Share

Bab 5~Menerima atau Menolak~

Penulis: Giana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-31 17:24:41

Angga menatapnya dengan senyum misterius. “Bisa dibilang, aku menawarkan pekerjaan tambahan padamu. Secara pribadi.”

Ziandra menelan ludah dengan susah payah, merasa ada yang tidak beres dari kalimat itu. “Memangnya pekerjaan apa yang Anda maksudkan?”

“Jadilah kekasih sewaanku selama 3 bulan. Sebagai gantinya, aku akan memberikan berapa pun yang kau butuhkan,” ungkap Angga seraya menyodorkan cek kosong ke tangan Ziandra.

Ziandra menatap Angga dengan campuran rasa takut dan bingung. Cek kosong yang sudah berpindah ke tangannya terasa berat seperti batu.

“Kutunggu jawabanmu besok,” kata Angga sebelum berbalik pergi, meninggalkan Ziandra yang terpaku di tempat.

Saat langkah Angga menjauh, Ziandra segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Tubuhnya langsung merosot di lantai. Ia menatap cek kosong di tangannya dengan napas yang terasa sesak.

Namun, pikirannya segera teralihkan saat ponselnya yang ada di saku celana berbunyi. Pesan dari sepupunya di desa masuk.

[Kondisi nenek semakin lemah. Dokter bilang harus segera operasi. Kami nggak tahu harus gimana lagi kalau nggak ada uangnya.]

Ziandra menggigit bibirnya, air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tentu tak bisa biarkan nyawa nenek tercintanya terancam hanya karena uang. Sambil menatap lekat cek kosong di tangannya, ia mencoba meyakinkan bahwa ini keputusan yang tepat.

“Tiga bulan saja. Tidak apa-apa. Aku hanya harus bertahan tiga bulan,” gumamnya pelan dengan napas berat.

Ziandra mengangguk yakin. Lalu dia berusaha untuk tidur malam ini, meskipun itu sangat sulit.

*****

Keesokan harinya, Ziandra berangkat ke kantor dengan berat hati. Ia berusaha menenangkan diri, tetapi bayangan pertemuannya dengan Angga membuat perutnya terasa mual. Saat tiba di mejanya, ia langsung menunduk dan sibuk dengan pekerjaannya.

Saat istirahat makan siang, Ziandra tak berniat untuk pergi ke kantin. Rasa malas menjadi bahan gunjingan para rekan kerja soal hubungan dengan Elden masih berembus begitu panas membuatnya enggan menambah masalah.

“Zia, Pak Angga minta kau ke ruangannya sekarang!” ujar salah satu karyawan yang beda divisi dengannya.

Karena rumor buruk itu, semua karyawan jadi mengenali dirinya sebagai wanita matre yang memanfaatkan Elden. Itu membuatnya kesal minta ampun.

“Untuk apa?” tanya Ziandra sambil berdiri untuk membereskan mejanya dari tumpukan berkas yang berserakan.

“Mana kutahu, tanyakan langsung saja pada Pak Angga!” ketusnya membuat Ziandra sedikit terhenyak.

Ziandra diam saja ketika karyawan itu buru-buru pergi menghindarinya. Ia terlihat kesal dan marah karena harus bicara dengan Ziandra, padahal hanya diminta untuk memanggilnya ke ruangan si bos.

Ziandra mengabaikan sikap tak mengenakkan karyawan itu dan memilih menetralkan jantungnya yang berdegup kencang karena harus menghadap Angga sekarang juga. Ia takut untuk mengiyakan tawarannya, bisa saja ini akan jadi masalah lebih besar ke depannya karena berhubungan dengan atasannya.

Saat tiba di depan pintu, ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk.

“Masuk,” suara Angga terdengar tegas dari dalam.

Ziandra membuka pintu dan melangkah masuk. Angga berdiri di dekat jendela, memandangi kota yang sibuk di bawah sana. Ia berbalik, menatap Ziandra dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Sudah memutuskan?” tanyanya tanpa basa-basi.

