba saja Adrian menangisi salah satu aktor muda, sepertinya sih anak muda itu ternyata sakit parah, dan Adrian gagal menyembuhkannya, Jessica tidak tahu pasti karena dia enggan bertanya. Cuma ada yang aneh, kalau sudah meninggal tak akan bisa lagi pakai alat kejut, Jessica mengerutkan keningnya karena merasa kewajibannya untuk memberitahu. “Maaf, menggunakan alat pacu kejut saat monitor jantung menunjukkan garis datar (asistol). Padahal kejut listrik hanya untuk irama jantung tertentu seperti ventrikel fibrilasi,” ucap Jessica sambil mendekati sutradara yang sedang mengawasi Adrian.“Eh…” Pria itu menoleh dan memperhatikan Jessica dengan tatapan tengganggu. “Siapa dia?” tanya Robert Vlack dengan kasar
Sesuai dengan perjanjian. Syuting dimulai pada jam 8 pagi dan berakhir di jam 6 sore, kecuali harus ada syuting waktu gelap. Hari ini semua berjalan lancar dan Jessica bisa pulang saat syuting selesai. Rasanya aneh karena langit masih cerah saat Jessica masuk ke dalam komplek apartemen.Jessica menatap apartemen yang sudah diisi ulang oleh Adrian kembali. Semuanya baru dan hangat bercirikan Adrian, tapi terasa kosong karena memang Adriannya yang membuat suasana hangat.Jessica mendesah pelan sambil mengusap sofa putih barunya. Karena Jessica tak menuntut kepolisian tak banyak bertanya, apalagi karena Jessica yang mengatakan kalau semua itu kelalaiannya.Jessica malah mendapatkan bukti pembayaran denda karena pemadam otomatis yang menghancurkan properti apartemen.
Jessica mau tak mau ikut duduk karena sungguh aneh kalau dia berdiri sendirian.“Ke-kenal, dulu pernah bertemu,” jawab Adrian sambil terbatuk kecil dan mengalihkan perhatiannya dari Jessica ke piringnya. Miranda mengangkat bahunya lalu menatap Jessica dengan tatapan merendahkan.“Kami sedang survey lokasi, dan Miranda merasa lapar, dan jadi…” Adrian tak menyelesaikan ucapannya dan menyendok saladnya.“Iya dong, sebagai aktris yang sibuk, sarapan adalah salah satu nutrisi terpenting dalam satu hari, aku tadi nggak sempat sarapan soalnya ada syuting iklan pagi,” ucap Miranda menyombong. Dia adalah wanita pintar yang bisa memanfaatkan situasi canggung ini untuk promosi. Dia menggenggam botol sisipan iklan dengan senang.
Jessica melirik ke arah sahabatnya.“Ugh… itu,-” Tenggorokan Louise tercekat lalu wanita itu menunduk kalah.“Maaf, itu memang salah saya,” erangnya dengan penuh penyesalan.“Tapi mereka salah juga Dok, saya kan memang ditunjuk dari pusat. Saya difitnah, jadi Louise hanya mengatakan kenyataannya.” Jessica segera membela sahabatnya.“Saya cuma tanya, bukan menuduh atau mau membela, saya mau kejadiannya gimana?” tanya Dokter Poppy sambil menatap mereka berdua. Louise mendesah pelan.“Dari awalnya Dokter Rita dan Dokter Cassey saling bergosip, mereka mengatakan kalau Jessica menggunakan koneksi untuk
Jessica mengikat rambut panjangnya menjadi satu lalu berlari keluar dari lobi apartemen. Sudah menjadi jadwalnya tiap pagi untuk berlari sekeliling halaman apartemen, namun baru pintu apartemen terbuka, rombongan wartawan langsung mengelilinginya. "Bagaimana tanggapan anda terhadap tuduhan Miranda
"Mobilmu yang mana?" tanya Adrian sambil memakai ulang kaca mata hitam, masker dan topi. Karena memang dia sangat tampan dan tinggi, Jessica sempat terdiam terpesona."Itu!" jawab Jessica setelah menggigit bibirnya agar dia sadar diri lalu membuka kunci pintu mobil, namun terkejut saat Adrian menuj
"HAH! Kamu mau cerita apa?" tanya Jessica dengan tatapan tidak rela acaranya akan Adrian rusak. Pria itu memandang dokter mungil di hadapannya. Sebenarnya wanita itu cukup cantik, matanya besar bewarna biru laut dengan bulu mata lentik. Hidungnya tinggi tapi mungil sama seperti bibirnya. Sayang,
Wanita berjas putih segera menuju ruang buku, Dr. Jessica mengambil beberapa buku yang semalam sudah dia siapkan lalu berjalan ke arah pintu. Namun tiba- tiba pintu itu terbuka, dan pria besar itu menabrak lalu membuatnya terjatuh terlentang di lantai.Bukan hanya itu... Bibirnya... Bibirnya entah







