Short
Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat

Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat

Von:  WulanAbgeschlossen
Sprache: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Kapitel
3Aufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Zusammenfassung

Plot Twist

Drama

Pelakor

Pilih Kasih/Egois

Hajar Musuh

Penyesalan

Setelah sahabatku melahirkan, aku menggendong bayinya yang menggemaskan sambil bercanda. "Anak pintar, ini ibu angkat dan yang di sana itu ayah angkat." Tiba-tiba, Diego yang berdiri di sampingku menyahut. "Bukan ayah angkat, tapi Ayah." Aku mengira aku salah dengar. Akan tetapi, pria itu malah menarik sudut bibirnya dengan malas, lalu mengulangi ucapannya dengan santai. "Dia anakku." "Tepat di hari ayahmu meninggal, aku dan Shera tidur bareng semalaman. Kita bahkan menghabiskan satu kotak kondom." Tubuhku langsung membeku di tempat. Tenggorokanku terasa seperti disumbat timah, sampai tak bisa mengeluarkan suara. Butuh waktu lama sampai akhirnya aku bisa memaksakan beberapa patah kata keluar dari bibirku, "Tapi, kemarin kita baru resmi menikah." Diego tersenyum, merangkul bahuku sambil mencoba menenangkan. "Tenang aja, aku sama dia cuma sebatas teman tidur kok. Kalau memang mau nikah, dari dulu juga sudah kami lakukan." Setelah berkata begitu, dia berhenti sejenak. Lalu, dengan nada mengejek, dia menambahkan, "Shera belum cerita, ya? Kami pernah pacaran dan aku pria pertamanya."

Mehr anzeigen

Kapitel 1

Bab 1

Aku tidak ingat bagaimana caranya bisa meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah.

Saat Diego pulang, rumah sudah berantakan.

Foto pernikahan kulempar ke lantai dan pecahan kaca berserakan di mana-mana.

Semua dekorasi pernikahan di dinding aku robek, bahkan ranjang pengantin pun tak luput dari amukanku.

Diego berdiri di dekat pintu masuk, terdiam sambil menghabiskan sebatang rokok.

Lalu, berjalan mendekat untuk memeriksa tanganku. "Ada yang luka?"

Aku langsung menepis tangannya, tak bisa lagi menahan amarah di dalam dada.

Dengan mata merah, aku menuntut jawaban.

"Kenapa?"

Diego hanya mengangkat sebelah alisnya.

"Menikah denganmu?"

Pria itu tampak berpikir dengan sangat serius, lalu tiba-tiba tersenyum.

"Kamu itu teliti kalau melakukan sesuatu, sifatmu juga tenang. Demi aku, kamu bahkan rela ninggalin karier dan berhenti dari industri hiburan untuk tinggal di rumah. Cocok dijadiin istri."

"Nggak kayak Shera. Dia itu nona muda yang hidupnya seenaknya, urusan rumah tangga sama sekali nggak bisa diandalkan."

Makin dia bersikap jujur, hatiku justru terasa makin sangat sakit.

Melihat air mata di mataku, Diego melangkah maju lalu memelukku erat.

"Sudahlah, bukannya aku sudah bilang, aku sama dia nggak mungkin bersama."

"Ke depannya, hubungan kami paling cuma sebatas membesarkan anak bareng-bareng."

Aku langsung mendorongnya kasar dan berteriak.

"Kenapa kamu tega ngelakuin ini ke aku? Kenapa setelah punya anak sama dia, kamu masih menikah denganku?"

Yang satu adalah pria yang kucintai selama bertahun-tahun dan yang satu lagi adalah sahabat terbaikku.

Mereka telah membodohiku habis-habisan.

Sambil memegang dadaku, aku merasa sesak napas karena hantaman kenyataan ini.

Aku terengah-engah, dadaku sesak luar biasa.

Diego tidak menjawab. Dia hanya menatapku seolah-olah aku ini orang gila.

Setelah sekian lama, dengan nada tidak sabar dia berkata, "Udah deh, jangan mulai lagi. Shera masih nungguin aku buat masakin sup ayam."

Aku berdiri terpaku di tempat, menatap tanpa berkedip pada pria yang kini sibuk di dapur.

Melihat bagaimana lihainya dia menyalakan kompor, memotong sayuran, dan membuang buih sisa rebusan.

Tiga tahun bersama, dia tidak pernah sekali pun memasak untukku dan aku bodohnya percaya kalau dia memang tidak bisa memasak.

Ternyata, dia yang tidak pernah mau menyentuh area dapur itu, sebenarnya bisa memasak.

Tanpa sadar, aku teringat pada apa yang pernah Shera katakan dulu.

Untuk mantan pacarnya, demi menyembuhkan kebiasaan pilih-pilih makanannya.

Rela setiap hari masuk dapur mempelajari berbagai masakan, padahal dia adalah tuan muda yang bahkan tak pernah mendekati dapur.

Bahkan suatu kali, pria itu hampir meledakkan dapur rumahnya.

Aku pernah membayangkan seperti apa pemandangan itu.

Lalu, sekarang, semua yang ada di hadapanku mendadak tumpang tindih dengan setiap detail cerita yang pernah Shera ucapkan.

Banyak momen yang biasanya sengaja kuabaikan, kini mendadak bermunculan satu per satu di kepalaku.

Saat menyetir, Shera selalu selangkah lebih cepat dariku untuk menyodorkan kacamata hitam ke depan Diego.

Ketika makan bersama, Shera secara refleks berseru, "Dia nggak suka daun bawang."

Saat Shera terjatuh, reaksi Diego selalu sedetik lebih cepat daripada reaksinya ke aku.

Saat Shera sakit, Diego tega meninggalkan semua orang di ruang rapat untuk bergegas ke rumah sakit menemuinya.

...

Tanpa disadari, air mata telah mengaburkan pandanganku.

Dengan suara serak aku memanggilnya, "Diego."

"Ayo kita cerai."

Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel

An die Leser

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Keine Kommentare
10 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status