Ziandra menggenggam erat tangannya, mencoba mencari keberanian dari dalam dirinya. Dengan napas panjang, ia akhirnya berkata. “Saya terima tawaran Anda. Tapi, saya punya satu syarat.”

Angga mengangkat alis, terlihat tertarik. “Syarat apa?”

“Hubungan sandiwara ini jangan sampai diketahui karyawan kantor!” terang Ziandra sambil menunduk tak berani menatap mata atasannya.

Ziandra tidak mau beredar rumor buruk soal dirinya, seperti sengaja menggoda Angga untuk menguras hartanya. Ia akui memang sedang memanfaatkan Angga untuk kepentingan pribadinya, yaitu untuk mendapatkan uangnya. Tapi, ini hanyalah pekerjaan di mana dia akan digaji karena bekerja secara pribadi pada Angga ... tidak lebih. Dan sandiwara ini akan berakhir di bulan ketiga setelah keduanya memutuskan berpisah. Ziandra pikir tak perlu para rekan kerjanya mengetahui hal ini.

Angga menyunggingkan senyum tipis. Dengan santai ia berjalan menuju kursi kerjanya dan duduk sambil menyandarkan punggung. Tatapannya tertuju lurus ke arah Ziandra yang masih tidak berani membalas menatapnya.

“Permintaanmu menarik. Tapi, bukankah gunanya menjadi kekasih sandiwara adalah menunjukkan bahwa aku sudah ada ‘pemiliknya’? Kalau tidak ada yang tahu, apa gunanya?” kecamnya membuat Ziandra menghembuskan napas berat.

“Saya muak jadi bahan gunjingan orang-orang di kantor.”

Kali ini Ziandra berani menatap balik ke arah Angga, mencoba menekan rasa gugupnya. “Saya hanya ingin menghindari gunjingan buruk tentangku. Kalau Anda keberatan, lebih baik saya mundur sekarang.”

Ziandra meletakkan cek kosong itu ke meja Angga. Sambil membungkuk hormat, ia berniat pamit untuk kembali bekerja.

“Baiklah, aku setuju dengan syaratmu. Tapi, kamu tidak bisa mengelak untuk berkenalan dengan keluargaku. Aku juga tak bisa jamin 100% bahwa karyawan di kantor akan selamanya buta untuk menyadari hubungan kita. Aku takkan mengatakan apapun soal hubungan ini pada mereka dan berusaha bertindak wajar seolah kita hanya karyawan dan atasan pada umumnya sehingga takkan ada yang curiga. Apa ini cukup untuk membuatmu tenang dan mau menerima tawaranku, hem?”

Suara bariton Angga yang menghentikan pergerakan langkah Ziandra menuju pintu membuat ruangan yang hanya diisi dua orang itu menjadi hening. Beberapa saat terasa sangat lama bagi Angga untuk menunggu respons Ziandra yang belum juga berbalik badan menghadapnya.

Angga mulai cemas dengan keterdiaman Ziandra yang tak segera menyahutinya. Dirinya yang sudah bangkit dari kursi mengetukkan jari telunjuknya ke meja berulang kali hingga menimbulkan suara irama.

“Apa yang membuatmu masih ragu? Aku hanya meminta tiga bulan waktumu. Dan sebagai gantinya, kau akan mendapatkan berapapun uang yang kau butuhkan.”

Ziandra hanya sedikit menolehkannya kepalanya lalu berujar lirih tapi masih bisa didengar oleh Angga yang menatapnya lamat-lamat. “Apa setelah tiga bulan selesai, Anda tidak akan lagi mengganggu hidupku?”

Angga menyunggingkan seringai tipisnya yang tak disadari oleh Ziandra. “Setelah tiga bulan selesai, kita akan kembali ke kehidupan masing-masing. Tidak ada kontrak tambahan, tidak ada hubungan apapun seolah kita tak pernah kenal. Bagaimana?”

Barulah setelah itu Ziandra mau berbalik badan untuk menghadap Angga yang sudah kembali duduk di kursinya. Dengan isyarat matanya, Angga menyuruh Ziandra mengambil kembali cek itu dari atas mejanya.

