Beranda / Urban / Pacarku, Artis / Ch. 1 Melarikan Diri

Share

Pacarku, Artis
Pacarku, Artis
Penulis: Pinnacullata

Ch. 1 Melarikan Diri

Penulis: Pinnacullata
last update Tanggal publikasi: 2025-10-30 10:27:26

"Adrian, coba liat sini!" Satu fotografer berteriak padahal Adrian di sampingnya persis. 

Kilatan cahaya membutakan mata Adrian walau dia sudah mengangkat tangan agar cahaya itu tidak langsung mengenai mata.

"Adrian, senyumnya mana?" bujuk fotografer yang lain. Suara kamera mengambil foto membuat Adrian semakin muak.

"Adrian … mana Miranda, katanya semalem bobo-boboan berdua?" tanya seorang fotografer yang langsung disambut tawa oleh semua fotografer lain.

Pertanyaan yang tidak sopan itu membuat emosi Adrian naik tapi, dia tak boleh melakukan apa-apa, kalau tidak, entah apa berita yang akan muncul di tabloid besok pagi.

Walau berusaha untuk melepaskan diri, Adrian akhirnya terperangkap di sudut jalan. Dia hanya ingin membeli rokok di minimarket. Sesuatu yang jadi kebiasaan karena kontrak iklan, sebenarnya tak perlu, tapi bosan melanda, dia harus keluar dan menghirup udara segar!

Adrian memandang handphone-nya dengan putus asa. Di mana Edo? Dia sudah menghubungi asistennya dari setengah jam yang lalu, sekarang dia terperangkap dengan wartawan yang makin banyak.

"Bang Adrian, gimana kabar Miranda? Kabarnya calon mertua marah tuh?" tanya wartawan yang lain. 

“Jangan menjawab,” ucap pria berbola mata coklat itu dalam hati sambil mencoba menenangkan diri. Jika ada situasi seperti ini, dia harus sabar, tak boleh terpancing. Dia hanya cukup diam saja. 

“Rokokku aman,” desahnya dalam hati sambil menepuk- nepuk kantong celananya. Yang penting para wartawan ini tidak boleh tahu mengetahui perihal rokok ini.

"Adrian sombong ih!" seru seorang dari wartawan itu menggoda. Adrian sengaja tertawa kecil atas ucapan itu. “Perlihatkan gigimu yang rapi Adrian, setidaknya besok saat muncul di tabloid fotomu tampak bagus!” suara Edo asistennya terngiang di benaknya.

Decit suara ban tiba-tiba terdengar dan tak lama datanglah mobil van hitam, akhirnya Edo muncul menyeruak gerombolan wartawan, membelah mereka menjadi dua bagian, beberapa dari mereka marah-marah sambil memukul van. 

"Adrian, tunggu dulu, senyum dulu," panggil wartawan sambil mendorong mendekat sambil mengambil foto terlalu dekat sehingga cahaya blitz benar- benar membutakan mata Adrian. 

Andrian membanting bokongnya dengan kesal dengan hembusan napas kasar.

"Kapok?" tegur Edo dengan dingin. 

Adrian melirik matanya yang menatap lurus ke jalanan, melalui kaca spion dan memilih untuk diam. 

"Coba sekali dalam hidup lo, klo mau ngapain, dipake otaknya! Adrian tertangkap pulang dari apartemen Miranda, coba lo pikirin deh!" dengus Edo, ketus. 

Adrian sangat mengerti kalau dia telah membuat masalah baru lagi. Tapi seperti biasa agensinya pasti bisa menghilangkan berita apapun. 

“Buat apa panik,” pikir Adrian sambil mencoba meraih kotak rokok di kantong celananya dan mulai menatap pemandangan di luar. 

Namun seketika Adrian tak bisa bernapas. Hilang, sebungkus rokok itu hilang! 

...

"Adrian tertangkap basah membeli rokok di minimarket setelah semalaman di apartemen Miranda," baca Lionel dengan geram. Pria itu lalu memandang Adrian dengan tajam.

"Adrian terlihat di minimarket membeli rokok setelah asyik berkencan dengan Miranda?" Dia mulai membaca artikel yang lain.

"Duta anti rokok tertangkap membeli rokok di minimarket, calon mertua Adrian mengeluh, takut Adrian memberikan contoh yang buruk bagi Miranda?" bacanya lagi dengan jijik. 

