MasukAku berkata terbata-bata, "Tunggu aku ... tunggu sampai urusanku di sana selesai, baru kita bicarain lagi."Mata Harvey langsung berbinar. Seperti anak muda yang sedang dimabuk cinta, dia memelukku lalu mengangkat tubuhku ke udara.Aku senang sekaligus ketakutan. Di tengah malam yang sunyi, teriakanku terus terdengar tanpa henti.Sampai sebuah bentakan tiba-tiba terdengar dari bawah lampu jalan, barulah aku tersadar dan menoleh.Ternyata itu Dion.Wajahnya tampak suram dan menyeramkan, seperti seseorang yang bisa kehilangan kendali kapan saja.Aku menatapnya dengan tenang. "Sudah siap? Kapan kita mau mengurus perceraian?"Mata Dion langsung berkaca-kaca. Rahangnya mengeras saat dia memaksa mengeluarkan kata-kata dari sela giginya."Jadi kamu benar-benar nggak percaya sama aku?"Aku tertawa pelan. Semua orang di sekelilingnya selalu lebih penting daripada diriku. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin aku masih bisa percaya padanya?Tatapan Dion beralih kepada Harvey, dipenuhi per
"Memang pantas! Siapa suruh kamu bocorkan? Kamu benar-benar bikin aku muak!"Ekspresi sedih di wajah Vivian langsung membeku. Dia menatap Dion dengan tatapan tak percaya, sementara air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.Dia tidak mengerti bagaimana pria yang dulu begitu mencintainya bisa berubah sedrastis ini. Dalam benaknya, semua ini pasti karena Jessica. Padahal, menurutnya, dalam segala hal, Jessica masih kalah darinya.Semakin memikirkannya, semakin dia tidak terima. "Semua ini aku lakuin demi siapa? Bukankah karena aku peduli sama kamu? Aku tahu betapa besar keinginanmu menjadi seorang ayah, tapi kamu …."Sebelum Vivian sempat menyelesaikan ucapannya, Dion sudah memotong dengan bentakan keras, "Diam!"Dia menatap Vivian dengan dingin, lalu menggeleng pelan."Sampai sekarang kamu masih saja berbohong. Yang kamu pikirin cuma dirimu sendiri. Tiga tahun lalu begitu, tiga tahun kemudian tetap nggak berubah. Aku benar-benar nyesal pernah punya hubungan sama orang kayak kamu."Se
Wajah ibu mertua menjadi sedingin es. Dengan bentakan keras, dia menghentikan Dion dan berkata dengan penuh amarah, "Jangan salahin Vivian, aku yang ingin tahu kebenarannya!"Dia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arahku. "Besok juga ceraikan perempuan jalang ini! Dulu kamu sudah kehilangan akal sampai bersikeras nikahin dia. Lihat sekarang, dia bahkan membunuh anakmu!"Makin banyak berbicara, dia makin emosional. Ibu mertua langsung mengangkat bangku dan melemparkannya ke arahku. Dion dengan sigap segera berdiri di depanku. Dia menangkap bangku itu dan berteriak histeris, "Nggak perlu campuri urusan kami! Ayah sampai bercerai karena dipaksa sama Ibu, dan sekarang Ibu mau maksa aku juga! Berapa banyak kebahagiaan orang yang ingin Ibu hancurkan!"Suara penuh kemarahan Dion menggema seperti petir di ruang tamu yang luas. Wajah ibu mertua seketika memucat seperti kertas. Jari telunjuknya yang runcing gemetar saat menunjuk ke arahnya."Apa kamu bilang? Demi perempuan jalang itu, kamu b
Ekspresi Dion langsung membeku.Dengan nada lebih tegas, dia mengulanginya sekali lagi, "Jessica sedang menjalani operasi?"Perawat itu mengangguk, lalu menjawab dengan tidak sabar, "Benar. Beliau sedang menjalani operasi aborsi. Sebentar lagi juga keluar."Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, pintu ruang operasi perlahan terbuka.Aku yang masih tertidur didorong keluar oleh perawat.Wajah Dion seketika memucat. Dengan langkah yang terasa goyah, dia berjalan menghampiriku.Tatapannya jatuh pada perutku yang kini telah kembali rata. Dalam sekejap, hatinya seperti disayat oleh pisau.Kepalanya berdengung. Dunia di sekelilingnya seperti berputar. Seolah seluruh tubuhnya dilempar ke ruang hampa tanpa pijakan.Tiba-tiba terdengar seruan kaget dari seorang perawat. Dion ambruk dengan keras ke lantai....Tidur kali ini terasa sangat nyenyak. Namun saat terbangun, tubuhku masih terasa lemas dan berat.Aku mengulurkan tangan hendak mengambil segelas air di atas meja, tetapi Dion yang duduk
Sementara itu, setibanya di rumah Vivian, untuk pertama kalinya Dion benar-benar marah.Dia tidak percaya Vivian sampai berpura-pura bunuh diri demi menipunya.Perasaan dipermainkan itu seketika membawanya kembali ke masa lalu.Meski mereka telah berpacaran selama bertahun-tahun, Vivian terlalu mementingkan diri sendiri dan sering bertindak sesuka hatinya. Begitu menemukan seseorang yang menurutnya lebih menarik, dia akan bersikap ambigu. Bahkan saat memutuskan pergi ke luar negeri demi mengejar kariernya, dia langsung mengakhiri hubungan mereka tanpa ragu.Dulu, saat masih muda, Dion masih bisa memaklumi semua itu. Namun sekarang usianya sudah hampir tiga puluh tahun. Dia tidak punya waktu lagi untuk terus memainkan drama cinta yang melelahkan seperti ini.Melihat Dion berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Vivian tersenyum manis lalu memeluknya dari belakang."Siapa suruh kamu cuekin aku? Aku telepon berkali-kali, nggak sekali pun kamu angkat. Mataku sampai bengkak kar
"Kudengar mereka putus karena kamu, orang ketiga. Nggak tahu malu, dasar perebut suami orang!""Kamu hamil, 'kan? Cepat gugurin saja. Jangan sampai dilahirkan, nanti Vivian sedih.""Hati pria itu nggak pernah ada padamu. Seberapa keras pun kamu maksa, tetap nggak akan ada gunanya. Lepaskan saja pasangan yang saling mencintai itu."Kontroversi itu makin membesar dan terus bertahan di puncak berita selama tiga hari penuh.Tidak mungkin Dion tidak tahu apa yang sedang kuhadapi, tetapi dia sama sekali tidak melakukan apa pun.Aku tahu dia sedang menunggu aku mengalah. Dalam hubungan ini, dia memang selalu menjadi pihak yang memegang kendali.Dia mengatur cara berpakaianku, mengatur pola makanku, bahkan memantau setiap tempat yang kudatangi.Seluruh kelembutan dan toleransinya hanya diberikan pada Vivian, sementara yang tersisa untukku hanyalah ketegasan dan sikap dingin.Dia ingin membuktikan bahwa tanpa diriku, hidupnya tetap berjalan dengan baik.Sedangkan tanpa dirinya, aku bukan siapa-