“Tulis nominal yang kau butuhkan!”

Ziandra perlahan mengambil cek itu, lalu menuliskan nominal uang yang dibutuhkannya. Ia menatap angka itu dengan ragu. Apa nominal segini tidak terlalu besar untuknya? Apa dia tidak terlihat tamak dengan kesempatan ini? Rasanya pikirannya berkecambuk.

Ziandra bermaksud merubah nominal yang sudah terlanjur ditulisnya di cek, namun kalah cepat dengan tangan Angga yang mengambil cek itu tanpa bicara. Matanya melirik angka yang tertulis di sana.

“Tiga puluh juta?” Angga tersenyum sinis.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 124~Gonna Be Happy~

    Satu tahun kemudian ....Matahari menyorot lembut melalui jendela besar kamar bayi, menyinari kulit mungil Ravindra Danadyaksa yang tengah terlelap dalam gendongan sang ibu. Ziandra mengayun perlahan kursi goyang sambil bersenandung pelan. Di sisi lain ruangan, Angga tengah merapikan popok bersih dan botol susu yang sudah disterilkan dengan rapi.“Dia sudah kenyang dan tidur lagi?” tanya Angga dengan senyum lelah tapi bahagia.Ziandra mengangguk, menyandarkan punggungnya. “Dia pasti lelah. Seharian ini ia aktif belajar tengkurap.”Angga mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang bayi. Ia mengusap pelan rambut halus sang anak yang kini sudah berusia lima bulan. “Ravi adalah hadiah paling besar dalam hidup kita.”Ziandra tersenyum. “Setelah tahun-tahun kemarin yang melelahkan, akhirnya kita punya bayi mungil ini.”Mereka bertukar tatap, lalu saling menggenggam tangan. Dunia terasa tenang. Rumah besar milik Pak Yuda kini benar-benar menjadi rumah yang dipenuhi canda tawa dan tangis bayi yan

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 123~Tanpa Ikatan~

    Ziandra duduk sambil menyandarkan tubuhnya di kursi, satu tangan mengusap perutnya yang masih rata, namun sudah menyimpan keajaiban kecil di dalamnya. Di depannya, Angga memandangi sang istri tanpa berkedip. Wajahnya sulit menyembunyikan rasa bahagia dan tak percaya yang masih mengendap sejak semalam.“Benar?” tanyanya lagi, meski ia tahu jawabannya tidak akan berubah.Ziandra tersenyum lembut, lalu mengangguk. “Iya, aku sudah periksa. Hasil tesnya positif. Kita akan jadi orangtua, Angga.”Angga tertawa kecil, lalu segera bangkit dari kursinya, menghampiri dan berlutut di depan Ziandra. Ia menggenggam tangan istrinya erat, lalu menatap mata perempuan itu penuh haru. “Terima kasih untuk segalanya. Untuk bertahan sejauh ini membersamaiku, dan juga memberikanku kebahagian sebesar ini sekarang.”Ziandra membelai rambut suaminya. “Ini hadiah untuk kita berdua. Karena kita tetap bersabar dengan semua ujian yang selama ini melingkupi keluarga kecil kita, Angga.”Angga mencium punggung tangan

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 122~Keegoisan yang Berakhir~

    Lembaga pemasyarakatan wanita itu berdiri megah namun suram, dibalut pagar tinggi dan bangunan beton yang keras. Saat mereka memasuki ruang kunjungan, udara dingin menyambut, seolah ikut menciptakan jarak antara masa lalu dan masa kini.Pak Yuda duduk di kursi bersekat kaca bening, dengan telepon kecil di sisi kanan untuk berkomunikasi. Tangannya sedikit gemetar, namun wajahnya tetap tenang.Beberapa menit kemudian, Vidia masuk. Wajahnya jauh lebih tirus, matanya sembab, namun ia masih mencoba berdiri tegak di hadapan suaminya. Begitu melihat Pak Yuda, mata Vidia langsung berkaca-kaca. Ia duduk pelan, lalu meraih telepon dinding, menempelkannya ke telinga. Suaminya juga melakukan hal yang sama.“Mas, terima kasih sudah datang.” Suara Vidia bergetar.Pak Yuda tidak langsung menjawab. Ia menatap wanita yang pernah begitu dicintainya itu dalam diam, menelusuri jejak luka dan kekecewaan yang tertinggal.“Aku minta maaf atas semuanya. Aku bersalah atas semua itu, baik kecelakaan yang menim