Kepercayaan diri Adrian menguap, kini dia menunduk memandangi ujung sepatu. Lionel membanting tabloid terakhir ke mejanya dengan kasar, mengagetkan Adrian dan Edo. Hidung bos mereka kembang kempis seperti biasa jika emosinya meledak. 

Tiba-tiba teleponnya berbunyi, Lionel mengangkat telepon di mejanya, suaranya berubah menjadi lembut, lirih seperti kehilangan wibawanya. Matanya menusuk Adrian saat akhirnya pria tua itu meminta maaf sambil menutup telepon. 

"Kamu kehilangan status duta anti rokokmu, mereka akan memakai Mario, akan ada penalti!" Lionel mengepalkan tangannya. 

Mario adalah saingan Adrian dari agensi lain, sejak berapa lama mereka selalu bersaing merebutkan peran di drama atau iklan, dan sialnya karena skandal ini Adrian yang kalah. 

Telepon kembali berbunyi, Pak Lionel mengangkat teleponnya lagi sambil memandang Adrian dengan memicingkan matanya.

"Kamu kehilangan iklan permen karetmu." Suaranya yang dingin bisa membuat air membeku. 

Adrian mendesah saat teringat dengan iklan permen karet itu. Dengan susah payah dia rebut dari Mario. Hampir seminggu penuh, dia berjalan keliling kota guna memperlihatkan kalau dia makan permen karet nggak enak itu, dan sekarang semua sia-sia.

"Adrian, sampai kapan kamu terus membuat skandal baru, kamu merokok aja aslinya nggak?" 

Pertanyaan retoris, tak perlu dijawab.

"Jadwal dia hari ini apa Do?" Lionel bertanya tiba-tiba. 

Edo langsung sigap membuka jadwal Adrian. 

"Baca cerita di bangsal anak- anak di Harapan Kami, sekalian promo untuk syuting drama Dr. Ken" jawabnya dengan suara gugup. Edo mengambil sapu tangan untuk mengeringkan keringat.

"Setelah itu?" tanya Pak Lionel ketus seakan-akan Adrian tak berada di situ.

"Seharusnya dia pemotretan iklan permen karet, tapi kalau sudah dicopot,-" Edo menunduk kembali. Hati Adrian merosot ke dasar perut, sepertinya kali ini dia membuat masalah besar.

"Ya sudah kalau sudah selesai langsung bawa pulang dia ke kondo. Ikat di kasur kalau perlu!" kata Lionel dengan geram sambil mengambil koran tadi dari meja lalu menggulungnya.

"Aku benar- benar nggak ada hubungan dengan Miranda. Aku hanya bertemu karena iklan shampo waktu itu," dengus Adrian membela diri dengan kesal karena gara-gara wanita jelek itu, dia jadi tidak bisa pergi ke mana-mana. 

Pak Lionel menyipitkan mata dan memandang dengan sinis.

"Itu benar Pak Lionel, Adrian tidak ada hubungan apa-apa dengan Miranda.” Edo memberanikan diri untuk membela dengan terbata-bata. Adrian memandangnya dengan rasa penuh terima kasih.

"Aku tahu, dia hanya mau dompleng ketenaran Adrian, tapi, seharusnya kamu sudah tau itu, Adrian!" Pak Lionel menghela napas panjang, kembali duduk di meja kerjanya. 

Kerutan di dahinya muncul kembali ketika dia membuka laptop. Adrian tahu dia pasti sedang membaca halaman gosip di internet, pasti ada nama Adrian lagi di sana.

"Dah sana kerja, aku nggak mau lihat mukamu dulu!" Pak Lionel mengusir Adrian dan Edo dengan tangannya seakan- akan mereka lalat. 

Adrian mengenakan kacamata hitam, masker dan topi dengan harapan tidak dikenali ketika di Harapan Kami. Namun begitu pintu terbuka otomatis, langsung terdengar suara yang Adrian sudah hapal. 

"Itu dia, Adrian! Adrian!" 

Lorong RS seketika sudah dipenuhi dengan wartawan dan fotografer.

"Bagaimana menurutmu lamaran Miranda barusan?" teriak salah satu wartawan. 

Adrian terdesak dengan kamera dan kilatan blitz lagi. Pria itu mencoba mencari jalan keluar dari desakan wartawan dan berlari di lorong rumah sakit, diikuti oleh serbuan wartawan di belakang.

“Apalagi yang dilakukan oleh Miranda kali ini?” Adrian bertanya di dalam hati tanpa tahu harus ke mana, lorong rumah sakit sungguh membingungkan. 

