Short
Pagi Baru Tanpa Dirimu

Pagi Baru Tanpa Dirimu

Oleh:  YunitaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Bab
2Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Saat kandunganku memasuki bulan kelima, Dion Sudarma sudah empat bulan berturut-turut tidak pernah menemaniku kontrol kehamilan karena cinta sejatinya yang belum bisa dia lupakan. Bahkan hingga pemeriksaan yang kelima, dia tetap mengingkari janjinya. Suaranya terdengar dingin dan penuh kekesalan dari balik telepon. "Anak itu bukan cuma tanggung jawabku. Kamu ibunya, jadi wajar kalau kamu yang lebih banyak berkorban. Memangnya kalau aku nggak ada, dia bakal mati?" Aku tidak menjawab. Pandanganku tertuju pada layar di rumah sakit yang sedang menayangkan dirinya tersenyum begitu lembut kepada Vivian Janitra. Aku hanya menggumam pelan. "Hm." Sepertinya Dion menyadari ada yang tidak beres dengan suasana hatiku. Saat dia hendak mengatakan sesuatu lagi, aku sudah lebih dulu menutup telepon. Tak lama kemudian, para perawat yang sedang membicarakan berita tentang Dion yang menghabiskan banyak uang untuk mengadakan pesta kembang api bagi cinta sejatinya akhirnya selesai mengobrol. Salah seorang dari mereka menghampiriku. "Nona, untuk pemeriksaan kehamilan silakan ke arah sini." Aku menggeleng. "Nggak perlu. Tolong jadwalkan operasi aborsi untukku seminggu dari sekarang."

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Saat kandunganku memasuki bulan kelima, Dion Sudarma sudah empat bulan berturut-turut tidak pernah menemaniku kontrol kehamilan karena cinta sejatinya yang belum bisa dia lupakan.

Bahkan hingga pemeriksaan yang kelima, dia tetap mengingkari janjinya.

Suaranya terdengar dingin dan penuh kekesalan dari balik telepon. "Anak itu bukan cuma tanggung jawabku. Kamu ibunya, jadi wajar kalau kamu yang lebih banyak berkorban. Memangnya kalau aku nggak ada, dia bakal mati?"

Aku tidak menjawab. Pandanganku tertuju pada layar di rumah sakit yang sedang menayangkan dirinya tersenyum begitu lembut kepada Vivian Janitra.

Aku hanya menggumam pelan. "Hm."

Sepertinya Dion menyadari ada yang tidak beres dengan suasana hatiku. Saat dia hendak mengatakan sesuatu lagi, aku sudah lebih dulu menutup telepon.

Tak lama kemudian, para perawat yang sedang membicarakan berita tentang Dion yang menghabiskan banyak uang untuk mengadakan pesta kembang api bagi cinta sejatinya akhirnya selesai mengobrol. Salah seorang dari mereka menghampiriku.

"Nona, untuk pemeriksaan kehamilan silakan ke arah sini."

Aku menggeleng. "Nggak perlu. Tolong jadwalkan operasi aborsi untukku seminggu dari sekarang."

...

Saat Dion menemukanku, aku sedang duduk termenung di tepi jalan.

Di layar raksasa tertinggi di kawasan pertokoan seberang jalan, video dirinya dan Vivian masih terus diputar.

Keduanya berdiri berdampingan sambil menengadah menatap kembang api, layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

Dion berdiri di hadapanku dengan wajah dingin. Dia mencengkeram lenganku lalu menarikku berdiri.

"Malam-malam begini, kenapa kamu malah bikin keributan? Cuma karena aku nggak temani kamu kontrol kehamilan, 'kan? Kenapa sih kamu nggak bisa lebih pengertian?"

Aku tertegun sejenak. Selama dua tahun menjadi istrinya, kata-kata yang paling sering kudengar darinya adalah agar aku lebih pengertian.

Ingin melihat ponselnya, katanya aku tidak pengertian.

Ingin menemaninya menghadiri acara-acara publik, katanya aku juga tidak pengertian.

Bahkan saat aku minta dia menemaniku kontrol kehamilan, jawabannya tetap sama. Aku tidak pengertian.