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 121~Keputusan Terberat~

    Udara pagi mengendap tenang di halaman belakang, membawa aroma rumput basah dan teh jahe hangat yang mengepul dari cangkir. Ziandra duduk berdampingan dengan Pak Yuda, menyaksikan burung-burung kecil bertengger di dahan pohon mangga. Sesekali, suara cicit mereka memecah sunyi dengan irama yang menenangkan.Hari-hari seperti ini menjadi rutinitas baru bagi Ziandra. Sejak memutuskan berhenti dari kantor, ia memilih mendampingi mertuanya di rumah. Angga sudah menyetujui itu sejak awal, bahkan bersyukur istrinya begitu tulus menjaga ayahnya. Sejak hubungan mereka membaik, rumah terasa lebih damai, jauh dari luka yang dulu menganga.Ziandra mengisi cangkir Pak Yuda dengan teh hangat, lalu duduk kembali.“Terima kasih, Nak,” ucap Pak Yuda lirih. Ia menyeruput pelan, kemudian menyandarkan punggung. Pandangannya jauh ke arah pepohonan.Ziandra mengangguk kecil. “Sama-sama, Ayah.”Beberapa saat mereka hanya diam. Tak canggung, hanya

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 120~Persahabatan yang Tak Berubah~

    Hari-hari berlalu seperti angin musim semi yang tak lagi menyimpan dingin. Tak ada lagi perdebatan yang menggantung di antara waktu, tak ada lagi luka yang membuat hati enggan pulang. Segalanya terasa lebih tenang, lebih ringan. Termasuk bagi Ziandra.Sejak hubungan antara dirinya, Angga, dan Pak Yuda membaik, tak ada lagi beban yang perlu disembunyikan di balik senyum palsu. Rumah yang tadinya terasa seperti medan perang kini menjadi tempat yang damai, bahkan penuh tawa ringan saat sarapan pagi atau menjelang tidur.Ziandra tak lagi datang ke kantor setiap hari, namun sesekali ia berkunjung sekadar menyapa sahabat dekatnya, Jenna. Ia tahu dirinya butuh waktu untuk beristirahat, tapi juga tak ingin benar-benar lepas dari dunia kerja yang pernah membuatnya tumbuh.Hari itu, langit tampak cerah meski sinar matahari tertutup awan tipis. Ziandra membawa kotak makan berisi nasi salmon panggang, salah satu menu kesukaan Angga. Pagi tadi suaminya itu terburu-buru dan m

  • Pacarku Selingkuh, Kubalas Menikahi Bosku   Bab 119~Luka yang Mulai Luruh~

    Pagi di perusahaan dimulai seperti biasa, dengan langkah-langkah cepat para karyawan, suara pintu lift yang terbuka dan tertutup, serta dering telepon yang bersahutan. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari sosok Angga pagi ini. Wajahnya tidak sekeras biasanya, tak ada sorot tajam atau aura tekanan yang kerap memancar setiap kali ia memasuki lantai kerja.Senyum tipis tampak di wajahnya, seperti ada cahaya yang meredupkan bayang-bayang lelah di bawah matanya. Ia menyapa beberapa staf yang berpapasan dengannya, bahkan sempat mengangguk sopan saat seseorang memberi salam pagi. Hal-hal kecil yang selama ini jarang ia lakukan.Begitu sampai di ruangannya, Angga membuka jas, menggantungnya di balik pintu, lalu duduk di kursi kerja dengan gerakan santai. Jemarinya membuka layar ponsel yang dari tadi menggetar pelan.[Kira-kira foto ini cocok diberi caption apa? Bagaimana kalau ‘Menantu dan Mertua yang Sedang Berdamai bersama dengan pagi’ menurutmu bagus,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status