Artis terkenal itu terus berlari tanpa arah berusaha melepaskan diri dari wartawan, topi terlepas, dan maskernya juga Adrian lepas karena percuma dia toh sudah dikenali.

“Di mana tempat kumpulnya?” erang Adrian saat menyadari sudah terputar dan kembali ke daerah lift lagi.

Namun, tiba- tiba ada sebuah pintu yang terbuka di sebelah Adrian, tanpa pikir panjang Adrian segera masuk agar dapat menghindari kejaran wartawan. 

Tanpa sengaja dia menabrak sesuatu.

Bibirnya terasa lembut, bola mata biru menatap sang artis dengan terkejut dan memekik saat menyadari tangan Adrian berada di bagian privat atas tubuhnya.

Wanita cantik itu segera melepaskan bibirnya dari ciuman Adrian dan mendorong pria itu ke samping sambil menjerit menutupi bagian dadanya. 

Dengan panik, Adrian langsung menutup mulutnya. Jangan sampai para wartawan menemukan dia  berduaan dengan wanita berjas putih ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Lyla Iswara
seru. tapi, setelah menyelesaikan bab ini, akutu mikir. pantas gitu aku jadi orang biasa, kalau diatur gitu aku mau mati aja. ga sanggup. ga sanggup juga jaga image
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pacarku, Artis   Ch. 91 Merindukanmu

    Jika ada pribahasa sudah jatuh tertimpa tangga maka hal itu terjadi pada Adrian saat ini juga. Publikasinya hancur, Adrian terkenal menjadi pria mabuk- mabukan yang senang main dengan berbagai wanita sekaligus. Wajahnya yang tak sadarkan diri muncul di halaman tabloid dan menjadi bahan cemooh wartawan berhari-hari. Mereka juga mencemoh Adrian yang begitu patah hati ditinggal Jessica. Tapi semua itu tidak Adrian pedulikan. Dunianya seakan tak diberi waktu untuk berpikir. Memang dunia entertainment sungguh aneh, setelah kasus mabuk itu, Adrian kena marah besar oleh Lionel dan pria itu yakin kalau dia akan diputus kontrak. Tapi nyatanya, Adrian naik menjadi orang yang paling dicari dalam satu negara, dan malah menjadi no 3 yang dicari dari seluruh dunia. Publikasi buruk malah menaikkan peringkat Adrian, dan banyak sponsor iklan yang mau memakai Adrian sebagai modelnya. Lionel pun juga bingung, jadwal Adrian penuh untuk iklan dan bintang tamu dalam acara TV. Sedangkan pendapat net

  • Pacarku, Artis   Ch. 90 Ramai Namun Sendiri

    Adrian dengan susah payah melepaskan diri dari rombongan stylish dan tentunya Edo. Tapi pria bertubuh gempal itu sangat senang karena hasil konferensi pers sehingga terus berbicara dengan wartawan yang menempel padanya dari awal acara. Adrian sangat senang saat Edo masuk ke van tanpa menyadari Adrian belum masuk. Pria itu dengan cepat menyelinap ke ruang makeup wanita tapi sudah kosong. Napasnya beruap karena udara dingin, Adrian mengigil karena tak mengenakan mantel. “Dimana dia,” desahnya sambil mengatupkan kedua tangannya untuk menghangatkan tubuh dan melihat ke sekelilingnya.Pria itu lalu menyadari kalau Jessica tadi dijemput, berarti dia akan pulang naik bus atau taxi. Dengan secepat kaki panjangnya bisa berlari, Adrian segera ke depan gedung untuk mencari Jessica. Napasnya beruap terengah-engah saat dia berlari ke depan dan tersenyum senang saat melihat Jessica masih berdiri di depan. Rambut keemasannya berkilau di bawah lampu jalan. Adrian baru mau berteriak saat melihat