Kalau dulu, aku pasti akan segera meminta maaf dengan rendah hati.

Namun sekarang, saat menatap perutku yang sudah membesar, aku tidak ingin lagi menjadi orang yang selalu harus mengalah dan mengerti.

Melihatku mengabaikannya dan terus berjalan ke depan, Dion langsung naik pitam.

"Sebenarnya apa sih maumu?"

"Studio foto."

Mendengar jawabanku, Dion terdiam sesaat.

Menemaniku kontrol kehamilan dan mengambil foto kehamilan adalah dua hal yang paling kuharapkan darinya.

Sayangnya, tidak satu pun yang dia ingat.

Sekilas rasa bersalah muncul di wajah Dion dan tak lama kemudian, dia membawaku menuju sebuah studio foto.

"Akhir-akhir ini aku memang sering lupa. Tolong maklumi saja."

Aku diam-diam tersenyum dalam hati. Daya ingat Dion sebenarnya sangat baik.

Dia ingat ulang tahun Vivian. Dia ingat camilan kesukaan wanita itu.

Bahkan tanggal dibentuknya setiap karya yang dibuat Vivian pun dia hafal.

Jumlahnya puluhan, bahkan ratusan.

Hanya terhadapku saja dia mudah lupa.

Saat sedang melamun, aku tersadar bahwa kami sudah sampai di tujuan.

Begitu mendongak, tubuhku langsung menegang. Ini adalah toko milik Vivian.

Sejak hari pertama Vivian kembali ke Kota Ganora, aku sudah tahu Dion begitu bersungguh-sungguh menyiapkan segalanya untuk wanita itu.

Nama tokonya, "Cinta Sepuluh Tahun", melambangkan hubungan mereka yang telah berlangsung selama sepuluh tahun.

Mereka sudah saling mencintai sejak muda. Kemudian Vivian pergi ke Avora demi mengejar impiannya.

Dalam luapan emosi, Dion menikahiku. Namun setelah dua tahun pernikahan kami, Vivian kembali.

Hanya karena kehujanan satu kali, Dion memaafkan semua masa lalu wanita itu dan secara terang-terangan kembali dekat dengannya.

Dalam semalam, justru aku yang terlihat seperti orang ketiga.

Namun kini aku sudah tidak ingin mempertahankan hubungan yang setengah hati seperti ini lagi.

Tanganku yang memegang pintu mobil tanpa sadar mengencang.

Namun sebelum sempat menolak, Dion sudah lebih dulu menarikku masuk.

Vivian segera menyambut kami. Tubuhnya ramping dan anggun. Rambut hitamnya disanggul sederhana, membuatnya tampak elegan sekaligus santai.

Dibandingkan denganku yang berwajah pucat serta mengalami pembengkakan di tangan dan kaki akibat kehamilan, kami benar-benar bagaikan langit dan bumi.

Salah seorang asisten toko tampaknya sudah sering bertemu Dion. Dengan wajah ceria, dia berkata, "Kak Dion datang lagi mau nemuin Kak Vivian, ya?"

Wajah Dion langsung menegang. Dia buru-buru melirik ke arahku.

Vivian berseru pelan lalu berbalik menegur gadis itu, "Jangan bicara sembarangan. Ini istrinya."

Setelah itu, dia tersenyum kepadaku. "Jessica, jangan dimasukkan ke hati. Anak muda memang suka asal bicara."

Setelah itu, Vivian mengajakku melihat-lihat pakaian.

Sepanjang waktu, ekspresiku tetap datar. Beberapa kali Vivian melirik ke arahku. Saat melihat aku benar-benar tidak bereaksi, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum sinis.

Sementara itu, pandanganku tertuju pada sebuah gaun panjang di hadapanku. Warnanya putih mutiara, memancarkan kesan anggun dan suci.

Namun tepat ketika aku hendak mencobanya, Dion mengulurkan tangan dan menahanku.

"Pilih yang lain saja," katanya dengan suara rendah.

Aku mengernyit. Saat hendak menanyakan alasannya, pandanganku tanpa sengaja jatuh pada fotonya dan Vivian yang tergantung di dinding.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
9 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status