  • Pacarku, Artis   Ch. 89 Selamat Tinggal Jessica

    Jantung Jessica berdebar sangat kencang karena melihat fotonya di layar. Ada foto saat makan bersama Joe, saat Joe mengantar pulang, dan yang paling mengerikan adalah foto tadi pagi, saat Joe menanyakan keadaannya. Dari foto- foto itu, memang terlihat dia dan Joe memang pacaran. Tapi nyatanya tidak, bagaimana bisa cara mengambil foto itu seakan memang Jessica sedang berselingkuh? Bagaimana Jessica tak sadar kalau selama ini dia diikuti? Blitz membutakan matanya, jemari para wartawan bekerja dengan cepat, seakan sedang melaporkan keadaan ini ke seluruh dunia. Namun, tiba- tiba pria di sebelahnya menggenggam tangannya. Jessica seakan baru teringat kalau Adrian ada di sampingnya. Pria itu tersenyum dan hati Jessica seketika terasa takut kehilangan pria itu. “Aku nggak…” bisiknya sambil menatap Adrian. “Aku tau.” Pria itu tersenyum lalu berbicara lantang membela Jessica. Begitu saja. Dia sangat tampan dengan kemeja dan celana bahan yang senada dengan yang Jessica kenakan juga. L

  • Pacarku, Artis   Ch. 88 Wanita Yang Berselingkuh

    Ruangan konferensi pers kali ini lebih mewah dari sebelumnya, dan juga wartawan yang ikut lebih banyak dari yang kemarin karena gosip yang baru muncul. Pangeran kesayangan negeri diselingkuhi, sang dokter beralih hati. Adrian menatap kecut berita di layar tab-nya. Pantas semua bersikeras untuk melakukan konferensi pers. Ternyata beritanya semakin tak terkendali. Namun, yang membuat perut Adrian semakin melilit adalah karena ada foto Jessica yang jelas bersama pria itu. Dari awal Adrian tahu kalau hubungan Jessica dan Joe bukan hubungan sembarangan. Mereka sahabat lama, sehingga pria itu pasti memiliki satu bagian di hati Jessica. Walau wanita itu mengatakan kalau mereka hanya sahabat, tapi foto yang ada menyatakan lain. Walaupun sudah menghabiskan bersama dengan Adrian, Joe jelas tetap ada bersama dengan Jessica. Selalu ada, sedangkan Adrian malah menghilang. Walau sebenarnya Adrian lebih tepat dikatakan didorong agar menjauh, tapi ya, Adrian jelas tak ada di sisi Jessica sekar

  • Pacarku, Artis   Ch. 87 Malam Ini Semua Selesai

    Dengan gusar Adrian segera mematikan telepon. Walaupun yang diberitahukan Edo bukan informasi yang baru lagi, tetapi tetap saja hati Adrian tidak siap untuk mendengarnya. Pria itu tahu jika tanpa ada kontrak itu, kemungkinan untuk dia bisa bertemu dengan Jessica lebih sulit. Karena itu, dia harus menemukannya benda kecil itu. Seharusnya Jessica akan simpan itu di sini kalau memang dia tidak mau berhubungan lagi dengannya Adrian. Walau Sebenarnya dia mencari tapi sebenarnya ada yang tidak mau menemukan benda kecil itu. Hatinya lega ketika tak menemukan cincin yang dia berikan. Jika Jessica tidak ada di rumahnya, berarti wanita itu pasti di rumah sakit dan masih mengenakan cincin itu. Yah walaupun itu hanyalah hipotesa dari Adrian tapi berbekal dengan itu Adrian dengan gembira keluar dari apartemen Jessica. Sekarang ya sudah pasti ke rumah sakit dan harus berbicara dengan Jessica. Tapi sayangnya, begitu dia turun dari lobi, Adrian segera tertangkap tangan oleh Edo dan diseret pu

  • Pacarku, Artis   Ch. 86 Konferensi Pers

    Seakan masalahnya belum cukup, Jessica kini malah terperangkap di antara dua pria yang tidak tahu diri. “Nggak tau… dan nggak ikutan!” jawab Jessica sambil berdiri. Wanita itu berdiri lalu segera meninggalkan kantin dengan kesal. Jessica baru saja mau menekan lift, tapi handphonenya berbunyi. “Kamu akan ikut dalam operasi Dokter Mosley,” baca Jessica dalam hati dan wanita itu mendengus. Seharusnya tak boleh begini, tapi biasanya kalau Jessica sudah mendapatkan pesan seperti ini, maka sudah pasti akan terjadi walau Jessica mencoba mengelak. Tanpa sadar jarinya menyentuh cincin bermata biru di jari manisnya. ... Pria itu menutup wajahnya dengan selimut dan berusaha untuk tetap tidur walau Edo sudah membuka jendelanya besar-besar. “Gue heran ma lo Adrian, umur dah pala 3 loh, tapi kelakuannya kayak bocah!” omek Edo dengan kesal. “Semalam nggak bisa tidur, seka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status